Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
35. Jaga Tatapan Mu


__ADS_3

Alina mematung di tempat.


Zayyad yang beberapa langkah di depan menegang. Menyalami tangannya? Mendengar hal itu tanpa sadar tangan kanannya bergetar.


"Nek, ku pikir ini tidak perlu" Alina mengatakan nya sambil menggigit bibir. Sudah tidak tau harus menentang seperti apa.


"Alin apanya yang tidak perlu? Ini adalah keseharian yang wajar di lakukan oleh sepasang suami istri"


Alina tentunya tau itu. Ia pernah lihat ibunya melakukan hal itu pada ayah nya. Dulu pada saat hubungan mereka masih harmonis.


Tapi mendadak ia ingat ketika ibunya mencium tangan ayah tirinya.


Pada saat itu sudah ada istri muda dalam kehidupan mereka. Ia dapat melihat tatapan tidak senang ayah tirinya pada ibunya ketika melakukan itu. Tatapan itu seperti merendahkan.


Dimana ketika ibunya mencium tangannya, pria itu segera menariknya seperti menghindar. Dan Alina ingat tatapan merendahkan itu jelas juga ada rasa jijik.


Tanpa sadar tangan Alina terkepal. Rahang nya mengencang.


Erina yang melihat Alina terdiam seperti memikirkan suatu, melambai kan tangan nya di depan wajah Alina yang terlihat sedikit berfluktuasi oleh emosi yang bersembunyi.


"Alina" Panggil nya.


Tapi Alina masih saja diam. Tatapannya yang jauh kedepan seperti tak menghiraukan keberadaan lambaian tangannya. Melihat sepasang alisnya yang terjalin erat, ia semakin yakin cucunya sedang memikirkan sesuatu.


"Alina" Erina memanggilnya lebih keras.


Alina tersentak. Baru akhirnya ia sadar bahwa ia sudah terlalu jauh dalam lamunannya. Meluruskan sepasang alisnya, Alina memperbaiki ekspresi wajah nya. Dengan tenang ia berkata. "Ah, maaf nek! Sepertinya aku melupakan sesuatu"


Setelah mengatakan itu Alina tanpa menunggu balasan neneknya. Berlari ke anak tangga menuju lantai dua.


Erina bergeming di tempat beberapa saat. Sebenarnya apa yang baru saja di pikirkan cucunya? Ia seperti baru saja menangkap emosi negatif dari cucunya tadi.

__ADS_1


Zayyad yang melihat Alina sudah pergi. Menghela nafas lega. Tapi merasakan hatinya seperti tidak senang. Ada sesuatu yang seperti tidak terpuaskan, hanya saja ia tidak tau apa itu.


Mungkinkah ia kecewa karena Alina enggan menyalami tangannya?


"Zayyad"


Mendengar seseorang memanggil nya. Zayyad mengangkat pandangan nya. Tatapan nya jatuh pada wanita tua yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Tampak sedikit gugup dan merasa bersalah.


"Jika Alina melakukan beberapa hal yang tidak menyenangkan pada mu, ku harap kamu dapat memaklumi nya"


Zayyad yang mendengar hal itu, hanya diam. Tapi ekspresi nya menjelaskan bahwa ia mendengar kan. Karenanya Erina tidak ragu untuk melanjutkan.


"Ia memang sedikit kurang bersahabat dengan lawan jenis. Tapi sebenarnya ia anak yang baik dan perhatian" Mengatakan itu tanpa sadar Erina tersenyum lembut. Ia akhirnya menyadari bahwa Alina yang sudah mengetahui kebenaran penyakit nya. Entah bagaimana pernikahan ini terjadi untuk menyenangkan hatinya.


"Tapi sayang masa lalunya yang tidak seberuntung anak-anak pada umumnya, membuat nya berubah seperti itu"


Dan Erina yang menemukan Zayyad masih berdiri mendengar kan kata-katanya. Akhirnya tidak ragu untuk menceritakan sedikit kebenaran tentang Alina padanya.


"Pada waktu itu kami datang untuk menjenguk ibunya Alina yang sudah di rawat di rumah sakit jiwa. Ini sebenarnya cerita yang panjang untuk dikatakan, tapi yang pasti saat itu lah aku mengetahui kebenaran yang menyedihkan tentang cucuku" Mengatakan itu Erina tak sanggup membendung air matanya.


Zayyad dapat melihat wanita tua itu sungguh sedih dan terluka untuk cucunya.


"Alina yang melihat dokter yang merawat ibunya adalah seorang pria, segera meminta pihak rumah sakit untuk menggantinya menjadi dokter wanita. Pihak rumah sakit tidak dapat menyanggupi permintaan nya karena beberapa dokter sudah memiliki pasien yang harus mereka tangani. Alina dengan marah-marah mendesak mereka untuk mengganti bahkan sampai menggertak dan merendahkan dokter pria yang merawat ibunya itu tidak berkemampuan"


Erina menghela nafas berat seakan tindakan cucunya pada hari itu, masih sangat sulit untuk di terima nya sampai saat ini.


"Ketika Alina pergi, dokter itu mendatangi ku dan berkata bahwa ia melihat kebencian dan merendahkan dari mata Alina itu seperti tatapan dari seorang misandris. Awalnya aku tidak menanggapi itu dengan serius"


Erina memilin lengan bajunya yang kepanjangan. Bulu matanya bergetar dan setitik air mata jatuh. "Sampai ketika aku melihat kenyataan itu dengan mata ku sendiri, Alina yang membenci anak-anak lelaki kecil tetangga tapi tidak begitu dengan yang perempuan, tidak ramah dengan pria tua penjual sayur, menolak semua lamaran pria yang datang ke rumah bahkan berkerja jauh di kota Z di sekolah khusus perempuan" Erina menghela nafas berat mengakhiri ceritanya.


Melihat Zayyad yang masih memperhatikan nya dan bersedia mendengar cerita nya. Ia tersenyum tipis dengan tatapan sedikit buram karena air mata. "Akhirnya aku merasa Alina sungguh menjadi seorang misandris" Tangan tuanya menghapus jejak air mata yang tersisa di kedua belah pipinya.

__ADS_1


"Aku tidak tau apa yang di lakukan Alina pada mu selama ini di hadapan ku itu tulus atau tidak. Tapi aku sungguh berharap, Alina dapat melupakan semua dendam nya pada pria setelah pernikahan ini" Erina tersenyum masam. "Maaf sudah menunda waktu mu untuk bekerja"


"Em!" Zayyad mengangguk dengan sedikit senyum di wajahnya. "Kalau begitu aku pergi"


Erina yang mendengar itu tak sanggup menutupi senyum kegembiraan di matanya. Pada akhirnya Zayyad mau menerimanya.


Sebenarnya ia sudah tau dari Irsyad. Tentang kenapa Zayyad menjadi gynophobic itu berkaitan erat dengan kisah masa lalu nya yang suram.


Itulah kenapa Erina tak ragu untuk menjodohkan Alina dengan Zayyad. Ia berharap dengan dua orang yang sama-sama memiliki masa lalu yang menyedihkan. Dapat bersama dengan saling memahami dan mengerti satu yang lainnya.


Dapat menjadi obat dan penguat satu sama lain dalam menghadapi kenyataan hidup dan kebenaran. Serta dapat saling bekerjasama untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik dan melupakan masa-masa suram mereka di belakang.


____                             


Siangnya seperti biasa, atas permintaan neneknya. Alina harus menyiapkan makan siang lagi untuk Zayyad.


Ia dengan asal-asalan memotong sayuran. Membuat penampilan mereka sama sekali tidak indah di pandang. Menggoreng ikan sampai hangus. Dan bahkan sengaja menumis dengan taburan garam yang sangat banyak.


Setelahnya ia menata semua itu di dalam kotak makan. Mengingat terakhir kali ekspresi tertekan Zayyad yang memakan masakan nya. Ia tertawa puas dalam hati.


Setidaknya walaupun ia sama sekali tidak bahagia memenuhi permintaan neneknya. Tapi ia harus puas karena dapat mengerjai pria itu.


Melepaskan celemek, Alina bergegas meninggalkan dapur untuk berganti pakaian.


Mengenakan blus biru panjang selutut dengan celana longgar putih. Ia membalut kepalanya dengan pashmina putih polos. Tak sampai di situ, ia melengkapi wajahnya dengan kaca mata hitam besar.


Mengambil tas tangan bewarna biru, ia melangkah keluar. Menuruni anak tangga, Nasir yang melihat pemandangan itu dari bawah.


Sangat mengagumi nyonya nya.


"Pria tua, tolong jaga tatapan mu!"

__ADS_1


Mendengar teguran itu Ferdi menegang dan menjatuhkan pandangannya segera.


__ADS_2