
Sikap Zayyad yang sangat serius itu, membuat Alina nyaris saja tersihir dengan betapa tampannya dia...
"Baik pak!"
Bakri pun keluar dan menutup pintu. Tinggal lah Alina dan Zayyad di dalam ruangan.
"Nenek menyuruh ku untuk mengantarkan makan siang untuk mu"
"Letakkan saja di meja kopi" Jawab Zayyad yang masih fokus sama pekerjaannya.
Alina berjalan ke meja kopi dan dengan santai duduk di sofa. Menyadari Alina yang sepertinya tidak berniat pergi, Zayyad mengerutkan dahinya.
"Apa ada hal lain?" Tanya Zayyad sembari membalikkan halaman map yang sedang dibacanya.
"Nenek tidak mengizinkan ku pulang sebelum melihat mu menghabiskan makanan ini"
Tangan Zayyad yang memegang map menegang.
"Dan aku juga harus mengambil rekaman mu yang memakan habis makanan ini dan menunjukkannya ke nenek sebagai bukti kalau aku sudah menjalankan tugas ku..." Terang Alina.
Zayyad menutup map di tangannya, menoleh kearah Alina "Apakah harus?"
"Kau pikir aku mau melakukan hal konyol ini jika bukan karena nenek? Cepatlah menurut saja. Jika kali ini kau tidak bekerja sama, maka jangan salah kan aku karena juga menolak bekerja sama dengan mu"
Zayyad merajut sepasang alisnya, tatapannya berubah menjadi tajam, "Maksud mu?"
"Jangan salah kan aku jika membocorkan rahasia terbesar mu pada publik kalau kau itu sebenarnya-"
"Cukup!"
Zayyad akhirnya berdiri. Mata coklatnya sekilas melempar tatapan membunuh pada Alina.
Alina mengerutkan bibirnya nyaris ingin tertawa mengejek, 'Menatap diriku seperti itu, pelukan ku semalam saja dia sudah hampir pingsan!'
Zayyad berjalan ke sofa tunggal dan duduk.
Alina tau pria itu menjaga jarak darinya.
Zayyad mengambil kotak nasi yang Alina bawa dan membukanya. Tepat ketika ia mengambil sesendok suapan ke dalam mulutnya. Kunyahan pertama, hampir membuatnya ingin muntah, "Makanan apa ini?"
__ADS_1
Itu sangat asin, nyaris seperti memakan sesendok garam.
Alina melipat bibirnya rapat, menahan tawa yang hampir saja meledak.
Zayyad menatap nanar ke kotak makanan di tangannya, "Kau sengaja melakukannya?"
"Sengaja atau tidak, peraturannya tetap sama! Kau harus menghabiskan makanannya atau-"
Zayyad dengan terpaksa mengambil sesendok makanan itu lagi ke mulutnya. Bahkan kali ini tangannya bergerak sangat cepat, berusaha keras untuk segera menghabiskan makanan itu.
Zayyad sama sekali tidak sadar kalau Alina sedang merekamnya sembari terkikik kecil.
Aksi seorang bos besar di depannya itu sungguh sangat menghibur.
"Selesai!" Zayyad meletakkan kotak nasi yang sudah kosong di atas meja.
"Ugh"
Menutup mulutnya Zayyad bergegas ke kamar kecil.
"Pfft.."
___
Tanpa merasa bersalah sama sekali, Alina membereskan kotak makan dan menyuruh Bakri yang masih menunggu di luar untuk mengambil segelas air.
"Ini Bu!"
Bakri menyerahkan segelas air putih kepada Alina.
"Em!" Alina mengambil gelas tersebut dan sama sekali tidak berterimakasih pada Bakri yang sudah membawakannya air.
Bakri tidak terlalu mempedulikan hal itu. Bakri segera keluar, menutup pintu dan memberi privasi sepenuhnya untuk pasangan yang baru saja menikah itu. Tepat ketika ponselnya berdering, Bakri mengambil beberapa langkah menjauh untuk menjawab panggilan.
"Iya?"
"Baik, kalau begitu saya akan segera ke sana"
Karena ada keperluan, Bakri pun pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Alina yang melihat Zayyad sudah keluar dari kamar kecil masih tak sanggup menyembunyikan senyum di wajahnya.
Zayyad terus memalingkan muka dari Alina. Wajahnya sama sekali tidak terlihat baik.
"Ini minumlah!"
Alina dengan murah hati meletakkan gelas air di atas meja untuk Zayyad minum.
Zayyad langsung mengambilnya dan menenggaknya sampai habis.
"Sepertinya CEO perusahaan besar ini sama sekali tidak tau kalau minum sambil berdiri itu tidak baik untuk kesehatan"
Zayyad hanya meletakkan gelas itu di meja, sama sekali tidak menggubris Alina.
"Padahal di dalam hadits saja sudah di jelaskan tentang larangan minum sambil berdiri, tapi sepertinya CEO seperti anda mana tau hal seperti itu"
Zayyad hanya diam. Membiarkan saja gadis itu berbicara tanpa harus meresponnya.
Diperlakukan seperti itu membuat Alina kesal. Padahal ia mengatakan semua itu untuk mencemoohnya. Tapi apa daya? Zayyad sama sekali tidak peduli.
Zayyad bergegas duduk di meja kerjanya, kembali berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus ia tinjau. Sedangkan Alina yang seakan tak berniat meninggalkan tempat itu, pergi mengitari ruangan kerja Zayyad yang cukup luas dan besar.
Alina melihat ada rak buku yang berada di samping meja kerja Zayyad, itu di penuhi dengan jejeran buku tentang bisnis. Sepertinya pria itu sangat suka membaca, bahkan di kamarnya pun juga ada rak buku, padahal vila besarnya sudah memiliki satu pustaka kecil.
Sampai pandangan Alina jatuh pada satu pintu yang ada di sudut ruangan. Sepertinya itu bukan pintu toilet yang Zayyad gunakan tadi. Di dera rasa penasaran, Alina tak sungkan mendatangi pintu itu dan membukanya.
"Wah, kau punya kamar sebesar ini di ruang kerja mu"
Kamar itu mungkin tidak sebesar kamar yang ada di vila. Tapi dibandingkan kamar Alina yang di rumah neneknya, jelas itu jauh lebih besar. Didalamnya ada ranjang yang terlihat nyaman dan lemari pakaian yang lumayan besar.
"Kau tidak berniat pulang?" Zayyad tak mengira wanita itu masih belum pergi.
"Kenapa? Kau merasa terganggu dengan kehadiran ku disini" Gerutu Alina tak senang.
"Aku tak nyaman" Zayyad membalikkan halaman dokumen di tangannya. Matanya sama sekali tidak melirik sedikit pun pada Alina.
"Jahat!" Cibir Alina. Ia pun berjalan kearah meja kerja Zayyad.
"Bagaimana pun kau tidak boleh seperti itu pada istrimu!" Bisik Alina sangat halus, di ambang telinga Zayyad.
__ADS_1
Merasakan hembusan nafas hangat yang mendera belahan pipi serta daun telinga kanannya. Zayyad terkesiap. Kala ia menoleh, bola matanya nyaris hampir melompat keluar menemukan jarak wajah Alina yang begitu dekat dengannya.