
Alina berbaring kesamping menutup mata. Beberapa menit berlalu matanya tidak juga mengantuk. Ia pun tidur dengan terentang dan memejamkan mata kembali. Tapi juga tidak mengantuk.
Tidak menyerah Alina tidur dengan tengkurap. Memejamkan matanya kembali hingga beberapa menit, tapi hasilnya tetap sama.
Dengan kesal Alina bangkit dari baringan nya. Duduk bersandar di kepala ranjang, tangannya mencapai menyalakan lampu tidur.
Kamar yang gelap menjadi kuning remang-remang. Alina mengambil ponselnya dan menjelajahi internet. Karena tidak dapat tidur, ia memutuskan untuk mencari informasi tenaga pengajar bahasa Inggris yang ada di kota Y.
Jarum jam di dinding berdetak, menggema di ruangan yang sunyi. Samar-samar terdengar deru nafas seseorang. Itu stabil dan tenang. Tanpa sadar Alina menoleh pada seorang yang tidur di sofa.
Posisinya masih sama sejak awal, tidak berubah. Kakinya terjulur lurus dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Ruangan ini terasa dingin karena air conditioner, tapi pria itu hanya dengan piyama tipisnya tanpa selimut di atas tubuhnya. Alina entah bagaimana tergerak turun untuk mengambil selimut menutupinya.
Tapi langkahnya terhenti. Untuk apa ia harus melakukannya? Jika dingin pun, itu adalah pria itu bukan dirinya.
Alina akhirnya pergi ke pintu. Tepat ketika ia membuka, ada benda dingin yang tajam menekan lehernya.
"Jangan berteriak!"
Alina tercengang. Apa ada seseorang di depan pintu kamarnya? Karena semua lampu di matikan ia tidak dapat melihat sosok itu dengan jelas. Tapi benda tajam di lehernya, tanpa melihat ke bawah ia pun dapat menebak apa itu.
"Anda siapa?" Alina tidak pernah berpikir dengan beberapa penjaga di vila besar ini. Masih ada pencuri yang berhasil masuk.
"He..he..Nona tidak perlu bertanya" Alina merasakan suhu tubuh seseorang berada sangat dekat dengan nya. "lebih baik kau ikut saja dengan ku, jika tidak ingin terluka" Dan hembusan nafas yang hangat membelai separuh wajahnya.
Mengangkat kakinya, Alina bergerak refleks menendang.
Bak! Entah kemana tendangan itu mendarat. Alina hanya berteriak dengan kasar.
"Kau bajingan jaga jarak mu dari ku"
Itu adalah seorang pria. Suara yang berat dan Alina tidak meragukan nya lagi.
Pria yang baru saja mendapatkan tendangan, terus menggigit bibirnya menahan diri untuk menjerit.
"Shh.."Ternyata itu sangat sakit, merapatkan kedua kakinya ia tak tahan untuk tidak mendesis nyeri.
Wanita di hadapannya ini tepat menendang di bagian pribadi miliknya.
Sungguh berani!
__ADS_1
"Kau wanita sialan!" Pria itu tanpa sungkan menekan pisau di tangan nya ke leher wanita itu.
Alina merasakan tekanan benda tajam itu di lehernya, ia meringis. Menjaga ketenangan nya, ia mengatur strategi penyerangan. Pada saat menjadi pengajar di sekolah khusus perempuan di kota Z. Ia sempat bergabung dalam kelas ilmu beladiri. Alina tidak pernah mempraktikkan nya.
Tapi meski ini adalah kali pertama. Alina berharap ia dapat melakukannya dengan baik.
"Benda apa ini?" Alina menyentuh benda tajam itu di lehernya.
"Coba saja bergerak!" Kata pria asing itu.
"Maka aku tidak akan sungkan melukai leher jenjang mu yang indah" Pria itu mendekati tubuh Alina. Hidungnya dengan rakus menyusuri aroma rambut hingga hampir mencapai leher wanita itu. "Aroma mu seperti mawar"
Tangan Alina terkepal. Dengan dua geraham atas dan bawah saling menekan, ia menahan emosi.
Alina diam-diam menggerakkan ujung sikunya kebelakang yang ia yakini akan mengenai perut pria itu.
Buk! Sasaran Alina ternyata tepat. "Arghh.." Pria itu kelepasan dan menjerit sakit. Siku wanita itu sangat tajam dan menubruk perutnya dengan keras.
Mengambil kesempatan itu, Alina menarik benda tajam di tangannya secara paksa. Sampai benda tajam itu tanpa sengaja menekan telapak tangannya hingga berdarah.
"Bajingan seperti mu tidak pantas hidup" Mendapatkan pisau di tangan nya. Alina tidak dapat menahannya lagi. Memutar tubuhnya kesamping, secara asal ia menusuk.
"Argh.." Pria itu melolong. Pisau itu tepat mengenai lengan kanannya. "Ini karena kau sudah berani mendekati ku"
"Arg.." Itu tepat mendarat di lengan kirinya. "Ini karena kau sudah berani mengancam ku"
Zayyad mengernyitkan dahinya, mendengar ada keributan. Membuka sepasang matanya yang berat. Ia mendengar lolongan kesakitan seseorang dari luar pintu kamarnya.
Ia pun turun dari sofa dan menghidupkan saklar lampu. Dengan pintu yang terbuka, saat itulah matanya terbuka lebar.
Seorang wanita sedang berkelahi dengan pria berpakaian hitam dan bertopeng putih.
Buk! Tinju yang keras tepat mengenai perut Alina.
Pria itu akhirnya berhasil melawan. Sepanjang menjadi pembunuh bayaran, ia tidak pernah mendapatkan sedikit pun luka dari seorang wanita. Ini adalah kali pertama dan menghancurkan harga dirinya.
"Kau ******!" Desis nya marah. "Aku akan mengantarkan mu ke neraka"
Buk! Ia berhasil menghindari pisau yang ditujukan kearah nya. Dan mengambil langkah gesit untuk meninju perut wanita itu lagi dengan keras.
Itu sangat keras sampai Alina memuntahkan seteguk darah.
__ADS_1
"Pftt..." Itu menyakitkan, tapi Alina tertawa keras. Matanya yang menyipit itu seperti iblis yang haus darah. "Mengantarkan aku ke neraka? Lakukan itu jika kau mampu"
Alina mengeratkan pisau di tangan nya. Dengan mata haus darah nya yang menyipit, ia mengarahkan pisau itu tepat ke jantung pria itu.
Dengan ruangan yang sedikit lebih cerah. Pria itu dapat melihat apa yang di lakukan wanita itu dan mendengus. Wanita itu sungguh menargetkan jantung nya.
Alina dengan emosi yang membara, melempar pisau itu tepat ke jantung pria itu.
Itu sangat cepat nyaris hampir menusuk jantung pria itu. Hanya saja pria itu bergerak cepat menghindari nya. Sehingga pisau itu hanya melukai bahu kanannya.
"Hanya itu kemampuan mu ******?"
"Jaga bicara mu!"
Tangan yang halus dan tangan yang berotot keduanya bertemu beradu kekuatan. Meluruskan tangannya kedepan, Alina ingin memukul leher pria itu.
Pria itu dengan gesit menurunkan lehernya kebawah menghindar. Tidak tinggal diam, kakinya bergerak cepat untuk mematahkan kaki wanita itu.
Alina merasakan pergerakan di bawahnya, refleks mengangkat kedua kakinya dan ia melompat dengan indah ke udara.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mendarat di lantai dengan sempurna. Menjatuhkan beberapa helaian rambut hitam di wajahnya.
Pria itu tercengang! Ia tidak akan pernah mengira wanita di hadapannya ini sungguh berkemampuan.
"Dengan kemampuan mu itu, sepertinya aku enggan mengantar mu ke neraka. Bagaimana jika kau menjadi wanita ku saja?"
Kedua tangan Alina terkepal, jemarinya menggali sangat dalam hingga buku jarinya memutih. Wajah nya berubah dingin seperti es. Ia tidak mengatakan apapun, tapi hasrat membunuh nya semakin besar.
Dorr! Mendadak suara peluru terlepas di udara.
Seluruh ruangan menjadi terang.
Peluru itu mendarat tepat di jantung pria bertopeng.
"Ia adalah istri ku, jangan bermimpi memiliki nya"
"Pftt.." Pria itu tertawa keras.
"Akhirnya kau muncul sekarang" Peluru itu memang tepat mengenai arah jantungnya. Tapi ia tidak akan pernah mendapatkan gelar sebagai pembunuh bayaran terkenal jika hal sekecil itu saja ia tidak dapat menangani nya.
Zayyad yang menyadari hal itu, tersenyum dingin. "Yah, ternyata kau penuh persiapan"
__ADS_1
___