
Disebuah meja besar dengan orang-orang yang duduk mengitari nya. Semua fokus perhatian terpusat pada salah satu kepala staf marketing yang mengutarakan strategi promosi terbarunya untuk satu produk yang beberapa bulan ini mengalami penurunan.
Panjang lebar ia berbicara, lalu ia menoleh pada Zayyad dan bertanya. "Bagaimana menurut bapak?"
Semua perhatian teralihkan kearah Zayyad. Mereka dapat melihat CEO mereka berpenampilan cukup berbeda hari ini.
Zayyad mengenakan pakaian dengan kerah tinggi di dalam jas putih nya nyaris hampir menutupi seluruh permukaan tulang selangka nya. Di padukan dengan syal tebal yang melilit leher nya.
Hari diluar sangat cerah tapi Zayyad berpakaian seakan cuaca begitu dingin. Mereka bertanya-tanya dalam hati mereka. Apakah Zayyad kurang sehat?
Wajah Zayyad yang kemerahan terlihat tidak baik. Sepasang matanya yang biasanya tampil serius, terlihat kuyu dan tidak bersemangat. Bibir coklat keunguannya pucat, kering dan sedikit bengkak. Ada bekas luka samar di bagian bibir bawahnya.
Sejak rapat di mulai mereka sama sekali tidak menemukan ekspresi serius Zayyad seperti biasanya. Kepalanya terus tertekuk dengan ekspresi tertahan di wajahnya.
"Pak Zayyad?" Kepala staf marketing memanggil Zayyad melihatnya tidak merespon.
Zayyad mengangkat kepalanya perlahan, sambil memijit pelipisnya ia menoleh pada kepala staf marketing. "Saya akan mempertimbangkan nya nanti" Ia tidak begitu memperhatikan seluruh perkataan kepala staf marketing tadi.
Badannya yang terasa lemas dan kepalanya yang sedikit pusing membuat nya sulit berkonsentrasi. "Kita akan membahasnya nanti di lain waktu"
Dengan begitu Zayyad mengakhiri rapatnya dengan para karyawan. Semua orang pun bubar meninggalkan ruangan. Tinggallah Zayyad yang masih duduk sambil memijit pelipisnya yang terasa berat.
Bakri sejak tadi pagi merasa kalau bosnya kurang sehat. Mengambil botol air mineral yang belum terbuka diatas meja. Ia membuka tutupnya dan menawarkan nya pada Zayyad.
"Pak!"
Zayyad mendongak kearah Bakri dan menerima botol minuman tersebut. "Terimakasih!"
"Jika bapak kurang sehat sebaiknya bapak istirahat saja"
Setelah cukup lama bekerja dengan Zayyad. Bakri tau kalau bosnya itu bukan workaholic dan sangat teratur dalam mengatur waktu bekerja dengan kehidupan keseharian nya.
Hal itu juga diterapkan nya pada para karyawan di perusahaan. Karenanya tidak ada yang bekerja lembur di perusahaan ini. Semua terkejar dengan rapi dan terorganisir cukup baik sesuai tatanan waktu.
Jadi seharusnya jika memang Zayyad kurang sehat, tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Begitulah asumsi Bakri. Akan tetapi ia lupa satu hal.
Zayyad tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Pria itu bisa bekerja sampai lupa merawat tubuhnya.
"Bawa saja laporan hasil rapat tadi ke ruangan saya" Zayyad berdiri dan mendorong kursi dengan rapi kedalam meja.
Bakri hanya mampu menghela nafas. Jika bosnya sudah mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya. Ia tidak dapat mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
"Baik pak!"
Sebelum Zayyad melangkah keluar ruangan. Mendadak ia ingat satu hal. Menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya kearah Bakri.
"Jika Bu Alina datang siang ini, katakan padanya kalau saya sudah punya makan siang sama rekan bisnis saya hari ini"
Bakri sedikit terkejut. Karena setelah ia mengingat jadwal bosnya, sama sekali tidak ada janji temu apapun di jam makan siang sama rekan bisnisnya.
Ini aneh!
Tidak biasanya bosnya menolak kedatangan istrinya. Padahal sebenarnya ada baiknya jika Alina datang. Karena semenjak Alina selalu datang membawakan kotak makan, bosnya selalu makan siang teratur.
"Baik pak!"
Mana mungkin Bakri bertanya kenapa? Ia tidak punya hak untuk mencampuri privasi bosnya.
Zayyad pun bergegas pergi ke ruangannya. Kepalanya semakin terasa berat dan seakan hampir pecah. Dan tubuhnya terasa nyeri yang tak tertahankan hingga ke tulang belulang. Karena tak tahan, ia pun memutuskan untuk beristirahat dikamar khususnya yang ada dalam ruang kerjanya.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tangannya memijit pelipisnya merasa sangat pusing. Seluruh ototnya terasa nyeri. Tubuhnya lemas, berkeringat dan menggigil.
Memejamkan matanya, Zayyad memutuskan untuk tidur beberapa saat. Berharap jika ia bangun nanti, kondisi tubuhnya sedikit membaik.
•••
Akan tetapi tepat ketika ia melewati meja resepsionis. Seseorang menahannya.
"Maaf bu, boleh saya tau anda memiliki kepentingan dengan siapa?"
Ketika Alina menoleh, ternyata itu adalah resepsionis yang baru. Ia lupa kalau resepsionis yang lama sudah di pecat. Sepertinya pria itu sama sekali tidak mengenali nya.
"Anda adalah karyawan baru?" Alina berbalas tanya.
"Iya Bu"
"Tolong tanyakan pada karyawan lain, saya terlalu malas untuk mengatakan nya lagi"
Dengan begitu Alina terus melangkah pergi tanpa menghiraukan resepsionis yang terus memanggil nya untuk berhenti.
"Bu, sebentar Bu!"
Hingga salah seorang karyawan datang menegur resepsionis baru tersebut. "Itu adalah istrinya pak Zayyad, dimasa depan kau tidak perlu menghentikan nya seperti tadi"
__ADS_1
"Oh!" Resepsionis tersebut mengangguk mengerti dan melongo hingga beberapa saat.
Alina sudah berada di lantai lima puluh tempat ruangan Zayyad berada. Dari kejauhan ia sudah melihat Bakri yang berdiri tegak di depan pintu. Melihat kedatangan nya, ia segera membungkuk sopan menyapa nya.
"Bu Alina!"
"Minggir!"
Senyum Bakri membeku. Dia dapat bahagia karena bekerja pada bos yang tidak sombong dan menyebalkan. Tapi siapa yang tau kalau semua itu malah ia temukan pada istri bosnya.
"Maaf Bu, pak Zayyad tidak ada dalam ruangan"
Menautkan sepasang alisnya, Alina bertanya. "Lalu dimana?"
"Pak Zayyad sudah pergi makan siang dengan rekan bisnisnya Bu"
Sudut bibir Alina berkedut. Menegaskan tatapan nya pada Bakri, ia tersenyum yang tidak seperti senyum.
"Minggir!"
Bakri tercekat sesaat ketika melihat senyum Alina yang entah bagaimana dapat menurunkan suhu sekitar.
"Tapi Bu pak Zayyad-"
"Apa saya perlu mengulangi nya?" Tegas Alina dengan mata melotot tajam.
Bakri merasakan hawa dingin merambat ke tubuhnya. Entah bagaimana ia tak sanggup untuk tidak menggigil ketika menerima tatapan tajam dari Alina.
"Masih tidak bergerak?"
Bakri refleks mengangkat kakinya melangkah ke samping. Memberi jalan kepada Alina untuk masuk.
Alina meliriknya sinis dan langsung masuk kedalam. Ia tau kalau Bakri berbohong padanya. Insiden semalam pasti membuat Zayyad mencoba menghindari nya.
Bam!
Bakri tersentak kaget. Mendengar suara pintu yang terbanting kasar. Alina sebagai wanita, sama sekali tidak ada lembut-lembutnya. Ia menggeleng kepalanya sambil mengelus dada.
Tapi dengan tipikal bosnya yang tenang dan pendiam, pasti ia cukup sabar dan mampu menghadapi istrinya itu. Melirik sekilas kearah pintu yang tertutup, dalam hati ia merasa bersalah pada bosnya.
Karena sudah gagal melakukan seperti apa yang bosnya perintahkan. "Maaf pak!" Menarik nafasnya, ia menghela nafas berat. "Bu Alina ternyata tidak cukup mudah di tangani"
__ADS_1
•••