
Alina terkejut dengan pertanyaan itu. Sekilas ia dapat melihat ketakutan Zayyad. Merasakan kehadiran seseorang di depan pintu, Alina menoleh.
Tapi sosok yang baru saja di lihat nya langsung bersembunyi.
"Sayang..apa yang kau bicarakan?" Menarik kedua sudut bibirnya, Alina tersenyum. "Kau adalah suami ku, tidak ada salahnya melihat rambut ku" Lebar nya senyum itu membuat mata Alina menyipit seperti bulan sabit.
Zayyad diam-diam menghela nafas lega. Hati nya tenang kembali dan kegelisahan nya lenyap.
"Itu benar, tidak mungkin kan Alin melarang suaminya sendiri melihat rambut nya"
Alina melihat neneknya masuk, sudah menebak kehadiran wanita tua itu. Berarti apa yang baru saja di lihat nya tidak salah.
Itu sungguh neneknya yang baru saja bersembunyi untuk menangkap sedikit percakapan mereka.
Zayyad terkejut dengan kehadiran wanita tua itu, hanya tersenyum sopan. Lalu tiba-tiba ia berpikir, Alina menjawab seperti itu tadi bukan karena ia tau kedatangan nenek nya kan?
Erina merasa jauh lebih baik melihat sikap Zayyad sejauh ini. Ia dapat merasakan pria itu mulai menerima keberadaan nya dan cucunya.
"Nenek ini lantai dua, kenapa kau kemari?"
"Alin..nenek mengkhawatirkan mu, bagaimana nenek tidak datang melihat"
Alina melempar tatapan tajam kearah Zayyad, kenapa pria ini harus memberitahu neneknya tentang situasi semalam.
Zayyad yang merasakan percikan es dingin dari Alina hanya menurunkan pandangan nya. Mengeluarkan ponselnya, ia seperti sedang mengecek pesan.
"Tapi nenek tidak boleh lelah!" Alina turun dari kasur, membawa neneknya duduk di tepi ranjang. "Aku baik-baik saja, nenek tidak perlu khawatir" Alina mengambil tangan tua neneknya yang keriput dan mengelus nya.
"Lalu kenapa datang dokter pagi ini untuk memeriksa mu?" Tanya Erina. Ia baru saja siap sarapan, tidak melihat Alina di ruang makan. Ia mengira cucunya itu masih tidur. Tapi ia melihat seorang dokter wanita datang dan menanyakan keberadaan Alina.
Ketika ia ingin naik untuk melihat, Irsyad datang untuk mencegah nya. Dan mengatakan padanya untuk menunggu saja di bawah.
Tepat ketika Irsyad pergi terburu-buru meninggal kan vila. Dokter wanita itu turun dan sudah pergi tanpa sempat ia bertanya. Saat itulah ia memutuskan untuk melihat.
Alina jarang sekali sakit, demam ringan pun ia jarang pergi berobat. Tapi kenapa sampai harus memanggil dokter. Memikirkan itu bagaimana ia tidak khawatir.
Mendengar hal itu, Alina kembali bertukar pandang dengan Zayyad. Jadi pria ini tidak memberitahu nya?
Zayyad hanya melirik sekilas sebagai jawaban membenarkan. Lalu ia fokus pada layar ponsel nya lagi.
"Aku tidak sengaja melukai tangan ku!" Alina mengangkat tangan kanannya yang sudah terbalut kain kasa. "Tadi malam aku turun kedapur untuk minum. Tanpa sengaja menjatuhkan gelas, ketika ingin membersihkan pecahan beling. Aku tanpa sengaja melukai tangan ku"
__ADS_1
Mendengar pernyataan itu, Erina merajut sepasang alisnya. "Alin..kamu tidak berbohong kan?"
Melukai tangan karena pecahan beling, tidak perlu memanggil dokter pun bukan nya Alina sudah terbiasa mengobati luka nya sendiri? Erina ingat ketika Alina tanpa sengaja mendapatkan kecelakaan kecil di jalan besar karena salah memotong jalan.
Bukannya pergi kerumah sakit tapi Alina pulang kerumah dan memilih merawat lukanya sendiri.
"Nenek tidak tau saja!" Alina menurunkan pandangan nya. Mengangkat tangan kirinya yang tak terluka, ia menutup setengah bibirnya yang tersenyum malu-malu. "Ini karena Zayyad yang terlalu mengkhawatirkan ku, padahal aku sudah mengatakan padanya untuk tidak perlu memanggil dokter"
Mengangkat wajahnya kembali, Alina melirik pada Zayyad dan berkedip. "Bukan begitu sayang?"
"Ya" Zayyad mengangguk dan menyelipkan ponselnya di saku celananya. Dalam hati ia memuji Alina yang memainkan dramanya dengan sangat baik.
"Nenek senang melihat hubungan kalian berdua harmonis"
Alina melihat senyum di wajah nenek nya ikut tersenyum. "Kalau begitu nenek kembali untuk beristirahat"
Melihat neneknya yang berdiri, Alina ikut berdiri untuk mengantarkan nya. Tapi neneknya menghentikan nya. "Tidak perlu! Nenek bisa sendiri"
"Tapi nek-"
"Alin sepertinya Zayyad akan pergi ke perusahaan, tapi ia belum memakai dasinya. Lebih baik Alin memasang kan nya"
Alina membatu di tempat. Apakah ini alasan neneknya untuk tidak membiarkan ia membawa nya turun?
Alina menarik nafas dan menghela nya. Menarik sejumput rambut kebelakang telinga, Alina tersenyum canggung. "Nenek aku tidak tau cara melakukannya"
"Kalau begitu nenek akan menunggu di sini mengajarimu"
"Tapi nek Zayyad belum terbiasa-"
"Itulah kamu harus membangun kebiasaan itu untuk Zayyad"
Alina terdiam, kehilangan kata-katanya. Melihat neneknya yang sekarang tidak jadi pergi. Malah memilih untuk menunggu melihat nya memakai kan dasi untuk Zayyad.
Alina menyesali keputusannya untuk mengantarkan neneknya turun kebawah.
Dengan berat hati ia berbalik, menemukan Zayyad yang sudah berdiri dengan kaku. Wajahnya yang terlihat tidak tenang dan gelisah. Entah bagaimana mendorong Alina untuk tersenyum.
Alina mengambil dasi yang ada di sofa lalu melangkah kearah Zayyad.
Zayyad sangat tinggi, berjinjit pun ia tidak dapat menggapai leher pria itu. "Sayang.. bisakah kamu membungkuk sedikit?"
__ADS_1
Zayyad entah bagaimana merasakan kedua belah pipinya menghangat. Melihat Alina yang tersenyum manis, meskipun itu hanya drama yang di buat nya. Tapi tetap saja itu sangat manis.
"Aku bisa memakai nya sendiri" Zayyad mengulurkan tangannya untuk mengambil dasi di tangan Alina.
Tapi Alina menjauh kan dasi itu dari jangkauan Zayyad. "Biar aku yang memakai kan nya untuk mu, nenek sudah menunggu di sini untuk mengajari ku" Alina melempar tatapan tertekan pada Zayyad dengan senyum yang menjelaskan, ikuti saja dramanya dan berkerja sama dengan baik.
Zayyad menghela nafas berat. Akhirnya ia perlahan membungkuk. Tapi ia tidak dapat menyembunyikan kedua bahunya yang bergetar.
Memperlihatkan itu Alina tersenyum. "Lihat nek!" Alina mengalungkan tangannya di sekitar leher Zayyad dan memasang dasi itu. "Zayyad masih belum terbiasa sedekat ini dengan ku" Katanya kemudian sambil menarik kain dasi dan tersenyum.
Zayyad menekan kuat rasa asam dalam perutnya. Dan entah berapa lama kali ini ia harus mempertahankan penderitaan nya.
Erina yang memperhatikan interaksi antar dua orang itu, merasa sangat puas dalam hatinya.
"Nenek lalu apa yang harus lakukan selanjutnya?"
Erina pun datang mendekat memberi arahan pada cucunya tentang bagaimana memasang kan dasi.
Alina mengikuti arahan neneknya secara perlahan. Tepat ketika menarik simpul terakhir, ia tanpa sengaja melakukannya dengan kuat.
"Huk!" Sampai tanpa sengaja membuat Zayyad tercekik.
"Alin pelan-pelan!" Neneknya segera menegurnya.
"Ah, maaf aku tidak sengaja"
Zayyad segera melonggarkan dasinya. Menurunkan tatapan pada wanita dibawahnya, ia memberi tatapan tak puas.
Alina tersenyum cengengesan dengan tampang menjelaskan, bahwa sungguh ia tidak sengaja melakukannya.
Akhirnya mereka turun bersama kebawah.
Alina menemani neneknya turun dan Zayyad akan bergegas ke perusahaan.
Tepat di lantai bawah neneknya kembali berulah.
"Alin..apa kau melupakan sesuatu?"
"Apa itu nek?" Awalnya Alina sama sekali tidak mengerti. Sampai ketika ia mengikuti kemana arah pandang neneknya tertuju.
Itu pada Zayyad. Perasaan nya seketika jadi buruk.
__ADS_1
"Kamu tidak mencium tangan suami mu yang akan pergi bekerja?"
___