Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
5. Dua Orang Yang Memutuskan


__ADS_3

Alina berjalan linglung di sepanjang lorong rumah sakit.


Tatapan nya kosong dan pikiran nya masih melayang ke pembicaraannya yang baru saja terjadi dengan dokter yang merawat neneknya.


"Nenek anda menderita penyakit yang termasuk langka yaitu Sindrom mielodisplasia atau yang disebut juga praleukimia. Ini terjadi saat sumsum tulang memproduksi sel darah yang abnormal atau cacat. Lama-kelamaan sel-sel darah tersebut akan meningkat lebih banyak mengalahkan sel-sel darah yang normal atau sehat. Hal inilah yang nantinya akan menyebabkan beberapa masalah lainnya pada kondisi tubuh seperti anemia, pendarahan berlebih dan sebagainya"


Saat itulah Alina tau bahwa neneknya telah berbohong padanya tentang penyakitnya. Mendengar itu matanya terus berkaca-kaca.


"Apakah nenek saya berkemungkinan besar untuk di sembuhkan dari kelainan tersebut?"


"Tentunya kita akan mencoba yang terbaik untuk itu. Karena kasus yang terjadi pada nenek anda adalah 'de Novo mylodysplastic syndromes' yang mana tergolong dalam jenis yang tidak diketahui penyebabnya, biasanya lebih mudah di atasi ketimbang yang di ketahui penyebabnya. Hanya saja..."


"Hanya saja apa dok?"


"Coba lakukan saja apa yang membuatnya bahagia dan jangan terlalu banyak berdebat dengannya. Saya mengatakan ini karena bagaimanapun juga kebahagiaan dan ketenangan psikologis seorang pasien tentunya memiliki andil besar terhadap psikis nya. Sebaliknya psikologis pasien yang buruk hanya akan mempengaruhi psikis pasien dan memperburuk keadaannya. Jadi untuk saat ini mohon anda melakukan yang terbaik yang anda bisa untuk membuat nenek anda tetap tenang dan memberi energi yang positif padanya dalam menjalani beberapa pengobatan ke depan"


Sebenarnya masih banyak hal yang Alina tidak mengerti dari penjelasan dokter yang untuk orang awam sepertinya itu sedikit sulit untuk di pahami.


Dan masih banyak pula yang ia ingin tanyakan pada dokter tersebut, hanya saja keterbatasan waktu dan dokter tersebut juga harus menangani pasien lainnya akhirnya ia hanya dapat menundanya.


Tapi ada satu poin penting yang sangat di perjelas oleh dokter.


Untuk melakukan apa saja yang mempengaruhi psikologis pasien menjadi lebih baik dan positif dengan membahagiakan nya, menuruti kemauannya dan tidak terlalu banyak berdebat dengannya.


Alina merenung sejenak dalam pikirannya.


Dengan penyakit seperti ini harusnya neneknya dapat dengan mudah mengancam nya untuk menerima perjodohan.


Hanya saja neneknya sama sekali tidak memanfaatkan situasi ini dan hanya memilih untuk memohon padanya, seperti pada malam itu.


'Tapi nenek sangat ingin melihat mu menikah'


Tepat ketika Alina berdiri di depan pintu bangsal perawatan neneknya. Ia berhenti.


Tangannya segera mengusap kedua belah pipinya yang sudah basah. Mengatur nafasnya perlahan, Alina mencoba meredakan tekanan emosi kesedihan dalam dirinya.


Karena nenek membohongi nya tentang penyakitnya. Maka anggaplah sampai detik ini ia memang tidak tau apa-apa.


"Nenek maafkan aku!"


Alina menarik kursi dan duduk. Wajahnya menunduk penuh penyesalan.


"Tidak masalah, ini salah nenek! Tidak seharusnya nenek terlalu memaksakan kehendak nenek padamu"

__ADS_1


Mengepal kan kedua tangan di atas pahanya. Alina mencoba keras untuk mengatakan apa yang sebenarnya paling tidak ingin ia katakan.


"Tidak! Mungkin nenek benar, aku harus mencobanya"


Akhirnya setelah perjuangan melawan ego besar dalam dirinya, Alina berhasil mengatakan nya.


Pernyataan itu sungguh mengejutkan Erina yang masih kurang mengerti apa yang di maksud cucunya.


"Mencoba?"


Alina dengan berat hati mengangguk kan kepalanya. Memaksakan bibirnya tersenyum lebar walau sebenarnya itu palsu.


"Bukankah nenek sedang mengatur perjodohan untuk ku?"


"I-ya"


"Aku menerima perjodohan yang nenek atur untuk ku"


Alina mempertahankan senyum palsunya nyaris hampir membuat sepasang matanya menyipit akan betapa kuatnya ia memaksa untuk tersenyum.


"Sungguh?"


Wanita itu menatap kearahnya dengan mulut setengah terbuka. Seakan ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Kenapa Alin mendadak menyetujuinya?"


Tukas Alina dengan tampang bersungguh-sungguh.


"Jangan! Nenek tidak akan menanyakan nya lagi"


Alina dapat meliha wajah neneknya yang tampak sangat bahagia dan bersemangat. Mata tuanya bersinar jauh lebih cerah dan wajahnya yang pucat tampak lebih hidup dan segar.


Alina menelan kepahitan dan gejolak emosi ketidakbahagiaan dalam hati. Menyembunyikan semua itu dengan tersenyum.


Untuk kebahagiaan neneknya ia rela mengorbankan perasaan dan prinsip terbesarnya.


Pada akhirnya jalan takdir tetap menuntun nya pada ikatan pernikahan dan pria.


___


"Pak situasi rumor tentang anda di luar berkembang sangat pesat. Saya tidak dapat mengendalikan nya lagi! Maafkan ketidakmampuan saya" Kata Bakri, membungkuk penuh penyesalan.


Zayyad berdiri di depan dinding perusahaan yang terbuat dari kaca. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana nya. Tatapan nya terus menembus kaca, melihat kebawah. Menyaksikan ribuan kendaraan yang berlalu lalang, milyaran manusia yang sibuk beraktivitas, dan hiruk pikuk kota metropolitan yang sangat padat.

__ADS_1


"Kau sudah bekerja keras, tidak perlu meminta maaf!" Katanya kemudian. Setelah berdiam cukup lama.


Perlahan ia memutar badannya, menatap pada asisten yang merangkap sekretaris pribadinya.


Ia dapat melihat wajah lelah dan penyesalan nya.


"Tapi pak jika ini terus terjadi, mungkin anda dapat di lengserkan dari posisi anda"


Zayyad tersenyum. Sangat tenang dan jauh. Seperti menyaksikan permukaan danau tanpa riak.


"Rumor itu memang di buat untuk menjatuhkan saya" Kata Zayyad. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya yang seputih kapas. Ia sama sekali tidak merasa panik.


Bakri melihat bos nya yang tampak biasa saja, ia merasa bingung. Tidak tau apakah itu tampilan seseorang yang sudah pasrah pada keadaan atau mungkin sebaliknya. Sulit menilai hal seperti itu dari seseorang yang minim eskpresi seperti bosnya.


"Pak, sebentar lagi rapat antar pemegang saham akan di adakan. Mereka pasti akan mempertanyakan tentang ini"


"Kau sudah makan siang?"


Tanya Zayyad santai. Seakan ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang baru saja di katakan Bakri.


"Tapi pak-" Bakri tidak akan menduga disaat seperti ini, bosnya malah menanya makan siangnya.


"Pergilah!"


Itu titah yang tegas. Ketika tubuhnya berbalik, kembali menghadap dunia luar. Itu adalah penyampaian maksud, bahwa ia tidak ingin penolakan.


Pada akhirnya Bakri dengan berat hati meninggal kan bosnya dan pergi makan siang seperti yang di perintahkan.


Zayyad yang tinggal seorang diri di ruangan sama sekali tidak berniat untuk makan siang.


Mengambil ponselnya ia langsung menghubungi kakeknya.


"Kakek"


"Aku menyetujui perjodohan yang kau atur untuk ku"


"Aku serius!"


"Tidak perlu! Percepat saja hari pernikahan nya resepsi dapat menyusul"


"Lakukan saja di rumah sakit"


"Kakek tenang saja! Aku akan mengurus semuanya"

__ADS_1


Panggilan berakhir.


___


__ADS_2