
Tapi pertanyaan itu menghentikan langkah Alina. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya, kalau itu karena ulah dari menantu pilihannya. Tapi jika ia mengatakannya nya yang sebenarnya. bagaimana jika wanita tua itu merasa bersalah atau kecewa? Bukankah sejauh ini ia sangat membanggakan Zayyad dalam berbagai aspek.
"Ini... kepala Alin tidak sengaja kebentur kepala ranjang" Akhirnya ia memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
Erina yang mendengar jawaban itu, tau cucunya berbohong. Semalam ia dan Irsyad pergi ke lantai dua tempat kamar Zayyad berada. Mereka diam-diam menguping apa yang terjadi dalam kamar pengantin baru itu.
Dan jelas saja, itu adalah kekacauan!
"Lain kali lebih berhati-hati! Nenek tau kebiasaan tidur Alin buruk, jadi Alin sudah bisa untuk merubah nya dari sekarang" Meski tau yang sebenarnya, Erina memilih untuk mengikuti alur kebohongan cucunya itu. Disamping ia merasa bersalah karena sudah mencuri privasi cucunya dan suaminya semalam. Tapi ia juga menghargai kematangan Alina yang tidak sembarang mengadu tentang konflik rumah tangganya.
"Ah, kalau itu sepertinya sulit!" Baginya tidur adalah kebebasan. Ia tidak ingin membatasi ruang geraknya ketika tidur. Apalagi penderita insomnia seperti nya, yang harus berputar berapa kali di ranjang sampai bisa terlelap.
"Kalau begitu, semoga saja Zayyad tidak mempermasalahkan kondisi tidur mu yang buruk itu!"
"Ah, kalau itu tidak sama sekali!"
Selama ia yang menguasai ranjang dan pria itu yang memutuskan untuk tidur di sofa. Pria itu tidak akan mempermasalahkan tidurnya yang buruk.
"Kenapa Alin yakin sekali?"
"Karena semalam semua baik-baik saja"
Yah, semua baik-baik saja. Kecuali keadaan kamar yang seperti kapal pecah.
"Ah, syukurlah kalau begitu!"
"Kalau begitu nenek, Alin pergi sarapan dulu" Membayangkan roti bakar keju tadi, ia sudah tidak sabar untuk segera melahap nya.
"Alin"
__ADS_1
Baru saja selangkah maju, Alina harus berbalik lagi. "Ia, ada apa lagi nek?"
"Kamu sudah tau kondisi Zayyad yang sebenarnya kan?"
"Ya!" Ternyata, neneknya juga tau hal itu.
"Kalian memiliki luka yang tak jauh berbeda perihal lawan jenis. Nenek harap pernikahan ini adalah obat untuk luka kalian"
Alina terdiam beberapa saat. Obat?
"Dan nenek harap, kamu mau mengerti kondisi Zayyad yang seperti itu! Mulailah secara perlahan dalam membangun hubungan dengannya, tapi jangan terlalu mengejutkan nya. Itu mungkin akan melukai psikis dan membangkitkan sisi traumatis nya. Bersikap lah sewajarnya untuk saat ini dan jangan terlalu jauh. Alin dapat melakukan hal-hal sederhana yang dapat menyakinkan nya, membuat nya sadar dan percaya bahwa Alin adalah pengecualian dari semua mimpi buruk masa lalunya"
Alina tercenung, mendengar penjabaran neneknya yang sejauh itu mengenai caranya untuk berhadapan dengan situasi dan kondisi Zayyad. Sebegitu pedulinya nenek pada pria itu?
"Lalu bagaimana dengan Alin?" Tidak tau kenapa, Alina merasa kecewa pada neneknya. Jika memang neneknya begitu peduli pada pria itu, lalu bagaimana dengan nya? bagaimana dengan mimpi-mimpi buruk masa lalunya? luka fisik bahkan psikisnya yang masih membekas hingga saat ini? Apakah semua itu bukanlah apa-apa untuk neneknya?
Bola mata hitam Alina bergetar. Ia merasa asam pada pangkal hidung nya. Kedua tangannya mengepal. Menekan gejolak dadanya yang terasa sesak. "Nek..Alin memang punya kebencian! Tapi jika nenek beranggapan itu adalah sebuah kekuatan untuk melawan mimpi-mimpi buruk yang Alin alami-" Alina menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.
"Nenek salah!" Alina tersenyum getir. "Karena pada nyatanya sampai saat ini Alin masih terjerat dengan mimpi-mimpi buruk itu. Itulah kenapa sampai saat ini Alin-" Alina tak kuasa menyelesaikan kata-katanya lagi. Ia mulai merasa matanya memanas, rongga pernafasan nya yang sesak, rasanya ia seperti ingin menangis.
"Kebencian yang Alin miliki hanya membuat Alin berjalan di tempat, enggan maju mengahadapi realita dan hanya meyakini bahwa semua pria itu sama. Terkadang kebencian itu mendorong Alin untuk balas dendam, hanya saja nurani yang ada dalam diri alin menekan nya cukup baik sejauh ini. Alin tidak mampu balas dendam dan tidak tau cara melampiaskan nya harus bagaimana. karenanya kebencian itu rasanya semakin menyakitkan nek!" Itulah kenapa ia memutuskan untuk menjauhi bahkan menghindari interaksi apapun dengan pria. Karena dengan melihat mereka sekali saja, kebencian itu bangkit.
Dan itu membuatnya terluka setiap kali ia gagal melampiaskan nya.
"Sebenarnya Alin tau!" Alina memandang ke langit-langit beberapa saat. Ketika ia merasakan pelupuk matanya mulai tergenang air.
"Sebenarnya yang menjadi alasan besar nenek mendesak Alin menikah, itu bukan karena nenek takut Alin menjadi perawan tua. Tapi nenek khawatir kalau Alin akan selamanya hidup sebagai-" Sesaat ia tercekat. Merasakan dirinya yang hampir saja terisak.
"Seorang yang membenci pria, yang melebihi batas normal, misandris! Bukankah begitu nek?"
__ADS_1
"Alin-"
"Nenek tenang saja! Sejauh ini aku hanya membenci pria tapi tidak pernah melebihi itu. Jadi jangan pernah berpikir kalau Alin ini seorang misandris, karena rasanya itu sangat buruk-Hiks" Pada akhirnya Alina tidak mampu lagi menahan isakan nya.
"Alin nenek-"
Alina terus berbalik, ia berlari pergi meninggalkan kamar.
Erina terdiam. Sebenarnya apa yang di katakan Alina itu tak sepenuhnya salah. Alasan terbesarnya ia mendesak Alina menikah, itu karena ia mengkhawatirkan Alina menjadi seorang misandris.
"Maafkan nenek Alin..." Lirihnya. Mata tuanya berkaca-kaca.
Di samping itu Alina sudah duduk di meja makan. Awalnya ia sangat bergairah untuk melahap roti bakar keju yang sangat menggiurkan itu. Tapi kejadian tadi membuat nafsu makannya berkurang. Setelah mengusap kedua sudut matanya yang berair. Alina berusaha keras untuk tidak menangis.
Mengambil sepotong roti, ia menggigit nya. Rasa asin manis keju yang pas dan sedikit creamynya susu pecah di mulutnya. Tidak tau kenapa, perlahan ia tersenyum.
"Ternyata ini sangat enak!" Mood buruknya perlahan membaik seiring ia menguyah roti itu.
Koki yang di datangkan Zayyad sudah pasti koki ternama dengan bayaran yang sangat mahal.
Yah dia punya banyak uang, itu adalah wajar.
Setelah menyelesaikan sarapannya, ia meminum habis segelas susu vanila.
Alina pun membereskan semua piring di meja dan membawanya ke tempat cuci piring. Tepat ketika ia hendak mencucinya.
Seseorang datang dari belakang menghentikan.
"Tidak nyonya, biar saya saja!"
__ADS_1