
Seorang pria berdiri dengan frustasi di ruang kerjanya. Tangannya dengan marah menyapu semua barang di atas meja kerjanya. Dan bahkan melempar vas bunga kecil ke lantai.
Prang!
Asisten pribadinya yang melihat itu terus melompat menjauh. Ia hampir saja terkena percikan api dari kemarahan tuannya.
"Pak Bara anda harus tenang!"
Dodi masih mencoba untuk membujuk tuannya lagi.
"Bagaimana aku bisa tenang? Kau lihat berita itu mengatakan apa? Zayyad kafa CEO PT Jaya mengangkat istrinya sendiri yang tak sadarkan diri menunjukkan bahwa ia sungguh tidak mengalami gynophobia seperti yang di kabarkan dan dia membuktikan bahwa tuduhan publik yang mengatakan ia gay jelas salah"
Prang!
Bara menendang meja kopi dan dua cangkir yang berisi teh tumpah dan pecah.
Dodi lagi-lagi harus berjuang menghindari nya. Terakhir ia menolak berbicara lagi. Sama sekali tidak berguna menenangkan tuannya di situasi seperti ini.
Bara sudah mengatur semuanya dengan sangat baik hari ini. Insiden terjebak nya CEO muda Zayyad dan istrinya itu adalah ia yang bermain di belakang layar.
Dia yang merancang kejadian tersebut dan mengundang banyak wartawan. Berharap dari insiden tersebut wartawan dapat meliput berita bahwa Zayyad sungguh takut pada wanita sampai tidak berkemampuan menenangkan istrinya sendiri di situasi seperti itu.
Dan pernikahan mereka hanya settingan untuk menepis rumor nya yang merupakan seorang CEO gay dan menderita gynophobia.
Tapi kenapa hasilnya justru tidak sesuai yang ia harapkan? Dan bahkan 5 orang bayaran nya yang sudah sudah susah payah ia tanam sebagai mata-mata perusahaan malah di ketahui oleh Zayyad dan mereka semua di pecat.
Zayyad saudara sepupunya itu, apakah sungguh ia sudah pulih dari ketakutan nya pada wanita?
"Tidak! Huh..itu tidak mungkin kan? Pasti ada yang di sembunyikan oleh sepupu bodoh ku itu"
Bara sama sekali tidak percaya kalau Zayyad sungguh sudah pulih dari ketidaknormalan nya itu.
Mereka tumbuh besar bersama dan jelas tau betapa Zayyad sangat susah bersikap pada pria pada umumnya.
Dulu pada masa mereka SMA, saat itu mereka dalam lingkaran sekolah yang sama. Tepat pada pesta malam perpisahan sekolah.
Semua pria pada umumnya memilih berdansa dengan para gadis. Tapi Zayyad memilih bersikap dingin dan menjauh. Bahkan ia pulang cepat malam itu.
Dulu ia beserta yang lainnya sama sekali tidak tau kenapa Zayyad bersikap seperti itu. Dan semua hanya mengira sepupu nya itu angkuh dan sombong dengan para gadis.
Sampai suatu hari ia tak sengaja mendengar percakapan antara kakek dan Zayyad. Kakeknya itu mengatakan bahwa ia harus berubah, ia tidak dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO jika terus takut pada lawan jenis.
Karena dunia pekerjaan itu pastinya memiliki lingkaran hubungan yang luas, baik itu pria atau wanita. Dan akan sangat sulit bekerja sama jika ia tidak dapat menghilangkan phobia nya terhadap wanita.
Detik itulah ia tau bahwa sepupu nya itu memiliki ketakutan khusus pada wanita. Dan itu sama sekali belum hilang sampai ia menjadi CEO pengganti ayahnya, phobia nya itu belum sembuh.
Bara yang haus akan posisi CEO mencoba banyak cara untuk merebut tempat itu dari saudara sepupunya.
Tapi sayangnya Zayyad bukan mudah untuk di jatuh kan.
__ADS_1
"Dodi"
"Iya pak!"
"Saya mau kamu selidiki latar belakang kehidupan istri Zayyad kafa"
Apapun itu, kunci kegagalan nya lagi hari ini adalah wanita itu. Seandainya ia tidak ada, mungkin perusahaan itu sudah jatuh di tangannya.
Dan ia juga sangat penasaran, seperti apa wanita yang berhasil menyembuhkan phobia seorang Zayyad terhadap wanita?
•••
Alina sangat terkejut ketika membaca berita yang menyatakan bahwa tepat pada saat ia kehilangan kesadarannya. Zayyad sungguh mengangkat nya dengan tangannya sendiri?
Awalnya ia tidak berminat membaca berita tentang itu. Hanya karena Maya mengatakan hal seperti itu, bagaimana ia tidak raisa?
Tapi rasanya itu sungguh tidak mungkin.
Bukannya Zayyad memiliki ketakutan khusus pada wanita? Tapi kenapa ia dapat menggendong nya detik itu?
Alina menarik separuh rambut kepalanya dengan ekspresi tak percaya. Meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia melirik ke arah jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul satu pagi. Alina menghela nafas berat. Karena insomnia yang dimilikinya, ia selalu kesulitan untuk tidur malam.
Alina merasakan tenggorokan nya kering. Ia pun memutuskan kedapur untuk minum.
Merajut sepasang alisnya, ia melihat lampu dapur hidup. Bukankah sebelumnya ia sudah mematikan nya?
Tepat beberapa langkah ia mendekat ke dapur. Telinganya langsung menangkap suara gelas di lemparkan ke lantai.
Prang!
Refleks Alina melangkah mundur. Mulutnya baru saja terbuka untuk mengatakan sesuatu hanya mampu menelan nya kembali setelah mendengar suara bariton pria yang berteriak marah.
"DIAM!"
"KAU WANITA IBLIS, BUKANNYA SUDAH KUKATAKAN UNTUK TIDAK MENGHUBUNGI KU LAGI HUH!"
"CUKUP!"
"BERANI KAU MELANGKAH KE DALAM KEHIDUPAN KU LAGI, AKAN KU PATAHKAN KAKI MU"
Pang!
Pada saat itu Alina diam-diam melangkah lebih dekat mencoba mengintip. Hanya untuk menemukan Zayyad yang sudah membanting ponselnya ke lantai.
Ponsel tergeletak sangat hancur di lantai. Layarnya pecah dan semua isinya keluar. Alina dapat membayangkan betapa besar kekuatan yang di kerahkan Zayyad ketika melakukan nya.
'Ada apa dengan pria itu?'
__ADS_1
'Kenapa ia bisa begitu marah?'
'Ia menyebut wanita, sebenarnya apa yang terjadi?'
Bersembunyi dibalik dinding, Alina diam-diam mengintip kearah Zayyad yang tampak sangat gelisah duduk di pojok dapur.
Tangannya memeluk kepalanya dengan resah, seperti melindungi dirinya dari sesuatu. Kedua bahunya bergetar, deru nafasnya terdengar tidak karuan dan wajahnya sudah basah. Pria itu sungguh menangis?
Itu tidak terlihat seperti pria yang tenang dan angkuh yang biasanya ia lihat. Dan tidak tampak seperti pria yang menyendiri dan menjauh, yang seakan sekitar pun tidak mampu mempengaruhi dirinya sama sekali.
Itu lebih tampak seperti bocah kecil yang menangis ketakutan. Bukan karena takut dimarahi ibunya atau takut di tinggalkan teman sebaya nya.
Tapi itu seperti...
"A-ayah..apa yang kau lakukan?"
Gadis kecil itu menangis ketakutan. Merasakan tangan kasar ayahnya sendiri yang terus meraba-raba tubuhnya.
"A-ayah Alin takut..."
Katanya dengan bibir bergetar. Ketika melihat Ayahnya mulai melepas pakaian nya satu persatu.
"Shh..Alin mau lihat ayah dan ibu berhenti bertengkar?"
Ketika di katakan seperti itu. Gadis kecil itu terbayang ayahnya yang selalu bertengkar sama ibunya sampai membuat wanita itu terluka.
Dengan tak berdaya ia menggeleng.
"Kalau begitu jadilah baik dan menurut saja ya.."
Dan seluruh pakaian gadis kecil itu sudah di lepas. Tak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuh kecilnya.
Tangan kasar itu kembali meraba-raba tubuhnya dan menatap tiap incinya dengan tatapan membakar yang sangat tidak pantas.
Gadis kecil itu yang masih berusia lima tahun, sama sekali tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya pada tubuh nya.
Tapi tubuhnya yang bergetar tidak mampu menutupi betapa takutnya ia. Apalagi ketika tangan kasar itu mulai menggerayangi tubuh nya dengan kasar.
Gadis kecil itu menangis.
Brak!
Pintu terbuka!
"Bajingan! Apa yang kau lakukan pada putrimu sendiri?"
Melihat ibunya datang. Gadis kecil itu melihat malaikat penolong nya tiba dan terus menjerit.
"IBU..."
__ADS_1
___