
Setelahnya tepat pada saat pertemuan dimulai.
Zayyad dengan tenang menduduki tempat nya. Mengacuhkan semua tatapan yang menghina dan menjatuhkannya. Sifatnya yang terlalu tenang membuat orang-orang menjadi gugup dan bertanya-tanya.
Tapi untuk beberapa orang, tak sanggup menyembunyikan senyum. Merasakan itu suatu pertanda yang baik untuk mereka.
Dan Zayyad dapat dengan jelas menangkap setiap arti dari tatapan mereka.
"Pak Zayyad, saya sebagai salah satu pemasuk saham terbesar di perusahaan ini, ingin meminta klarifikasi terhadap situasi bapak. Apakah rumor yang beredar diluar sana tentang anda adalah benar?"
Bibir Zayyad yang coklat keunguan, berkedut. Ia tersenyum, tapi hampir tidak seperti senyum.
"Jika itu benar kami tidak dapat mempertahankan posisi anda lagi dan mohon anda untuk dengan murah hati mengundurkan diri"
Dengan murah hati mengundurkan diri?
Mendengar itu, Zayyad tak dapat menahan senyum di wajahnya. Ia sama sekali tidak terpengaruh sekitar. Menyembunyikan emosi adalah keahlian nya. Dia yang enggan mengatakan sepatah kata pun, tenang dan bertingkah ambigu seperti itu.
Membuat beberapa orang yang ceroboh, berpikir keras. 'Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu?' Beberapa orang yang tidak percaya diri, merasa tidak baik. 'Apakah mungkin ia sudah merencanakan sesuatu?' Dan beberapa orang yang tidak sabaran, merasa tidak puas. 'Kenapa pria ini tidak berterus terang saja?'
Dan Zayyad diam-diam memperhatikan ekspresi wajah mereka satu persatu. Seperti dapat menebak apa yang mereka pikirkan.
"Saudaraku, aku sangat mengerti anda seorang yang profesional. Perusahaan ini besar tentunya karena adanya kerjasama antar banyak pihak. Anda tidak baik menjadi egois dalam situasi anda yang seperti ini"
Yang baru saja berbicara adalah sepupunya Zayyad.
Dan Zayyad tak mampu menyembunyikan seringainya. Mengangkat wajahnya, sekilas ia terlihat arogan dan jauh. Tatapan nya yang tak terbaca, membuat beberapa orang di bekukan dengan ekspresi dingin, acuh tak acuhnya.
"Maaf, situasi seperti apa saya saat ini?"
Sekali bibir itu terbuka. Berbicara. Hawa dingin yang keluar, berhasil membekukan ruangan sesaat.
Entah bagaimana semua penghuni ruangan menjadi tegang setelah keduanya berbicara. Itu tampak tenang di permukaan. Tapi orang bodoh sekalipun dapat membaca situasi pertempuran sengit dalam dua bersaudara itu.
Barra yang merupakan saudara sepupu Zayyad tidak mampu menyembunyikan senyum halus nya setelah mendengar respon dari Zayyad yang sedikit di luar harapan.
"Karena saudara ku sepertinya tidak sadar dengan situasinya saat ini, maaf! Dengan berat hati saya harus mengatakannya"
Zayyad hanya berkedik bahu seakan tidak mengerti apapun.
__ADS_1
Sikap santai Zayyad itu entah kenapa memicu kecurigaan Barra.
"Selama ini di perusahaan anda hanya memperkerjakan pria dan menolak pekerja wanita. Mungkin saya dapat memaklumi kondisi anda, tapi tidak dengan yang lainnya yang menuntut sikap profesionalitas anda sebagai CEO perusahaan ini"
Setelah mengatakan nya. Barra tersenyum penuh kemenangan. Seperti seseorang yang baru saja mengungkapkan kartu as nya.
"Saya memperkerjakan mereka karena mereka mampu!"
Tapi tanggapan Zayyad. Membuat kartu as di tangan Barra, lenyap begitu saja. Ia tidak mengira Zayyad begitu lihai membalikkan keadaan. Diam-diam tangannya yang di bawah meja mengepal.
"Tapi bukankah itu juga karena anda memiliki sedikit ketidaknormalan dalam diri anda?" Bara memutuskan untuk berterus terang.
Zayyad mengkerut kan dahi. Tampang wajahnya seakan sedang memikirkan sesuatu. Lalu kemudian ia tertawa halus.
"Ketidaknormalan? di bagian mana dalam diri saya yang abnormal?"
Pernyataannya santai itu. Membuat seluruh anggota rapat menegang. Beberapa dari mereka bingung dan
Barra yang sudah terlalu malas untuk berbelit-belit langsung mengutarakan rumor yang beredar secara jelas.
"Anda seorang gay dan menderita gynophobia! Saudaraku kenapa anda tidak berterus terang pada kita semua sejak awal?"
Tapi ia dengan tenang menjawab.
"Gay dan gynophobia. Sedikit berkaitan satu sama lain. Bagaimana pun seseorang yang memiliki jenis ketakutan ini akan sangat menggangu interaksi sosial terlebih di lingkaran pekerjaan. Dan karena ketakutan tersebut sangat logis seseorang itu menjadi gay"
Jeda beberapa detik, Zayyad mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang ada dalam meja pertemuan.
Kurva bibirnya melengkung sempurna menanggapi tiap ekspresi dari mereka.
"Jadi apakah ini rumor yang beredar tentang saya?"
Memasang tampang sedih, Zayyad menggeleng kan kepalanya penuh rasa kecewa.
"Sumber mana yang mengedarkan rumor buruk ini terhadap saya? Ini adalah pelanggaran nama baik"
Orang-orang ingin sekali mengungkapkan pemikiran mereka. Tapi entah kenapa tampang tidak bersalah Zayyad sangat menyakinkan.
Barra yang siap membuka mulut untuk kembali berbicara hanya harus berhenti ketika mendengar Zayyad memanggil sekretaris pribadinya.
__ADS_1
"Bakri!"
"Iya ada apa pak?"
Bakri sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang di mainkan bosnya. Tapi setelah menilai situasi, ia tau kalau bosnya punya cara untuk mengatasi serangan licik mereka.
"Saya minta kamu untuk melakukan tuntutan terhadap media apa saja yang menyebar kan rumor buruk tentang saya"
Seluruh orang di ruangan tercengang setelah mendengar itu.
Barra yang ingin mengatakan sesuatu kembali tertahan karena Zayyad.
"Dan untuk mengklarifikasi rumor terhadap diri saya itu tidak benar. Umumkan pada media bahwa saya akan menikah dalam minggu ini"
Orang-orang kembali di buat terkejut bahkan sebagian dari mereka menerima informasi tersebut dengan mulut setengah terbuka.
Barra yang mendengar hal itu, sudah tidak mampu lagi mengendalikan rasa tidak senang nya dan terus berkata.
"Saudaraku anda akan menikah? kenapa aku tidak tahu"
Barra adalah saudara sepupu Zayyad. Bukankah jika kerabat terdekat saja tidak mengetahui berita pernikahan tersebut maka itu akan terasa ganjil?
Dan orang-orang mulai berspekulasi bahwa Zayyad sengaja melakukan kegiatan sakral tersebut hanya untuk menepis rumor tentangnya.
Dan tidak tau pasti apakah itu sungguhan atau settingan?
"Sebenarnya ini sangat tidak profesional membicarakan hal privasi seperti ini di lingkaran pekerjaan. Saudaraku jika anda sungguh ingin tau, anda dapat menanyakan hal ini pada kakek"
Kakek? Apa maksudnya ini? Apakah orang tua itu kembali membantunya?
Sejak dulu Zayyad selalu menjadi cucu yang paling di prioritaskan oleh kakek dan bahkan sampai saat ini.
Barra tak dapat menutupi ekspresi ketidakpuasan di wajahnya. Dalam hati berkali-kali ia mengungkapkan sumpah serapah pada Zayyad dan kakek yang pilih kasih itu.
Zayyad yang menangkap betapa tidak bahagia nya barra, hanya mengulas senyum tenang nya seperti biasa. Barra yang sekilas melihatnya, merasa di remehkan.
Mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, Bara menahan emosi nya dan tersenyum tertekan.
"Kalau begitu, aku akan menanyakannya nanti pada kakek"
__ADS_1
___