Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
41. Bukan Wanita Biasa


__ADS_3

Bara baru saja menyelesaikan rapatnya. Kembali ke ruangan, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sudah duduk di sofa. Penampilan nya yang serba merah membawa suasana menggoda, tapi untuk umurnya yang seperti itu. Terlihat sedikit menjijikkan.


Bara ikut duduk di salah satu sofa tunggal. Menaikkan salah satu kakinya ke atas paha, ia terlihat santai. Mengangkat wajahnya kearah wanita di hadapannya itu. Ia dapat melihat dengan jelas ketidakpuasan di wajahnya.


Sepasang alisnya terjalin, keningnya berkerut. Menangkap ekspresi yang tidak menyenangkan seperti itu, Bara memiliki firasat buruk.


Apa rencana nya gagal lagi?


"Jangan bilang kamu gagal bibi?"


Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Menyilang kan dua tangannya di depan dada, ia mengangguk. "Ya, aku gagal"


Bara membelalakkan matanya, nyaris seperti dua bola itu siap meloncat keluar. "Bagaimana bisa?" Pekiknya histeris.


Padahal ia jelas mendengar kabar bahwa wanita itu berhasil masuk ke ruangan Zayyad dan menjalankan aksinya. Tapi kenapa bisa gagal?


"Lalu bagaimana dengan rekamannya?" Bara masih berharap rencananya kali ini tidak sepenuhnya gagal.


"Kamera nya hancur!"


"Apa?" Pekik Bara histeris.


Tangannya memegang kepalanya dengan frustasi. Ini sudah yang kesekian kalinya rencana yang ia buat gagal.


Menyebar kan rumor, kekacauan di lift, menyewa pembunuh bayaran dan bahkan yang kali ini pun yang sudah ia rancang dengan sangat baik juga bisa gagal?


"Ini semua karena wanita itu!" Menggertak kan giginya, matanya berkilat ketidakpuasan.


"Siapa?"


"Istrinya Zayyad" Ketus wanita itu. Masih teringat jelas perlakuan wanita berhijab itu terhadapnya yang sangat menyebalkan.


"Dia lagi?"


Sudah kesekian kalinya rencana yang di buatnya gagal karena wanita itu. Bahkan pembunuh bayaran yang di sewanya juga gagal menjalankan aksinya karena wanita itu.


"Sudah kukatakan istri sepupu mu itu bukan wanita biasa"


Seorang pria melangkah masuk kedalam. Ia sudah mendengar sedikit percakapan mereka sebelum masuk keruangan.


Menjatuhkan dirinya di atas sofa, ia meletakkan dua cup kopi hangat yang di belinya di atas meja.


Wanita paruh baya itu menoleh kearah pria yang baru saja muncul. Awalnya ia terkesima dengan penampilan nya yang tampan. Tapi segera wajahnya memucat.

__ADS_1


Itu adalah wajah tampan yang sudah tidak lagi asing di matanya. Kulit putih seperti kapas yang lembut dengan mata elang yang memikat.


Biasanya aura pemilik ketampanan yang tidak lagi asing itu hangat dan mendebarkan banyak hati wanita yang melihat. Belum lagi pesona lembut nya yang menyihir para gadis sampai tergila-gila padanya.


Tapi yang di hadapannya ini auranya gelap dan menyeramkan. Membuat jantung siapa saja berdegup kencang jika melihatnya, nyaris seperti melihat malaikat maut.


"Kamu bukannya aktor tampan Chris Evan?"


Chris Evan adalah aktor ternama di kota Y. Memiliki darah campuran Eropa dengan wajah tampan yang berhasil menaklukkan banyak gadis.


Hanya saja ia tewas karena kecelakaan di usianya yang baru saja dua puluhan. Lalu siapa yang berada di hadapannya ini? Wajahnya jelas seratus persen sangat mirip dengan aktor hebat itu.


"Bibi bicara apa? Ia adalah pembunuh bayaran yang ku sewa jasa nya" Jelas Bara.


Pria itu yang di duga sebagai Chris Evan, melengkungkan bibirnya tersenyum sumringah ke arah wanita paruh baya itu.


Melihat senyum yang begitu nyata dari sosok di hadapannya itu. Seperti melihat aktor tampan yang kabarnya tewas di usia muda, itu terlahir kembali. Wanita itu merasakan sekujur tubuhnya menggigil dan bulu romanya naik.


"B-bagaima bisa wajahnya begitu mirip?"


Bara mengerutkan keningnya, ia dapat melihat wajah wanita paruh baya itu yang memucat jelas baru saja seperti melihat hantu.


Tapi ia sama sekali tidak mengenali aktor yang di sebut wanita itu barusan. Jika mirip pun, itu setidaknya adalah hal yang wajar.


Bukannya kata orang di dunia ini satu orang memiliki tujuh kemiripan?


Wanita paruh baya itu hanya diam. Perlahan ia mengangguk kan kepalanya mengerti. Mungkin itu hanyalah kebetulan mirip. Tapi tetap saja rasanya sedikit menegang kan.


"Jadi kali ini rencana ku gagal lagi, masih karena wanita sialan itu?" Bara mengembalikan topiknya.


"Kamu harus tau kalau kakak ipar mu bukan wanita yang mudah di tangani"


"Bibi juga berpikir seperti itu?"


"Jika bukan karena wanita itu, aku sudah membawa rekaman adegan panas kami kepada mu"


"Jadi wanita itu menemukannya?"


Padahal kamera itu kecil dan di selip kan sangat rapi di dalam tas tangan yang sudah di lubangi dengan sangat kecil. Bahkan orang tidak akan terlalu memperhatikan keganjilan itu. Jika melihat pun, paling tidak hanya akan mengira kalau itu sobekan kecil.


Tapi wanita itu menemukan nya begitu saja?


"Wanita yang sangat lihai" Pria yang masih terlihat seperti hantu di mata wanita paruh baya itu, menarik kedua sudut bibirnya Ia menyeringai dengan tatapan tajam penuh misteri.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus bertemu dengan kakak ipar ku ini untuk membuktikan apakah semua yang kalian katakan benar atau tidak"


Bara mengambil cup kopi di atas meja dan meneguknya perlahan. Matanya berkilat tajam dengan rasa penasaran.


"Silahkan minum nyonya"


Pria itu menawarkan satu cup yang tersisa kearah wanita paruh baya itu. Sebenarnya itu miliknya, tapi siapa yang menduga kalau Bara tidak seorang diri di ruangan nya.


"Siapa nama mu?" Dengan gugup wanita paruh baya itu menerima nya. Meneguk nya perlahan, ia menjepit sepasang alisnya dengan ekspresi wajah tertekan. Kopi robusta yang sangat pahit. Ia tidak menyukainya.


"Kau dapat memanggil ku Chris"


Wanita paruh baya itu menegang. Melirik sekilas kearah pria itu dengan ragu-ragu. Menemukan mata elang itu menyipit sedikit karena terdesak senyuman di wajahnya. Itu entah bagaimana tampak seperti senyuman malaikat maut yang menyeramkan.


"Em" Wanita paruh baya itu mengangguk kan kepalanya dengan gugup.


___


Malam harinya Alina belum melihat Zayyad pulang. Padahal biasanya pria itu pulang paling telat sebelum makan malam. Tapi ini sudah sangat larut, apa pria itu bekerja lembur?


Alina menggelengkan kepalanya tidak terlalu peduli. Duduk santai di atas sofa, Alina bersiap memanjakan dirinya dengan membaluri lotion di sekujur tubuhnya.


Terkadang ia melakukan itu sebelum tidur untuk menenangkan dirinya. Mengoleskan lotion itu ke sepanjang lengannya, ia memijat nya dengan lembut. Aroma mawar dari lotion menyeruak merasuki penciumannya.


Merilekskan pikiran nya dan memanjakan dirinya lebih jauh. Selesai di kedua tangannya, ia berpindah ke kakinya.


Ia mengenakan piyama yang berupa gaun bewarna putih selutut. Mengangkat kain putih itu lebih jauh, paha mulusnya terpampang jelas. Mengoleskan lotion di sepanjang kaki hingga ke paha. Ia pun perlahan memijatnya dengan lembut.


Memejamkan matanya, Alina terlihat seperti sangat menikmati pijatan nya sendiri. Ia sangat berharap bisa tidur cepat malam ini. Dan tidak terganggu dengan insomnia nya.


Ceklek!


Suara pintu terbuka.


Zayyad melangkah masuk kedalam hanya untuk menemukan pemandangan yang mendebarkan di atas ranjang.


Seperti melihat bulan dalam wujud seorang wanita yang turun dari langit. Begitu anggun dalam gaun malamnya yang bewarna putih. Rambut hitam panjang nya yang tergerai bebas, jatuh seperti tinta tumpah menutupi separuh wajahnya.


Gaun malam putihnya yang separuh tersingkap. Memperlihatkan paha putih mulus seperti porselen. Tangannya yang lentik terus memijat permukaan kaki jenjangnya perlahan. Nyaris seperti melihat seorang dewi malam yang sedang memanjakan dirinya.


Zayyad menegang di tempat. Merasakan rasa panas merambat di kedua belah pipinya. Ini adalah kali pertama ia begitu menikmati memandang kecantikan. Dan itu nyata berada tepat di depannya.


"Ugh!" Rasa mualnya naik, ia bergerak cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


Alina membuka matanya dengan terkejut. Tangannya berhenti memijat kakinya. Refleks ia menarik selimut menutupi kaki jenjangnya yang sangat terbuka hingga paha.


"Kapan kau masuk?"


__ADS_2