Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
46. Aku Kehilangan Kendali Malam Itu


__ADS_3

Alina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia sama sekali tidak menemukan batang hidung Zayyad. Meja tempat bekerjanya kosong. Suasana sunyi seperti tidak ada orang. Apakah mungkin Bakri berkata benar?


Alina awalnya ingin berbalik untuk pergi. Akan tetapi ketika pandangan nya jatuh ke salah pintu yang ada di ruangan, langkahnya terhenti. Perlahan ia mendekati pintu tersebut. Ketika ia membuka nya, ia melihat seseorang sedang meringkuk di atas kasur dalam balutan selimut tebal.


Alina menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Ia sudah menduga kalau Bakri berbohong. Ternyata benar, Zayyad sungguh mencoba menghindari nya.


Alina pun masuk kedalam sambil menjaga tiap pijakannya agar tidak menimbulkan suara. Lalu perlahan ia menutup pintu kembali.


Selesai menutup pintu, Alina perlahan mendekati kasur tempat Zayyad berbaring. Langkahnya yang mengendap-endap membuat nya terlihat seperti pencuri.


Sampai di tepi kasur. Alina mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung Zayyad yang membelakangi nya. Niatnya ingin mengejutkan pria itu.


Puk!


Zayyad yang meringkuk di kasur, dengan tubuhnya yang tenggelam dalam balutan selimut, merasa sedikit terkejut ketika punggungnya seperti di tepuk seseorang. Apa itu hanya perasaannya saja?


Melihat Zayyad yang tidak merespon apapun. Alina berpikir bahwa ia tertidur. Menarik kedua sudut bibirnya, Alina tersenyum picik. Ia merasa tergoda untuk mengusik Zayyad lebih jauh.


Melepaskan sepasang high heels dari kakinya. Perlahan ia duduk di tepi kasur, mengangkat sepasang kakinya perlahan keatas, ia mulai membaringkan tubuhnya. Pergerakan nya di buat seringan mungkin agar Zayyad tidak menyadari keberadaannya.


Alina perlahan membalikkan tubuhnya kesamping, berhadapan dengan punggungnya Zayyad. Mendekatkan wajahnya pada punggung pria itu, hawa panas dari tubuh seorang pria pun memenuhi wajahnya.


Perlahan ia menggeser kan tubuhnya lebih dekat ke tubuh Zayyad. Mengulurkan tangannya untuk memeluknya dari belakang. Wajahnya perlahan di tenggelam kan lebih jauh di punggung pria itu.


Meskipun Zayyad berbalut selimut tebal, tapi tidak menyembunyikan aroma lavender yang sangat kuat dari tubuhnya.


Keharuman lavender yang menenangkan, bercampur aroma khas maskulin seorang pria. Menarik nafasnya dalam-dalam, Alina merasa sangat nyaman dengan perpaduan keharuman itu.


Sangat menenangkan dirinya, merilekskan pikiran nya dan nyaris hampir membuat nya mengantuk. Seandainya seperti ini dimalam hari bersama Zayyad, mungkinkah insomnia hilang?


"Sayang..." Lirihnya halus dengan suara teredam. Karena wajahnya terkubur di punggung pria itu.


Zayyad merasa sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya yang lemas perlahan menggigil. Ketika merasakan seperti seseorang memeluknya dari belakang. Zayyad berpikir, apakah mungkin ia sedang berhalusinasi?

__ADS_1


Akan tetapi ketika ia mendengar suara lirih dari seorang wanita yang terasa begitu nyata di balik punggung nya. Tubuhnya yang menggigil seketika menegang.


"Kenapa kau menyuruh Bakri untuk membohongi ku kalau kau tidak ada di sini!" Alina mengangkat tangannya, memukul manja punggung pria itu. " Apa kau marah dengan kejadian semalam, sehingga berniat menghindari ku?" Lanjut Alina dengan suara yang dibuat-buat manja.


Zayyad seketika meloncat dari kasur. Karena ia tidak hati-hati, tanpa sengaja tubuhnya tersungkur ke lantai karena terjerat selimut. "K-kamu" Katanya dengan suara bergetar ketakutan.


Alina sudah menduga reaksi Zayyad akan seperti ini. Awalnya ia ingin tersenyum lebar kearah pria itu. Berniat menggodanya lebih jauh. Akan tetapi ketika tatapannya jatuh pada sepasang mata coklatnya yang bergetar ketakutan. Kedua sudut bibir Alina menegang, senyum nya mati.


"P-pergi!" Zayyad menundukkan wajahnya. Mengangkat kedua tangannya, ia memeluk kepalanya dengan sikap defensif. "Aku bilang pergi!" Jeritnya histeris dengan tubuh bergetar ketakutan.


Alina terdiam. Pandangan itu sangat memprihatinkan dan menyayat jiwanya. Melihatnya lebih jauh, Alina seperti bercermin pada dirinya sendiri.


Wajah yang ketakutan, tubuh yang bergetar hebat dan tangan yang bersikap begitu defensif melindungi tubuhnya. Tanpa sadar kedua tangan Alina meremas selimut dengan kuat. Bulu matanya bergetar, bola mata hitamnya berkaca-kaca.


Samar-samar tubuh Zayyad yang ada di bawah sana, berubah menjadi gadis kecil yang tidak berdaya dalam pandangannya. Sepasang mata Alina berkedip, seketika air matanya jatuh. Mulutnya separuh terbuka dan bergetar.


Mengedipkan matanya beberapa kali, Ia kembali melihat yang di bawah sana adalah Zayyad. Lalu berubah kembali menjadi gadis kecil yang ketakutan dan menangis. Berubah menjadi Zayyad dan berganti menjadi gadis kecil lagi. Itu terus berlanjut sampai membuat air matanya turun lebih deras.


Zayyad awalnya ingin bangun dan segera berlari meninggalkan Alina yang dalam pandangannya saat ini adalah monster. Sosok monster yang menakutkan, yang dapat merenggut jiwanya kapanpun.


Akan tetapi kepalanya semakin terasa berat. Tubuhnya terasa lemas dan ia dapat merasakan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Karenanya Zayyad sama sekali tidak bertenaga untuk bangun. Mengangkat pandangan nya yang tak berdaya kearah Alina. Ia bernafas dengan terengah-engah.


Melihat wanita itu yang menangis dengan terisak-isak. Ia merasa sangat terkejut. Tubuhnya yang kurus berguncang seiring tangis nya terdengar. Wajahnya yang putih sudah memerah basah karena air mata. Bibir merah kecoklatan nya bergetar.


Zayyad merasa heran dengan perubahan suasana hati Alina. Segera pandangan nya yang awalnya melihat wanita itu sebagai monster, perlahan berubah menjadi wanita biasa.


Wanita yang lemah yang sedang menangis.


Alina yang merasakan perubahan emosi dalam dirinya. Perlahan menenangkan dirinya kembali. Terkadang ketika bayang-bayang masa yang kelam itu terlintas. Ia tak sanggup untuk tidak menangis. Mengangkat tangannya, perlahan ia mengusap keduabelah pipinya yang sudah basah karena air mata.


Perlahan ia turun dari kasur. Mendekati Zayyad di bawah sana yang terlihat jauh lebih tenang daripada sebelumnya.


Menurunkan tubuhnya perlahan, lututnya bertekuk di lantai. "M-maaf"

__ADS_1


Sepasang mata coklat Zayyad membulat terkejut. Ia tidak akan pernah menduga Alina akan meminta maaf padanya. Wanita itu sudah pernah beberapa kali menggoda dan melecehkannya. Tapi ini adalah kali pertama ia meminta maaf padanya.


"Aku kehilangan kendali ku malam itu" Alina mengatakan itu sambil tertunduk menyesal. Mungkin memang ia sudah salah dalam melampiaskan dendamnya.


Itu tidak seharusnya ia lampiaskan pada seseorang yang bernasib tak jauh berbeda dengan dirinya. "Kalau begitu aku pergi!" Alina perlahan bangkit.


Pada akhirnya semua terjadi tidak seperti rencana awalnya. Mungkin ia harus menunggu situasi diantara mereka membaik. Baru membicarakan perihal tentang...


Perbincangan tadi pagi itupun, kembali terlintas di benaknya.


"Nenek jangan membicarakan hal seperti itu lagi" Alina meraih kedua tangan neneknya. Matanya menatap dengan memelas kearah nya. Ia sungguh tidak sanggup jika neneknya membicarakan tentang kematian.


"Nenek pasti tau situasi Zayyad seperti apa, jadi tentunya itu tidak mudah bagi kami bersama" Alina mencoba memberikan pengertian pada neneknya. Tapi ketika melihat ekspresi kesedihan di wajah neneknya. Ia sungguh tidak tahan.


Dalam kehidupan ini ia hanya memiliki tiga orang yang sangat di sayangnya. Ibunya, neneknya dan Maya sahabat nya. Ibunya sudah lama meninggal kan nya sejak di rawat di rumah sakit jiwa. Maya tinggal jauh di kota Z. Dan hanya neneknya yang ia punya satu-satunya. Yang berada di sisinya, di dekatnya dan menemaninya.


Karenanya ia selalu berusaha keras untuk melakukan apapun yang membahagiakan wanita tua itu.


Menarik nafasnya, ia menghelanya perlahan. "Baiklah, aku akan berusaha memperlakukan Zayyad lebih baik lagi, membuat nya tau bahwa tidak semua wanita adalah monster seperti yang ada di masa lalunya. Dengan begitu, siapa tau ia perlahan dapat menerima ku"


"Alin sungguh ingin melakukannya?" Tanya neneknya dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca penuh haru.


Alina dapat melihat perubahan suasana di wajah neneknya. Yang seketika menjadi cerah, seperti matahari yang baru saja terbit setelah tenggelam sepanjang malam. Itu sangat hidup dan membahagiakan. Kedua sudut bibir Alina melebar, tersenyum lembut.


Ia senang melihat neneknya yang seperti itu.


"Ya, aku akan melakukan nya" Alina perlahan mengangguk kan kepalanya. "Nenek berdo'a saja semoga si kecil akan segera hadir di antara kami" Senyum Alina yang tulus, mengembang lebih jauh hingga mencapai dasar matanya.


"Ya, pasti!" Neneknya dengan semangat mengangguk kan kepalanya berkali-kali. Dan perlahan mereka pun saling berpelukan.


Awalnya Alina ingin membicarakan hal itu di sela-sela menemani Zayyad makan. Akan tetapi sepertinya ia harus menundanya.


                              •••

__ADS_1


__ADS_2