
Alina berbalik dan menemukan seorang pria paruh baya sudah berdiri di hadapannya. Ia membungkuk sedikit sembari tersenyum sopan kepada nya.
"Saya Ferdi, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk tuan Zayyad. Saya bekerja dari pagi sampai sore di vila ini. Maaf karena hari ini baru dapat menyapa nyonya, karena beberapa hari yang lalu saya mengambil cuti karena cucu saya sakit"
Ferdi sangat terkejut melihat betapa cantik istri tuannya dan bahkan ia berkerudung.
Tuannya sangat beruntung di takdir kan bersama seorang istri shalihah seperti itu.
Ia pikir vila besar ini akan sangat menyedihkan karena hanya di tempati oleh tuannya seorang yang menolak menikah.
Tapi kenyataan di depannya membuat nya merasa bahagia untuk tuannya.
Pada akhirnya tuannya menikah dan kemungkinan tamu kecil akan segera hadir untuk meributkan vila besar yang hening ini.
Alina yang melihat tatapan tersenyum Ferdi padanya, menautkan sepasang alisnya. Ia merasa tak suka. Seperti biasa, ia selalu mempersepsikan senyum seorang pria kepada nya itu adalah sesuatu yang menjijikkan.
"Untuk apa kau menatap ku seperti itu?"
Itu terdengar ketus dan sinis.
Ferdi sangat terkejut. Dalam pandangannya sekilas, nyonya barunya tampak lembut dan sopan.
Tapi kenapa ia merasakan kenyataan nya berbeda setelah wanita itu berbicara?
"M-maaf nyonya! Saya tidak bermaksud membuat nyonya tidak nyaman"
Alina malas mempedulikan nya lagi. Dalam hatinya semua pria sama. Mereka menyedihkan dan memuakkan.
Alina mengangkat kaki dari tempat itu dengan angkuh.
Ferdi entah bagaimana menggigil di tempat. Ia merasakan nyonya barunya adalah orang yang rumit.
___
Seharian ini Alina merasa sangat bosan. Menjadi nyonya rumah membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.
Dia sudah bersantai di sofa berjam-jam lamanya sambil menonton televisi. Tapi tidak ada siaran yang menarik perhatiannya.
Sudah berkali-kali ia mengganti siaran. Lelah ia memencet tombol remote, tetap saja ia tidak menemukan yang memuaskan.
"Alin"
__ADS_1
Alina sedikit terkejut, meletakkan remote di atas meja. Ia bergegas bangun untuk membantu neneknya duduk. Walau sebenarnya masih agak canggung, jika mengingat kejadian pagi tadi.
Alina dapat melihat neneknya yang tampak semakin pucat, ada bintik-bintik merah di bawah kulitnya yang semakin menyebar dan melakukan aktifitas sedikit saja ia sudah lelah. Dan lagi, kejadian pagi tadi itu ia pasti sangat membebani nya. Alina merasa menyesal karena gagal mengontrol emosi nya.
"Apa nenek merasa bosan? nenek mau jalan-jalan berkeliling vila? Ada kebun bunga kecil di belakang, kalau nenek mau kita dapat melihatnya"
"Alin nenek minta maaf!"
"Ah, nenek tidak perlu membahasnya lagi. Itu karena Alin terlalu terbawa perasaan"
"Tapi nenek sungguh minta ma-"
"Nek" Potong Alina. "Tidak perlu membahasnya lagi, oke?"
"Em!"
"Jadi, nenek mau Alin ajak keliling vila?"
Vila milik Zayyad sangat besar dan luas. Di dukung dengan beberapa fasilitas mewah.
Seperti ada kolam besar, pustaka kecil, studio musik dan juga ada gym.
Diluar nya Alina tidak terlalu tahu. Karena ia belum habis mengelilingi tempat besar ini. Tapi ia pernah melihat kebun bunga kecil yang ada di belakang vila ini. Dan itu sangat indah.
Karena neneknya menolak, Alina tidak terlalu memaksa. Ia juga mengerti keadaan neneknya saat ini yang mudah sekali lelah.
"Ini sudah hampir mendekati jam makan siang"
"Tenang saja nek! Bentar lagi koki-koki akan datang memasak makanan yang lezat untuk kita. Atau nenek sudah sangat lapar? Kalau begitu aku akan segera memasak sekarang"
Erina terus menggeleng. Bukan itu yang ia maksud.
"Kamu masak tapi bukan untuk nenek"
Menautkan sepasang alisnya, Alina bertanya.
"Lalu untuk siapa?"
"Untuk suami mu!"
Apakah neneknya bercanda? Ia menyuruh nya memasak untuk seorang pria?
__ADS_1
Alina menekan ketidakpuasan nya dalam hati. Menarik kedua sudut bibirnya ia tersenyum, mencoba mengatakan alasan nya dengan halus.
"Nenek kurasa itu tidak perlu! Perusahaan besar seperti itu sudah menyiapkan makan untuk karyawannya, apalagi untuk CEO seperti Zayyad! Paling tidak jika ia tidak makan di sana, ia memiliki makan yang nyaman di luar bersama rekannya"
Memperkuat senyum di wajahnya, Alina ingin sekali berteriak.
Ayolah nek! Tidak perlu memasak, yaa?
"Tapi Irsyad pernah mengatakan Zayyad itu terlalu sibuk mengurus perusahaan sampai lupa makan. Bahkan lambung nya sering sekali sakit karena itu. Alin kau harus memasak sesuatu untuknya"
"Tapi nenek-"
"Jika Alin tidak mau, biar nenek saja yang masak! nenek tidak akan memaksa Alin" Erina masih merasa bersalah untuk kejadian tadi pagi.
Mendengar hal itu, Alina merasa sangat kesal. Rasanya ia akan cemburu jika nenek terus memperhatikan Zayyad seperti ini.
"Baiklah!" Akhirnya Alina menyerah. Ia tidak boleh terlalu terbawa perasaan seperti tadi pagi. "Alin akan memasakkan sesuatu untuk Zayyad sekarang, jadi nenek istirahat saja di sini atau nonton lah beberapa acara yang nenek suka"
Ia tidak bisa membiarkan nenek nya berkutat di dapur. Kondisi tubuhnya masih sangat lemah.
"Sungguh?"
"Em!"
"Kalau begitu setelah Alin memasak nya, antarkan itu ke perusahaannya Zayyad"
Mengepalkan tangannya, Alina ingin sekali menolak. Memaksakan senyum, ia berkata dengan perasaan tertekan.
"Iya nek, akan aku lakukan" Tapi ia memutuskan untuk berdamai dengan neneknya.
Alina bangkit dari sofa, bergegas ke dapur.
Sesampai di dapur, senyum palsu di wajahnya langsung lenyap. Tangannya yang terkepal tanpa sadar meninju pintu kulkas untuk meluapkan emosi nya.
"Huh! Kalau bukan karena nenek aku tidak ingin melakukan ini"
Alina sama sekali tidak sadar, ulahnya tadi sudah membuat pintu kulkas menjadi sedikit cacat.
"Memasak untuk seorang pria, mimpi buruk apa yang ku alami semalam?"
Alina membuka pintu kulkas dengan kasar. Lalu mengeluarkan beberapa sayuran dan daging ayam.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati ia memasak.
___