
"Kalau begitu saya permisi untuk mengambil beberapa barang" Alina baru saja hendak pergi.
"Alina" Tapi panggilan dari Irsyad menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan ekspresi bertanya.
"Lain kali tidak perlu begitu formal dengan ku"
Alina menatap beberapa saat pada pria tua itu, kemudian mengangguk. Irsyad yang melihat respon positif itu, meskipun hanya mengangguk saja. Ia tersenyum, merasa itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya Alina sudah mau meresponnya.
Dan Alina terus pergi begitu saja.
"Kakek" Lirih Zayyad. Kali ini ia tak hanya tertekan. Tapi merasa sangat tidak baik.
"Kakek mengerti ini berat untuk mu! Tapi kau harus mencoba nya. Siapa tau dengan keberadaan Alina, dapat menjadi langkah awal untuk menghilangkan rasa takut mu pada wanita"
"Kakek berpikir begitu?" Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Jika Alina sungguh seorang misandris, ini adalah awal neraka baginya.
"Kakek sangat berharap akan begitu. Bukankah kau sudah sangat lama mendambakan kehidupan yang normal seperti ini? Berkeluarga, memiliki keturunan dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya"
Zayyad termenung. Kakek benar! Aku sudah lama mendambakan hal itu.
"Ingat, dalam diri kalian ini memiliki luka masa lalu yang tak jauh berbeda! Ini akan membuat kalian lebih memahami keadaan satu sama lain. Siapa tau dengan kalian bersatu seperti ini, kalian dapat menjadi penyembuh bagi satu dan yang lainnya"
Zayyad masih bergeming. Menjadi penyembuh bagi satu dan yang lainnya?
___
Alina meletakkan botol lotion nya yang baru saja ia gunakan di atas meja rias. Ia terbiasa mengenakan lotion sebelum tidur. Saat ini ia sudah berada di kamar Zayyad yang luar biasa luas.
Tidak sulit menemukan kamar pria itu. Karena di lantai dua hanya ada satu kamar. Jelas terlihat sekali lantai dua ini sangat privasi untuk Zayyad.
Alina memperhatikan cermin, ia hendak melepaskan kerudungnya. Hanya saja pergerakannya terhenti. Ia merasa enggan. Ia tidak suka setiap kali ada pria yang melihat rambutnya. Itulah alasan kuat nya yang memutuskan untuk berhijab.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Alina terus menoleh. Menemukan seorang pria berjalan masuk kedalam. Ia mengenakan jubah tidur bewarna putih. Membawa aura pria yang halus dan tenang. Kesan yang jauh dan sulit di jangkau. Meski membenci pria, tapi Alina diam-diam memuji sisi ketampanan yang di miliki Zayyad.
Itu murni dan asing.
"Kau tidur saja di ranjang! Aku akan tidur di sofa" Awalnya Zayyad merasa sangat gugup untuk memulai. Jantungnya sejak tadi sudah berdebar sangat kencang. Dinginnya udara dari air conditioner, telah mengeringkan titik-titik keringat dingin nya yang muncul di pelipisnya.
Setelah mengumpulkan keberanian nya. Ia merasa cukup tenang karena sudah mengatakan nya dengan lancar.
"Kenapa tidak tidur bersama? Ranjang ini cukup besar untuk dua orang" Alina menyuarakan pendapatnya.
Zayyad menegang. Suara Alina meski terdengar biasa. Tapi ini adalah suatu hal yang baru untuk nya. Menemukan suara wanita di dalam kamarnya. Rasanya seperti tersengat listrik. Itu menyetrum sel sarafnya dan-
__ADS_1
"T-tidak" Pada akhirnya ia gagal mengontrolnya dirinya untuk tetap tenang. Siapapun yang mendengar suara nya yang agak bergetar saat ini, jelas langsung tau kalau ia sedang ketakutan.
Pemandangan itu membuat Alina menemukan sisi tersembunyi Zayyad. Lebih tepatnya kelemahan pria itu yang sudah pria itu tutupi cukup baik sejauh ini.
Pria itu yang dingin seperti es diawal pertemuan mereka. Pada nyatanya hanyalah setitik embun di pagi buta. Itu dingin, hanya untuk beberapa saat. Hanya pada saat segalanya buta dan gelap.
"Tapi ini adalah malam pertama kita, apakah kau sungguh akan tidur di sofa?" Niat untuk mengusik, semakin menjadi-jadi. Alina melakukannya sambil menahan senyum.
Malam pertama?
Dua kata itu membuat Zayyad terus gelagapan. Dua kakinya yang melangkah mundur, bergetar seperti hendak roboh.
"Ini adalah malam pertama kau tidur bersama bibi, apa kau ingin terus tidur begitu saja?"
"Tapi bibi, tidak bisakah aku tidur di kamar lain?"
"Tidak bisa sayang...bibi kan ingin bermain dengan mu disini"
"Bermain?"
"Ya! Kau pasti akan menyukainya"
"Zayyad!"
"Zayyad!"
"Zayyad jadi kita akan tidur di-"
Bruk!
Zayyad refleks melemparkan ponselnya kehadapan Alina.
"Ti-dak!" Suaranya bergetar.
"Argh!" Ponsel itu tepat mengenai jidatnya. Alina mengaduh kesakitan, melirik dengan kesal kearah Zayyad.
"Kenapa kau melempar ponsel mu pada ku!" Pekik Alina kemudian.
Seketika Zayyad tersadar. Detik itu ia melihat ponselnya sudah tergeletak di lantai. Dan menemukan jidat Alina yang sudah memerah.
"Maaf, aku tidak sengaja!"
"Tidak sengaja katamu? Aku hanya bertanya kau akan tidur dimana, jika kau tidak mau, kau tidak perlu sampai melempar ponsel mu pada ku. Apa kau pikir aku sangat ingin tidur seranjang dengan mu, huh?"
"Aku sungguh tak sengaja"
__ADS_1
Alina yang sudah merasa sangat kesal. Terus berlari kearah meja rias. Mengambil botol lotion nya, ia melempar nya kearah Zayyad.
"Kamu-" Zayyad terus menghindar. Ia tidak akan mengira Alina akan membalasnya.
Tidak menyerah begitu saja, Alina mengambil barang-barang lainnya yang ada di meja rias. Dan melempar nya kearah Zayyad. Sisir, bedak, hingga botol-botol cream miliknya semua ia lempar kearah Zayyad.
prang!
bruk!
brak!
Zayyad masih dengan gesit menghindar, tangannya terus diangkat untuk melindungi kepala nya. Wanita ini sangat pendendam! Keluhnya dalam hati.
Sekarang meja rias itu sudah kosong. Hanya tersisa satu botol parfum. Alina tau itu pasti harganya sangat mahal. Tapi ia tidak peduli. Ia mengambil botol parfum itu dan melemparnya kearah Zayyad.
prang!
Botol parfum itu pecah. Isinya semua terbuang di lantai.
Zayyad mengira itu adalah serangan yang terakhir. Tapi siapa yang mengira Alina sangat bersikukuh membalas kan dendam nya.
Wanita itu berlari ke ruang kecil yang di sekat dengan rak buku.
Zayyad tercengang! Untuk kekacauan sebelumnya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan nya. Tapi tidak dengan-
Bruk!
Brak!
Satu persatu buku-buku dari rak di lempar kearahnya.
"Alina berhenti!" Itu adalah buku-buku yang ia rawat sangat baik. Sampai ia menyisakan ruang khusus dikamar nya, untuk menjaga semua itu. Tapi wanita ini-
"Alina aku bilang berhenti!"
Bruk!
Brak!
Sekarang kamarnya yang rapi dan tertata dengan baik sebelumnya, sudah hancur berantakan persis seperti kapal pecah. Bedak bertaburan di lantai, botol-botol berseliweran di setiap sudut, parfum tumpah bahkan hingga buku-buku yang berserakan di lantai.
"ALINA" Tanpa sadar Zayyad berteriak.
"APA?" Alina menjerit lebih keras.
__ADS_1