Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
49. Tidak Bisa Pulang


__ADS_3

Malamnya Zayyad terbangun. Dalam keadaan jauh lebih baik. Kepalanya tidak lagi terasa berat dan suhu tubuhnya kembali normal. Ia perlahan bangun sambil menyingkirkan handuk yang sudah kering menempel di dahinya. Detik itulah pandangan nya jatuh pada seseorang yang sedang tidur di atas sofa.


Perusahaan besar sudah sunyi. Para karyawan tidak ada yang pernah kerja lembur. Sinar keperakan rembulan menembusi dinding kaca. Jatuh sempurna diatas siluet tubuh yang terlelap. Rambut hitamnya yang seperti tinta, tampak bercahaya samar karena sinar bulan. Kaki jenjangnya yang telanjang, tampak lebih putih dan pucat. Dengkuran halusnya yang terdengar. Mengalir begitu saja di pertengahan malam, ruang, dan sunyi.


Zayyad perlahan turun dari kasur. Meraih selimut, ia mengambil beberapa langkah yang sangat pelan menuju sofa. Lalu meletakkan selimut itu, sangat lembut, diatas tubuh gadis yang tertidur pulas. Setelah melakukannya ia tak beranjak pergi, hanya berdiri, menatap kebawah dan bergeming.


"Terimakasih karena sudah mempedulikan ku" Katanya. Mata coklatnya yang melankolis tampak tersenyum samar, sekalipun bibirnya tidak menunjukkan perubahan.


Dulu pada saat ia mengalami situasi seperti itu. Ia hanya pergi beristirahat di kamar. Tanpa ada seorangpun yang tau. Ia terus meringkuk di balik selimut. Hanya tidur dan tidak makan apapun. Sampai pada akhirnya ia bangun lagi. Menemukan ia masih seorang diri, bermandikan keringat dengan kondisi tubuh yang jauh lebih baik dan merasa sangat lapar.


Tapi sekarang situasinya berbeda. Ia tidur meringkuk di balik selimut dan seseorang menemukannya. Bertanya padanya apakah ia butuh dokter? Merawatnya dengan cara sederhana seperti meletakkan handuk basah di atas dahi untuk menurunkan demam, menyuapinya makan, dan menunggu nya.


Ketika ia bangun, ia tidak menemukan dirinya sendiri. Tapi melihat siluet tubuh yang tertidur karena menunggu nya. Menantikan keadaan nya apakah jauh lebih baik atau tidak. Dan mungkin bertanya...


"Kau sudah bangun?" Alina terbangun dengan mata yang masih terasa sedikit berat, samar-samar melihat Zayyad yang berdiri di hadapannya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Perlahan ia bangun dan menemukan selimut putih menutupi separuh tubuhnya. Samar-samar aroma lavender yang bercampur keringat pria merasuki penciumannya.


Sudut bibir Zayyad sedikit tergerak, tersenyum samar. "Ya, aku sudah bangun dan jauh lebih baik" Akhirnya ada seseorang yang menanyakan hal seperti itu sekarang.


Karena ruang yang temaram, sedikit samar dengan penerangan bulan dari luar. Alina tidak dapat memperhatikan ekspresi Zayyad dengan jelas. Ia pun bangkit dari sofa, perlahan berjinjit di hadapan pria itu. Meletakkan punggung tangannya di dahinya, ia berkata. "Demam mu sudah turun"


Zayyad tercenung. Matanya yang terbelalak lebar, menatap Alina yang berjinjit di bawahnya. Merasakan punggung tangannya yang lembut, menempel di dahinya. "Maaf" Alina segera menarik tangannya. Dan menjatuhkan dirinya di sofa kembali. "Aku lapar!" Keluh Alina sambil mengusap perutnya.


Zayyad mengambil ponselnya dan memesan makanan malam. "Sebentar lagi pesanan tiba. Aku akan menunggu di bawah" Zayyad pun pergi meninggalkan Alina sendiri.


Alina memutuskan untuk menunggu di ruang kerja Zayyad. Menyalakan lampu, ia berjalan kearah jendela besar. Berdiri di sana, tatapannya jatuh ke bawah. Menikmati suasana hiruk pikuk kota dari atas. Ribuan kendaraan yang terlihat kecil, berlalu-lalang seperti gerombolan semut. Dan lampu-lampu jalan, yang tampak seperti gelembung kecil di udara yang bercahaya.

__ADS_1


Ceklek!


Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Alina mengalihkan pandangannya kebelakang. Melihat Zayyad yang berjalan kearah meja kopi, meletakkan bungkusan makanan. "Ayo makan!" Katanya sambil menata makanan itu dengan rapi di atas meja.


Lalu ia pergi menuangkan dua gelas air putih. Dan malam itu, akhirnya untuk pertama kalinya mereka makan malam bersama. Dan itu di perusahaan.


"Biasanya kau makan malam di kantor seperti ini?" Tanya Alina di sela-sela menikmati makanan nya. Ia bertanya begitu karena Zayyad selalu pulang setelah mereka makan malam. Dan bahkan akhir-akhir ini ia pulang jauh lebih larut. "Em" Zayyad mengangguk.


"Apa bos besar seperti mu harus selalu kerja lembur?"


"Huk..huk" Zayyad tanpa sengaja tersedak mendengar pertanyaan Alina selanjutnya. "Ini minum!" Alina memberikan segelas air untuk Zayyad.


Zayyad meminumnya perlahan sambil menepuk dadanya. "Kau makan cukup pelan, tapi masih juga tersedak?" Alina menggelengkan kepalanya tak mengerti dan kembali makan.


Zayyad menatap Alina beberapa saat. Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu sebelumnya, ia kembali makan. Sebenarnya ia tidak pernah kerja lembur dan bahkan ia melarang para karyawan nya. Hanya saja ia sengaja pulang telat dan makan di kantor untuk menghindari interaksi dengan Alina dan neneknya di meja makan.


Untuknya yang sudah lama hidup seorang diri, melakukan hal yang seperti itu entah bagaimana terasa agak canggung. Disamping itu ia terlalu malas menghadapi Alina yang selalu usil dan menggoda nya. Padahal wanita itu tau jelas kalau ia gynophobic.


"Kita pulang sekarang"


"Lalu bagaimana dengan pakaian ku?" Alina menatap tubuhnya yang mengenakan kemeja putih Zayyad yang kebesaran. "Aku tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti ini".


"Sudah tidak ada siapapun lagi di perusahaan"


"Lalu bagaimana dengan CCTV?"


"Aku bisa mengaturnya nanti"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang"


Alina dengan semangat bangun dari sofa. Zayyad mengambil jas putih miliknya, lalu mengikat nya di pinggang Alina untuk menutupi tubuh bawah Alina yang sedikit terbuka. "Terimakasih" Kata Alina yang hampir terdengar seperti gumaman.


Mereka akhirnya keluar dari perusahaan dan menuju ke basement. Zayyad menyalakan mesin mobil dan mereka bergegas pulang ke vila. Sepanjang perjalanan, Alina yang duduk di belakang. Menikmati pemandangan luar dari jendela mobil yang tertutup. Tiba-tiba ia teringat dengan insiden terjebak di lift sampai ia pingsan.


"Insiden di lift waktu itu, kau yang mengangkat ku kan?"


"Em" Zayyad mengangguk dan terus fokus menyetir.


"Bagaimana kau bisa melakukannya?" Tanya Alina bingung. Ia memeluknya sesaat saja, Zayyad sudah mual dan bahkan muntah. Tapi kenapa hari itu...


"Aku berusaha keras membayangkan kalau kamu adalah pria pada saat itu"


"Lalu dengan begitu kau bisa menyentuh ku?"


Zayyad yang menatap jalan di depan, mengkerut kan dahinya. "Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?"


"Yah..aku penasaran saja bagaimana kau bisa melakukannya pada saat itu"


Diam-diam Alina mengalihkan pandangan nya keluar jendela dan tersenyum. Sepertinya ia menemukan cara bagaimana membuat Zayyad menganggap nya sebagai pengecualian.


Zayyad yang fokus menyetir, menemukan ponselnya bergetar diatas dasbor. Ia pun memasang earphone bluetooth nya. "Halo?"


Setelah mendengar perkataan si penelepon. Panggilan pun berakhir. Zayyad yang tercenung, melirik sekilas ke Alina melalui kaca spion depan. "Alina" Panggilnya pelan.


"Ya?"

__ADS_1


"Kita tidak bisa pulang sekarang"


                           •••


__ADS_2