
Alina sudah berada di lantai bawah. Membuat keributan di depan meja resepsionis, seketika ia menjadi pusat perhatian para karyawan.
Melepaskan kacamata hitamnya, ia berjalan dengan angkuh dan memukul meja resepsionis dengan keras. Matanya membulat lebar seperti ingin menelan seseorang. Aura di sekitarnya dingin dan ganas.
Membuat semua orang yang melihat, tak sanggup untuk tidak bergetar. Mereka berpikir, bahkan Zayyad yang merupakan CEO perusahaan. Tidak pernah begitu marahnya kecuali pada hari insiden lift waktu tu, yang merupakan pertama kalinya untuk mereka.
Tapi ternyata istri CEO mereka bahkan jauh lebih menakutkan. Wajahnya yang sombong cukup mampu menekan orang-orang dan tatapan nya itu bengis. Karakter yang tanpa ampun dan keras.
"Kenapa kau tidak melapor terlebih dulu untuk bertanya?"
Pria itu yang mengenakan badge nama tertulis di sana 'Rangga' adalah resepsionis. Tubuhnya sudah lama bergetar dengan aura menakutkan istri bosnya. Kepalanya terus tertunduk kebawah terlalu takut untuk melihat wanita di hadapannya.
"Maaf nyonya saya di ancam seperti yang anda lakukan hari itu. Bagaimana jika itu adalah sungguh bibinya pak Zayyad? Saya sungguh takut di pecat"
Alina yang mendengar alasan itu merasa konyol. Apakah pria ini menyalahkan nya karena dulu pernah mengancamnya? Dan menjadikan hal itu sebagai kelalaiannya hari ini. Menaikkan sudut bibirnya ia berkata.
"Aku mengancam mu hari itu adalah karena kesalahan kamu yang tidak mengenali saya sebagai istri CEO kalian, lalu yang kejadian ini juga salah mu yang tidak mengenali bibinya CEO kalian. Sehingga membuat wanita tua yang tak tau dari mana asal usulnya itu lolos hari ini dan menggoda suami ku. Sudah seperti ini masih menggunakan alasan karena kau di ancam?"
Alina melipat kedua tangannya di depan dada. Mata hitamnya itu menatap nanar. "Itu adalah salah mu yang tidak mengenal keluarga CEO kamu sendiri, jika kau mengenal apa kejadian konyol seperti ini akan terjadi, huh?"
Rangga mendengar itu tak sanggup untuk tidak membiarkan sepasang bahunya terguncang. "M-maaf bu saya menyesal"
Alina yang melihat itu terus mencibir. Baru akhirnya pria ini mengakui kesalahannya. Sebenarnya seperti apa Zayyad mendisiplinkan para karyawannya? Menilai dari sikapnya yang tenang dan pendiam.
Jelas Zayyad bukan seorang bos sombong yang pemarah. Ia berkepala dingin dan tidak banyak bicara. Tipe penguasa yang pemikir dalam dan sulit di tebak.
Alina bertanya-tanya, jika untuk insiden hari ini apakah mungkin Zayyad akan memecat resepsionis yang ada di hadapannya itu?
Zayyad tampak dingin dan tidak bersahabat di permukaan. Tapi hatinya itu hangat dan lembut. Karenanya Alina menebak, Zayyad pasti akan memaafkan resepsionis itu atas insiden hari ini.
"Kamu di pecat!"
Bruk!
Rangga kehilangan pijakan nya dan tersungkur di lantai. Ia tidak akan pernah mengira bahwa ia dipecat hanya karena kesalahannya yang salah menerima orang untuk bertemu bosnya.
Tapi itu adalah Alina yang mengatakan nya yang merupakan istri bos nya. Berpikir sampai di situ, Rangga merasa seperti ia masih punya harapan.
__ADS_1
Mengangkat kepalanya ia menatap Alina dengan mata secercah harapan. "Nyonya tidakkah keputusan pemecatan ini terlalu cepat? Tunggu sampai pak Zayyad bangun dan biarkan beliau yang membuat keputusan"
Alina menurunkan pandangannya kebawah. Menatap pria itu dengan mencemooh. "Saya mungkin tidak memiliki kuasa untuk memecat mu, tapi jangan lupa saya adalah istri CEO perusahaan ini" Menyunggingkan sudut bibirnya, ia tersenyum seperti iblis. "Kata-kata saya adalah pertimbangan untuk suami saya"
Mengangkat wajahnya, Alina menyapu sekitar dengan tatapan dinginnya. "Saya hanya perlu mencerahkan nya lebih jauh dan ia tidak akan ragu untuk menyetujui keputusan saya" Menurunkan tatapannya kebawah, ia menyeringai tajam dan meneruskan. "Jadi apa kau masih berpikir untuk menunggu keputusan suamiku?"
Rangga kehilangan kata-kata nya. Apa yang di katakan Alina benar adanya. Istri sebagai penyokong suami sudah tentu setiap keputusan yang diambil berkaitan erat dengan istrinya. Ia akhirnya menundukkan kepalanya dengan pasrah.
Bakri baru saja kembali dari urusan nya. Melangkah kedalam ia terkejut dengan kerumunan orang-orang yang tampak bergeming dengan tatapan kasihan. Mereka terlihat seperti mengerumuni seseorang.
Melihat lebih jauh itu adalah seorang wanita dengan balutan pasmina di kepalanya. Meski mengenakan kacamata hitam, tapi Bakri masih mengenalnya. Itu tak lain adalah istri dari bosnya. Dibawahnya ada seorang pria yang bersimpuh di lantai dengan tampang wajah murung seperti baru saja kehilangan semangat hidup.
Menaikkan salah satu alisnya, ia bertanya dalam hati. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?
Alina yang melihat orang-orang mengerumuni nya. Memberi mereka tatapan tajam dan menekan. Segera orang-orang itu pergi, terlalu takut membuat istri CEO mereka semakin marah. Mereka pun melanjutkan pekerjaan yang tadinya sempat tertunda.
"Bu Alina" Sapa Bakri setelah orang-orang itu bubar. Alina menoleh kearah Bakri yang baru saja datang. Menurunkan kacamata keatas tulang hidungnya yang mancung. Alina mengangkat tatapan nya dengan jelas kearah Bakri.
"Aku baru saja memecat orang ini, kau urus selebihnya" Alina memposisikan kacamata nya kembali di matanya.
Bakri seketika terperanjat mendengar penuturan Alina. "Ap- apa anda me-"
Ia tau Alina adalah istri bosnya. Tapi bukan berarti wanita itu sembarang saja memecat orang. Bagaimana pun juga perusahaan ini berada di bawah kekuasaan Zayyad.
Rangga akhirnya bangkit. Ia hendak membereskan barang-barangnya untuk segera pergi meninggalkan perusahaan.
Bakri melihat pria itu, segera memanggil nya.
"Kamu berhenti!"
Rangga dengan tak bersemangat menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Bakri yang sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi akhirnya memutuskan untuk bertanya.
___
__ADS_1
Alina kembali ruangan Zayyad menemukan pria itu sudah sadar. Ia duduk lemas di sofa dengan sorot mata jauh dan terasa kosong.
Jas nya jatuh di pangkuannya, bajunya yang masih belum terkancing menampakkan separuh dada bidangnya dengan jelas. Ternyata itu penuh cap bibir merah wanita.
Tulang selangka nya yang putih halus seperti porselen, itu penuh memar merah keunguan. Dan leher nya juga bernasib sama.
Wajahnya yang datar tanpa ekspresi itu tampak seperti baru saja kehilangan jiwa. Bibirnya masih sedikit pucat tak bewarna.
Alina yang selalu membenci pria. Tidak tau kenapa pada akhirnya ia merasa kasihan pada Zayyad.
Rasa sakit dilecehkan seperti itu, ia juga pernah mengalami nya. Tapi untuk seorang pria dewasa seperti Zayyad, jelas itu seribu kali lipat lebih menyakitkan.
Zayyad tau kehadiran Alina. Tapi ia enggan menoleh ke arah wanita itu. Ia terlalu takut melihat mata yang selalu menatap benci dan tak suka kearah nya, berubah menjadi mengasihaninya.
Meskipun itu tidak mungkin Alina melakukannya.
Wanita itu membenci pria sampai keubun-ubunnya. Bukankah seharusnya ia senang melihat pria yang terluka seperti dirinya saat ini?
Zayyad bangun dari duduknya dan melepas pakaian nya begitu saja. Tanpa menoleh pada Alina ia berkata. "Jika ada siapapun yang datang, tolong suruh mereka untuk kembali dulu"
"Em" Alina mengangguk kan kepalanya.
Melihat pria itu yang bertelanjang dada, Alina sama sekali tidak terkejut. Tapi ketika ia mengingat tangannya pernah meraba itu dengan nakalnya. Mendadak rasa panas membanjiri pipinya yang memerah.
Zayyad yang sama sekali tidak memperhatikan Alina terus pergi ke bilik yang ada di ruangan nya. Di sana ada kamar mandi yang biasa ia gunakan jika menginap di perusahaan.
Mengisi air di bathtub, ia lalu berendam didalamnya yang sudah penuh oleh busa sabun mandi. Menggosok badannya entah berapa kali, sampai membuat kulit putih itu memerah.
Zayyad jika bisa, ingin sekali merobek kulit nya yang sudah kotor karena wanita tua liar tadi. Memejamkan mata nya, kepalanya terkulai bersandar di tepi bathtub.
Aroma sabun yang menusuk hidung nya, itu adalah aromaterapi lavender yang menenangkan. Perlahan pikirannya yang kacau menjadi rileks.
Ia berusaha keras untuk tidak mengingat apa yang baru saja terjadi.
Tak berapa lama pun ia jatuh tertidur bersama beberapa air mata yang jatuh begitu saja. Jiwanya yang begitu terpukul tak mampu menyembunyikan betapa hancurnya ia sampai ingin berteriak dan menangis.
__ADS_1
Tapi pada akhirnya ia mampu mengendalikan itu dengan hanya menangis dalam tidurnya.
___