
Disamping dokter pribadinya yang sedang memeriksa keadaan Alina. Zayyad duduk di sofa ruang kerja nya dengan gelisah.
Bukan mengkhawatirkan keadaan Alina. Tapi ia memikirkan keadaan dirinya yang baru saja sangat dekat dengan wanita. Ia sungguh baru saja menggendong Alina?
Zayyad tak dapat mempercayai fakta itu. Merenungi kedua tangan yang baru saja mengangkat Alina, itu bergetar.
Apakah ia sungguh sudah pulih dari phobia nya terhadap wanita?
Sudah bertahun-tahun Zayyad berusaha keras untuk menghilangkan phobia yang satu itu dalam dirinya. Bagaimana pun juga ia sangat ingin hidup normal seperti pria pada umumnya.
Tapi setelah mengingat lebih jelas apa yang baru saja ia lakukan. Zayyad tertawa masam. Itu wajar ia berani, karena ia sungguh berhasil membayangkan Alina dalam wujud seorang pria.
"Pak, ibu Alina baik-baik saja! Tidak lama lagi ia akan siuman"
Zayyad tersentak dari lamunannya. Mendengar apa yang di katakan dokter, ia hanya tersenyum mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi"
"Baik dok, terimakasih"
Zayyad kembali ke bilik kecil di ruangan nya. Ia melihat Alina yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Wajahnya yang pucat sudah normal kembali. Cerah dan merona seperti kelopak mawar. Itu adalah jenis keindahan yang pria manapun dapat jatuh hati.
Zayyad sebenarnya juga jatuh hati dengan keindahan Alina. Dan seharusnya ia bahagia memiliki istri yang baik dan cantik seperti Alina.
Hanya saja ketakutan yang menguasai dirinya, membuat nya tak mampu menghargai keindahan yang sudah di takdir kan untuknya itu.
Mengambil beberapa langkah lebih dekat ke tepi ranjang. Zayyad perlahan mengulurkan tangannya. Ingin menyentuh pucuk kepala Alina.
Tapi sayangnya tangannya bergetar. Haruskah ia membayangkan Alina dalam wujud pria seperti tadi? Dengan begitu ia dapat menyentuh istrinya sendiri.
Zayyad merasakan nasib dirinya sangat miris.
"Alina, karena kau sudah bersedia menikah dengan ku, maka aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Baik itu apakah aku jatuh cinta padamu atau tidak, aku akan terus membiarkan kamu tetap di sisiku. Sekalipun aku tidak dapat menyentuh mu, tapi dunia ku milikmu sekarang"
Zayyad sama sekali tidak mengerti kenapa ia mengatakan hal itu. Tapi setelah kejadian ini, entah kenapa ia sama sekali tidak menyesal menikahi Alina.
Ia percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin mereka saling mengenal satu sama lain karena kakek dan nenek mereka ingin menjodohkan mereka meskipun tanpa paksaan sama sekali.
Dan walaupun pada awalnya mereka saling menolak.
Begitu saja ada jalan yang membuat mereka memutuskan untuk saling menerima satu sama lain.
Hingga pada akhirnya mereka terikat dalam ikatan sakral yang suci.
Alina seorang misandris dan ia pria dengan gynophobia. Ketika itu disatukan akan membentuk hubungan yang seperti apa nantinya?
__ADS_1
Itu biarlah jalan takdir yang menjawabnya.
•••
Ketika malam tiba, akhirnya Bakri berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia berhasil menemukan lima karyawan perusahaan di balik kejadian terjebak nya tuannya dan istrinya hari ini. Mereka adalah pengkhianat yang bekerja pada musuh besar tuannya.
Dan sekarang mereka di pecat dan sudah di laporkan ke pihak yang berwenang karena atas semua yang terjadi, bagaimana mungkin tuannya membiarkan mereka pergi dengan mudah.
Pada akhirnya seluruh wartawan dapat tenang. Mereka akhirnya dapat pulang tanpa harus mengkhawatirkan menginap di perusahaan. Mungkin mereka tidak akan pernah melupakan kejadian itu sepanjang pengalaman mereka dalam meliput berita.
"Bagus!"
Zayyad yang sedang berdiri, memandangi keindahan malam kota di bawah sana, melalui kaca jendela gedung perusahaan nya. Ia berdiri santai dan tersenyum puas.
Tidak tau trik apa lagi yang akan di mainkan oleh musuh besarnya itu, setelah peristiwa ini.
"Untuk kinerja mu yang sangat luar biasa, aku akan memberimu bonus 30% untuk mu bulan ini"
Bakri yang mendengar mendapatkan bonus dari tuannya, merasa sangat bahagia setelah mengalami sedikit frustasi karena sempat mendengar kata pecat sebelumnya.
"Terimakasih pak"
"Bakri"
"Iya, pak?"
"Baik pak! Akan saya laksanakan"
Sebenarnya Bakri sangat terkejut mengetahui fakta bahwa tuannya berhasil menggendong Alina yang tak sadarkan diri dari kejadian di lift hari ini.
Jika saja tuannya gagal, ia tidak dapat membayangkan bagaimana cara tuannya menyelesaikan konflik nya di masa depan.
Bisa saja posisi nya sebagai CEO di lengserkan detik itu juga.
Setelah kejadian hari ini, apakah itu berarti phobia tuannya pada wanita sudah pulih? Kalau itu benar, maka Alina sangat luar biasa dapat menyembuhkan phobia tuannya.
Meskipun nyonya nya itu sangat tidak bersahabat, tapi diam-diam ia memuji nya dalam hati.
Disamping itu Alina sudah berada di vila. Setelah siuman ia langsung ingin pulang. Tak lupa ia mengatakan pada Zayyad bahwa kejadian hari ini, ia tidak mau sampai neneknya tau.
Setelah makan malam Alina duduk bersandar di atas bingkai jendela kamarnya.
Memandangi malam yang sunyi tanpa bintang dan rembulan. Sedangkan pikiran nya mengembara jauh.
Sayup-sayup ia mendengar suara mobil bersamaan dengan bunyinya pintu pagar di buka.
Sepertinya Zayyad baru saja pulang.
__ADS_1
Kejadian yang di lift hari ini, ia hanya ingat bahwa lift berguncang hebat dan lampu didalamnya mati.
Sampai ketika ia merasa seperti akan terkurung. Ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.
Kesadarannya sudah bercampur dengan adegan masa lalunya yang menyeramkan pada waktu itu. Dan pikirannya hanya terpusat pada satu kalimat 'jangan kurung...'
Segalanya menjadi kacau, jiwanya gelisah, dadanya sesak dan matanya menangis ingin di bebaskan.
Tapi ada satu hal yang di ingat nya samar-samar. Itu adalah wajah seseorang yang tampak seperti mengkhawatirkan nya.
Wajah yang melembut ketika ia memohon. Dan kata maaf yang halus dan terdengar tulus.
Apakah mungkin itu Zayyad?
Tidak! Pria itu memiliki ketakutan khusus pada wanita. Bagaimana mungkin ia memiliki keberanian untuk begitu dekat dengan nya sampai mengatakan hal-hal seperti itu.
Drtt..drtt..
Ponselnya bergetar.
Alina beranjak dari jendela, menuju meja yang ada di dekat ranjang. Mengambil ponselnya ia melihat sebuah pesan dari Maya.
'Malam!'
'Alina apakah kau baik-baik saja?'
Alina tersenyum tipis membaca pesan itu.
Pastinya Maya mengetahui kejadian yang di alami nya hari ini. Para wartawan itu pasti sudah merilis berita hangat tentang mereka.
'Alhamdulillah! aku baik'
Balas Alina, setelah mengetik jawabannya ia menekan kirim.
'Sungguh?' Balas Maya begitu cepat.
'Aku baru saja melihat berita mu di internet yang baru saja dirilis. Aku sangat khawatir untuk mu'
Membaca itu Alina tersenyum haru di hatinya. Dan segera mengetik balasan.
'Aku baik-baik saja sekarang! Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku'
'Kau tau? Suamimu sangat luar biasa hari ini'
Membaca balasan itu, Alina mengkerut kan dahinya.
___
__ADS_1