
Alina memberikan segelas air minum untuk Zayyad lalu membantu nya berbaring. Akan tetapi karena sikap nya yang selalu defensif pada wanita, membuat pergerakan nya sedikit canggung ketika menerima perlakuan dari Alina.
Melihat ekspresi gugup dan resah di wajahnya, Alina tidak dapat menahan diri untuk tidak menggoda pria itu yang tampak sangat menggemaskan di matanya. Karenanya setelah membaringkan Zayyad dan menyelimutinya, Alina segera menjauh. Kalau tidak begitu, mungkin ia akan kehilangan kendalinya.
"Aku akan menyuruh Bakri untuk memanggil dokter"
Melihat kondisi Zayyad yang sepertinya demam tinggi, Alina hendak pergi keluar untuk memberi tahu Bakri untuk mendatangkan dokter.
"Tidak perlu!"
Langkahnya terhenti ketika Zayyad mengatakan itu. Alina pun berbalik kearah pria itu. Menautkan sepasang alisnya, ia bertanya. "Tapi keadaan mu sudah seburuk ini, jadi ku pikir-"
"Aku akan segera membaik" Potong Zayyad.
Alina melihat Zayyad yang begitu tenang, seakan menjelaskan keadaan nya adalah suatu hal yang biasa. Tidak tau harus mengatakan apapun lagi.
Zayyad memejamkan matanya. Ia menebak keadaannya ini pasti terpicu dari perbuatan bibinya kemarin. Ditambah dengan apa yang di lakukan Alina semalam. Ini bukan pertama kalinya terjadi. Jadi ia tau bahwa ini hanya sebentar dan dirinya akan segera membaik.
Alina melihat mata Zayyad terpejam. Tidak tau pria itu tertidur atau tidak. Wajahnya jelas masih merah karena panas tubuhnya yang begitu tinggi. Melihat bibir coklat keunguannya yang bengkak dan bekas luka di bibir bawahnya. Alina kembali teringat dengan apa yang dilakukan nya semalam.
Ia bertindak sangat buas, persis seperti serigala betina yang kelaparan. Menggigit bibir bawahnya, tidak tau kenapa ia merasa sedikit bersalah. Tindakannya malam itu, tidak ayal membuat Zayyad sangat takut berjumpa dengan nya.
Alina mengambil handuk yang sudah kering untuk di basahi lagi. Setelah memerasnya, ia perlahan meletakkan handuk itu di atas dahi Zayyad. Tepat ketika ia membungkuk, hembusan nafas halus Zayyad membelai wajahnya.
Tatapannya jatuh pada wajah Zayyad yang terbilang sangat tampan. Pipi putihnya yang memerah, tampak seperti buah persik. Bulu matanya yang hitam pekat seperti tinta, itu lurus dan panjang. Tulang hidungnya terpahat sempurna dengan lekuk tajam yang menawan. Alina yang melihat nya, tidak mampu menahan untuk tidak menyentuh keindahan di hadapannya itu.
__ADS_1
Telunjuknya jatuh menyusuri jembatan hidung Zayyad. Lalu turun perlahan hingga meraba permukaan bibirnya yang bengkak dan mengusap sudut bibir bawahnya yang terluka. Sepertinya Zayyad sudah tertidur. Kalau tidak...
"Ugh..." Mata Zayyad terbuka lebar. Mulutnya begitu saja memuntahkan isi makanan yang baru saja di makannya.
Alina yang masih sedikit membungkuk, menegang. Melihat cairan asam yang bercampur makanan mengotori tepat di depan dadanya. Menodai pashmina hingga pakaian bagian atasnya.
Zayyad yang sama sekali tidak tidur. Sudah lama menahan rasa mual sejak Alina mulai menyentuh batang hidungnya. Karena tak mampu menahannya lagi, tanpa sengaja ia memuntahkan nya begitu saja.
"K-kamu ternyata belum tidur?" Alina berdiri tegak. Menahan penciumannya untuk tidak muntah.
"Maaf" Zayyad menurunkan pandangan nya, menghindari menatap Alina.
"Yah..ini bukan salah mu" Jika ia tidak melakukannya, mungkin Zayyad tidak akan sampai muntah seperti ini.
Alina pun memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Memikirkan pakaiannya yang akan basah, ia berjalan kearah lemari. Membukanya dan mengambil kemeja putih milik Zayyad. "Aku pinjam satu kemeja mu" Kata Alina yang menoleh sejenak kearah Zayyad.
Alina pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit akhirnya ia keluar dengan mengenakan kemeja putih milik Zayyad. Karena perbedaan tubuh pria dan wanita, jelas baju itu terlihat besar untuknya.
Zayyad yang merasa tak nyaman dengan rasa asam yang tersisa di mulutnya. Menunggu Alina keluar. Tepat ketika ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Zayyad perlahan bangun dari baringan nya. Mengangkat wajahnya, tatapannya langsung jatuh ke Alina.
Tadi wanita itu mengenakan gamis dengan balutan pasmina, tampak sangat menawan. Sekarang ia berdiri dengan kemeja putih miliknya yang hanya menutupi pahanya. Di lihat dari atas, penampilan nya tampak sangat menggemaskan. Karena baju itu jelas kebesaran di tubuh Alina yang kurus dan lengan bajunya yang kepanjangan nyaris hampir menyembunyikan kedua tangannya.
Tapi ketika melihat kebawah, penampilan nya jelas sangat menggoda. Kaki jenjangnya yang mulus seperti porselen, putih seperti susu, dan ramping itu terpampang jelas dan sangat memikat. Tenggorokan Zayyad tercekat, segera ia memalingkan wajahnya dan bergegas ke kamar mandi.
Alina dengan gugup berjalan ke arah sofa dan duduk. Ia sama sekali tidak nyaman karena kemeja milik Zayyad hanya menutupi sebatas pahanya. Akan tetapi ia juga tidak mungkin mengenakan pakaian nya yang basah dan bekas muntah itu.
__ADS_1
Zayyad keluar dari kamar mandi dan bergegas menyembunyikan dirinya di balik selimut.
Beberapa menit berlalu, akhirny terdengar suara hembusan nafas tenang dari seorang pria yang sudah tertidur pulas. Alina pun perlahan bangun dari sofa. Setelah memastikan Zayyad benar-benar tidur. Ia membasahi handuk yang sudah kering lalu meletakkan nya di dahi Zayyad.
Selesai melakukannya, Alina yang masih berdiri, menatap Zayyad sambil mendesah berat.
"Aku hanya membelaimu sesaat dan kau sudah muntah. Jika respon mu selalu jijik seperti itu terhadap sentuhan ku, bagaimana kita bisa melangkah lebih jauh dari pada ini?"
Alina berjalan pasrah kearah sofa dan berbaring perlahan. Memutar tubuhnya kesamping, ia menumpukan kepalanya di atas tangan. Tatapannya jatuh kearah Zayyad yang masih tertidur pulas.
Otaknya berusaha keras memikirkan ide bagaimana cara dapat membuat Zayyad terbiasa dengannya. Setidaknya pria itu dapat menjadikannya pengecualian dari ketakutannya terhadap wanita.
Tapi memikirkan kejadian semalam, jelas itu semakin sulit dilakukan. Jangan kan menjadikan nya pengecualian, bahkan mungkin ia sudah seperti monster dalam pandangan pria itu.
Alina memijit pelipisnya dan masih berpikir. Raut wajah tua neneknya yang bersedih masih terbayang. Mata tuanya yang berharap dalam keputusasaan, selalu membuat nya sakit jika mengingat nya.
"Bagaimanapun juga aku harus segera memberikan cucu untuk nenek" Tekan Alina yang sudah membulatkan tekadnya.
Ia bahkan sudah memutuskan untuk menikah. Hal yang paling ia jauhi dalam hidup, hanya untuk membahagiakan neneknya. Jadi memberikan seorang cucu, pasti akan ia usaha kan jika itu dapat membahagiakan neneknya.
Walaupun ia tau hal tersebut adalah perkara sulit.
Memiliki anak itu berarti ia harus siap melangkah lebih serius dalam pernikahannya. Memiliki tanggung jawab baru sebagai seorang ibu dan pastinya perceraian bukanlah hal yang mudah dilakukannya jika kelak itu terjadi.
Ada hati baru yang harus ia jaga. Ada jiwa baru yang harus ia buat bahagia. Dan pastinya ada hal yang paling menakutkan.
__ADS_1
Bagaimana jika anak itu terlahir menderita seperti dirinya?
•••