Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
33. Wanita Yang Menakutkan


__ADS_3

Pria itu melompat ke dalam mobil bewarna perak dengan kap terbuka. Didalamnya sudah ada seseorang yang menyetir.


Yang tak lain adalah seseorang yang menyewa jasanya.


Membuka topeng putihnya. Itu adalah wajah yang indah dengan perawakan pria tampan yang menggoda. Kulitnya putih seperti kapas dengan mata elang yang sangat menyihir.


Udara pagi buta yang dingin menampar wajahnya seiring kecepatan mobil bertambah. Dan hawa sejuk sekitar hampir membekukan luka berdarah di kedua lengannya.


"Bagaimana apa kau berhasil membunuhnya?"


Bara mengenali pria itu dari seorang sahabat nya yang memperkenalkan pada nya. Ia pernah memakai jasa pembunuh bayaran ini yang katanya sangat profesional.


Bahkan ia dikenal sebagai pembunuh bayaran bertopeng putih. Yang sekarang menjadi incaran pihak kepolisian. Tapi mereka sangat sulit menangkap pria itu. Karena ia sangat lihai dan sulit di lacak.


Karenanya Bara tidak ragu memperkerjakan nya dan yakin dengan kemampuan nya.


"Tidak!"


Pria itu menyobek kasar jaket kulit di kedua lengannya. Melihat luka tusukan yang sangat dalam, ia tersenyum menyeringai.


'Wanita itu sangat handal'


"Apa katamu?" Bara dengan kesal memukul setang setirnya. "Aku sudah membayar mahal untuk jasa mu tapi apa ini? kau gagal, huh!"


Menancap gas, Bara mempercepat laju mobilnya. Wajahnya merah tampak penuh amarah. Ia tidak akan pernah mengira rencananya gagal lagi.


"Dan lihat kau terluka sebanyak ini? Bukannya kau pembunuh legendaris yang terkenal itu?"


Pria itu hanya tersenyum acuh tak acuh. Mengambil kapas dan alkohol ia membersihkan lukanya secara asal. Sesekali ia menggigit bibirnya menahan nyeri.


"Rencana ku sudah sempurna sejak awal"


Pria itu mulai membalut lukanya dengan kain kasa. Mengikat nya sedikit kuat untuk menekan pendarahan.


"Semua anggota keamanan di vila sudah pingsan karena bom asap andalan ku, hanya saja aku bertemu dengan seorang wanita yang sedikit menarik" Mengatakan itu, bibirnya melengkung tersenyum menyeringai.


"Wanita? Aku tidak menyuruh mu untuk menangani wanita. Kau hanya perlu membunuh nya"


"Wanita itu apakah istri dari sepupu mu?" Tanya pria itu yang tidak mempedulikan Bara yang mengomel. "Lihat kedua lengan ku ini, kau tau sebabnya karena apa?"


Bara yang masih fokus menyetir, melirik sekilas dengan tatapan bertanya.


"Itu adalah wanita itu! Karenanya aku gagal menjalankan misi ku"

__ADS_1


"Apa? Kau bahkan di kalahkan dengan seorang wanita?" Pekik Bara histeris.


Apakah ini sungguh pembunuh bertopeng putih yang legendaris itu?


"Wanita ini tidak biasa, aku bahkan tertarik padanya"


Bara tercenung sesaat. Ia memang tidak pernah melihat seperti apa istri sepupu nya itu karena Zayyad tidak mengadakan resepsi dan pernikahan mereka sangat tertutup di rumah sakit.


Dari beberapa postingan di internet itupun karena kejadian di lift hari itu. Hanya saja gambar nya tidak jelas. Ia sudah menyuruh Dodi untuk memeriksa semua latar belakang wanita itu hanya saja ia belum membaca nya.


"Jadi apakah kau masih membutuhkan jasa ku?"


"Yah setidaknya kinerja mu lebih baik dari orang- orang bayaran ku sebelumnya. Jadi aku masih menggunakan mu"


Mendengar hal itu, pria itu tersenyum menyeringai. Dengan mata elang nya menyipit haus darah dan ambisi.


"Tapi kali ini uang saja tidak cukup membayar ku"


"Maksud mu?"


"Aku ingin kau menyerah kan istri sepupu mu itu padaku"


"Apa?"


Bara sama sekali tidak mengerti, seberapa menarik nya istri Zayyad sampai pembunuh legendaris ini menaruh minat terhadap nya.


"Aku hanya ingin dia" Tegas pria itu dengan mata elang yang menyala penuh hasrat.


Kali ini Bara semakin penasaran terhadap istri sepupu nya itu. Sepertinya sungguh bukan wanita yang biasa. Memulihkan gynophobia sepupunya dan bahkan mampu menawan hati seorang pembunuh legendaris?


                                        •••


Pagi yang cerah Alina akhirnya siuman. Dengan luka di tangan nya yang sudah di bersihkan dan terbungkus rapi dalam kain kasa.


Goresan lehernya pun sudah di sterilkan dan tertutup kapas. Membuka matanya perlahan, Alina melihat seorang wanita dengan pakaian medis duduk di tepi ranjang nya.


"Ibu Alina kau sadar?" Wanita itu tersenyum profesional menampilkan deretan giginya yang putih.


Alina dengan kepala yang sedikit pusing perlahan bangun dan bersandar di kepala ranjang. Pikirannya masih tidak sepenuhnya sadar akan situasi yang baru saja terjadi. Membuat tatapannya menatap kosong kedepan beberapa saat.


"Bagaimana keadaannya?" Zayyad yang berdiri di samping rak buku besar, merasa lega melihat Alina yang siuman.


"Kondisi nya baik-baik saja, lukanya juga sudah di bersihkan jadi tidak akan infeksi"

__ADS_1


Mendengar kata-kata luka. Mata Alina berkedip beberapa kali.


"Kalau begitu saya permisi"


"Terimakasih" Zayyad hanya mengatakan itu dan tidak mengantar wanita itu pergi.


Dokter Callie bukan lah dokter keluarga, hanya dokter wanita yang ia sediakan untuk Alina. Karena ia tau Alina sangat membenci pria, karena nya ia menyediakan dokter wanita khusus untuk nya.


"Dimana pria itu!" Pekik Alina histeris.


Ia akhirnya kembali mengingat semua momen yang terjadi semalam. Seorang bajingan yang sangat mengundang hasrat membunuh nya.


Zayyad sedikit terkejut dengan reaksi nya.


"Bakri masih menyelidiki siapa pria yang membuat keonaran semalam"


Alina menegang. Ia kembali membayangkan detik dimana pria itu mengendus aroma tubuhnya yang nyaris hampir mencium lehernya. Tatapannya berubah menjadi jijik.


Dan tangan nya terkepal, menekan dendam yang mendalam. "Aku baru menusuk dua lengannya" Alina ingat saat dimana ia menikam kedua lengan pria itu dengan pisau.


Zayyad tercengang mendengar hal itu. Jadi tangan Alina yang terluka itu, mungkinkah karena ia sangat bersikeras untuk merampas benda tajam itu dari si pembunuh?


"Tapi aku belum mematahkan hidungnya"


Mendengar kata-kata Alina selanjutnya, tatapannya terus lurus tertuju kearah nya. Ia dapat melihat wanita itu sangat dingin.


"Padahal ia sudah berani mengendus aroma tubuh ku"


Entah kenapa Zayyad merasa kesal mendengar hal itu. Pembunuh itu berani mengambil kesempatan untuk menikmati aroma tubuh istrinya yang bahkan ia saja belum pernah melakukan nya.


"Sial!" Alina dengan frustasi melempar guling kelantai.


Reaksi nya kali ini mengundang Zayyad untuk melangkah lebih dekat kearahnya.


"Aku tidak mengenakan kerudung semalam" Alina dengan kacau memegang rambutnya. "Dan pria itu sudah melihat rambut ku" Geram nya marah. Matanya menyala dengan api kebencian dan dendam. "Aku akan mencungkil bola mata itu"


Langkah Zayyad terhenti. Mendengar kalimat itu dari seorang wanita, tidak tau kenapa bulu romanya naik. Alina sangat menyeramkan, wanita ini tidak hanya iblis penggoda tapi juga sosok yang kejam berdarah dingin.


"L-lalu bagaimana dengan ku?" Zayyad untuk pertama kalinya gugup dan gemetar. Bukan karena godaan Alina yang seperti biasa, tapi kata-kata yang baru saja di ucapnya tadi.


Itu sedikit menakutkan!


Alina akhirnya menyadari bahwa ada Zayyad yang sudah memperhatikan nya sejak awal.

__ADS_1


"Aku sudah melihat rambut mu" Kata Zayyad yang berusaha keras menyembunyikan ketakutan nya dengan bersikap tenang kembali. "Apa kau akan mencungkil milik ku juga?"


___


__ADS_2