Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
24. Aku Istrimu


__ADS_3

Alina refleks menutup mulutnya.


Ia tadi hanya mendadak teringat masa lalu, tapi tanpa sadar dirinya terlalu larut bahkan sampai menjerit kan kata 'ibu' di masa sekarang.


Zayyad yang mendengar teriakan itu menegang. Mengangkat kepalanya, ia melihat seseorang yang ada di balik dinding hanya untuk menemukan nya sedang bersembunyi.


Mengkerut kan dahinya, ia berpikir apakah seseorang itu sudah melihat situasi nya barusan? Menenangkan dirinya, ia berdiri sambil memastikan emosi nya sudah stabil.


Ia berjalan kedepan untuk siap pergi meninggalkan dapur. Tapi sebelum itu ia melirik sekilas ke tempat seseorang bersembunyi mengintip nya.


Dan itu adalah wanita mengenakan piyama putih dengan rambut hitam legam terurai panjang sebahu.


"S-siapa kamu?"


Tempat itu belum mencapai dapur. Tapi cukup dapat melihat dengan jelas apa yang seseorang lakukan di dapur meski tidak mencapai keseluruhan sudut.


Dan sudut tempat Zayyad duduk memojokkan diri terlihat dengan jelas di sini.


Disamping itu cahaya lampu dapur tidak begitu leluasa mencapai tempat ini. Karenanya Zayyad tidak mampu menangkap dengan jelas siapa seseorang itu.


Tapi melihat rambut panjangnya jelas itu adalah seorang wanita.


Alina dapat merasakan ketakutan dan kegelisahan dari nada suaranya. Menyipitkan matanya, ia merasa gatal ingin melakukan sesuatu.


"Sayang.. kenapa kau sangat terkejut?"


Alina mengulurkan tangannya mencoba mencapai tubuh Zayyad. Hanya menemukan pria itu sudah mengambil langkah ke belakang menjauhi sentuhan nya.


Alina melengkungkan bibirnya dengan perasaan bermain yang puas.


"K-kamu"


"Ah, aku istrimu! Apa aku tidak boleh menyentuh suamiku sendiri?"


Alina menarik kembali tangannya, memerankan perasaan gadis yang terluka karena di tolak.


Detik itu Zayyad sudah menyentuh saklar. Dan menemukan itu sungguh Alina yang tidak mengenakan kain penutup kepala seperti biasa.


Zayyad merasakan jantungnya berdegup kencang melihat kecantikan nyata tepat di hadapan nya. Itu adalah kali pertama ia melihat Alina dengan kepala tanpa penutup apapun.


Rambut panjangnya yang lurus memiliki warna hitam seperti tinta sangat serasi dengan kulitnya yang halus seperti susu. Piyama putih yang dikenakan Alina sedikit transparan. Meskipun ia seorang gynophobic, tapi pada dasarnya ia adalah pria yang normal.


Melihat pemandangan seperti itu didepannya. Bagaimana mungkin tubuhnya tidak panas dingin dan bahkan wajahnya memerah.

__ADS_1


Tapi sebelum itu, perutnya sangat cepat bereaksi mendorong asam ke mulutnya.


"Ugh"


Menutup mulutnya tanpa melirik lagi pada Alina. Zayyad mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.


Dan Alina tertawa.


"Pftt.."


Alina tidak akan pernah menyangka menggoda seorang pria dapat terasa begitu menyenangkan. Apalagi seorang gynophobic seperti Zayyad.


Menyipitkan matanya Alina berpikir. Mungkin tidak buruk jika ia dapat menjadikan suaminya itu sebagai permainan nya dimasa depan.


Sesekali pria juga harus tau bagaimana rasanya di permainkan dan di lecehkan, bukan? Bibirnya yang tipis membentuk kurva tajam yang tersenyum seperti iblis.


Mengambil beberapa langkah ke dapur. Alina lupa bahwa ada pecahan kaca di sana. Tanpa sengaja kakinya menginjak nya dan ia terluka.


"Ouch"


Alina mengiris nyeri sambil mengangkat kakinya. Menemukan itu sudah berdarah sangat banyak. Menggigit bibirnya, ia mencemooh dirinya dalam hati.


Kenapa ia begitu ceroboh? Jelas-jelas ia melihat kejadian saat kekacauan tempat ini terjadi. Tapi rasa sakit ini tidaklah begitu seberapa dengan apa yang pernah di alaminya dimasa lalu.


Saat ini Alina tidak mampu menahan air matanya yang sudah merembes keluar karena menahan betapa sakit nya itu. Masih bersikeras menahannya, Alina berjalan tertatih-tatih mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


Setelah meneguk nya habis. Alina berjalan ke kamar sambil menyeret tiap langkah kakinya yang meneteskan darah di lantai.


Dan Alina sama sekali tidak menyadari hal itu. Sampai di kamar, ia terus melompat ke tempat tidur. Meraih guling nya, ia memeluknya erat sambil menekan rasa nyeri di kakinya.


Dengan begitu ia tertidur bersama detak jam dinding halus yang mengisi keheningan kamar bersama deru nafas ringan nya.


                                         •••


Pagi harinya Zayyad bangun sangat awal seperti biasa. Mengambil beberapa menit untuk lari pagi sambil menghirup udara segar di luar.


Vila nya yang terletak jauh dari kota, membuat udara sekitar masih sangat bersih dari polusi. Pemandangan nya pun sangat indah. Dengan pepohonan hijau yang menyejukkan mata dan danau yang bersih bebas dari sampah.


Setelah lari pagi, Zayyad kembali ke vila untuk membersihkan diri dan bersiap-siap ke kantor. Tapi sebelum nya ia pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan.


Menemukan Nasir, asisten rumah tangganya sedang membersihkan kekacauan yang di buat nya di dapur semalam.


"Pagi!" Sapa Zayyad yang bersikap sebagai taun rumah yang hangat.

__ADS_1


"Tuan, pagi!"


Nasir yang sudah mengumpulkan semua pecahan kaca dan ponsel rusak dalam bungkusan plastik hitam. Mengingat tetesan darah sepanjang dapur hingga pintu kamar nyonya nya yang baru saja ia bersihkan.


Apakah ia perlu memberi tahu tuannya bahwa seperti nya nyonya terluka parah karena pecahan beling?


"Tuan tadi aku baru saja membersihkan banyak darah yang berceceran dari dapur hingga ke pintu kamar nyonya. Tuan sepertinya nyonya tanpa sengaja menginjak pecahan beling dan terluka"


Nasir sama sekali tidak tau siapa yang memecahkan gelas ke lantai bahkan menghancurkan ponsel sampai tidak terselamatkan.


Dan bagaimana mungkin ia memiliki keberanian untuk mempertanyakan itu pada tuan nya.


Zayyad yang mendengar hal itu merajut sepasang alisnya dan berpikir. Darah berceceran dari dapur hingga ke pintu kamar Alina, tadi malam itu apakah mungkin Alina tanpa sengaja menginjak pecahan beling?


"Hem!"


Zayyad hanya mengatakan itu dan pergi.


Melihat respon tuannya yang seakan tidak peduli dengan keadaan nyonya. Nasir diam-diam bersedih untuk hubungan mereka. Padahal mereka adalah pasangan baru, harus nya memiliki hubungan yang masih sangat hangat.


Tapi tidak hanya mereka pisah kamar, hubungan mereka pun sangat dingin dan acuh tak acuh. Merenungi villa besar ini, Nasir berpikir mungkin harapan nya untuk melihat tuan kecil atau nyonya kecil di masa depan tidak mudah terwujud.


Zayyad menyiapkan roti bakar keju seperti biasa nya untuk Alina. Dan semangkuk bubur untuk neneknya Alina. Sedangkan ia hanya menyiapkan roti tawar untuk sarapan paginya karena ia tidak suka manis.


Setelah meminum teh hangat tanpa gula. Zayyad meraba saku jasnya untuk mengambil ponsel, hanya untuk diingatkan bahwa benda itu sudah ia hancurkan. Menghela nafasnya Zayyad melangkah ke ruang samping untuk menggunakan telpon rumah.


Menekan beberapa tombol angka, ia memutuskan untuk menghubungi Bakri. Syukurlah ia sudah menghafal kontak asisten pribadinya itu.


"Bakri"


"Saya mau kamu kirimkan dokter wanita ke vila sekarang"


"Bukan untuk saya, tapi untuk istri saya"


"Dan belikan ponsel baru untuk saya"


"Em!"


Talian terputus.


Tanpa sengaja Ferdi mendengar percakapan tuannya di telpon tak sanggup menutupi senyum bahagia nya. Walau tampak acuh tak acuh di permukaan, sepertinya tuannya itu menaruh nyonya di hatinya.


Mengambil kemoceng, Ferdi kembali sibuk menyapu debu-debu di ruangan. Lalu tiba-tiba ia teringat kata tuannya tentang membeli ponsel baru. Jadi, apakah kekacauan di dapur itu berasal dari tuannya?

__ADS_1


___


__ADS_2