Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
42. Tidakkah Ini Menyenangkan?


__ADS_3

"Baru saja!"


Zayyad menjauhkan pandangan nya dari Alina. Rasa mual nya pun perlahan surut. Melonggarkan dasinya, ia melepas jas nya dan melemparkannya begitu saja di atas sofa.


Alina tidak tau kenapa merasa sangat gugup. Itu adalah kali pertama ia berpenampilan begitu terbuka di hadapan pria. Meskipun yang di hadapan nya adalah suaminya sendiri. Tetap saja sampai saat ini ia merasa seperti wanita lajang yang belum menikah.


Perlahan terdengar suara air dari kamar mandi. Sepertinya Zayyad sudah pergi untuk membersihkan diri.


Alina turun dari ranjang dan meletakkan botol lotion itu atas meja rias. Meskipun gaun putih itu sebatas lutut, cukup untuk memamerkan separuh kaki jenjangnya yang bewarna putih mempesona. Syukurlah atasan gaun malam itu sangat konservatif. Menutupi sampai tulang selangka nya dan berlengan panjang sampai siku.


Duduk di atas kursi, Alina menyisir rambut hitam panjangnya perlahan. Sambil menikmati pantulan dirinya di depan cermin. Perlahan bibirnya melengkung tersenyum lembut. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat menampakkan mahkota istimewa nya ini kepada Zayyad sekalipun pria itu berstatus suaminya.


Tapi hidup di bawah atap yang sama membuat nya sedikit susah melakukan nya. Terlebih sekarang mereka tidur dalam kamar yang sama. Tidak mungkin bagi Alina terus menyembunyikan mahkota hitamnya itu dalam kain selama dua puluh empat jam.


Akhirnya Alina membuat pengecualian khusus untuk Zayyad. Dengan catatan ketidaknormalan pria itu yang sangat takut pada wanita. Setidaknya ia dapat mengklaim bahwa Zayyad bukan pria sejati yang berkemampuan dan impoten.


Karena hal itu ia tidak harus menerima perlakuan kebencian dan dendam nya sepenuhnya dari Alina.


Mungkin jika Zayyad mengetahui pemikiran Alina yang menganggap nya bukan pria sejati yang berkemampuan dan impoten. Tidak tau bagaimana Zayyad akan menanganinya sebagai seorang pria.


Yang jelas sudah pasti harga dirinya sebagai seorang pria di pertanyakan.


Zayyad yang sudah selesai mandi, keluar dengan balutan handuk putih sepinggang nya. Tetesan air yang jatuh dari rambutnya yang terlihat acak tampak sangat menggoda. Tapi sorot matanya yang kosong dan bola mata coklat yang redup seperti tanah liat basah. Membuat wanita manapun kehilangan gairah untuk menggoda nya.


Alina baru saja siap menyisir rambutnya dan bangun dari duduknya. Tepat ketika ia berbalik, tatapan nya langsung jatuh ke arah Zayyad yang bertelanjang dada. Dengan rambut hitam basah yang memikat, lalu bertemu sepasang bola mata coklat nya yang seperti tanah liat basah.

__ADS_1


Meskipun terlihat sangat menyegarkan dari luar, tapi tidak menutupi aura melankolis di sekitar nya yang membuat nya tampak murung dan terasing.


Zayyad yang melihat Alina berdiri tepat di hadapan nya, tidak mampu menyembunyikan rasa gugupnya. Perlahan otaknya kembali terputar dengan kejadian di ruangannya bersama seorang wanita hari ini.


Mengingat belaian tangan kasar yang meraba permukaan tubuhnya dengan agresif, bibir empuk yang menyemut bibirnya penuh nafsu dan gigitan liar di sepanjang leher dan tulang selangka nya. Seketika tubuh nya menggigil dengan rasa takut. Tanpa sadar ia mengambil satu langkah lebih jauh dari Alina.


Alina selalu saja merasa tergoda setiap kali melihat ekspresi Zayyad yang seperti itu. Penampilan wajah kacau dan meresahkan dari seorang pria tampan yang tak berdaya.


Yang bersikeras menjauh nyaris seperti ingin berlari dari genggaman hantu yang menyeramkan. Tubuh yang menggigil ketakutan, respon negatifnya setiap kali ia berdekatan atau bersentuhan.


Dan mendengar erang mual nya yang menggemaskan, setiap kali di titik ketidakberdayaan nya dan ketakutannya.


Alina mengulum bibirnya tersenyum penuh sesuatu. Mengambil beberapa langkah lebih dekat. Matanya berkilat seperti bintang-bintang di langit malam, yang berkelap-kelip misterius.


Alina semakin bersemangat mengambil langkah ke depan. Meremas jari-jemarinya seperti sudah tidak tahan untuk menangkap mangsa empuk di hadapannya. Matanya memancarkan cahaya ketidaksabaran. Sudah sangat gatal ingin melihat keadaan pria yang tak berdaya di bawah kendalinya.


Bruk!


Mata Alina terbelalak lebar sangat terkejut. Menemukan Zayyad yang ambruk di lantai.


Pria itu memeluk dirinya dengan kuat. Ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang tidak berdaya, ia terus menekuk lebih jauh kebawah. Nyaris hampir mencium karpet lembut yang bewarna beludru di lantai.


Alina perlahan berjongkok, tangannya terulur menarik wajah tampan yang sudah banjir keringat dingin di bawahnya. Menemukan sorot mata coklatnya yang sudah basah, menyiratkan bahasa halus yang memohon. Menurunkan pandangan nya, ia melihat bibir coklat keunguan nya memucat itu bergetar menyedihkan.


Begitu tidak berdaya nya mengeluarkan sepatah kata pun. Alina terdiam dan entah bagaimana potongan-potongan memori menyedihkan muncul perlahan di otaknya. Bayang-bayang wajah gadis kecil yang ketakutan, bibir merah mungil yang memohon dan perjuangan dari tubuh kurus yang tidak berdaya.

__ADS_1


Mata hitam polosnya yang hanya mampu menangis dan tubuhnya yang bergetar keras dalam ketakutan dan ketidakberdayaan.


Itu terus terulang seperti film lama yang di putar di hadapannya. Seketika kilat kebencian menyeruak dari mata Alina yang membara. Menggerakkan kedua tangannya lebih jauh, menggerayangi tubuh setengah telanjang di bawahnya.


Menggelitik di sekitar pusat, menari-nari memutari permukaan perut yang rata. Dan perlahan naik ke dada bidang yang kokoh. Mengelus nya dengan lembut seperti merawat porselen mahal. Dengan api kebencian yang kian membara di matanya, perlahan belaian halus itu berubah menjadi kasar.


Meraup nya dengan penuh gairah dengan tekanan emosi kebencian, menekan kukunya ke dalam daging yang lembut. Membuat goresan-goresan merah di atas kulit putih yang halus. Membuat pemandangan di bawahnya, tampak seperti porselen putih yang cacat. Hanya saja entah bagaimana itu terlihat menggairahkan.


"Ku- mohon.. berhenti.."


Suara lirih yang terdengar seperti melodi yang menyayat hati sama sekali tidak menggetarkan hati Alina untuk menghentikan tindakannya.


"Syuhh.." Bibir merahnya mengerucut menggoda. Jatuh di ambang telinga pria di bawahnya, ia merasa kan daun telinganya yang dingin menyentuh permukaan bibirnya.


Perlahan bibir itu terbuka dan berbisik halus. "Nikmati saja.." Nafasnya yang hangat menggelitik indra pendengaran pria di bawahnya. "Tidakkah ini menyenangkan?" Zayyad semakin memeluk dirinya lebih kuat sambil berjuang keras menjauhkan wajahnya dari bibir merah sensual wanita itu.


Alina mengembangkan senyum misterius diwajahnya. Merasakan bibirnya yang sudah kehilangan sensasi dingin dari daun telinga Zayyad, matanya berkilat tak senang.


Tangannya jatuh meraih dagu pria di bawahnya secara kasar. Jempol dan jari telunjuknya menjepit kedua sudut pipi pria itu dengan keras. Membuat bibir coklat keunguan itu bengkok dengan menyedihkan. "Mencoba menghindari ku, huh?"


Zayyad mengerutkan keningnya menahan nyeri. Tidak akan menyangka Alina melangkah begitu jauh dan sangat kasar. Ia baru saja mendapatkan tekanan hari ini dan di malam harinya ia harus menerima pelampiasan dendam dari istrinya sendiri.


Zayyad mengutuk ketidakberdayaan nya sebagai seorang pria.


"Alina..ku mohon berhenti..."

__ADS_1


__ADS_2