Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
47. Tapi kali ini tidak asin kan?


__ADS_3

Alina keluar dari bilik istirahat Zayyad. Melihat kotak makan siang di atas meja kopi. Ternyata ia lupa memberikan itu padanya. Karenanya ia masuk kembali sambil membawa kotak makan.


"Aku lupa memberikan mu ini" Kata Alina meletakkan kotak makan siang itu di atas meja di samping kasur.


Tepat ketika ia menoleh kearah Zayyad.


Ia melihat pria itu masih berbaring di lantai sambil meringkuk. Tubuhnya menggigil dan bibirnya bergetar. "Apa kau baik-baik saja?" Alina menghampiri pria itu dan bertanya. Melihat Zayyad yang tidak merespon pertanyaan nya. Ia pun tak sungkan untuk mencari tau nya sendiri.


Meletakkan punggung tangannya di dahi Zayyad. Ternyata itu sangat panas. "Kau demam" Gumam Alina. Ia pun perlahan mengangkat lengan pria itu untuk mengalungkan nya di sekitar lehernya.


"Ka-mu mau apa?" Tapi Zayyad segera menampik tangannya.


Alina menarik nafas panjang dan menghela nya. Dia sudah bersikap serius seperti itu, apa lagi yang harus ia takutkan? "Memapah mu ke kasur"


"Aku bisa sendiri" Zayyad perlahan bangun. Dengan langkah yang berat akhirnya ia mencapai kasur dan kembali berbaring.


Alina yang melihat ada lemari pakaian di kamar itu. Ia pun membuka nya untuk mencari handuk kecil. Lalu ia pergi membasahinya di wastafel. Setelah memerasnya. Alina pun bergegas mengompres dahi Zayyad dengan itu.


"Ka-mu mau buat apa?" Zayyad menjauhkan kepalanya. Tangan Alina yang hendak meletakkan handuk basah itu, tertahan di udara. Merapatkan senyum di bibir nya, Alina dengan sabar berkata. "Merawat mu, apa tidak boleh?"


"Tidak perlu" Zayyad menundukkan pandangan nya. "Pulanglah" Menarik selimutnya, Zayyad menutup matanya perlahan ingin beristirahat.


"Aku pulang!" Kata Alina yang masih duduk di tepi kasur. "Tapi setelah merawat mu" Tangannya bergerak cepat menempel kan handuk basah itu di dahi Zayyad.


Mata Zayyad terbuka, menyipit tak senang pada Alina. "Ada yang kau inginkan?" Mendengar pertanyaan itu, Alina sedikit terkejut. Apakah di wajahnya tertulis seperti menginginkan sesuatu?


"Ya!" Memang ada sesuatu yang di inginkan nya. Karena itulah ia memperlakukan pria itu dengan baik. Zayyad yang mendengar jawaban itu, tersenyum pahit. Mata coklatnya bersinar melankolis dan hatinya terasa asam.


"Katakan apa itu?" Kebaikan yang di peroleh nya pertama kali dari Alina adalah pada saat ia menyelamatkan nya pada saat insiden memalukan yang di lakukan bibinya.


Itu karena Alina mengasihani nya.

__ADS_1


Saat ini wanita itu mau merawatnya. Hanya karena untuk memenuhi keinginannya. Mungkin ia terlalu naif jika mereka dapat berhubungan sebagaimana sepasang suami istri lainnya menjalin hubungan.


Tulus dan tanpa pamrih.


"Aku merawat mu dulu, nanti akan ku beritahu"


Alina mengambil kotak makan siang dan membukanya. Aroma gulai ikan patin yang lezat, membaur di udara. Sebenarnya itu adalah makanan kesukaan Zayyad yang pertama kali ia buat. Tentu saja ia tau dari neneknya yang memperoleh informasi itu dari Irsyad.


"Itu-" Penciuman Zayyad tergelitik dengan aroma yang lezat dan khas. Tidak salah lagi itu adalah gulai kesukaannya. Dari aroma nya saja ia langsung tau kalau itu adalah ikan patin yang bercampur rempah-rempah. "Kau memasak gulai ikan patin?"


"Dari mana kau tau itu ikan patin?" Bisa saja gulai yang ditangannya ini adalah ikan mas, nilai atau lainnya kan?


"Ada aroma tanah dan lumpur" Tukas Zayyad. "Ikan patin meskipun sudah diolah atau dimasak seperti apapun, pasti akan meninggalkan aroma tanah atau lumpur yang pekat pada masakan" Disamping mencium aroma rempah dari gulai yang khas, ia samar-samar juga merasakan aroma tanah atau lumpur khas ikan perairan.


Mungkin beberapa ikan lainnya ada juga yang seperti ikan patin. Hanya saja karena itu ikan favoritnya, ia mungkin dapat menebak nya lebih jauh.


"Penciuman mu tajam juga" Alina bahkan sama sekali tidak mencium aroma tanah atau lumpur pada masakan nya. Selama ia memasak, yang merasuki hidungnya hanyalah aroma rempah gulai yang sangat pekat.


"Tidak perlu!" Zayyad mencoba bangun untuk menyandarkan separuh tubuhnya di kepala kasur. Alina segera meletakkan kotak makan itu diatas meja lalu membantu Zayyad untuk bersandar dengan meletakkan bantal di belakang punggungnya.


Tanpa sengaja ketika melakukannya, tatapan mereka bertemu begitu dekat. Karena Alina tidak mau memicu ketakutan Zayyad. Ia terus menunduk kan pandangan nya dan menjauh.


Mengambil kotak makan di atas meja, ia duduk kembali di tepi kasur.


"Biar aku saja yang menyuapi mu" Alina mengambil sesendok nasi yang bercampur kuah gulai dan sedikit potongan ikan patin, lalu membawanya ke mulut Zayyad.


Zayyad sama sekali tidak menolak perlakuan Alina. Perlahan ia membuka mulutnya, menerima suapan tersebut. Mengunyah nya beberapa kali, Zayyad tidak dapat menahan rasa mual nya. "Ugh"


"Ada apa?" Alina sedikit terkejut. Padahal ia sudah berusaha keras menjaga kelakuan nya saat ini.


Zayyad melirik sekilas pada Alina yang terlihat sedikit gelisah. "Tidak apa-apa"

__ADS_1


Alina menghela nafas lega. Lalu ia kembali menyuapi pria itu. Dan reaksinya seperti sebelumnya. Menutup mulutnya, Zayyad menahan rasa mual ingin muntah.


"Sebenarnya ada apa? Padahal aku sama sekali tidak menyentuh mu saat ini" Menjepit sepasang alisnya, Alina menatap frustasi pada Zayyad. "Apa aku duduk terlalu dekat dengan mu?" Alina perlahan bergeser, membuat jarak mereka sedikit jauh.


Zayyad perlahan menggeleng kan kepalanya. Handuk basah yang menempel di dahinya jatuh. Ia mengambil kain itu yang ternyata sudah kering.


"Lalu kenapa juga?"


Zayyad melirik Alina sekilas. Sebenarnya yang membuat nya mual itu karena rasa ikan patin nya masih pekat bau tanah dan lumpur semakin membuncah ketika ia mengunyah nya. Tapi apa perlu ia mengatakan nya?


"Mungkin aku sedang tidak nafsu saja" Zayyad tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang tidak nafsu karena makanan kesukaannya tidak di sajikan dengan baik. Akan tetapi untuk menghargai kerja keras Alina, ia menolak mengatakan nya.


"Ya sudah kalau begitu makan saja satu suap lagi, ya?" Alina mengembangkan senyum manis di wajahnya, dengan tatapan memelas membujuknya makan. Zayyad tidak mempercayai tatapannya. Itu terlalu nyata jika dikatakan hanyalah drama yang dibuatnya.


Perlahan Zayyad mengangguk kan kepalanya. Alina yang terlihat senang, langsung meraih sesendok nasi dan menyuapinya lagi.


Zayyad mengunyah makanan tersebut sambil menekan rasa mual nya.


"Ini adalah kali pertama aku mengolah makanan dari ikan" Alina menutup kotak makan dan meletakkan nya diatas meja. "Nenek bilang kau menyukai gulai ikan patin, karenanya aku mengolah nya pertama kali khusus untuk mu"


Meskipun tau Alina melakukannya karena menginginkan sesuatu. Tapi Zayyad tidak dapat memungkiri kalau hatinya sangat tersentuh.


"Lain kali aku akan mengolah nya lebih baik dari ini" Tukas Alina yang tampak sangat bersemangat. Sisi yang pertama kali ia lihat dari Alina yang biasanya terlihat angkuh, ketus dan dingin.


"Biasanya masakan mu asin" Tutur Zayyad dengan wajah tanpa ekspresi. Meskipun dalam hati ia berusaha keras untuk tidak tersenyum.


Alina menggigit bibir bawahnya tersenyum canggung. "Tapi kali ini tidak asin kan?"


"Ternyata kau tidak ingin mengerjai ku lagi ya!" Kata Zayyad tenang sambil melemparkan tatapan nya pada Alina.


                             •••

__ADS_1


__ADS_2