Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
40. Pulanglah Dan Istirahat!


__ADS_3

Setelah Alina pergi, Zayyad beranjak dari meja kerjanya.


Memungut kepingan kamera yang sudah hancur di lantai. Bibirnya berkedut, ada senyum pahit Dimata coklatnya yang tampak melankolis.


Tok..tok..


"Pak, ini saya Bakri "


"Masuk!"


Zayyad mengambil kartu memori kamera itu dan berdiri. Terlihat Bakri yang sudah melangkah ke ruangan.


Melihat benda yang di tangan Zayyad, menjepit alisnya. Ia langsung mengerti apa itu. Bakri menghela nafas berat, merasa bersalah karena ia gagal menjadi asisten yang baik untuk tuannya. Karena penjagaan nya yang terlalu longgar, semua ini terjadi.


"Maafkan saya pak" Bakri tertunduk menyesal.


Zayyad berjalan ke sofa dan duduk. "Ini bukan salah mu" Katanya tersenyum lembut sedang tangan nya mematahkan kartu memori kecil di tangannya. Lalu ia memindahkan semua kepingan kamera yang hancur di atas meja.


"Bakar benda kotor itu!" Matanya coklat nya menggelap bagai tanah liat yang basah, menatap nanar pada kepingan-kepingan itu.


"Baik pak!"


Bakri memungut kepingan-kepingan itu. Ia tidak akan pernah mengira akan datang suatu hari di mana tuannya akan terjebak dengan cara kotor seperti ini. Tentunya ini membuat luka lama tuannya terbuka kembali.


Meskipun tak berdarah, tapi itu seperti bilah pisau yang tajam. Menyayat perlahan hingga merajam ke tulang belulang. Butuh waktu lama untuk menghilangkan nyeri nya.


Dan untuk lukanya yang terbuka lagi, mungkin akan terus menganga lebih lama.


Bakri tanpa sadar mengepalkan tangannya. Bekerja begitu lama pada Zayyad, membuat nya memiliki rasa empati besar terhadap tuannya.


Zayyad yang begitu tenang, itu seperti angin di pagi buta yang menyejukkan. Sosok tuan yang pendiam dan jarang marah. Bersahabat dengan caranya sendiri, sopan dan tidak angkuh.


Dalam hidup ini ia beruntung bekerja dengan bos besar seperti Zayyad. Meskipun ia merasa kasihan terhadap tuannya itu. Karena ketidaknormalan tuannya yang takut pada wanita. Membuat nya sulit untuk menjadi pria sewajarnya.

__ADS_1


Padahal untuk seorang pria, Zayyad seperti kesatria malam yang jatuh dari bulan. Begitu menyihir dengan pesona tampannya yang terasing dan sikapnya yang sejuk seperti embun yang memikat.


Dia tidak dingin seperti es dan juga tidak sehangat matahari pagi. Tapi pesona embun pagi buta nya, perempuan mana yang tidak jatuh hati dan tergoda?


Bakri merenung dalam diam, mungkin jika seandainya ia terlahir sebagai seorang wanita. Mungkin saat ini ia akan jatuh dalam pesona Zayyad.


"Apa yang kau pikirkan?"


Zayyad melihat ekspresi Bakri yang sedikit berfluktuasi. Sesekali sepasang alisnya terjepit dengan tatapan yang begitu pahit. Kemudian entah bagaimana lurus begitu saja dengan sinar lembut di matanya.


Bakri sedikit terkejut dengan pertanyaan tuannya. Tidak sadar bahwa begitu kalutnya ia mengkhawatirkan tuannya, nyaris menenggelamkan nya dalam lautan pikiran. Di permukaan, jelas ia terlihat seperti seseorang yang sedang melamun.


"Ah, bukan apa-apa pak!"


Zayyad menekan sudut pandangnya kearah Bakri, menjepit sepasang alisnya. Ia tampak seperti membaca apa yang baru saja dipikirkan bawahan nya itu. Tapi ia menolak menanggapi apapun. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu senang seseorang mengasihani nya.


Tapi anggaplah itu bentuk kekhawatiran sesama rekan kerja. Mereka sudah terjalin dalam ikatan profesional yang begitu lama, jika sudah melibatkan empati dan perasaan itu adalah wajar.


"Pak hari ini Bu Alina sudah memecat salah seorang karyawan"


Wanita itu mengakui dirinya sebagai bibinya Zayyad. Ia mengancam resepsionis itu jika tidak membawanya segera bertemu dengan Zayyad, maka ia akan mengatakan pada keponakannya itu untuk memecatnya.


Tapi Alina menolak menerima alasan tersebut. Malah mengatakan itu adalah salah nya sendiri yang tidak mengenal keluarga Zayyad dan memilih bersikap ceroboh dengan menerimanya begitu saja tanpa mengkonfirmasi terlebih dulu pada Zayyad.


Zayyad yang mendengar hal itu sedikit terkejut. Tidak akan pernah mengira kalau Alina akan bergerak sampai sejauh itu.


Apa itu dia lakukan sungguh untuknya atau karena niatnya saja yang mencari kesempatan untuk melampiaskan dendam nya pada pria?


Zayyad tenggelam beberapa saat dalam pikirannya. Itu sama sekali tidak mempengaruhi wajahnya yang masih datar seperti biasa.


Dahi yang tak berkerut, alisnya yang masih melengkung seperti biasa dan wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan emosi apapun. Membuat nya tampak seperti permukaan danau yang tenang.


Sulit di tebak dan sukar di baca.

__ADS_1


Bakri sudah terbiasa dengan tuannya yang seperti itu. Ketika berpikir keras tentang pekerjaan, ekspresi serius nya tergambar sangat jelas di wajahnya yang tampan. Tapi jika memikirkan sesuatu yang lebih dari pada pekerjaan, ekspresi nya jarang terungkap.


"Sebenarnya wanita itu adalah bi—" Zayyad terlihat sulit menggerakkan bibirnya untuk mengatakan 'bibi'. Mengingat sebutan itu hanya semakin memperdalam penderitaan nya hari ini.


"Ya resepsionis itu tidak sepenuhnya salah, meskipun sama sekali aku tidak berpikir untuk memecatnya tapi karena Alina sudah memecatnya... Maka biarlah seperti itu"


Meskipun terpotong, tapi ia tau kalau tuannya baru saja mengakui bahwa wanita yang menyebabkan masalah itu adalah bibinya. Bakri sama sekali tidak menyangka hal itu.


Menjepit sepasang alisnya, ia dapat merasakan betapa sulitnya hubungan kekeluargaan yang dialami tuannya.


Tapi ia tidak akan pernah mengira kalau tuannya melepaskan begitu saja keputusan istrinya yang memecat bawahan nya.


Selama ini Zayyad hanya memecat karyawan jika ia sudah tidak mampu menoleransi kesalahan karyawan tersebut. Tapi dari pernyataan tadi jelas ia masih menoleransi kesalahan resepsionis tersebut. Hanya untuk tidak menolak keputusan Alina, ia memilih untuk membiarkan nya begitu saja.


"Pak tapi bagaimana pun juga Bu Alina tidak memiliki wewenang apapun untuk memecat karyawan perusahaan ini"


Zayyad mengangkat wajahnya kearah Bakri. Menemukan wajahnya yang halus tampak kelelahan. Garis gelap di bawah matanya jelas menunjukkan bahwa ia kurang tidur. Karena kejadian di vila, ia sudah mengganggu waktu istirahat nya.


"Pulanglah dan istirahat!"


Bakri tersentak kaget dengan pernyataan tuannya. Bukannya menanggapi pernyataan nya sebelumnya tapi malah menyuruhnya beristirahat?


"Kau sudah bekerja begitu awal hari ini, jadi pulanglah lebih awal"


Karena tuannya sama sekali tidak menanggapi pernyataan nya sebelumnya. Ia langsung mengerti bahwa tuannya menolak membicarakan nya lagi.


"Terimakasih pak untuk pengertiannya, kalau begitu saya permisi"


Bakri merasa sangat lelah dan mengantuk. Karena kurangnya tidur dan bergegas ke vila tuannya di pagi buta untuk mengurus beberapa masalah. Tapi ia sudah terbiasa dengan sifat tuannya yang pengertian.


"Em!" Zayyad mengangguk mempersilahkan nya pergi.


Bakri pun bergegas meninggalkan ruangan dengan tidak lupa membawa kepingan kamera yang hancur itu untuk di bakar.

__ADS_1


___


__ADS_2