
Tiba-tiba keduanya terdiam. Alina yang merasa kelelahan setelah aksi balas dendam nya tadi, bernafas tersengal-sengal.
Dan Zayyad yang melihat rak bukunya yang sudah setengah nya kosong, buku-buku yang tergeletak di lantai, rasanya ingin sekali meluapkan amarahnya.
"Keluar!" Akhirnya ia dengan tenang menyuruh Alina keluar. Setelah mengendalikan amarahnya dengan sangat baik.
"Tidak mau!"
Alina terus melompat ke ranjang. Memeluk guling dan tenggelam di balik selimut.
Zayyad yang melihat hal itu, terperangah di tempat.
"Anggaplah kekacauan ini bentuk balas dendam ku untuk yang tadi" Alina menyingkap selimut nya, separuh bangun. Ia menyalakan lampu tidur.
"Matikan lampu kamar nya" Titah Alina kemudian. Ia tidak memberi ruang untuk Zayyad menolak.
Pada akhirnya Zayyad menghela nafas berat, menerima kekacauan malam ini. Setelah menekan saklar lampu, ia berjalan kearah ranjang untuk mengambil bantal. Tapi-
"Kau tidur tanpa bantal malam ini!" Alina merampas bantal itu sangat cepat dan menyembunyikan nya di balik selimut.
"Masih belum cukup?" Balas dendam yang barusan masih belum cukup untuk nya. Wanita ini...
"Ini untuk jidat ku yang sudah benjol karena ponsel mu tadi" Alina meraba jidat nya yang mulai muncul benjolan.
"Hah.." Zayyad menghela nafas tak percaya. Sangat tidak berbelas kasih!
Akhirnya pada malam yang berantakan itu. Zayyad tidur di atas sofa tanpa bantal dan hanya beralaskan tangan.
___
Setelah kekacauan itu, kamar terasa hening dengan detak jam dinding memecah kesunyian. Alina yang sejak awal belum tidur, membuka matanya. Ia perlahan bersandar di kepala ranjang.
Mengambil ponselnya, ia melihat bahwa sudah pukul satu pagi. Sebenarnya ia sudah sangat ingin tidur. Sudah beberapa jam ia menutup rapat matanya, tenggelam dalam selimut dan membayangkan banyak hal yang menyenangkan sampai lelah. Tapi nihil. Matanya masih saja enggan mengantuk.
Insomnia yang dimilikinya ini terkadang seringkali membuat nya frustasi. Terkadang jika hari-hari mengajar, ia sengaja mengkonsumsi obat tidur di malam harinya. Agar ia punya waktu tidur yang cukup untuk tidak menganggu aktivitas nya besok. Jika tidak, mungkin ia akan mengantuk dan lesu seharian, karena kekurangan waktu tidur.
Tapi karena besok ia masih cuti. Ia memilih untuk tidak mengkonsumsi nya. Karena bagaimanapun juga tidak baik jika ia selalu bergantung pada obat itu.
Menoleh kearah sofa, ia melihat sosok pria yang tidur dengan tenang. Meluruskan kaki panjangnya cukup baik di ujung lengan sofa. Salah satu tangan nya berada di atas perut, sedang yang satunya lagi menyangga kepalanya. Ruangan ini sebenarnya cukup dingin, tapi ia sama sekali tidak mengenakan selimut.
__ADS_1
Tidur nya terlihat pulas. Deru nafasnya terdengar cukup teratur. Di balik sinar lampu tidur yang menerpa wajahnya, Alina dapat melihat sebuah pemandangan yang cukup menarik.
Pemandangan pria tampan, dengan kontur wajah yang terpahat sempurna. Jembatan hidung yang menawan, sepasang alis tebal yang memikat, serta bibir tipis merah keunguan nya yang menggoda.
Persis seperti melihat seorang pangeran yang sedang menikmati tidurnya. Jika Alina tidak membenci pria, akankah ia jatuh hati pada pria itu?
"Aku pikir, malam ini kau cukup murah hati untuk mengalah"
Mengalah untuk tidur di sofa..
Mengalah untuk perbuatan ku yang membuat kamarnya berantakan...
Mengalah untuk ku yang sudah menghancurkan tatanan rak bukunya...
Dan bahkan mengalah ketika aku tidak memberinya bantal...
"Aku kira setelah semua itu, paling tidak kau akan marah!" Tapi yang terjadi, pria itu mengontrol emosi nya cukup baik.
"Mungkin jika seandainya kau wanita, aku tidak ragu untuk berteman baik dengan mu" Tapi sayangnya kau adalah pria...
"Aku tau kau melakukan ini bukan karena sengaja" Alina menyentuh benjolan di kepalanya. "Aku menyadari ketakutan mu saat itu, hanya saja aku menolak menoleransi luka fisik yang ku terima ini"
Karenanya ia melempar barang-barang hingga membuat kamar ini hancur berantakan. Walau tak ada satupun yang mendarat mengenai pria itu, entah kenapa ia merasa jauh lebih baik setelah melakukan nya.
Karena takut nya kau akan melarikan diri!
Perlahan Alina mengulurkan tangannya untuk mematikan lampu tidur. Setelahnya ia memainkan ponselnya sampai matanya terasa lelah.
Tepat pada pukul dua pagi, ponsel di tangan nya jatuh. Alina tertidur begitu saja dan terbuai oleh mimpi.
Pada pukul lima pagi. Zayyad sudah bangun. Ia memiliki pola tidur yang baik dan teratur. Tidur cepat dan bangun awal.
Ia merasakan punggungnya sangat tidak enak setelah tidur semalaman di sofa. Mungkin kedepannya tidak akan seburuk ini jika sudah terbiasa.
Setelah menekan saklar lampu, hal pertama yang menyambut matanya. Adalah pemandangan yang mengejutkan di atas ranjang.
Seorang wanita, masih dengan kerudungnya, tidur dengan kaki di atas kepala ranjang, bukan lagi kepalanya. Selimut dan guling tergeletak di lantai, sedang dua bantal sudah tidak pada tempat semestinya.
"Aku tidak menyangka tidurnya seburuk itu!"
__ADS_1
Syukurlah yang tidur di atas sofa adalah dirinya. Mungkin jika wanita itu yang tidur di sofa semalam, tubuh kecil nya itu akan tergeletak di lantai. Paling buruk seluruh badannya sakit dan yang terburuk salah satu tulang nya patah.
Jika itu terjadi, ia tidak tau harus mengatakan apa pada kakeknya.
"Sepertinya untuk seterusnya aku akan tidur di sofa"
___
Di pagi harinya Alina sudah bangun hanya untuk menemukan beberapa roti bakar dan semangkuk bubur hangat yang sudah ada di meja makan lengkap dengan se-teko susu hangat.
Tadi malam Zayyad memesan koki untuk memasak. Tapi hari ini apakah ia mendatang kan mereka lagi?
Mencium aroma keju dari roti bakar tersebut, Alina tak dapat menahan godaan.
Tadi malam ia makan makanan kesukaannya dan pagi ini ia dapat menikmati sarapan favorit nya.
Pernikahan ini setidaknya banyak menguntungkan nya.
Alina mengambil nampan di dapur dan meletakkan semangkuk bubur serta segelas susu di atas nampan untuk di bawa pergi ke kamar neneknya.
"Pagi nenek!"
Sapa Alina ceria sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja di dekat ranjang.
"Dimana Zayyad?"
Alina baru saja membuka gorden kamar dengan suasana hati yang baik. Tapi segera moodnya berubah ketika nenek mempertanyakan soal pria itu.
"Pastinya sudah pergi!"
Alina mendekati ranjang untuk membantu neneknya duduk.
"Um!"
"Nenek makan sendiri atau aku suapi?"
"Nenek makan sendiri saja"
Alina pun mengambil mangkuk bubur tersebut, memberikan pada neneknya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi sarapan dulu"
"Jidat Alin kenapa?"