Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
25. Sekelumit Kisah Kehidupan Alina


__ADS_3

Alina terlalu malas untuk bangun, menarik selimut nya dan tertidur lagi. Semalam ia tidur sangat larut, bagaimana mungkin ia punya tenaga untuk bangun awal.


Tapi tiba-tiba alarm dari ponselnya berdering. Dengan malas Alina mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya yang ada di dekat bantal tidurnya.


Matanya yang setengah mengantuk melirik layar ponsel, terus matanya terbuntang lebar dan kantuknya lenyap. Itu adalah pengingat jadwal nya untuk bersiap-siap ke kota Z.


Cuti nya sudah habis dan ia harus segera kembali. Tidak mungkin kan ia meminta tambahan hari lagi? Berapa banyak gajinya yang di potong nanti. Di samping itu ia sangat membutuhkan uang untuk membayar perawatan nenek nya di masa depan.


Bangkit dari baringan, Alina dengan tergesa- gesa turun dari tempat tidur hanya untuk merasakan nyeri di salah satu kakinya. Mengangkat kakinya yang terpijak kaca semalam, ia melihat lukanya masih basah.


"Ssh.." Alina meringis dan duduk kembali di tepi ranjang.


Tok..tok..tok...


Mendengar ketukan pintu kamarnya. Alina meraih kerudung nya yang ada di kasur dan memakainya. Ia pun dengan tertatih-tatih berjalan untuk membuka pintu.


"Halo! Dengan ibu Alina?"


Menautkan sepasang alisnya, Alina menatap pada seorang wanita berpakaian formal medis. Rambutnya tersanggul rapi dan mengenakan kacamata tebal. Di tangannya membawa tas hitam yang kelihatan nya sedikit berat.


"Iya, anda siapa?"


Wanita itu tersenyum rapi menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Saya Callie, dokter yang di datangkan oleh pak Zayyad untuk mengobati anda, ibu Alina"


Mengobati? Alina menatap beberapa detik pada dokter Callie dan melirik kebawah. Mungkin kah yang dimaksud dengan mengobati luka kakinya karena pecahan beling? Tapi dari mana Zayyad tau?


Merajut sepasang alisnya, Alina berpikir bahwa itu terlalu berlebihan. Luka ringan seperti ini tidak perlu memanggil dokter untuk mengobati. Ia dapat melakukannya sendiri.


"Bu Alina?"


"Ah, iya!"


Alina berhenti berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Dan mengundang dokter Callie masuk. Dalam hati ia merasa puas karena Zayyad tidak mengundang dokter pria untuk mengobati lukanya.


Duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar nya. Alina mengangkat kakinya yang terluka dengan ekspresi malu di wajahnya.


"Ini sebenarnya hanya luka kecil, ku pikir ia terlalu berlebihan!"


Alina cengar-cengir di tempat. Apa yang akan dokter Callie pikirkan tentang dirinya jika luka seperti ini saja memerlukan dokter yang harus merawat nya.


Dokter Callie yang melihat Alina yang tampak malu-malu tau apa yang dipikirkan nya hanya tersenyum sopan. Mengambil kakinya ia mulai mengeluarkan kapas dan antiseptik untuk membersihkan luka.


"Itu karena ia peduli pada anda. Ibu Alina sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat perhatian"


Alina tersenyum gugup. Beruntung? Sejauh ini ia menikah dengan Zayyad kehidupan nya banyak berubah. Tinggal di vila besar sebagai nyonya rumah, melangkah ke luar sebagai istri dari CEO yang terkenal publik dan sejauh ini ia tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk.


Justru ia dapat memanfaatkan gynophobic Zayyad sebagai balas dendam kebenciannya terhadap pria. Alina sadar semua nya tidak begitu buruk, justru ia lah yang banyak memperoleh keuntungan.

__ADS_1


"Sudah selesai!"


Alina melihat kakinya sudah terbalut rapi dalam kain kasa.


"Lain kali jika anda terluka, segera obati itu. Jika di biarkan terlalu lama bisa menyebabkan infeksi"


Alina mengangguk. Ia memang seharusnya mengobati luka itu lebih awal, hanya karena ia terlalu malas. Ia pergi tidur begitu saja dan membiarkan lukanya terbuka.


"Terimakasih dok Callie untuk perawatan mu"


Wanita itu membereskan barang nya sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Anda berterimakasih lah pada suami anda, jika ia tidak memanggil ku untuk datang, bagaimana mungkin aku di sini merawat luka anda"


Alina hanya tersenyum mengangguk untuk formalitas. Dalam hati mana mau ia melakukan hal itu.


                                      •••


Zayyad baru saja menyelesaikan rapatnya dan kembali ke ruangan nya untuk beristirahat. Sebentar lagi jadwal makan siang tapi ia terlalu malas makan.


Membawa kursi beroda nya ke tepi kaca besar. Zayyad duduk disana menyaksikan pemandangan di bawahnya. Bersamaan dengan itu ia mendengar ketukan di pintu.


Tok..tok..


"Masuk"


"Pak dan ini adalah data yang sudah saya rangkum tentang ibu Alina kecil sampai sekarang"


Dan Bakri menyerahkan berkas yang tersisa di tangannya kepada tuannya. Zayyad mengambil berkas dan melambaikan tangan menyuruh nya pergi.


"Pak sebentar lagi makan siang, jika anda tidak puas dengan kantin perusahaan apakah anda ingin memesan sesuatu?"


"Pergilah!"


Jika tuannya sudah mengatakan seperti itu, berarti ia di tolak dan tak ada ruang untuk bernegosiasi.


"Baik pak!"


Bakri baru saja berbalik untuk pergi hanya untuk dihentikan oleh tuannya.


"Sebentar!"


Apakah tuannya berubah pikiran?


"Saya ingin kamu mengirimkan sejumlah pakaian muslimah, tas serta sepatu keluaran terbaru ke vila saya"


Bakri yang mendengar pesanan tuannya, tentu saja tau akan di berikan kemana semua barang-barang itu. Sepertinya nyonya nya yang acuh tak acuh itu sungguh berhasil memperoleh kedudukan di hati tuannya.


Dan ia tidak akan pernah mengira, tuannya ini akan sangat memanjakan istrinya.

__ADS_1


"Pak anda sungguh sangat memanjakan istri anda"


Bakri tidak tahan untuk tidak mengatakan isi pikirannya. Zayyad yang mendengar nya hanya tersenyum halus dan mengangguk. Matanya yang coklat terlihat cerah dan bersemangat.


"Yah karena adanya dia di sisi saya, saya masih dapat berada di sini sebagai atasan kamu. Jika tidak, entahlah itu pada siapa kamu bekerja sekarang"


Bakri ikut senang dan mengangguk. Bekerja pada siapa? Mungkin ia juga sudah di tendang dari perusahaan. Tapi seandainya pun tidak, ia akan tetap memundurkan diri.


Bagaimana pun juga ia sudah sangat bahagia bekerja untuk atasan seperti Zayyad. Mungkin orang-orang mengenal nya dingin dan terasing. Angkuh dan tidak bersahabat.


Tapi untuk nya yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan nya, sangat tau bahwa dibalik semua itu tuannya adalah sosok yang hangat dan lembut dari dalam.


Setelah kepergian Bakri. Zayyad membolak-balik halaman, membaca keseluruhan rangkuman yang sudah di buat Bakri untuk nya. Dan hasilnya sangat membuat nya terkejut.


Di situ dikatakan bahwa Alina tumbuh bersama seorang ayah pecandu narkoba dan senang main judi. Ia sering bermain dengan wanita acak bahkan juga mencabuli gadis-gadis kecil tanpa sepengetahuan orang tua mereka.


Terakhir ibunya menuntut perceraian karena sudah tidak tahan lagi dengan segala perbuatan dan tindak kekerasan yang di lakukan suaminya terhadap nya dan Alina kecil.


Pada saat Alina remaja, ibunya yang masih terbilang muda dan cantik menikah lagi dengan seorang duda kaya. Tak lama setelahnya, duda tersebut menikah lagi. Awalnya ibu Alina mampu bertahan dengan poligami.


Sampai suatu hari ia di jebak oleh seseorang di kamar hotel dan diperkosa. Suaminya marah dan tidak terima langsung menggugat cerai.


Dan karena depresi berat, tepat pada saat Alina berumur tujuh belas tahun, ibunya di larikan kerumah sakit jiwa.


Semenjak itulah ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Hanya saja kedamaian hidup Alina tidak bertahan lama.


Kakek yang merupakan ayah tiri dari ibunya itu, ternyata pria yang sering bermain wanita di masa muda. Dan ternyata pria tua itu menaruh nafsu terhadap Alina.


Dengan keberanian dan ketegasan Alina, pria tua yang berusaha keras memperkosa nya sampai bertekad membunuh neneknya, berhasil di masukkan ke penjara.


Setelah semua kejadian buruk itu, Alina tidak memilih untuk menjadi gadis lemah yang memiliki traumatis terhadap pria.


Tapi ia memilih menjadi gadis berdarah dingin terhadap semua pria. Membenci segala jenis itu, tidak peduli itu anak kecil, dewasa atau bahkan orang tua.


Dia menjadi seorang misandris* yang hampir saja menjadi perawan tua seandainya ia menolak perjodohan yang neneknya atur untuknya.


Dan sekarang ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah asrama khusus putri di kota Z.


Zayyad merasa iri dengan Alina.


Kenapa ia tidak cukup kuat mengatasi semua traumatis nya terhadap wanita sampai tahap menjadi misoginis*?


____


                               


*Misoginis: adalah seseorang yang mengalami misogini yaitu sindrom yang menyebabkan seseorang itu membenci wanita. Penyebab umumnya dapat dilihat dari dua hal, yaitu kultural seperti budaya patriarki yang memandang derajat wanita lebih rendah dari pria di mana dalam kasus apapun pria lebih unggul daripada wanita dan juga dapat terjadi karena pengalaman masa lalu seseorang tersebut.


*Misandris: adalah misandri yaitu lawan dari misogini.

__ADS_1


__ADS_2