Takdir Cinta Seorang Misanris

Takdir Cinta Seorang Misanris
12. Pindah Kamar


__ADS_3

Pada malam hari, beberapa koki datang ke vila kediaman Zayyad untuk memasak makanan malam.


Mereka semua adalah pria.


Ini adalah kali pertama Zayyad mendatang kan beberapa koki ke villanya. Sebelumnya ia hanya memasak makanan sendiri jika ia makan di kediaman nya.


Tapi karena vila ini sudah memiliki dua orang pendatang baru. Ia pun segera menyuruh Bakri untuk mengirimkan beberapa koki handal untuk memasak malam ini untuk kediamannya.


Setelah nya mereka semua pergi meninggalkan meja makan besar dengan deretan makanan yang melimpah.


Alina baru saja membawa neneknya keruang makan, sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Apakah orang kaya selalu memiliki hidangan seperti ini di setiap harinya?


"Aku sudah menyuruh beberapa koki untuk memasak makanan sehat untuk nenekmu dan beberapa makanan kesukaan mu"


Kata Zayyad yang baru saja kembali ke ruang makan setelah memberi upah kepada koki-koki yang sudah pulang.


Ia berbicara tapi matanya terus memperhatikan ponselnya.


"Kau tau makanan kesukaan ku?"


Alina tidak akan pernah menduga Zayyad sungguh memperlakukan mereka dengan baik. Bukankah pria itu tidak senang dengan keberadaan mereka di rumah ini?


Dan pria itu juga menyiapkan beberapa makanan kesukaannya, darimana pria itu mengetahui nya?


"Kakek yang memberitahu ku"


Jawab Zayyad, matanya masih fokus ke layar ponsel.


Erina yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ia memang sudah memberitahu Irsyad apa makanan kesukaan Alina.


Alina yang melirik sekilas pada neneknya yang tersenyum, diam-diam mengerti. Tuan Irsyad pasti mengetahui nya dari nenek.


"Kalian makanlah! Aku sudah kenyang"


Memasukkan ponselnya ke saku celana, Zayyad sudah siap pergi.


Alina segera berlari memeluk pria itu dari belakang.


"Terimakasih!" Kata Alina sangat lembut. Nafasnya yang hangat berhembus mengenai punggung Zayyad.


Zayyad mematung di tempat.


"Sepanjang hidup ini, tidak ada pria yang memperlakukan ku sebaik ini"


Erina yang melihat tindakan cucunya yang begitu tiba-tiba sangat merasa terkejut. Dan ketika mendengar kata setelah nya, diam-diam ia merasa terharu.


Mata tuanya pun berkaca-kaca. Akhirnya cucunya sungguh dapat menerima seorang pria dalam kehidupan ini.

__ADS_1


"Ugh" Zayyad dengan cepat menutup mulutnya.


Dia merasakan ada gejolak asam dalam perutnya yang naik. Sedangkan sekujur tubuhnya sudah berkeringat dingin. Diam-diam Zayyad berusaha keras mempertahankan tubuhnya untuk tidak bergetar.


Tangannya pun bergegas meleraikan kedua tangan Alina yang melilit perutnya.


Setelahnya ia langsung berlari pergi meninggalkan ruang makan.


Alina menundukkan wajahnya. Ia diam-diam tersenyum puas.


___


Tepat pukul sembilan malam. Bel depan vila berbunyi, memecah keheningan rumah besar yang sunyi. Zayyad yang baru saja meminum segelas air putih dari dapur, mengkerut kan kening.Siapa yang datang di malam hari seperti ini?


Ponsel di saku jubah tidurnya bergetar. Zayyad mengambil nya. Ada sebuah pesan dari security vila nya.


'Pak, Tuan Irsyad ada di depan!'


Pesan singkat itu membuat sepasang alis Zayyad terjalin rumit. Perasaan nya buruk.Untuk apa kakek kemari larut malam seperti ini?


Memasukkan kembali ponselnya di saku jubah tidurnya. Zayyad bergegas ke pintu depan. Tepat ketika pintu di buka, seorang pria tua sudah berdiri di sana dengan seulas senyum.


"Untuk apa kakek kembali lagi?" Selama ia tinggal seorang diri di vila nya. Pria tua itu sangat jarang menginap di tempatnya. Ia mengatakan bahwa tempat tinggal nya sendiri adalah yang terbaik.


Kakek kembali bukan untuk menginap kan?


Zayyad melongo sesaat. Entah kenapa ia sulit mempercayai hal itu.


Pemadaman listrik?


"Kalau begitu kakek tidur di kamar ku malam ini" Tukas Zayyad, mempersilahkan pria tua itu masuk kedalam.


Vila besarnya hanya memiliki dua kamar tamu. Dan itu sudah digunakan oleh Alina dan neneknya.


"Kau yang benar saja! Aku kemari bukan untuk mengganggu malam pertama kalian"


Deg!


Zayyad yang baru saja menutup pintu. Menegang. Malam pertama?


"Kami sepakat untuk tidak tidur bersama dulu" Zayyad mencoba untuk tetap tenang. Ia mengunci pintu dan berbalik menghadap kakeknya. "Kami masih merasa asing satu sama lain, jadi lebih baik untuk sementara kami pisah kamar"


"Bukan karena kau takut padanya?" Irsyad jelas tau jalan pikir cucunya itu.


"Kakek kemari bukan untuk mendesak kami agar tidur bersama kan?" Pada akhirnya Zayyad menangkap niat buruk kakeknya.


"Bukan sudah kakek katakan sebelumnya? ada pemadaman listrik di tempat kakek, karena itu kakek kemari"


Zayyad menahan senyum tertekan. Itu hanya alasan kan?

__ADS_1


"Sekarang suruh Alina untuk pindah ke kamar mu, aku akan tidur di kamar tamu"


"Tapi kek-"


"Tidak ada tapi-tapi-an!" Tegas Irsyad.


"Kek!" Desak Zayyad yang masih belum menyerah.


Irsyad terus menggeleng. Menolak dengan keras. Melangkah lebih jauh kedalam. Alina baru saja keluar dari kamar neneknya. Langkahnya seketika terhenti melihat dua orang itu.


"Alina" Sapa Irsyad. Wajah tuanya tersenyum ramah.


Alina hanya melirik sesaat, sama sekali tidak meresponnya. Ia mempersepsikan senyum pria tua itu suatu hal yang menjijikkan. Dasar mesum! Batinnya. Senyum di wajah tua itu mengingatkan nya akan pria tua dalam salah satu memori terburuk nya.


Irsyad yang melihat sikap dingin Alina. Sudah maklum akan hal itu.


"Alina kamu pindah ke kamar Zayyad ya! Besok barang-barang mu akan di pindahkan ke sana. Mulai sekarang kamar Zayyad adalah kamar mu juga"


Mendengar hal itu Alina sedikit terkejut. Seketika ia menoleh pada Zayyad. Menemukan pria yang seharian ini bersikap acuh tak acuh padanya. Memasang tampang tertekan dengan mata coklatnya yang seperti memohon... tolong jangan terima!


Melihat Alina yang diam. Zayyad terus berbicara. "Kakek lihat! Bahkan keputusan kakek ini sangat mengejutkan Alina. Jadi untuk sementara waktu biarlah kami pisah kamar seperti ini"


"Sementara waktu itu sampai kapan, hm?" Jelas Irsyad tidak mau berkompromi sama sekali.


"Yah sampai kami si-"


"Baik, saya akan pindah ke kamar Zayyad" Sela Alina. Memotong pembicaraan Zayyad begitu saja.


"Apa?" Pekik Zayyad. Mata coklatnya nyaris hampir melompat keluar.


"Jadi Alina setuju?" Irsyad jelas sangat bersemangat mendengar hal itu.


"Em!" Alina mengangguk.


"Nah, kau lihat! Alina bahkan tidak masalah. Ia setuju"


"Itu karena Alina merasa tidak enak pada kakek, karena itu ia menyetujui nya" Zayyad masih bersikeras untuk menolak keputusan kakeknya.


"Tidak!" Bantahan Alina membuat Zayyad tercengang. "Aku hanya berpikir ini normal, pasangan suami-istri berbagi kamar yang sama"


Prok..prok..


Irsyad terus bertepuk tangan mendengar apa yang di katakan Alina. Walau sebenarnya ia sama sekali tidak menduga Alina akan sangat setuju dengan keputusan nya.


"Bagus!" Puji Irsyad kemudian sambil mengacungkan jempol. "Kau seharusnya juga berpikir demikian" Katanya kemudian pada Zayyad.


Zayyad mengepalkan kedua tangannya, merasa sangat tertekan. Sesaat ia menoleh pada Alina. Sekilas ia menangkap wanita itu menahan senyum. Menelisik jauh kedalam matanya, ia tau itu bukanlah hal yang baik. Itu licik dan penuh sesuatu.


Dia sengaja melakukannya?

__ADS_1


__ADS_2