
Zayyad perlahan membuka matanya. Jam biologis nya membuat nya terbangun awal seperti biasa. Samar-samar aroma mawar menusuk penciuman nya. Mengkerut kan dahinya, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Ia bertanya-tanya dari mana datangnya aroma itu?
Mengangkat tubuhnya, baru lah ia sadar ada beban berat yang menindih tubuhnya. Sepasang alisnya terjalin, ia melirik kebawah. Menemukan Alina membaringkan separuh tubuhnya di atasnya. Sontak ia terkejut dan menyingkirkan tubuh Alina segera.
Alina merasa sangat pusing, Kepalanya tiba-tiba jatuh begitu saja memukul ranjang. Separuh sadar, tangannya meraba-raba mencoba mencari bantal untuk menyangga kepalanya lagi. Ia sama sekali tidak tau bahwa yang menjadi bantal nya semalaman penuh adalah tubuh Zayyad.
Karena tidak kunjung menemukan nya, Alina jatuh tertidur pulas lagi tanpa bantal.
Zayyad yang melihat Alina tertidur lagi. Rongga pernafasan nya yang terikat beberapa saat menahan nafas, perlahan terlepas. Ia dapat bernafas lega kembali dan bergegas turun dari ranjang.
Mengingat insiden semalam, membuat tubuhnya bergetar. Alina nyaris seperti monster semalam. Membuat nya takut sampai mati.
Di dalam kamar mandi, Zayyad mengisi air. Sambil menunggu penuh, ia memperhatikan wajahnya di cermin. Menemukan bibirnya yang bengkak dengan bercak darah yang mengering.
'Wanita itu sangat ganas semalam!' Batinnya dan menghela nafas berat.
Menghidupkan keran, ia mencuci noda darah di bibirnya. Mengangkat wajahnya lagi, ia memperhatikan memar-memar biru di sekitar leher dan tulang selangka nya. Ia tau Alina tidak menyentuh tempat itu semalam.
Karena memar itu sama sekali tidak bertambah.
Zayyad pun berendam di dalam air. Uap nya mengaburkan tubuh dan wajahnya. Aroma lavender menyeruak di kamar mandi. Mengkerut kan keningnya, Zayyad menahan nyeri kepalanya yang terasa berat. Tubuhnya entah bagaimana terasa lemas dan tidak enak.
Menidurkan kepalanya di pinggir bathtub, insiden semalam terus menghantuinya. Ia pun tersentak, nafasnya tersengal-sengal dan terus merasa gelisah.
Ketakutan ini sudah lama tidak di rasakan nya lagi. Kegelisahan berada di sekitar monster dan mengkhawatirkan kapan pun kemunculannya.
Menekan tangan nya di dada, nafasnya masih belum stabil. Bulu mata panjangnya yang lurus bergetar, otaknya kacau memikirkan monster yang berada sangat dekat dengan nya.
Zayyad meskipun takut pada perempuan, tapi ia tidak pernah membayangkan mereka adalah monster yang membunuhnya. Kecuali orang di masa lalunya dan sekarang...
Itu adalah Alina, istrinya sendiri.
Selesai mandi Zayyad bergegas berpakaian. Di luar hari masih gelap. Di waktu seperti itu, biasanya ia masih berlari pagi di luar vila. Lalu kembali pada saat fajar baru muncul di ufuk timur. Membersihkan diri sebentar dan menyiapkan sarapan.
Barulah ia mandi dan bersiap-siap ke perusahaan.
Tapi saat ini ia tidak melakukan nya. Di pagi yang masih buta, Zayyad menyalakan mesin mobil nya bersiap untuk ke perusahaan.
Mendengar suara mobil, satpam yang masih tidur di pos terbangun. Menjenguk keluar jendela, matanya yang masih mengantuk terkejut. Melihat tuannya sudah menyalakan mesin mobil dan hendak pergi.
"Tuan Zayyad?" Sapa nya sambil menguap.
__ADS_1
"Maaf mengusik tidur mu" Menurunkan kaca jendela mobil, Zayyad memberi senyuman hangat pada si satpam.
"Ah, tidak sama sekali pak!" Hadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal tersenyum canggung. Melihat senyum hangat tuannya, kantuknya hilang begitu saja. "Tapi pak, ini kan masih sangat awal untuk ke perusahaan"
"Buka saja gerbang nya" Tukas Zayyad sambil tersenyum tipis.
"Baik pak!" Sebelum Hadi melangkah pergi, ia tanpa sengaja melihat memar-memar biru di sekitar leher dan tulang selangka Zayyad. Sekali saja melihat, jelas langsung mengerti memar apa itu.
Zayyad yang melihat Hadi yang bergeming di tempat, mengkerut kan dahinya ia bertanya. "Ada apa?"
Hadi terkejut dan bingung harus mengatakan apa. Tapi jika ia tidak mengatakan nya, bagaimana tuannya nanti bertemu dengan para karyawan dengan penampilan seperti itu.
"Itu- maaf pak kalau saya lancang-" Katanya ragu-ragu.
"Katakan saja!" Zayyad menatap penasaran kearah Hadi. Memangnya apa yang ingin dia katakan sampai seserius itu?
"Itu pak leher anda.." Zayyad menegang. "Itu sangat mencolok pak, ada baiknya jika bapak tutup.." Melihat Zayyad yang terdiam tanpa ekspresi apapun. Hadi mulai gelisah. Apa ia sudah bertindak begitu jauh? Itu adalah privasi tuannya, tidak seharusnya ia mencampuri nya.
"Maaf pak, saya sudah lancang karena mengatakan hal seperti itu.."
"Terimakasih karena sudah mengingatkan"
Mata Zayyad meredup. Jika Hadi tidak mengatakan nya, tidak tau bagaimana ia harus menghadapi para karyawan di perusahaan dengan penampilan nya seperti itu.
"Buka gerbang nya!"
"Baik pak!"
•••
Alina seperti biasa bangun telat dan sangat malas berpisah dari kasur. Membuka matanya perlahan, ia tidak merasakannya cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar.
Biasanya Zayyad sudah membuka tirai jendela membiarkan sinar keemasan itu masuk. Apa mungkin ini masih sangat awal?
Alina dengan malas bangun dan bersandar di kepala ranjang. Membuka mulutnya lebar, ia menguap. Kelopak matanya masih sangat berat untuk di buka.
Tangannya dengan malas mencari ponselnya di bawah bantal. Membuka layar, ia meliriknya sekilas dengan mata yang masih mengantuk. Seketika ia terkejut. Jam sepuluh pagi?
Segera kantuk nya hilang dan matanya terbuka lebar. Biasanya paling telat ia bangun jam setengah sembilan.
Turun dari ranjang ia bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Mencuci muka dan menyikat gigi. Terus ia ke lantai bawah untuk membawakan sarapan ke kamar neneknya.
__ADS_1
Di ruang makan ia di kejutkan dengan meja kosong tanpa makanan apapun di atasnya. Biasanya selalu ada semangkuk bubur hangat untuk nenek nya dan roti bakar keju kesukaannya.
Tapi pagi ini kenapa tidak ada?
Mengkerut keningnya, Alina merasa ada beberapa keanehan yang terjadi. Biasanya ketika ia malas bangun pagi, pasti ada cahaya matahari yang mengusik tidurnya. Karena Zayyad yang membuka tirai jendela.
Tapi pagi ini ketika ia bangun, kamarnya masih gelap tanpa gangguan sinar apapun dari luar.
Biasanya sarapan pagi selalu terhidang rapi di atas meja. Bahkan sampai segelas susu vanila hangat yang sudah di tuangkan ke dalam gelas.
Tapi pagi ini semua hal itu tidak ada. Meja besar ini kosong dan bersih. Apakah hari ini koki-koki itu tidak datang ke vila untuk menyiapkan sarapan?
Akan tetapi Alina merasakan keganjilan lainnya. Hanya saja ia tidak mengerti apa itu.
Pada akhirnya Alina melangkah ke dapur menyiapkan bubur untuk neneknya. Ini sudah jam sepuluh pagi tapi neneknya belum sarapan. Cucu seperti apa dia?
Setelahnya ia membawa itu ke kamar neneknya.
"Nenek maaf aku telat mengantarkan sarapan" Alina duduk di tepi ranjang dan menyerahkan mangkuk bubur itu kepada nenek nya. "Kenapa bisa sangat telat? Apa yang kalian lakukan semalam?" Erina menggoda cucunya.
Ia sudah bangun dan tidak cukup kuat untuk ke dapur. Biasanya pukul delapan pagi, Alina sudah membawa sarapan untuknya ke kamar. Tapi hari ini cucunya itu membawanya sangat telat. Matahari bahkan hampir tegak di luar.
Erina sangat berharap bahwa sudah terjadi sesuatu pada mereka semalam. Hingga membuat Alina bangun begitu telat.
"Apa maksud nenek!" Kata Alina sedikit gugup. Jika neneknya tau apa yang ia lakukan pada Zayyad semalam, apa yang akan terjadi?
"Kenapa begitu gugup?" Erina mengembangkan senyum di wajah tuanya. "Apakah kalian sudah melakukan nya, Hem?"
Alina sontak terkejut mendengar pertanyaan neneknya. "Apa yang nenek pikirkan"
"Jadi kalian masih belum melakukan nya?" Tanya Erina kecewa.
Alina menggelengkan kepalanya. Dalam hati ia sedih melihat ketidakbahagiaan di wajah neneknya.
"Yah, ternyata nenek terlalu berharap" Erina menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah berbalut kesedihan. "Nenek sudah tua, penyakit yang nenek alami entahlah itu dapat di sembuhkan atau tidak, nenek tidak tau pasti. Tapi setiap bangun pagi, nenek selalu berharap..." Mata tuanya mulai berkaca-kaca menatap lurus ke arah Alina.
"Untuk masih memiliki kesempatan melihat hari esok sambil memangku seorang cucu" Menarik kedua sudut bibirnya yang mengendur, Erina tersenyum sendu.
Alina terhenyak tidak tau harus berkata apa. Jika menikah, sekalipun ia membencinya mungkin ia dapat melakukannya. Tapi jika memiliki anak, itu adalah perkara sulit.
Karena Zayyad adalah gynophobic.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika nenek tidak memiliki kesempatan itu?"
___