Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
29. Sudah Puas Melihat?


__ADS_3

Malam harinya tepat setelah transfusi darah neneknya selesai. Dokter mengizinkan neneknya pulang untuk rawat inap di rumah.


Dengan jemputan dari supir pribadi yang di utus Zayyad. Mereka kembali ke villa. Sepanjang perjalanan Alina menyandarkan kepalanya dengan manja ke bahu neneknya.


Erina yang melihat cucunya kembali merasa sangat senang. Sepertinya Zayyad berhasil membujuk Alina pulang. Tangan tuanya pun mengelus kepala cucunya dengan lembut.


"Nenek senang Alin kembali"


Alina merasa sangat nyaman neneknya mengelus kepalanya semakin bergelayut manja. "Yah, aku tidak bisa lagi mengajar di sekolah itu. Mereka sudah merekrut pengajar yang lebih baik dan aku di pecat"


Erina tersenyum dan berkata dengan halus pada cucunya. "Alin..mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi. Zayyad sudah lebih cukup menghidupi kita"


Alina yang mendengar nya langsung duduk tegak. "Nek..kita tidak bisa bergantung dengan pria. Mereka tidak dapat diandalkan sepenuhnya"


Erina tersenyum lembut dan mengangguk mengerti. "Nenek paham! Tapi Zayyad berbeda, kita dapat mengandalkan nya".


"Kenapa nenek begitu mempercayai nya? Jika bukan keberadaan ku bermanfaat untuk nya, apa nenek pikir pria itu mau melakukan ini untuk kita?"


Jika Erina terus menjawab, itu hanya akan memicu perdebatan antara mereka berdua. Pada akhirnya ia memilih diam dan tidak berbicara lagi.


Alina yang melihat neneknya tidak menjawab. Dengan enggan memalingkan wajahnya keluar jendela.


Supir yang mengendarai mobil mau tak mau mendengar percakapan mereka. Meskipun tidak seberapa mengerti, tapi ia tau bahwa sepertinya nyonya nya itu tidak mencintai tuannya.


Menikah karena perjodohan menang sangat di sayangkan. Tidak tau kenapa orang kaya sering melakukan nya.


Akhirnya mereka sampai di villa. Nasir asisten rumah tangga menyambut kehadiran mereka.


Berjalan keruang tamu yang luas. Di sana sudah ada Zayyad dan kakeknya yang tampak sedang membicarakan hal serius. Melihat kedatangan mereka, percakapan mereka pun berhenti.


"Erina bagaimana keadaan mu?"


Sambut Irsyad dan mempersilahkan neneknya duduk. Alina tanpa basa-basi terus pergi meninggalkan ruang tamu.


Hanya untuk menemukan beberapa orang berseberangan dengannya sambil membawa barang-barang.


Awalnya Alina tidak terlalu peduli. Tapi setibanya di kamar ia melihat kamar nya sudah kosong. Membuka lemari pakaian, tidak ada isinya sama sekali. Berpaling ke meja rias itu bersih dari botol-botol perawatan nya.


Mengkerut kan alisnya, Alina merasa heran. Kemana perginya semua barang-barang nya?


Dengan berat hati ia kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Zayyad di mana semua barang-barang ku?"


Zayyad yang sedang memperhatikan ponselnya, berpaling kearahnya. "Dikamar ku"


"Apa?" Alina nyaris hampir kehilangan tempat nya berpijak.


"Alina..kalian berdua sudah menikah. Tidur pisah kamar itu tidak baik untuk pasangan, karenanya kakek mendesak Zayyad untuk mengurus kepindahan kamu kekamar nya" Irsyad dengan murah hati mewakili Zayyad untuk menjelaskan.


Karena memang itu adalah idenya dan ia yang mendesak Zayyad untuk melakukannya.


"Kakek tapi Zayyad kan gynophobic! Itu tidak mungkin kami berdua sekamar"


Irsyad sedikit terkejut mendengar Alina mengatakan itu. Sepertinya Zayyad sudah memberitahu gadis itu.


"Awalnya Zayyad juga tidak setuju. Tapi mau sampai kapan pria itu takut sama istrinya sendiri? Setidaknya dengan kalian berdua dalam kamar yang sama. Zayyad dapat terbiasa dan cepat pulih dari gynophobia nya"


Alina sama sekali tidak puas dengan apa yang di katakan Irsyad, ia pun berkata.


"Tapi tetap saja, ini akan sangat tidak nyaman untuk Zayyad. Bagaimana jika ia tidak dapat tidur tenang semalaman hanya karena keberadaan ku, Zayyad bisa saja terkena insomnia" Alina mencoba mengarang alasan yang masuk akal.


Dan berpaling kearah Zayyad dengan tatapan mengirim sinyal untuk membantu nya. "Bukan begitu Zayyad?" Matanya dengan tegas berkedip, menekan pria itu untuk membantu nya menolak.


Zayyad bukan nya membantu, Ia dengan santai memainkan ponselnya lagi. Melihat itu Alina merasa geram.


"Tapi kek-"


"Alin..menurut saja dan jangan menolak. Lagipula sampai kapan kalian akan pisah kamar seperti ini. Apa mungkin setelah nenek tidak ada kamu malah akan meminta cerai pada Zayyad"


Erina mengatakan itu sambil menjatuhkan air matanya. Tangan tuanya bergerak perlahan dan mengusapnya.


Alina yang melihat neneknya bersedih. Ia kembali ingat dengan pesan dokter hari itu, untuk tidak terlalu berdebat dan turuti saja apa yang membuat neneknya bahagia.


Menarik nafas nya, ia dengan berat hati berkata. "Nenek.. jangan berkata seperti itu" Menghela nafas berat, ia meneruskan. "Baiklah aku tidak akan menolak nya lagi"


Dengan begitu Erina tersenyum diam-diam kearah Irsyad. Pada akhirnya rencana awal mereka untuk membuat kedua pasangan itu tidur sekamar berhasil. Irsyad membalas dengan berkedip mata.


"Ini karena sudah larut, seperti nya kakek akan bermalam di sini"


Dalam hati Alina menggerutu. Jelas pria tua itu sengaja memilih untuk tinggal. Bukankah ia ingin mengawasi mereka malam ini?


                                       •••

__ADS_1


Kamar milik Zayyad dua kali lipat lebih luas dari kamar tamu yang di tempati Alina. Dengan ranjang yang besar dan kamar mandi di dalamnya.


Juga ada sofa besar dengan televisi. Ada rak buku di sebelah sisi dan mereka tersusun sangat rapi. Dan sama sekali tidak lemari pakaian di dalamnya.


Karena semua itu sudah ada di ruangan khusus. Itu terhubung dengan pintu kecil di dalam kamar.


Alina yang melangkah keruangan itu untuk mengambil piyama nya, seketika ia terkejut.


Melihat ruangan itu seperti ia melangkah ke toko baju. Belahan kanan ruangan itu di lengkapi dengan wardrobe kaca dengan cahaya lampu di dalamnya. Jadi itu terkesan sangat mewah dengan jejeran baju mahal.


Alina menangkap deretan gamis muslimah keluaran terbaru tergantung dengan rapi. Mereka sangat indah dan sangat sesuai dengan selera Alina. Apakah ini untuk nya?


Dibelahan kirinya itu terdapat jejeran tas mahal dan bermerek. Tidak hanya itu, juga ada deretan sepatu berkualitas dan itu bermacam warna.


Apakah semua ini milik nya?


Alina mendapatkan piyama bergegas mengenakan nya dan keluar. Tanpa perlu berpikir lebih jauh jelas itu semua di sediakan khusus untuk nya.


Kembali ke kamar, ia di kejutkan dengan keberadaan pria setengah telanjang. Dari pinggang ke bawah itu terbalut handuk sedang atasan nya terbuka.


Memperlihatkan dadanya yang bidang. Itu putih, kokoh dan sangat menawan mata.


Mengangkat pandangan nya lebih keatas, ia menemukan rambut hitam pria itu yang basah tampak sangat memikat. Dengan wajah tampan nya yang terlihat sangat segar.


"Sudah puas melihat?"


Zayyad sama sekali tidak mengerti dengan reaksi gadis ini. Bukankah wanita pada umumnya akan memerah karena malu di situasi seperti ini?


"Bagaimana jika belum?"


Ini adalah kesempatan Alina untuk membalas dendam. Siapa suruh tidak membantu nya berbicara tadi sama kakek ketika menolak untuk tinggal sekamar.


"Hari ini di rumah sakit, aku sudah meraba itu" Kata Alina tanpa malu mengangkat jari telunjuknya tepat kearah dada telanjang Zayyad. "Tapi itu berlapis pakaian" Katanya terdengar tidak puas.


"Melihat dada mu yang telanjang tanpa lapisan apapun, seperti nya aku tergoda untuk menyentuh nya" Kata Alina tersenyum nakal.


Mengambil beberapa langkah kedepan, tangannya dengan jahil melayang-layang di udara. Mencoba untuk menyentuh dada telanjang Zayyad.


Pria itu menekan kepanikan nya dalam hati dan melangkah mundur. Apakah di hadapannya ini sungguh seorang wanita?


"Alina..kau berani?"

__ADS_1


___


__ADS_2