
Entah berapa menit berlalu, Zayyad melirik arloji di tangannya dan mulai menerka. Mereka hampir setengah jam lebih terjebak di lift dan dia sudah dua kali mengulang panggilan pertolongan.
Tapi masih tidak ada tanda-tanda tim pertolongan yang diutus datang.Zayyad mengambil ponselnya dan menghubungi Bakri. Matanya sekilas melirik ke Alina di bawahnya yang tampak semakin lemah tak berdaya.
Tapi tangannya masih memegang erat ujung dasi yang ia ulurkan.
"Bakri saya dan Alina terjebak di lift, hampir setengah jam kami menunggu kedatangan tim pertolongan tapi mereka belum juga tiba. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lift mendadak rusak?"
"Apa?"
"Di sengaja?"
"Itu dapat kita bereskan nanti, sekarang yang terpenting bagaimana saya dan Alina bisa segera keluar dari lift"
"Cepat!"
Setelah panggilan berakhir, Zayyad melirik kebawah dan menemukan tangan Alina yang bergetar memegang ujung dasi nya.
Dan ia tampak sedang memiliki kesulitan bernafas.
"Hah..hah.."
Zayyad menegang!
"Alina.."
"Alina kau dengar aku Alina?"
"Hah..hah.."
Melihat keadaan Alina yang semakin memburuk. Entah kenapa Zayyad merasa panik. Ia memberanikan diri untuk sedikit membungkuk, mencoba untuk memperhatikan keadaan nya lebih jelas.
Tapi tubuhnya bergetar. Zayyad tidak dapat melakukannya.
Pada akhirnya tepat satu jam mereka terkurung didalam lift.
Bakri datang dengan sekelompok tim penyelamat untuk menangani situasi lift.
Lift berhasil terbuka.
Zayyad merasa sangat lega tapi sama sekali tidak dapat menutupi ketidakpuasan di wajahnya, ketika melihat Alina yang terkulai tak berdaya di lantai lift.
Seluruh tubuhnya sudah basah oleh keringat, wajahnya pucat dan deru nafasnya terdengar sangat lemah.
"Pak situasi saat ini sangat buruk!"
Bakri merasa sangat gugup melaporkan situasinya.
"Ada apa lagi?"
Setelah semua ini masih ada yang lebih buruk?
"Cepat angkat-"
Melihat segerombolan orang datang dengan kamera dan peralatan untuk meliput lainnya. Kata-kata selanjutnya yang ingin Zayyad katakan tertelan begitu saja.
"Pak ini semua jebakan!"
Bakri pada akhirnya hanya bisa pasrah melaporkan hal yang sebenarnya pada tuannya.
Sebenarnya ia merasa sangat bersalah, karena semua ini juga terjadi karena kelalaiannya dalam menangani situasi.
"Pak Zayyad apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
Beberapa cahaya yang menyilaukan menembak wajah Zayyad yang sudah sangat gelap.
"Pak seseorang yang tak sadarkan diri itu apakah istri anda?
"Pak kenapa anda membiarkan istri anda begitu saja dan tidak mengangkatnya?"
"Pak apakah benar pernikahan anda hanyalah settingan untuk menutupi fakta ketidaknormalan anda?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang tak berujung, telinga Zayyad memanas. Kedua tangannya terkepal dan buku jarinya memutih.
"Kalian semua bisa diam!"
Itu terdengar sangat dingin dan menekan.
Tapi para wartawan mengacuhkan nya dan terus saja bertanya.
"Pak tolong katakan yang sebenarnya pada kami apakah anda ini memiliki jenis ketakutan khusus terhadap wanita?"
"Pak kami mohon keterangan yang sebenarnya dari anda"
"DIAMM!"
Akhirnya Zayyad tidak sabar lagi dan berteriak. Urat-urat sekitar pelipis dan lehernya menyembul keluar, menegaskan betapa marahnya ia.
Tatapan matanya seperti ingin menelan semua orang. Dan nafasnya menggebu karena amarah.
Semua orang tercengang. Dan keadaan hening seketika.
Tak terkecuali Bakri.
Selama ia bekerja pada tuannya, itu adalah kali pertama ia melihat tuannya sangat marah.
Dan itu sangat menyeramkan!
"Istri saya sudah seperti ini dan kalian masih belum bisa berhenti?"
"Bakri!"
"Iya pak!"
Jawab Bakri gelisah.
Ini adalah kali pertama ia menghadapi kemarahan tuannya yang sebelumnya selalu tenang dan sabar dan bagaimana ia mengantisipasi hal itu?
Ia sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun dalam menangani situasi kemarahan tuannya.
"Kerahkan semua anggota keamanan perusahaan untuk menutup rapat semua pintu perusahaan sekarang juga. Saya ingin semua, bahkan lobang tikus sekalipun"
Itu terdengar sedikit lelucon di penghujung kalimatnya. Tapi tak ada satupun orang yang berani tertawa.
"Dan tidak ada satu orang pun yang dapat keluar selangkah kaki pun dari sini tanpa seizin saya! Jika kamu gagal menangani hal ini, saya tidak ragu memecat kamu"
Mendengar kata 'memecat' tubuh Bakri menggigil dan berkeringat dingin.
Mendengar pernyataan tidak di izinkan meninggal kan perusahaan, membuat para wartawan menjadi gugup.
"Baik pak!"
"Dan apapun yang terjadi pada istri saya hari ini-"
Zayyad melempar pandangan ke semua orang dengan bibir merah keunguan nya membentuk kurva tajam yang haus darah.
"Saya akan menuntut seseorang atau siapapun itu untuk bertanggung jawab. Jika itu tidak di temukan, jangan bermimpi untuk keluar dari sini"
__ADS_1
Zayyad entah bagaimana membungkuk dan berusaha keras melawan ketakutannya saat ini hanya untuk melihat keadaan Alina dengan jelas.
Ia sungguh berjuang keras untuk membayangkan Alina dalam wujud seorang pria untuk menetralisir sedikit ketakutannya.
Alina yang masih belum begitu pulih dari kesadaran nya.
Matanya yang lemah perlahan terbuka dan menemukan wajah seorang pria yang terlihat sangat panik.
"It- itu kau..." Lirih Alina.
"Pria asing yang aku nikahi"
Sisa air mata jatuh meluncur ke belahan pipinya yang sudah basah dan lengket.
"Iya"
Jawab Zayyad yang sudah berlutut dan masih berjuang keras melawan rasa takutnya hanya untuk bergegas membawa Alina pergi.
"Aku sungguh menikahi pria, pria asing? ..he..he.."
Alina mendadak tertawa dengan lemah.
"Jangan kurung.. jangan kurung aku seperti yang ayahku lakukan, ya? hiks.."
Zayyad terdiam!
Semua orang di depan lift yang menyaksikan itu tak sanggup menyembunyikan rasa simpati mereka untuk Alina.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan nya"
"Bohong! Hiks..tadi..ta-tadi bukannya kau mengurung ku.."
Zayyad memandang makhluk yang sangat lemah itu entah bagaimana merasakan matanya memanas.
Alina tidak tampak seperti Alina yang biasanya. Wanita yang terlihat tegas dan berani.
Tapi itu tampak seperti bocah kecil yang memohon untuk kenyamanan dan kebebasan hidup nya.
"Maafkan aku!"
Tukas Zayyad sangat halus.
Mata Alina perlahan tertutup rapat.
Zayyad dengan rasa panik yang kuat, entah dorongan keberanian dari mana. Ia berhasil meraih tubuh Alina dalam gendongan nya.
Dan langkah kakinya bergerak cepat membawa Alina pergi ke ruangan nya.
Orang-orang yang menonton dapat melihat Zayyad yang sangat panik terus membuka jalan.
Dan satu persatu dari mereka mulai mencatat kebenaran dari apa yang mereka lihat.
Zayyad membaringkan Alina di bilik kecil dalam ruangan nya yang biasa di pakainya untuk tidur jika bermalam di perusahaan.
Biar begitu ruangan itu terbilang sangat nyaman, dengan ranjang yang empuk, lemari pakaian kecil dan pendingin ruangan.
Zayyad menelpon dokter pribadinya untuk segera datang ke perusahaan.
Dengan gelisah ia menunggu, hingga tak lama kemudian dokter itu sudah tiba di perusahaan.
Zayyad segera memberi tahu Bakri untuk membuka kan pintu khusus untuk mempersilahkan dokter tersebut masuk.
Dan setelah dokter itu masuk kedalam perusahaan. Ia sama sekali tidak mengerti situasi yang terjadi di dalam nya sangat mencengangkan.
__ADS_1
Pintu kembali tertutup rapat dan mengurung ratusan orang didalam nya.
___