
"Kenapa tidak berani?"
Jawab Alina acuh tak acuh. Ia terus mengambil langkah kedepan dan Zayyad melangkah mundur kebelakang.
Zayyad melirik kebelakang, melihat itu adalah dinding. Jika terus mundur maka ia hanya akan menabrak dinding. Untuk meloloskan diri nya, ia bergerak cepat kesamping untuk melarikan diri dari jangkauan tangan nakal Alina.
Tapi Alina bergerak lebih cepat darinya.
Wanita itu dengan sigap mendorong tubuhnya ke dinding dan menguncinya disana. Zayyad sungguh tidak mengerti wanita jenis apa di hadapannya ini.
"Alina minggir!" Zayyad merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Wajah gadis itu sangat dekat dengan nya. Melirik kebawah, ia melihat jari-jemarinya yang lentik itu perlahan meraba permukaan dadanya yang telanjang.
Zayyad menggigil di tempat dengan titik-titik keringat dingin di pelipisnya.
"Tidak mau!" Kata Alina menggeleng dan tersenyum nakal.
Ini adalah Zayyad yang memulai perkara dengan nya. Jika saja pria ini sedikit membantu nya dalam berargumen di depan pria tua itu. Mungkin ia tidak perlu sekamar dengan nya.
"Ugh!" Zayyad menutup mulutnya menahan mual.
"Tidak hanya pipimu yang lembut seperti bayi, tapi permukaan dada mu-" Alina memainkan jemarinya di atas dada bidang itu. Bergerak naik turun, memutar dan mengelus nya. Alina tidak pernah membayangkan ternyata ini rasanya sangat menyenangkan. "Bahkan lebih halus dari kulit seorang gadis"
Mendengar nya wajahnya Zayyad memerah karena malu dan darahnya mendidih karena marah. Harga dirinya sebagai pria seperti di jatuh kan. Lebih halus dari kulit seorang gadis, pujian macam apa itu?
"Alina.. jangan menantang batas kesabaran ku" Zayyad mengatakan nya dengan suara teredam menahan emosi. Di samping itu ia menahan gejolak asam yang kuat di perutnya. Wanita dihadapannya ini bahkan lebih menyeramkan daripada hantu.
Kenapa kakek harus memilih jenis aneh seperti ini untuk dijodohkan kepadanya?
"Pfft..." Alina tak sanggup menahan tawanya. "Memangnya pria lemah seperti mu bisa menang melawan ku, huh?"
Zayyad kehilangan kesabarannya langsung mendorong tubuh gadis itu menjauh. Sambil menahan rasa mual dan gugupnya. Ia mendorong Alina dengan keras hingga terbanting di atas ranjang.
Alina tidak pernah menduga Zayyad akan melakukan ini. Ia kehilangan pertahanannya dan jatuh terbaring di atas ranjang. Pupil matanya membesar ketika melihat Zayyad yang sudah menindih nya dengan tubuh setengah telanjang seperti itu.
"Pria lemah katamu? Kau sudah mengatakan itu dua kali pada ku hari ini" Katanya sambil menekan tubuh wanita dibawahnya.
Alina menjadi gugup. Bulu mata lurusnya bergetar. "Kau bukannya gynophobic, kenapa berani seperti ini pada wanita?"
"Kenapa tidak berani?" Zayyad mengulangi kata-kata yang baru saja Alina ucapkan kepada nya. Melihat wanita itu yang gugup dan sedikit takut. Ia merasa puas.
Sepertinya wanita ini harus di beri pelajaran karena sudah membangun kan sisi binatang buas dalam dirinya. Biarpun ia gynophobia bukan berarti ia tidak tertarik pada wanita.
__ADS_1
Ia hanya takut bukan tidak suka.
Alina tidak akan pernah menduga situasi nya berbalik. Tapi ia menolak untuk menyerah. Hanya lebih jauh menggoda dan menyentuh. Pria ini akan kalah di tangannya.
"Sayang.." Tutur Alina sangat halus. Itu menggoda seperti desiran angin musim semi yang menyihir. Mengangkat tangannya, Alina membelai wajah tampan Zayyad sambil memainkan ekspresi seorang gadis yang penuh kasih. "Apakah gynophobia mu sudah pulih?"
"Ugh!" Zayyad tidak mampu menahannya lagi. Tiap sentuhan dan kata-kata Alina membuat nya mual sampai ingin muntah.
Ia bangkit dan terus berlari ke kamar mandi.
"Pftt.." Alina tertawa keras sampai perut nya sakit. Dalam hati ia mencemooh, 'Pria itu tidak akan pernah menang melawan nya'.
Di kamar mandi, Zayyad terus muntah- muntah di wastafel. Membuka keran, ia membilas mulutnya tapi membayangkan apa yang baru saja terjadi, gejolak asam perut nya naik kembali dan ia muntah lagi.
Entah berapa kali ia muntah dan membilas. Pada akhirnya ia menutup keran air dan dirinya sudah jauh lebih baik. Mengangkat wajah ke cermin, ia melihat wajahnya yang sudah pucat.
Tangannya terkepal dan dengan geram memukul dinding kamar mandi.
"Wanita jenis apa yang aku nikahi!" Keluhnya frustasi. Tangannya mengacak-acak rambut nya hingga berantakan.
Menatap ke cermin, mata coklatnya bersinar kejam. 'Alina..lihat saja jika phobia ku ini sudah sembuh! Aku sungguh akan melayani mu dengan baik'. Zayyad merutuki Alina diam-diam.
Ia sangat kesal dengan Alina. Wanita itu sungguh berani melukai harga dirinya sebagai seorang pria.
Sampai ketika ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ia merapatkan bibirnya berusaha keras untuk tidak tertawa. Meletakkan sisir di atas meja, Alina berbalik.
"Sayang apa kau baik-baik saja?" Tanya Alina tersenyum sumringah.
"Menurut mu?" Jawab Zayyad terdengar ketus. Sudut matanya terlihat dingin.
Ia pun mengambil piyama nya yang sudah ia letak di atas ranjang. Dan mengenakan nya secara langsung di depan Alina.
Alina terus memalingkan muka. Kedua belah pipinya sudah memerah.
"Kenapa harus berpaling, tidak ingin melihat semuanya?"
"Ha..ha...aku tidak mau membuat kau tidak nyaman seperti tadi"
"Benarkah?" Tiba-tiba Zayyad sudah berada tepat di depan nya.
Alina yang mengira pria itu belum siap berpakaian, refleks menjerit. "Aaa...."
__ADS_1
Bruk!
Alina tanpa sengaja terjatuh dari kursi ke lantai. "Aduh!" Dan ia merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit.
"Pftt.." Zayyad tertawa keras. "Ternyata kau masih memiliki jiwa gadis yang pemalu"
Melangkah ke ranjang, Zayyad dengan santai merebahkan dirinya. Alina yang melihat itu cemberut dan kesal. Ia pun perlahan bangkit sambil menekan merajut alisnya menahan nyeri.
"Kau pergi tidur di sofa!" Titah Zayyad sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tidak mau!"
Alina berjalan ke sisi ranjang dan naik untuk tidur. "Tidur ku sangat kacau, jika aku tidur di sofa aku hanya menemukan diriku jatuh kelantai besok paginya" Kata Alina sambil memeluk guling.
"Lagipula ini salah mu tadi tidak membantu ku ketika berdebat dengan kakek"
"Kamu pikir jika aku membantu mu, kakek akan mengubah keputusan nya?"
"Bisa saja!"
"Aku akan tidur di sofa"
Zayyad sudah malas berdebat dengan Alina memilih untuk mengalah. Mengambil bantal dan guling ia siap tidur diatas sofa.
"Kau serius ingin tidur disana?" Goda Alina.
"Tidak ingin tidur di sini?" Kata Alina sambil menepuk sisi sampingnya yang kosong.
"Alina ini sudah malam, tidur!"
Zayyad membaringkan dirinya senyaman mungkin di atas sofa. Syukurlah itu besar dan sedikit lebar.
"Aku tidak mengantuk"
Kata Alina yang sudah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Penderita insomnia seperti nya sangat susah untuk tidur awal.
Ia dengan bosan melirik kearah Zayyad yang sudah menutup mata nya. Entah bagaimana pandangan nya jatuh ke bibirnya yang ungu kemerahan.
Dan Alina kembali teringat kejadian di rumah sakit. Ketika ia menggoda Zayyad dan pria itu berusaha keras membalas nya sampai mencium bibirnya.
Mengangkat tangannya ia meraba bibir tipisnya. Rasanya sentuhan kenyal dan lembut itu masih tertinggal.
__ADS_1
'Aku tidak akan pernah mengira akan memiliki ciuman pertama ku'
___