Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
32. Apa Istrimu Baik-baik Saja?


__ADS_3

"Tentu saja!"


Pria bertopeng putih itu memukul dadanya yang sama sekali tidak terluka. Ada logam tebal yang sengaja ia pakai untuk melindunginya.


"Sepertinya aku harus kembali" Katanya kemudian. Situasi saat ini tidak memungkinkan nya untuk melanjutkan aksinya.


"Sudah melangkah, bagaimana bisa pergi?"


Zayyad mengambil langkah kedepan untuk menahan.


Pria bertopeng itu tidak lagi membuang-buang waktu. Mengambil sesuatu dari sakunya, menggigit benda itu dengan gerakan menyobek, ia melempar nya ke lantai.


Boom!


Asap putih pun keluar dari benda itu. Zayyad menjepit hidungnya mencegah mencium oksigen sekitar yang sudar tercemar.


Detik itu pria bertopeng mengambil kesempatan melarikan diri. Ia berlari cepat kearah balkon dan melompat.


Alina tidak tahu asap apa yang ia hirup. Tapi mendadak kepalanya terasa berat. Mau tak mau ia merasa pusing dan jatuh ke lantai.


Asap putih perlahan menghilang. Zayyad berhenti menjepit hidungnya. Melihat orang asing itu sudah melarikan diri, dengan kesal ia menendang lemari kecil yang ada di sampingnya. Barang-barang antik didalamnya pun bergetar dan beberapa jatuh.


"Sial!"


Mengambil ponselnya ia segera menghubungi Bakri.


Di tempat yang berbeda, Bakri tertidur pulas di atas ranjangnya. Mendengar ponselnya berdering, keningnya berkerut.


'Siapa yang menghubungi ku begitu larut?'


Bakri meraih ponselnya dan menolak panggilan. Matanya sama sekali tidak melihat siapa itu yang memanggil nya.


Beberapa detik kemudian ponselnya berdering lagi. Bakri dengan kesal mematikan nya lagi.


Hingga berdering yang ketiga kalinya. Bakri duduk dan mengangkat panggilan itu marah.


"Siapa yang menggangu tidur ku huh? Aku harus bekerja besok"


"Ini sudah pukul tiga pagi, bekerjalah lebih awal untuk hari ini"


"P-pak" Bakri kehilangan kata-katanya. Ia tidak pernah mengira itu akan menjadi bosnya.


"Datang lah ke vila ku sekarang" Itu adalah nada yang menekan 'segera' dan menyiratkan 'sesuatu yang buruk terjadi'.


"Baik pak!" Segera kantuk Bakri lenyap.

__ADS_1


"Saya akan bergegas kesana"


Panggilan berakhir. Bakri menjepit alisnya dan berpikir, apakah bosnya baru saja di serang? Dengan panik ia turun dari kasur. Masih menggunakan piyama nya, Bakri mengambil kunci mobil dan ia pun siap pergi ke vila bosnya.


Zayyad melihat Alina yang sudah pingsan, tapi ia tak sanggup untuk mengangkat tubuh istrinya itu. Dengan rambutnya yang tergerai panjang seperti itu, begitu sulit membayangkan nya dalam wujud seorang pria.


Menekan ketakutan dan rasa mual nya. Tangannya turun kebawah untuk meraih pinggang kecil yang sangat lembut itu dan mengangkatnya.


Kedua tangannya yang bergetar, perlahan membaringkan wanita itu di atas ranjang. Ia pun menghela nafas lega sambil mengusap pelipisnya yang sudah muncul titik-titik keringat dingin.


Ia duduk di atas ranjang. Mengambil tempat yang sedikit jauh dari wanita itu berbaring.


Tatapannya jatuh pada Alina yang sedikit menyedihkan. Ada goresan luka di lehernya yang halus. Sisa darah di sudut bibirnya yang merah kecoklatan.


Menarik pandangan nya ketempat lain, ia bertemu dengan telapak tangan kanannya. Itu penuh darah dan luka.


Tidak tau kenapa, rasa asam dan pahit itu muncul. Membakar matanya hingga panas dan mengikat dadanya hingga terasa sesak.


Tanpa sadar kedua tangannya terkepal. Ia sama sekali tidak mengerti emosi apa yang ada dalam dirinya. Tapi yang pasti, ia sama sekali tidak bahagia ketika melihat wanita yang baru saja begitu bersemangat menggoda nya.


Sekarang sudah terbaring tak sadarkan diri dengan luka- luka seperti ini.


"Mereka bergerak lagi"


Mendengar suara yang muncul dari ambang pintu kamarnya yang terbuka. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tau siapa itu.


"Apakah istrimu baik-baik saja?" Ia bertanya dengan panik.


"Aku tidak dapat memanggil dokter sekarang, ini masih terlalu awal"


Pukul tiga pagi semua orang masih terlelap. Dan ia baru saja dengan terpaksa memanggil Bakri untuk datang.


"Tapi istrimu sudah seperti ini kau tidak bisa menunda" Irsyad terkadang merasa kesal dengan sisi halus cucunya.


"Mereka manusia yang sedang istirahat, bukan robot yang bekerja 24 jam. Pukul 7 pagi nanti aku akan memanggil dokter"


Irsyad yang mendengar itu tak tau harus berkata apa lagi. Karakter cucunya memang sangat jauh berbeda dengannya yang keras, otoriter dan hanya mementingkan kepuasan pribadi.


Zayyad selalu menjadi pria tenang, seperti embun yang jatuh di pagi buta. Itu dingin sedikit menusuk tulang, tapi membawa kesejukan yang berbeda jika menyentuhnya.


Dia memiliki sisi hangat seperti fajar baru, tapi jarang memunculkan nya. Hati nya sehalus sutra, tapi sedikit sulit merasakannya. Karena ia terlalu jauh, seperti bulan di langit malam. Sulit untuk menggapai nya dengan tangan dan terlalu jauh untuk melihat permukaan nya yang sebenarnya.


"Bagaimana dengan nenek?"


"Maksud mu Erina?"

__ADS_1


Irsyad sangat senang mengetahui Zayyad selama ini memanggil nenek Alina sebagai neneknya juga.


"Apakah dia baik-baik saja?"


Zayyad tak menggubris pertanyaan kakeknya.


"Dia baik-baik saja"


Zayyad terdiam sejenak. Menoleh pada Alina sekilas lalu menatap ke langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh sampai ponselnya berdering.


"Kamu sudah sampai?"


"Langsung saja masuk"


"Saya tunggu di lantai dua"


Zayyad bangun sambil memegang ponsel ditangan nya. Ia berjalan kearah kakeknya yang masih memperhatikan Alina yang tak sadarkan diri.


"Sepertinya mereka tidak akan aman jika tinggal dengan ku" Kata Zayyad serius. Ekspresinya tenang seperti biasa tapi mata coklat nya terlihat resah dan bersalah.


"Ada baiknya jika aku menyiapkan tempat tinggal lain untuk mereka"


"Kau berpikir terlalu jauh" Kata Irsyad.


Zayyad diam dan matanya terus menatap kearah mata tua di hadapannya.


"Yang mereka incar adalah kamu. Mereka tidak akan pernah menjadi kan Alina dan neneknya sebagai alat mengancam kamu, karena..." Irsyad mengambil nafas dan menghelanya berat.


Tangannya memegang kedua bahu cucunya dan mata tuanya menatap dengan rasa bersalah. "Yang mereka butuhkan hanyalah kematian mu"


Zayyad masih diam. Tidak ada perubahan apapun pada wajah nya. Ia sudah tau sejak awal, bahwa yang mereka target kan adalah kematian nya. Tapi tetap saja, ini mempengaruhi orang sekitar nya. Seperti pada hari ini, Alina terluka karena berada di sekitarnya.


Irsyad yang seakan mampu menebak apa yang di pikirkan cucunya terus berkata. "Yang terjadi pada hari ini adalah kecelakaan, tetap saja sebenarnya tujuan mereka adalah kamu. Kalau tidak aku dan nenek Alina juga sudah terluka kan?"


Zayyad hanya mengangguk. Alangkah baiknya jika ia sendiri seperti dulu. Ia tidak perlu mengkhawatirkan siapapun dan cukup mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Kamu sungguh memperhatikan mereka, apakah kau sudah mampu menerima mereka?" Irsyad tidak akan pernah mengira cucunya yang menerima perjodohan dan menikah hanya untuk menyapu rumor tapi dapat begitu perhatian pada mempelai wanita dan neneknya.


"Kakek kau sungguh tau aku seperti apa!"


Irsyad mengerutkan keningnya.


"Jika aku sudah mengambil keputusan, maka tidak hanya akan mengandalkan logika" Zayyad menunjukkan kepalanya. "Tapi juga ini" Lalu ia menekan dadanya.


"Aku menikahi Alina untuk menyapu rumor itu adalah bagian dari pemikiran ku untuk menyelesaikan masalah. Tapi untuk hati ku yang juga menginginkan keluarga kecil yang bahagia"

__ADS_1


Irsyad tersenyum lebar. Mata tuanya bersinar penuh rasa haru. Sejak dulu ia tau, bahwa cucunya sangat menginginkan kehidupan dengan keluarga kecil yang sederhana dan bahagia.


___


__ADS_2