
Erina tidak terlalu mempermasalahkan nya dan tersenyum. Meski sinar matanya sedikit berubah. Itu tampak seperti menyembunyikan sesuatu dan terlihat tidak sederhana.
"Tok..tok"
Pintu bangsal terbuka.
Muncullah Bakri yang berpenampilan formal seperti biasa. Pria itu tersenyum sopan dan sedikit membungkuk pada mereka.
"Tuan Irsyad dan tuan Zayyad sedang menuju kemari bersama penghulu. Ijab kabul akan di mulai dalam beberapa menit lagi"
"Terus kenapa?"
Ketus Alina sama sekali tidak memedulikan kesopanan. Matanya fokus melihat kuku-kukunya yang putih bersih.
Bakri tidak tahu kenapa Alina bersikap seakan begitu membencinya, hanya mampu meringis.
Apakah mereka punya dendam nenek moyang di masa silam?
"Aku di utus untuk menyampaikan kepada nona untuk bersiap-siap"
"Aku sudah!"
Erina yang melihat gelagat cucunya yang sangat tidak bersahabat, tidak tahu berkata apa.
'Cucunya ini kapan berhenti membenci pria?'
"Terimakasih Bakri! Maafkan cucuku yang sedikit tidak sopan"
"Huh! Dimana nya yang tidak sopan? nenek terlalu berlebih-lebihan"
Ketus Alina dan beranjak pergi ke balkon. Bangsal tempat perawatan neneknya terletak di lantai dua dan memiliki pintu terhubung ke balkon.
Maya yang melihat suasana itu, sangat mengerti Alina.
Ia pun pergi mengikuti Alina ke balkon hanya untuk melihat gadis itu memasang tampang masam di wajahnya.
"Lihat! Kenapa nenek ku akhir-akhir ini terus membela pria-pria asing itu? Bahkan ia tidak bosan-bosannya memuji mereka di depan ku"
Gerutu Alina yang merasa sangat kesal. Tangannya yang terkepal terus meninju besi balkon.
Maya dapat melihat buku jarinya memerah.
"Apakah itu sakit?" Maya ragu-ragu bertanya.
"Tidak! Aku pernah memiliki jauh yang lebih dari ini"
Tatapan Alina meredup. Merenungi buku-buku jarinya yang memerah.
Sedang pikirannya sudah menerawang jauh. Pada hari-hari yang seperti neraka untuknya.
Hari dimana punggung nya di pukul dengan balok sampai menyisakan bekas hingga hari ini. Hari dimana ia di tampar berkali-kali dengan kasar. Hari di mana ia di rantai di dalam gudang yang gelap.
Dan masih banyak hari-hari lainnya yang Alina tak sanggup mengingat nya.
Mendadak ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Itu hangat dan bersahabat.
Matanya yang memanas masih berusaha keras untuk mempertahankan butir-butir jernih yang sudah tergenang di pelupuk mata.
"Tidak perlu mengingat nya lagi!"
Itu adalah Maya yang memeluk Alina dengan erat. Seakan ia sedang menyalurkan semua energi yang ia miliki untuknya.
__ADS_1
"Ya, tidak perlu mengingat nya lagi"
Ulang Alina, meski terdengar lirih. Tapi itu kecaman tegas untuk dirinya.
Mengerjapkan matanya berkali-kali, Alina akhirnya berhasil mengeringkan air matanya yang tidak jadi jatuh.
Maya menarik Alina untuk berputar menghadap nya.
"Aku tau kau sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini! Tapi aku yakin satu hal"
Kata Maya lembut. Matanya dengan tenang menatap lurus kearah Alina.
"Apa itu?"
"Kau mengikhlaskan keputusan berat ini untuk menyenangkan hati nenekmu, Allah pasti akan membalas keikhlasan mu itu dengan suatu hal yang sangat indah. Percayalah!"
Alina dapat melihat sorot mata Maya yang serius dan menyakinkan.
Gadis di depannya ini selalu bersikap relijius dan optimis dalam menjalani kehidupan.
Ia pun mengangguk dan tersenyum.
"Em! Terimakasih Maya aku merasa jauh lebih tenang sekarang"
___
"Sah!"
Seru beberapa saksi yang di undang untuk menyaksikan pernikahan mereka.
"Alhamdulillah"
Semua orang di dalam bangsal saling memanjatkan syukur.
Di sana sudah ada beberapa orang yang menyesaki tempat tersebut.
Alina dapat melihat tatapan bahagia neneknya yang bahkan mata tuanya tampak berkaca-kaca karena terharu.
Hal yang sama juga terjadi pada Irsyad, kakeknya Zayyad yang tampak sangat puas dan bahagia melihat cucunya yang akhirnya menikah.
Beberapa orang yang di undang sebagai saksi pernikahan pun segera undur diri. Karena ini rumah sakit, mereka tidak mungkin berlama-lama.
Meminta izin saja untuk ijab kabul di tempat ini saja sangat susah. Jadi karena pihak rumah sakit sudah memberi izin, mereka tentunya tidak boleh membuat masalah.
Zayyad tampak menakjubkan dalam balutan jas putihnya, yang menonjol kan sepasang bahunya yang kokoh dan mempertegas dadanya yang bidang.
Alina ragu untuk melangkah mendekati pria itu.
Seorang yang sangat membenci pria seperti dirinya, apa yang bisa ia lakukan di situasi seperti ini?
"Alina, ayo cium tangan suami mu sayang"
Tutur neneknya lembut.
Alina seketika menjadi kaku. Maya yang berada di sampingnya dapat melihat hal itu dengan jelas.
Tiba-tiba di ruangan yang hening, ponsel Zayyad berbunyi.
"Baik!"
"Saya akan segera ke sana"
__ADS_1
Zayyad mengakhiri panggilan, terus berjalan cepat membuka pintu.
Irsyad yang tampak tidak puas dengan tindakan cucunya segera menyuruhnya berhenti.
"Zayyad berhenti!"
Zayyad mau tidak mau berhenti.
"Iya kek?"
"Mau kemana kamu?"
"Maaf kek! Ada urusan penting yang harus segera ku tangani"
Setelahnya Zayyad berlari tanpa berbalik lagi.
Detik itu ketegangan yang di rasakan Alina sirna.
Ia menghela nafas lega, merasa senang karena Zayyad memilih pergi begitu saja.
Dengan begitu ia tidak perlu melakukan apa yang di suruh neneknya.
Diam-diam Alina tertawa bahagia dalam hati.
"Anak itu!" Ketus Irsyad yang terlihat kesal.
"Jangan begitu! Mungkin memang ada urusan penting yang harus ia selesaikan"
Erina berusaha untuk berpikir positif. Walau ia sedikit mengerti apa masalah nya.
"Urusan penting apa? Ini adalah hari pernikahannya, ia seharusnya sudah memiliki beberapa hari cuti"
"Sudah tidak perlu di persoalkan"
Kata Erina lagi yang masih berusaha menenangkan Irsyad.
"Oh, bagaimana dengan cincin pernikahan?"
Maya bertanya dengan polosnya.
"Sudah!"
Alina yang masih sangat puas dengan apa yang terjadi, memamerkan jari manisnya dengan mood yang baik.
"Wah itu berlian kah?"
Maya tidak mampu menyembunyikan kekagumannya ketika melihat batu bening semerah darah yang tersemat di jari Alina.
Alina mengangguk kan kepalanya.
"Kapan Zayyad memakai kan nya padamu nak?" Tanya Irsyad penasaran.
Padahal sejak di mulainya ijab kabul, Alina terus menunggu proses tersebut di balkon. Dan setelah ijab kabul, Zayyad pergi begitu saja.
Kapan Zayyad memiliki waktu untuk memakai kan nya di jari Alina?
"Oh ini aku yang memakainya sendiri"
Jawab Alina santai.
Dalam hati ia merasa jauh lebih baik. Awalnya ia mengira hari ini akan sangat melelahkan. Meski pernikahan mereka di adakan sangat sederhana di bangsal rumah sakit. Ia tak akan mengira itu akan berakhir begitu cepat.
__ADS_1
Ini sungguh pernikahan kilat.
____