Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
36. Aku Adalah Bibimu


__ADS_3

"Maaf bu, saya tidak bermaksud" Katanya dengan gugup dan merasa bersalah.


Sungguh sama sekali tidak ada niat buruk dalam hati nya. Ia dengan tulus mengagumi pesona Alina yang di matanya tampak seperti bidadari dalam jelmaan manusia.


Tapi ia tidak akan mengira tindakan nya tadi dapat menyinggung Alina.


"Ini yang terakhir!" Alina menginjak lantai bawah. Tatapan nya jatuh pada pria paruh baya di depannya yang sudah berdiri dengan tubuh bergetar ketakutan. "Untuk selanjutnya, saya tidak akan segan menyuruh Zayyad untuk memecat mu"


Mendengar itu, kedua lututnya melemas. Ferdi nyaris hampir kehilangan pijakannya. Selama ia bekerja di vila besar itu. Zayyad selalu memperlakukan nya dengan baik dan sopan.


Bahkan tuannya itu tidak pernah marah atau bahkan membentak nya jika ia membuat kesalahan. Paling tuannya hanya menegurnya. Tapi sama sekali tidak pernah mengancam nya di pecat.


Itulah kenapa ia merasa betah bekerja kepada Zayyad. Hanya saja istri tuanya sangat jauh berbeda dari tuannya.


Wanita itu dingin dan sekali berbicara selalu menusuk tajam ke jantung. Tatapannya acuh tak acuh tapi sekali melihat, itu seperti membunuh.


"Saya berjanji ini yang terakhir"


Alina mengangguk puas dengan tatapan merendahkan di balik kacamata hitam nya. Setelahnya ia pergi ke halaman vila.


Di sana sudah ada supir pribadi yang disiapkan Zayyad untuk nya. Alina pun masuk kedalam mobil untuk pergi ke perusahaan.


___


                          


Seorang wanita paruh baya mendekati meja resepsionis. Mengenakan potongan baju merah menyala separas lutut yang ketat. Dengan atasan yang sedikit terbuka menonjolkan lekuk payudara nya.


Rambutnya yang bergelombang tergerai bebas di cat warna coklat. Wajahnya tebal dengan makeup untuk menutupi kerutan halus yang muncul. Bibirnya yang tebal di poles lipstik merah menggoda.


Tangannya yang lentik dengan kuku-kuku bewarna merah meletakkan tas tangan yang di bawanya diatas meja. Mengangkat wajahnya, ia dengan angkuh menyapa seorang pria yang duduk di meja resepsionis.


"Tolong!" Katanya. "Saya ingin keruangan CEO kalian"


"Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" Jawab pria itu dengan profesional.

__ADS_1


"Saya adalah bibinya, apa perlu membuat janji?" Kata wanita itu ketus.


Pria itu sedikit ragu karena nya ia siap mengangkat telepon untuk menghubungi bosnya. Hanya untuk menemukan sebuah tangan yang sangat putih menahan nya.


"Apa kau tidak dengar apa yang baru saja saya katakan?" Wanita itu sedikit menggertak dengan perawakan yang sombong.


Pria itu tercengang. Dari penampilan wanita paruh baya dihadapannya jelas seperti nyonya- nyonya kaya. Menjepit sepasang alisnya ia merasa tertekan. Menghadapi para wanita seperti ini memang sangat menyusahkan.


"Maaf Bu, hanya saja saya perlu untuk memberi tahu pak Zayyad tentang kedatangan anda. Ini termasuk tanggung jawab saya untuk menyampaikan informasi tersebut" Pria itu memaksakan senyum di wajahnya. Dengan sabar menjelaskan.


Wanita itu mendengus kasar. Ia memberi pria itu tatapan tajam merasa tak senang. Mengambil ponsel di tas tangannya, ia meletakkan benda itu di telinganya.


Bibir merah itu terbuka mengatakan sesuatu yang terdengar mengancam. "Saya akan memberitahu keponakan saya bahwa karyawannya sama sekali tidak menghormati bibi bos mereka"


Lalu bibirnya melekuk tajam, memberi lirikan terhadap pria itu sekilas, sambil tersenyum menantang. "Bukankah karyawan yang seperti itu harus nya di pecat saja?"


Pria itu menegang. Ia merasakan ancaman itu seperti pernah terjadi sebelumnya.


Itu adalah seorang wanita yang mengakui sebagai istri CEO mereka. Dan ternyata wanita itu tidak berbohong. Beruntung lah pada hari itu ia tidak melakukan kesalahan.


Lalu apakah wanita paruh baya yang menggoda di hadapannya ini adalah bibi dari bos mereka?


Dan wanita itu baru saja mengancam nya. Pria itu menghela nafas panjang merasa berat mengambil keputusan.


"Baik seperti nya saya harus menghubungi keponakan saya Zayyad untuk-"


"Baik nyonya tunggu sebentar, saya akan memanggil seseorang untuk mengantarkan anda" Akhirnya pria itu menyerah. Belajar dari pengalaman pertama itu benar, bisa saja yang kedua kalinya juga begitu.


Wanita itu menggigit bibir bawahnya tersenyum puas. Meletakkan ponsel itu kembali ke dalam tas tangannya, ia berkata. "Kalau begitu cepat panggil!"


Pria itu pun menghentikan salah seorang karyawan. Dan wanita itu akhirnya pergi bersama dengan seseorang tersebut ke lantai lima puluh tempat bos mereka berada.


Sebenarnya ini adalah kali pertama wanita itu menginjak kan kakinya ke perusahaan. Mengepalkan tangannya ia berusaha untuk tidak gugup.


Di lantai Lima puluh karyawan itu menunjuk tempat ruangan bos mereka. Wanita itu terus menyuruh karyawan itu pergi, mengatakan bahwa ia bisa pergi kesana sendiri dan tak perlu diantar lagi.

__ADS_1


Setelah karyawan itu pergi. Wanita itu menyusuri lorong dengan langkah yang santai walau sedikit tegang. Ia sudah lama tidak berjumpa dengan Zayyad dan tau betapa keponakannya itu membenci dirinya.


Kalau bukan karena permintaan seseorang, ia mungkin enggan melangkah ke tempat ini. Ia masih ingat dengan ancaman Zayyad beberapa hari yang lalu, itu terdengar sangat menakutkan.


Karena seseorang yang menyuruhnya datang membuat sebuah penawaran yang menggiurkan. Maka akhirnya ia memutuskan untuk datang dan mempertaruhkan nasibnya.


Tiap pijakan dari sepatu high heels nya, jatuh dan menggema di lorong yang sepi.


Ketika sudah berdiri di hadapan pintu. Ia mengulurkan tangannya dan membuka.


Pemandangan seseorang yang sedang duduk memperhatikan layar laptop pun muncul. Melihat itu ia pun tersenyum dengan bibir setengah terbuka.


Keponakan nya itu ternyata sudah menjelma menjadi pria dewasa yang tampan dan berkharisma.


Ia terakhir kali melihat keponakan nya itu pada saat Zayyad remaja.


Sedangkan penampilan dewasa nya hanya ia temui di beberapa majalah atau internet.


Ini adalah kali pertama ia berhadapan langsung dan ternyata itu jauh lebih menakjubkan di lihat secara nyata seperti ini.


Mengenakan jas putih seperti itu ia membawa pesona seorang pria yang halus perawakannya. Mengikuti wajah seriusnya, itu tidak ada dahi yang berkerut atau alis yang terjepit. Itu hanya seperti pemandangan danau yang damai. Tapi sulit menemukan riak di dalam nya.


"Kenapa tidak masuk?"


Zayyad tau bahwa siang ini Alina akan datang ke perusahaan membawa kotak makan siang untuk nya.


Mendengar suara pintu terbuka, tanpa memberi permisi apapun, siapa lagi yang berani melakukan nya kecuali wanita itu?


"Jadi, aku boleh masuk?"


Aktivitas jari-jemari Zayyad di atas keyboard seketika terhenti. Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Ia merasakan emosi berfluktuasi dalam dirinya.


Itu adalah suara yang halus seperti desiran angin malam yang mencekam. Datang mendekat membawa rasa dingin yang menusuk dan membangkitkan rasa horor yang menakutkan.


"Kau sungguh berani melangkah kemari"

__ADS_1


"Tentu saja" Wanita itu melangkah masuk kedalam dan menutup pintu. Menarik kedua sudut bibirnya ia tersenyum. "Aku adalah bibi mu, kenapa tidak berani mendatangi perusahaan keponakannya?"


___


__ADS_2