Takdir Cinta Arsi

Takdir Cinta Arsi
Bilal pusing


__ADS_3

Hari ketiga Bilal menemani arsi di rumah, arsi sudah tampak lebih sehat ia juga terlihat bahagia tidak sedih lagi. Bilal berhasil dengan caranya membuat istrinya bahagia meskipun apa yang telah mereka impikan hancur lebur. Hari ini arsi sangat ingin memasak soto ayam kampung itu masakan kesukaan Bilal. pagi-pagi sekali arsi sudah berada di dapur, bibikpun belum datang.


" sayang kenapa pagi begini ke dapur". Bilal masih dengan rambut acak-acakan ia turun, selepas shalat subuh Bilal tidur lagi karena merasa badannya tidaklah enak. karena itu arsi langsung ke dapur membuat makanan untuk Bilal.


" aku mau masak soto ayam kampung mas, mas istirahat saja jika masih pusing".


" aku ngga bisa tidur tanpa kamu sayang". Bilal meletakkan kepalanya di meja makan.


" mas tidur saja di sofa depan televisi, biar arsi selesai kan masakannya". Bilal gontai berjalan ke ruang tengah ia kembali memejamkan mata, kepalanya sungguh pusing entahlah kenapa Bilal juga ngga tau tiga hari istirahat di rumah ia malah sakit.


Arsi dengan sigap menyelesaikan masakannya, bibik datang tinggal membersihkan rumah. arsi memang pandai memasak seperti umi nya, arsi suka memasak. tapi semenjak menikah arsi tak biarkan Bilal untuk terus di dapur. di saat Bilal menginginkan arsi, arsi sudah harus siap melayani suaminya.


" baunya enak sekali non". ungkap bibik ia menghirup bau enak soto yang telah di buat.


" makanan kesukaan mas Bilal bik, mas Bilal kepalanya pusing sepertinya ia kelelahan di rumah tiga hari tungguin bayi besar". arsi terkekeh.


" den Bilal emang sangat mencintai non arsi". bibik tersenyum.


Bilal tak bisa tenang tidur ia bangun kembali dan berjalan gontai menuju dapur, arsi sudah menyiapkan semuanya di meja makan.


" sayang udah belum masaknya."


" sudah mas, makan dulu mas terus minum obat. dokter kok bisa sakit sih."


" Dokter juga punya batas kemampuan fisik sayang, ngga apa-apa mungkin karena udah lama ngga sakit." ucap Bilal ia menghirup bau makan kesukaan nya.

__ADS_1


" mas mau makan sekarang."


" iya aku lapar" Bilal mengusap perutnya berbunyi kemerucuk sejak tadi ". arsi mengambil kan satu piring nasi dan soto di letakkan di mangkuk.


" enak sekali soto ini." Bilal lahap memakannya sampai habis satu mangkuk soto ayam dan nasinya.


" doyan apa laper mas."


" semua sayang". Bilal masih menghabiskan kuahnya.


Arsi menyiapkan obat yang perlu Bilal minum, kemudian mereka jalan ke atas. Bilal merasa sedikit enakan lalu ia mandi supaya lebih segar.


" kalau sudah sehat berangkat ke rumah sakit ya mas". Bilal memicingkan matanya.


" ngga suka mas temani di rumah".


" bukan aku tak memikirkan pasien ku sayang, tapi aku tak akan tenang jika meninggalkan mu jika masih dalam keadaan seperti kemarin. mas tak akan fokus dengan pasien mas." Bilal menjelaskan maksud dari apa yang telah ia lakukan kemarin. Dokter juga punya privasi, jika dalam bekerja pikirannya tak tenang juga akan berbahaya untuk pasien.


" maafkan arsi mas". ucap arsi.


" sayang tak ada yang perlu di maafkan dari dirimu, kamu sempurna di mataku sayang". Bilal mengecup tangan Arsi, cinta Bilal sempurna dari sejak ia duduk di bangku SMA.


" aku merasa bersalah mas, arsi tak bisa membahagiakan mas Bilal mama dan papa ".


" sssttt... jangan katakan itu sayang, aku bahagia sungguh bahagia. dari semenjak kamu menerima khitbah ku malam itu mas sangat bahagia hingga detik ini. tak sesuatu pun di dunia ini yang bisa mengalahkan kebahagiaan mas sayang karena bisa memilikimu seutuhnya ". Bilal duduk menghadap Arsi.

__ADS_1


" menikahlah lagi mas agar apa yang mama ingin kan dapat terkabul arsi ingin orang tua mas bahagia ". rasanya seperti di tusuk hati Bilal mendengar ucapan arsi.


" tidak sayang, aku tau kamu tak akan sanggup kamu sudah pernah mengatakan nya. dan aku tak mau menyakiti mu sayang ".


" tapi mas".


" sudah tolong jangan katakan itu, macam mana ada wanita yang rela di madu." arsi diam Bilal membentaknya saat ini.


" maaf mas berkata kasar padamu ". Bilal mengusap kepala arsi lalu mengecupnya.


" tapi almarhum mba Najwa dan mb Zahra bisa mas".


" itu beda sayang beda, saat itu mba Najwa di vonis tak bisa memiliki keturunan dan dia sakit. ia juga merasa cemburu dengan mba Zahra, tak mungkin sepenuh nya mba Najwa bisa menerima jika suaminya menikah lagi. mba Najwa ingin saat ia tiada sudah memberi kebahagiaan untuk suaminya sayang ".


" dan aku juga ingin melakukan itu mas".


" tidak sayang kamu bisa hamil dan tidak mandul, suatu saat kita pasti bisa memiliki apa yang kita mau. sabar ya sayang aku tak pernah meminta mu untuk cepat memiliki keturunan aku yakin Allah akan memberi kebahagiaan untuk kita nanti. ku mohon percayalah sama mas, Allah itu mengikuti prasangka hambanya jadi mas harap kamu bisa selalu berprasangka baik kepada Allah ". bilal kepalanya masih sakit, dan ini kata-kata yang ia ucapkan keras kepada arsi istrinya.


". maaf mas, arsi minta maaf". bilal lalu memeluk Arsi ia mengecup kepala istrinya berkali-kali.


" sekarang istirahat ya, jika mas pulih besok mas akan bekerja seperti yang kamu bilang banyak pasien yang menunggu mas." arsi mengangguk mereka kemudian berbincang sembari menunggu adzan Zuhur.


pagi-pagi Bilal sudah di suguhkan dengan emosi tingkat tinggi. inilah yang dari dulu Bilal takutkan, ia tak ingin hal yang terjadi pada diri kakak ipar sepupu nya terjadi pada dirinya. Bilal benar-benar sangat mencintai Arsi apapun permintaan arsi untuk menikah lagi tak akan ia kabulkan.


Najwa meminta Faras menikah lagi karena Najwa tak bisa memberikan keturunan dan ia sakit. karena cintanya Najwa dengan Faras ia rela mencarikan Rahim Untuk Suaminya. Faras di hadapkan dalam pilihan yang sulit antara menikahi Zahra atau meninggalkan Najwa. Faras tak ingin meninggalkan Najwa ia sangat mencintai nya, akhirnya pernikahan itu terjadi. tapi hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja karena keikhlasan dari ketiganya. tak mudah mencari madu seperti Zahra yang sangat baik, ia ikhlas menerima takdirnya untuk menjadi madu. lambat laun Faras juga mencintai Zahra dan akhirnya mereka memiliki momongan. Bilal berharap hal ini tidak terjadi padanya, ia tak akan memberikan dirinya untuk siapapun apapun masalahnya, apapun syarat yang akan arsi ajukan tak akan pernah. cintanya sudah berada di puncak kebahagiaan bagi diri Bilal.

__ADS_1


bersambung


mohon tinggalkan jejak like, komentar dan vote terima kasih.


__ADS_2