Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
8. CEO Muda Yang Dirumorkan Gay


__ADS_3

Zayyad sama sekali tidak berniat melirik kearah Alina, hanya terus memainkan ponselnya.


"Cincin itu dibuat dengan artian khusus. Yang satu polos dan yang satunya lagi berlian berbentuk hati bewarna darah. Ini adalah tentang seorang pria yang tidak memiliki minat di dunia percintaan dan gadis yang baik hati yang bersedia memberikan hatinya sepenuhnya untuk membuat pria tersebut mengerti betapa indahnya cinta. Gadis tersebut sangat mencintai pasangan nya bahkan sampai rela berkorban untuk nya. Saya dengar tuan Zayyad menikah karena perjodohan? Nona anda telah memilih cincin yang sangat cocok"


Alina tidak pernah berpikir ternyata cincin juga memiliki artian khusus seperti itu.


Alina sama sekali tidak senang dengan arti dari cincin yang di pilihnya. Meskipun ia sangat tertarik pada cincin itu pada akhirnya Alina berniat untuk mencari yang lain.


"Tapi sayangnya aku kurang tertarik! Aku akan memilih yang lain"


Tepat ketika Alina mencoba menarik cincin itu dari jari manisnya. Cincin itu tidak dapat di lepas.


Alina mencoba menariknya lebih keras hanya menemukan cincin itu berpindah sedikit.


Mengerahkan seluruh tenaganya, cincin itu sama sekali tidak dapat di lepas. Alina melihat jari manisnya sudah merah karena ia begitu bersikeras melepas nya.


"Nona cincin yang kami rancang di buat khusus dengan ukuran jari yang pas. Jika seseorang mencobanya dan ternyata pas, itu tidak dapat di lepas lagi"


"Apa?"


Saat itulah Zayyad mengalihkan fokusnya dari ponsel, melirik ke Alina yang tampak bersikeras melepaskan cincin dari jarinya.


Wajah gadis itu entah bagaimana terlihat sedikit pucat dan jari manisnya sudah sangat merah.


"Kenapa anda tidak mengatakan nya sejak awal?"


Alina terlihat panik dan marah. Ia masih berjuang keras untuk melepas cincin itu dari jarinya.


"Err..r" Manager toko mendadak kehilangan kata untuk menjawab.


"Kami mengambil yang itu! Saya akan mengirimkan asisten pribadi saya untuk menyelesaikan pembayaran"


Alina tercengang.


Pria ini bersedia memilih cincin itu? Tapi bagaimana dengan nya? Ia sama sekali tidak bersedia.


Alina sama sekali tidak suka arti di balik cincin itu.


"Baik tuan Zayyad!"


Manager toko terlihat sangat puas dan senang.


Pada akhirnya mereka keluar dari toko dengan salah satu cincin yang sudah tersemat di jari Alina.


Harusnya cincin itu akan di kenakan setelah ijab kabul di lakukan. Tapi calon pengantin mana yang sudah memakai nya sekarang?


"Kenapa kau langsung memutuskan begitu saja?" Keluh Alina.

__ADS_1


"Kau tau aku tidak berminat pada cincin ini dan hanya sekedar mencobanya"


Menyalakan mesin mobil, Zayyad terus menyetir dan mengacuhkan pertanyaan Alina.


Di acuhkan seperti itu membuat Alina marah.


'lihat! Betapa sombongnya pria ini'


'Dan neneknya menjodohkan nya dengan pria yang seperti ini?'


'Huh! Pria bagaimanapun tetaplah pria, makhluk yang memuakkan'


Menghela nafas berat, Alina mendengus kasar dan melempar pandangan nya keluar jendela mobil.


Dan Zayyad yang menyetir, sekilas melirik gelagat nya di kaca spion depan.


Sebenarnya kenapa ia langsung memutuskan untuk mengambil cincin tersebut.


Karena ia merasa sangat puas cincin itu sudah tersemat dan tidak dapat di lepas di jari Alina.


Dengan begitu ia tidak perlu memakaikannya nanti pada saat setelah prosesi pernikahan mereka.


___


Beberapa hari pun berlalu. Alina sudah memperpanjang masa cutinya. Dan Maya teman dekatnya sekarang sudah berada di rumah sakit bersamanya.


Tentunya karena di laksanakan di dalam bangsal. Yang datang hanya lah seorang penghulu dan beberapa kerabat saja.


Dan semua dilakukan dengan sangat biasa.


Termasuk penampilan Alina saat ini yang hanya mengenakan gaun putih biasa dengan balutan hijab sederhana.


Maya yang membantu merias dirinya, tau Alina yang tidak suka make up berlebihan. Hanya membedakan wajahnya dan memoles sedikit lipstik merah di bibir tipisnya.


"Selesai!" Seru Maya gembira.


Ia tidak akan pernah mengira Alina yang sangat membenci pria akhirnya bertemu dengan jodohnya.


Sedangkan dirinya yang sudah lama menunggu, belum juga datang.


"Nenek lihat cucu anda! Dandanan sederhana seperti ini saja sudah luar biasa. Pria mana yang tidak jatuh hati"


Maya membawanya lebih dekat ke tempat neneknya yang masih berbaring.


Alina hanya mampu tersenyum tipis. Kalau bukan untuk menyenangkan hati neneknya, mana mau ia melakukan semua ini.


Menikah dengan seorang pria? Jenis yang paling ia benci.

__ADS_1


Dan bahkan pria asing yang sama sekali tidak ia kenal!


Huh! Semua sungguh Alina lakukan untuk menyenangkan hati neneknya.


"Yah semua pria tentu menyukai keindahan, wanita pun juga begitu. Jika tidak tampan mana mungkin aku menerima perjodohan ini"


Alina mengekspresikan dirinya lebih ceria dan tegas. Neneknya bagaimana pun juga tidak boleh menangkap kesedihan di wajahnya.


Meski bagaimanapun juga Alina sangat merasa tertekan dengan situasinya saat ini.


"Yah, Alin harus berterimakasih pada nenek! Pria yang nenek kenalkan padamu selain tampan dia juga mapan. Cucu nenek pasti bahagia"


Mengepal kan kedua tangannya, Alina memaksakan dirinya untuk tersenyum. Menarik nafasnya, ia menghembuskan perlahan.


"Seperti yang nenek katakan, tidak tau jika tidak mencoba! Ku harap pilihan nenek sungguh yang terbaik"


Erina tersenyum mendengar nya.


Sebenarnya ia agak terkejut dengan keputusan mendadak cucunya beberapa hari yang lalu.


Meskipun sangat ingin melihat cucunya menikah. Erina tidak memaksa nya untuk menerima perjodohan yang ia buat untuknya.


Tapi siapa yang mampu menebak! Cucunya yang sangat membenci pria entah bagaimana begitu cepat berubah pikiran dan menerima perjodohan yang ia atur untuknya.


"Nenek kalau boleh tau kau sungguh menjodohkan Alina dengan seorang CEO tampan?"


Maya yang sudah begitu dekat dengan keluarga kecil Alina, tentu sudah terbiasa memanggil wanita tua itu dengan sebutan 'nenek' sama seperti Alina.


"Itu benar! Dia adalah CEO muda PT. Jaya Sejahtera, perusahaan besar yang mengelola bagian kosmetik, pakaian bahkan kuliner. Sangat luar biasa bukan?"


Luar biasa apa? Itu karena kakek Zayyad adalah pemegang saham terbesar di perusahaan.


Ini sedikit tidak jauh berbeda dengan nepotisme. Meskipun itu adalah perusahaan besar keluarga. Tapi tetap saja ia memperoleh posisi itu dengan kuasa nepotisme.


Alina diam-diam memberi kritikan keras untuk Zayyad. Pria angkuh sepertinya itu tidak pantas untuk di puji.


"Apa? Jadi dia adalah Zayyad kafa CEO muda yang terkenal gay itu!"


Maya menyadari apa yang baru saja ia katakan, terus menutup mulutnya. Dalam hati ia merasa sangat menyesal karena sudah mengatakan nya.


Padahal itu hanyalah rumor dan belum tentu benar.


Alina sama sekali tidak tau kepanjangan nama Zayyad. Dan bahkan ia sangat terkejut dengan pernyataan Maya, barusan ia mengatakan gay?


"Maya tidak boleh berbicara sembarangan! Itu hanya rumor yang tidak bisa di pertanggungjawabkan kebenaran nya. Buktinya jika kalau benar ia gay, bagaimana mungkin ia menerima di jodohkan dengan cucuku Alina"


Maya tersenyum cengengesan di tempat sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Maaf nenek! Mulut ini sangat ceroboh"


__ADS_2