Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
7. Memilih Cincin Pernikahan


__ADS_3

Alina baru saja selesai makan siang, setelah menyuapi neneknya makan yang sekarang sudah tertidur.


Berjalan ke sofa, ia berbaring santai dengan meluruskan kedua kakinya.


Mengambil ponselnya ia langsung menghubungi Maya untuk mengabari pernikahan nya yang akan di adakan dalam minggu ini di rumah sakit.


"Assalamu'alaikum"


"May, aku akan menikah dalam minggu ini"


"Aku serius!"


"Iya, aku sama sekali tidak bercanda"


"Dengan pria asing yang di jodohkan nenek ku"


"Aku sudah bertemu sekali dengan nya"


"Tidak! Biasa-biasa saja"


"Kau dapat mengambil cuti beberapa hari untuk menemani ku?"


"Terimakasih Maya!"


"Assalamu'alaikum"


Tepat setelah Alina mengakhiri panggilan.


Pintu kamar di buka seseorang. Yang mengejutkan Alina itu adalah asisten pribadinya Zayyad.


Merajut sepasang alisnya, Alina bertanya dalam diam. Untuk apa ia datang kemari?


"Nona Alina!" Sapa nya sopan.


"Em" Alina memainkan ponsel di tangannya menunjuk kan respon acuh tak acuh.


Bakri tak tau apa salahnya, merasa sejak awal pertemuan. Alina selalu acuh tak acuh terhadap nya.


"Tuan Zayyad sudah menunggu anda di mobil"


Sepasang alis Alina terjalin erat. Bangun dari sofa, ia duduk tegak dan terus bertanya.


"Untuk keperluan apa?"


"Tuan ingin membawa anda ke toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahan"


"Pilih saja apa yang menurutnya bagus! Aku ikut saja"


Dan Alina kembali memainkan ponselnya.


"Tapi ukuran jari anda?"


"Pandai-pandai dia saja!"


Balas Alina acuh tak acuh.


Bakri tak tau harus tertawa atau menangis. Sepertinya calon nyonya masa depannya bukan orang yang mudah untuk di hadapi.


Tepat ketika ia merasa tidak memiliki cara apapun lagi untuk membujuk wanita itu pergi. Mendadak suara wanita tua muncul menyelamatkan nya.

__ADS_1


"Alin tidak boleh seperti itu! Cepat bangun dan pergi"


Alina tersentak menoleh ke arah ranjang. Menemukan neneknya yang entah sejak kapan bangun dari tidurnya. Padahal wanita tua itu baru saja tidur.


Detik itu mulutnya dengan refleks terbuka untuk menyatakan penolakannya. Hanya untuk kembali diingatkan oleh pesan dokter terhadap dirinya.


"Baiklah nek kalau begitu Alin pergi"


Dengan begitu Alina pergi mengikuti langkah Bakri keluar dari rumah sakit.


Alina melihat roll-royce hitam yang tidak lagi asing dimatanya.


Langsung saja melangkah ke pintu depan dan masuk hanya untuk segera di tahan oleh Bakri.


"Nona Alina silahkan duduk di belakang"


"Tuan mu bukannya menyukai keluasan?"


Tentu saja Alina tidak lupa dengan peristiwa malam itu. Karenanya ia langsung memilih untuk duduk di depan.


Tapi sekarang kenapa mendadak duduk di belakang?


"Silahkan nona Alina!"


Bakri hanya tersenyum sopan dan membuka pintu untuknya.


Karena pria itu menolak menjawab, Alina tidak terlalu peduli. Ia pun masuk kedalam mobil.


Saat itulah ia melihat seseorang sudah duduk memegang kemudi. Menyalakan mesin, mobil bergerak.


Alina refleks menoleh ke luar jendela mobil. Menemukan Bakri yang pergi menaiki mobil lain.


Sepanjang perjalanan situasi didalam mobil hening.


Alina memilih memainkan ponselnya untuk mengisi kekosongan.


Sampai akhirnya mobil berhenti di tempat yang di tuju. Mereka pun bergegas keluar.


Zayyad berjalan di depan dan Alina mengikuti dibelakang nya. Ia menatap tajam pada punggung pria di depannya.


Jika bukan karena neneknya, Alina tidak akan mau di jodohkan dengan pria asing itu.


Toko perhiasan tempat yang di pilih Zayyad adalah pusat penjualan perhiasan terbesar di kota Y.


Tempat ini di datangi oleh para pejabat, pengusaha dan orang kalangan atas lainnya.


Melangkah masuk kedalam.


Seorang wanita cantik langsung menyambut kedatangan mereka. Saat itulah Zayyad menghindar, melangkah jauh di belakangnya.


Wanita cantik yang baru saja menyapa mereka entah bagaimana merasa canggung. Alina hanya tersenyum sopan dan membuat wanita itu tampak lebih tenang.


"Tuan, nyonya apakah sudah memiliki reservasi sebelumnya atau-"


"Sudah"


Potong Zayyad terdengar tidak sabar.


Wanita cantik yang merupakan salah satu staf toko menjadi gugup. Ia seperti dapat merasakan ketidaksenangan Zayyad.

__ADS_1


Alina yang melihat sikap Zayyad, merutuki pria itu diam-diam dalam hatinya.


"Baik kalau begitu silahkan"


Staf cantik tersebut dengan gugup mengantarkan mereka untuk duduk di sofa yang bewarna merah cerah.


Alina mengambil tempat duduk yang jauh dari Zayyad yang sepertinya juga melakukan hal yang sama.


Dua staf lainnya datang menuangkan teh untuk mereka. Setelahnya mereka pergi.


"Tuan Zayyad?"


Seorang pria menyapa mereka.


Tidak dingin seperti tadi, Zayyad tersenyum ramah menyambut nya dan mereka saling menjabat tangan.


"Ini adalah suatu kebanggaan karena anda bersedia mendatangi toko saya"


Jadi pria itu ternyata adalah pemilik toko perhiasan besar ini?


Pria itu langsung memerintahkan seseorang untuk membawa sesuatu.


Seorang staf datang membawa sekotak perhiasan dengan berlian yang bermacam bentuk dan ukuran. Semua itu berkilauan menembus kaca kotak yang transparan.


Staf tersebut pergi dan pria itu meletakkan kotak tersebut di hadapan mereka.


"Ini adalah kumpulan cincin pernikahan terbaik dari toko kami seperti yang anda inginkan, silahkan di lihat"


"Pilih!" Kata Zayyad.


Alina mengkerut kan dahinya menoleh pada Zayyad. Pria ini berbicara padanya?


"Pilih!" Ulang Zayyad, tapi tatapannya tidak tertuju kearah Alina.


Itulah yang membuat Alina bingung. Ia ragu apakah pria itu berbicara padanya atau tidak?


Melihat gelagat pasangan di hadapannya itu. Manager toko tidak dapat menahan senyum. Ia pun dengan murah hati mengatakan pada Alina untuk memperjelas.


"Nona silahkan anda pilih"


"Oh!"


Alina pun mengambil kotak tersebut dan membukanya. Ia sedikit terkejut melihat betapa menawannya semua cincin-cincin itu.


Mereka semua sepasang dengan sedikit perbedaan bentuk antara milik pria dan wanita.


Pasti semua cincin itu berharga mahal. Tapi apa pedulinya? Bukankah bagus ia dapat menguras kantong seorang pria untuk pertama kalinya.


Memikirkan itu Alina tanpa sadar tersenyum picik.


Tatapannya jatuh pada cincin putih dengan berlian berbentuk hati merah gelap, nyaris seperti warna darah.


Alina pun mengambil cincin tersebut dan merasa tertarik mencobanya. Tepat setelah cincin itu tersemat di jarinya.


Manager toko menatap takjub kearah jarinya yang begitu cocok dengan cincin tersebut seakan memang di buat khusus untuknya.


Jemarinya yang lentik begitu halus dan bening bertemu dengan berlian bewarna merah darah seperti itu, entah bagaimana terlihat sangat kompatibel.


"Nona, anda memilih yang terbaik dan sangat pas di jari anda" Puji manager toko.

__ADS_1


__ADS_2