Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
43. Wanita Yang Kehilangan Kendali


__ADS_3

"Shh.."


Membungkuk kan badannya, Alina mendesis halus di telinga Zayyad. Mata hitamnya seperti di dera sihir kegelapan. Ketika ia tersenyum, aura di sekitarnya gelap dan membunuh.


Ini bukan kali pertama Alina menggoda Zayyad. Mempermainkan dirinya sebagai pelampiasan dendamnya terhadap semua pria. Tidak kira itu pada tahap memanfaatkan, mengerjai atau bahkan melecehkan.


Tapi dari semua itu, ini adalah kali pertama Zayyad menemukan Alina jauh dari seperti biasanya. Ia tampak seperti sedang kerasukan sesuatu, yang membuat nya seperti iblis penggoda yang kejam dan tanpa ampun.


Pelecehan yang di lakukan nya pun jauh berbeda dari biasanya. Setiap sentuhannya penuh hasrat yang menakutkan. Tapannya yang bergairah sangat membakar. Ketika bibir merahnya terbuka, desiran halus suaranya dingin mencekam seperti angin di hutan. Menggigil kan pendengar dan membawa rasa takut yang tak terkatakan.


Hembusan nafasnya yang hangat, itu menggelitik seperti hawa di musim kemarau. Membuat peluh keringat dengan rasa cemas akan kematian.


Mata Zayyad memanas, deru nafasnya berat dan tersendat-sendat. Sesekali gigi putihnya menggigit bibir bawahnya. Mencoba untuk tidak terisak. Karena air matanya sudah meluncur menyedihkan di kedua belah pipinya.


"Anak manis.." Kata Alina dengan sorot mata yang dibuat lembut. "Jangan menangis!" Jempolnya mengusap lembut pipi Zayyad yang sudah basah karena air mata.


Usapan itu sangat lembut, tapi untuk Zayyad ia seperti tersengat listrik. Tubuhnya menegang, bola matanya membesar dan bulu matanya bergetar.


"Kamu tidak akan menikmati nya jika kamu menangis" Alina mengembangkan senyum manis yang dibuat-buat. Tangannya menepuk-tepuk lembut kepala Zayyad seperti memanjakan kucing besar.


"Ayo! berhenti menangis dan nikmati saja, ya?"


Tatapan Zayyad berubah menjadi kosong. Bulu matanya yang bergetar perlahan berhenti. Air matanya mengering begitu saja. Nafasnya yang sebelumnya terasa berat dan tak teratur. Perlahan berhembus dengan tenang dan stabil.


Penampakan pria dewasa yang kehilangan jiwa, nyaris seperti boneka hidup yang bernyawa, memiliki raga tapi kehilangan perasa.


Alina membungkuk kan wajahnya lebih dekat pada Zayyad. Bibir merahnya jatuh dengan lembut menimpa bibir coklat keunguan Zayyad yang pucat dan kering.


Memori kelamnya kembali menghantui nya. Adegan gadis kecil yang polos, dengan mata hitamnya yang jernih terbelalak kaget. Menemukan wajah pria dewasa yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Perlahan bola matanya membesar, merasakan sesuatu yang kasar dan kering menempel di bibirnya.


Menurunkan pandangan nya, ia menemukan bibirnya di cium paksa oleh pria dewasa di depannya. Itu kasar dan penuh gairah. Menjepit sepasang alisnya, gadis kecil itu menahan sakit karena siksaan ciuman yang kasar itu.

__ADS_1


Gadis kecil yang polos, sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di mainkan pria dewasa di depannya. Menyemut bibirnya nyaris seperti orang lapar dan menggigit nya hingga berdarah.


Gadis kecil itu hanya mampu menangis menahan sakit. Tubuhnya yang mungil tidak berdaya melawan pria kekar di depannya. Hatinya menjerit akan ketidakberdayaan. Mengharapkan seseorang datang untuk menarik nya dari neraka yang menakutkan itu.


Alina tanpa sadar menangis. Menurunkan pandangannya kebawah, ia bertemu dengan tatapan Zayyad yang kosong. Dengan luapan emosi kesedihan, ketidakberdayaan dan kebencian pada masa kelam itu.


Alina menyemut bibir Zayyad dengan penuh gairah yang berlandaskan dendam. Itu kasar dan tanpa ampun. Membuka bibirnya, ia bernafas terengah-engah. Lalu ia kembali melanjutkan ciuman panas nya yang berakhir dengan gigitan keras.


Alina menggigit bibir Zayyad cukup lama. Nyaris seperti hewan buas yang kelaparan. Itu tidak pernah puas dan terus berlanjut. Darah segar pun merembes menengahi ciuman panas sebelah pihak.


Yang satu sangat bersemangat seperti kerasukan hantu ganas sedangkan yang satunya lagi seperti boneka hidup tanpa jiwa.


Alina menarik bibir merahnya yang sudah basah dan lembab yang bercampur darah segar Zayyad. Lalu perlahan bibir itu turun kebawah, menyusuri leher hingga ke permukaan tulang selangka Zayyad.


Kulit putih nya yang bersih tampak berkilat dengan jejak keringat di sekitaran tulang selangka nya yang menawan. Tubuh Alina menegang, ketika tatapan jatuh pada memar- memar biru yang memenuhi leher dan tulang selangka Zayyad.


Seketika ia tersadar, seperti baru saja melepaskan roh jahat yang merasuki tubuhnya. Alina terduduk menyesal.


Bola mata coklatnya yang basah nyaris seperti sudah kehilangan jiwa. Perlahan bulu mata panjangnya itu tertunduk lemah. Kelopak mata nya tertutup dan Zayyad kehilangan kesadarannya begitu saja.


Alina terdiam. Ia tidak akan pernah mengira gejolak api kebenciannya datang begitu dahsyat merenggut jiwa nya malam ini.


Ia melampiaskan semuanya kepada Zayyad yang baru saja cukup menderita dengan pelecehan yang dialami nya hari ini.


Dan dimalam hari nya, Zayyad kembali harus menanggung derita yang sama.


Dalam keadaan bergeming, Alina berkontemplasi dengan batinnya. Sisi hitam di hatinya mendorong nya untuk tidak perlu menyesali perbuatannya. Membisikkan bahwa ia seharusnya puas karena separuh dendamnya terhadap pria terbayar sudah.


Tapi sisi putih di hatinya membawa rasa penyesalan. Mengatakan bahwa ia sudah melukai seseorang yang tidak seharusnya ia lukai. Melampiaskan dendam pada suaminya sendiri yang sama sekali tidak memiliki andil apapun pada masa kelamnya yang suram.


Alina dengan kekacauan itu, meremas kepalanya sambil menangis histeris. Derai air matanya yang tumpah bercampur rasa asin darah di bibirnya.

__ADS_1


Perlahan Alina menyentuh bibirnya dengan jemari telunjuknya dan melihat ada darah. Tangannya bergetar, jantungnya berdebar keras dan tubuhnya berguncang.


Beberapa saat kemudian Alina berdiri dan bergegas ke kamar mandi.


Menghidupkan keran air, ia membersihkan wajahnya yang sudah basah dan lengket karena bekas air mata. Menyapu bibir merah kecoklatan nya nya yang ada noda darah. Lalu ia mengangkat wajahnya sekilas kearah cermin.


Mengambil tisu, Alina mengeringkan tangannya. Ia pun keluar dari kamar mandi dan menemukan Zayyad yang masih belum sadarkan diri.


Perlahan ia menghampiri Zayyad. Mengalungkan lengan pria itu di atas lehernya. Alina berusaha keras untuk memapahnya.


Tapi beban tubuh pria dewasa tentunya tidak mudah untuk Alina yang kurus memapah nya. Setelah berjuang berulang kali, akhirnya Alina berhasil menegakkan lututnya dan berdiri.


Dengan langkah tertatih-tatih karena menanggung seluruh beban tubuh Zayyad, perlahan ia mendekati ranjang dan membaringkan pria itu disana.


Alina mengusap dahinya yang basah karena keringat. Dan nafasnya tersengal karena lelah. Mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, tatapannya jatuh pada Zayyad.


Nafasnya terdengar halus dan tenang. Pria itu tampak nya sudah jatuh tertidur. Perlakuan nya tadi pasti sangat mengagetkan Zayyad.


Tidak tau bagaimana Alina menghadapi Zayyad besok, akankah pria itu marah padanya? Mungkin Alina tidak terlalu mempedulikan hal itu.


Tapi bagaimana jika Zayyad mengadukan perlakuan nya malam ini pada nenek? Menggigit bibir bawahnya, Alina mulai gelisah.


Alina kembali menurunkan pandangan nya pada Zayyad. Menarik nafas dalam-dalam, ia menghembuskan nya perlahan mencoba untuk tetap tenang.


Ia menyakinkan dirinya, kalau Zayyad tidak akan melaporkan apapun pada nenek. Bukankah mereka sudah memiliki kesepakatan sebelumnya?


"Aku tau ini tidak adil bagi mu menjadi korban dari pelampiasan dendam ku" Alina menatap wajah tampan Zayyad yang tertidur dengan tatapan yang tak terdefinisi.


"Tapi ini adalah kesalahan mu juga karena sudah memilih untuk menikah dengan ku"


Menikah dengan dirinya yang adalah seorang misandris.

__ADS_1


___


__ADS_2