Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
39. Nurani Yang Bersalah


__ADS_3

Satu jam lebih sudah berlalu. Tapi Zayyad masih saja belum keluar. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan pria itu didalam? Ketika Alina membuka pintu untuk mengintip.


Ia melihat ranjang putih itu kosong. Apa mungkin Zayyad masih berendam di kamar mandi? Merajut sepasang alisnya, Alina merasa rumit dengan dirinya. Kenapa ia seperti sedang mengkhawatirkan pria itu?


Menggelengkan kepalanya, Alina menampik perasaan itu jauh-jauh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka pria juga pantas merasakan nya. Sudah begitu banyak wanita yang terluka karena mereka.


Sekali-kali mereka yang terluka karena wanita, Bukankah itu menyenangkan? Memikirkan itu Alina tak sanggup untuk tidak menyembunyikan senyum di wajahnya.


Ia pun menutup pintu dan kembali duduk di atas sofa. Melihat kotak nasi yang dibawa nya, rasanya tak mungkin untuk memberikan itu pada Zayyad.


Anggaplah karena ia mengasihani pria itu. Maka untuk kali ini, Alina memutuskan untuk memesan makanan. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya pesanan nya sampai.


Alina turun ke lantai bawah untuk mengambilnya. Kebetulan karena ada Bakri di sana, ia langsung menoleh pada pria itu.


"Bakri"


Bakri yang sedang berbicara dengan salah satu karyawan, menoleh kearah nya. "Ia, ada apa Bu?" Katanya sopan.


"Tolong bayar makanan ini kepada pria yang menunggu disana"


Setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban Bakri, Alina pergi begitu saja.


Bakri menghela nafas panjang. Menghadapi Alina memang melatih kesabaran nya. Wanita itu lebih sulit dihadapi dari pada tuannya sendiri. Ia berpikir bagaimana tuannya sanggup menghadapi wanita seperti itu?


Alina meletakkan makanan itu diatas meja. Melihat Zayyad yang sudah duduk di meja kerjanya.


Pria itu yang beberapa saat lalu terlihat begitu menyedihkan.


Sekarang sudah kembali tampil dengan serius menghadapi pekerjaan nya. Dahinya yang berkerut seperti tenggelam memikirkan sesuatu. Matanya yang jatuh lurus ke layar laptop, memperhatikan layar itu dengan saksama.


Hanya saja wajahnya yang biasanya terlihat putih dan dingin, itu tampak sedikit memerah tidak wajar. Menjepit sepasang alisnya, Zayyad seperti menahan rasa tak nyaman.


Apa pria itu sakit?


"Aku sudah memesan makanan" Kata Alina mendatangi meja Zayyad. "Makanlah"


Zayyad mengetikkan sesuatu di atas keyboard. Tanpa menoleh kearah Alina ia berkata. "Nanti"


Alina merasa kesal. Dia sudah bermurah hati memesan makanan untuknya. Tapi Zayyad malah menolak untuk makan. Tau begitu ia tidak akan repot untuk peduli.

__ADS_1


Melihat kearah laptop. Ia mengulum bibirnya menahan senyum dari pikiran liciknya. Mengangkat tangannya, ia langsung menutup laptop itu hingga menimpa tangan Zayyad yang sedang mengetik dibawah nya.


Zayyad yang melihat kelakuan Alina, menanggapi nya dengan tenang. Menarik kedua tangannya dari laptop, ia mendongak kearah Alina yang masih berdiri di samping meja kerjanya dengan tampang tak bersalah.


"Makan!" Tuturnya sambil tersenyum. Itu terlihat alami dan jauh lebih menyenangkan daripada biasanya yang selalu tidak tulus dan terlihat memaksa.


"Kalau kamu tidak makan maka aku akan-"


"Aku makan!" Potong Zayyad dan bangkit dari duduknya.


Alina melihat Zayyad yang menurut, menarik kedua sudut bibirnya tersenyum puas.


Zayyad duduk di sofa dengan tenang. Mengambil kotak makan di atas meja hanya untuk ditahan oleh sebuah tangan putih cantik dan halus. Zayyad mendongak menemukan Alina yang tersenyum canggung.


"Jangan makan yang ini" Alina menarik kotak makan itu dan mengganti nya dengan sekantong plastik putih berisi makanan. Sepertinya itu baru saja di pesan dari restoran karena masih terasa hangat.


"Yang ini sudah dingin, yang itu masih hangat!" Alina menunjuk kearah bungkusan putih yang baru saja digantinya tadi.


Zayyad melirik kotak makan yang di ambil Alina, ia diam-diam tersenyum seperti mengetahui sesuatu. Dingin? Ia tau pasti alasannya tidak sesederhana itu.


"Apa yang dikatakan nenek mu ternyata benar"


Zayyad tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan kunyahan makanan di mulutnya.


Cara pria itu makan sangat mencerminkan karakter nya yang tenang dan teratur. Ketika ia mengunyah sama sekali tidak menghasilkan suara apapun dan begitu sopan. Gerakan nya pun tidak lamban dan juga tidak tergesa-gesa.


Bahkan Alina yang seorang wanita saja ketika makan tidak sampai seperti itu. Ia makan sangat santai, tak peduli gerakan nya cepat atau lambat. Selama ia menikmatinya, ia tidak terlalu peduli.


"Nenek tidak mengatakan yang aneh-aneh kan?" Selidik Alina yang tak sabaran. Menunggu pria itu menguyah satu suap makanan saja rasanya seperti menghabiskan beribu-ribu tahun lamanya.


Zayyad tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak" Mendengar jawaban singkat itu Alina tidak puas. "Lalu apa yang nenek katakan padamu?"


Zayyad menekan dadanya dengan ekspresi wajah yang menjelaskan ia membutuhkan air. Alina yang memperhatikan itu terus mencibir. Jika ia perlu air kenapa tidak ambil saja sendiri?


Tapi pada akhirnya Alina tetap bangun. Pada saat itu terdengar ketukan dari pintu. Ketika ia membuka nya ternyata itu adalah Bakri.


"Kamu!" Kata Alina terdengar ketus.


Bakri yang sudah terbiasa dengan sifat Alina yang tidak bersahabat, hanya tersenyum sopan padanya. "Bu Alina"

__ADS_1


"Ambilkan segelas air untuk tuan mu"


"Baik Bu"


Dengan begitu Bakri pergi untuk mengambil segelas air untuk tuannya. Karena masih ada Alina didalam, rasanya tidak mungkin membicarakan pemecatan itu. Bagaimana pun ia tidak berani menyinggung Alina secara terang-terangan.


Alina kembali duduk di sofa. Beberapa menit kemudian Bakri kembali dengan segelas air. Zayyad mengambil nya dan meminumnya dengan tenang. Meletakkan gelas itu di meja, ia mendongak kearah Bakri. "Terimakasih"


"Sama-sama pak"


Alina yang melihat itu memuji sikap Zayyad diam-diam. Meskipun seorang bos besar, tapi ia tidak ragu untuk berterima kasih pada bawahan nya meskipun itu hanyalah tindakan kecil.


Zayyad melempari tatapan penuh sinyal pada Bakri. Menyuruhnya untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


Bakri yang memahami maksud dari Zayyad, mengangguk kan kepalanya dan ia keluar.


"Terimakasih untuk pertolongan mu hari ini" Kata Zayyad terdengar tulus. Kalau saja Alina tidak datang, tidak tau rumor apa yang sudah tersebar lagi tentang nya.


"Lalu bagaimana cara kamu membalas ku?" Alina memiringkan kepalanya sambil tersenyum menuntut. "Apa yang kau mau?" Zayyad menyandarkan punggungnya ke sofa. Makanan diatas meja sudah habis.


Alina berpikir sejenak. Untuk saat ini ia tidak tau harus minta apa. Tapi ia tidak mau melewatkan kesempatan yang berharga ini. "Nanti aku beritahu"


Zayyad hanya mengangguk. Lalu ia kembali ke meja kerjanya. Alina mengambil tas tangan nya dan bergegas keluar.


Ketika ia membuka pintu, Zayyad memanggil nya. "Alina"


Alina menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. "Apa ada hal lain?"


"Sekali lagi terimakasih" Itu terdengar sangat lembut seperti hembusan angin musim gugur. Sorot matanya yang melankolis tersenyum penuh rasa yang tak terkatakan.


Itu rasa terimakasih yang lebih dalam daripada sebelumnya.


Alina hanya mengangguk dan keluar.


Dalam hati ia sedikit menyesal. Padahal ia baru saja meminta balasan untuk pertolongan nya tadi. Tapi kenapa pria ini kembali berterimakasih dengan begitu tulus nya.


Seperti ini entah kenapa ia merasakan nurani yang bersalah.


___

__ADS_1


__ADS_2