
•Buona Lettura•
Hari demi hari terus berlanjut bahkan sudah hampir mencapai seminggu. Cilla mengurung dirinya di dalam kamar dengan keadaan menyedihkan. Dimana pria yang ia cintai pergi dengan meninggalkan semua kesedihan yang amat tersiksa. Cilla menggapai foto Michael yang yang sedang memegang pisau.
Aku merindukanmu Miki.
Tapi itu semua hanya khayalan Cilla saja. Pria itu tak akan pernah kembali dan tidak akan menampakan barang hidungnya kemari. Cilla hanya hidup sendirian meskipun para pembantu mansion disini menemaninya. Hatinya tetap menjerit kesepian. Sungguh ia merindukan pria itu. Cilla selalu tertidur agar saat ia terbangun ia bisa menatap Michael yang ada didepannya dengan menampilkan senyum tampannya.
Cilla mengusap foto itu dengan kasih sayang. Umurnya hampir mencapai 19 tahun. Ia sudah menghitung hari ulang tahunnya hanya 2 minggu lagi. Dimana ia selalu merayakannya sendiri di dalam rumahnya tanpa ada seorang pun.
Hatinya sangatlah sakit, sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada pria itu ketika pertemuan pertama kalinya saat ia meloncat dari pohon mangga. Dimana pria itu menggendongnya, melakukan pelecehan seksual padanya, mengucapkan kata-kata cinta setiap hari, dan menyelematkan dirinya ketika ia hampir diperkosa.
Menarik. Tentu saja menarik, sebenarnya ia ingin mengungkapkan cintanya pada pria itu ketika mengucapkan pria itu mengucapkan kata cinta pertama kali padanya, namun ia urung. Hatinya malu untuk mengatakan hal itu. Mulutnya seakan terkunci rapat-rapat. Dan tubuhnya selalu membeku ketika hendak mengucapkan aku pun mencintaimu. Bagi orang memang sangat mudah, tapi bagi Cilla itu merupakan hal yang tersulit. Cinta pertamanya, ciuman pertamanya, dan tubuhnya dipegang pertama kali oleh Michael yang berhasil mencurinya.
"Hiks...hiks...hiks..." air matanya tak mampu ia bendung lagi, ingatan demi ingatan terus berputar layaknya kaset rusak. Apakah dirinya tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan? Ya Tuhan izinkan diriku merasakan kebahagiaan.
Cilla memeluk foto Michael dengan erat dan mencium foto itu bertubi. Rindunya sedikit terbayar bila mencium foto itu. Cilla memandang foto itu dengan air mata yang mengalir dari pipi bulatnya.
Aku mencintaimu Michael.
Ia mendekap foto itu dengan kasih sayang. Hatinya menjerit tak menerima takdir. Cukup hampir seminggu ia ditinggalkan begitu saja dan teganya pria itu tak mengucapkan satu patah kata pun padanya. Cilla menangis lama di dalam kamar. Lama ia menangis akhirnya dirinya tertidur pulas, lelahnya menangis hampir 2 jam.
TOK...TOK...TOK...
Suara bunyi ketukan pintu tiga kali. Cilla lansung terbangun ia berharap itu Michael yang mengetuk pintunya.
CEKLEK
Matanya yang tadi menatap sempurna kini berubah menjadi sendu. Ternyata bukan Michael melainkan bibi May yang membawa satu mangkok sup yang hangat.
"Signora, ayo makan dulu" ucap bibi May sembari tersenyum.
Cilla mengangguk kemudian membuka pintu selebar-lebarnya mempersilakannya bibi May masuk.
"Kenapa menangis signora?" tanya bibi May menatap mata Cilla yang bengkak.
Cilla segera mengusap matanya, "Tidak ada bibi, ini hanya kelilipan" jawab Cilla seraya menggosok kedua matanya.
"Jangan berbohong signora, bibi tau signora terpuruk atas signore Michael, sudah jangan menangis lagi signora" bibi May meletakkan dua mangkuk sup diatas meja. Kemudian memeluk Cilla sembari mengusap punggung gadis itu.
"Bibi hiks...hiks...hiks..." tangis Cilla pecah kemudian. Ia menangis di pundak bibi May.
Bibi May mengusap punggung Cilla. "Sudah, jangan menangis" bibi May berusaha menenangkan Cilla.
"Hiks...hiks...Cilla cinta sama Miki...hiks..." pilu Cilla. Hatinya berteriak jika mengingat nama itu.
"Sudah jangan menangis lagi, sini bibi suapin sama sup kesukaan signora" bibi May melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi bulat gadis itu. Dimana mata bulat Cilla yang berwarna hitam menatap polos pada bibi May.
"Jangan menangis lagi nanti cantiknya luntur" canda bibi May.
__ADS_1
Cilla mengusap pipi secara kasar. "Cilla tidak nangis" ucap Cilla berlagak layaknya orang kuat.
"Astaga" bibi May menggeleng melepaskan tangkupannya, kemudian melangkah mengambil satu mangkok sup. Sedangkan Cilla memilih duduk di pembatas ranjang.
"Signora ayo makan dulu" bibi May mengambil kursi dan duduk disana seraya menyodorkan sendok kearah mulut Cilla yang masih tertutup.
Cilla menggeleng tak mau.
"Kenapa?" tanya bibi May saat mendapatkan gelengan dari gadis itu.
"Cilla tidak bernafsu makan" jawab Cilla sembari menundukkan kepalanya dan menautkan kedua jarinya.
"Nanti signora sakit gimana? Signora harus makan yang banyak, siapa tau nanti signore Michael kembali" goda bibi May. Yang mana Cilla lansung mau membuka mulutnya dan memakan yang ada berada sendok itu.
"Bagus, mau bibi ceritakan tentang signore Michael?" tawar bibi May.
Sontak Cilla mengangguk mau.
"Habiskan dulu supnya baru bibi cerita" bibi May kembali menyuapkan Cilla.
"Siap" ucap Cilla semangat.
Cilla menghabiskan dua mangkuk sup dengan lahap. Bahkan sehari Cilla menghabiskan 6 piring. Wajar saja tubuhnya sekarang berisi apalagi payudar* Cilla semakin membesar dan membulat dimana tempat ini merupakan kesukaan Michael.
"Jadi dulu signore Michael hanya seorang yatim piatu, orang tuanya dibunuh oleh para sekelompok penjahat, dan kemudian meninggal dengan luka tembak tepat di jantung mereka masing-masing."
"Signore Michael terpuruk atas kejadian hal itu ia berubah menjadi seorang penjahat ketika berumur masih kecil. Dia berubah menjadi seorang mafia bahkan waktu signore sekolah, guru-guru tak mau belajar di kelas signore, karena signore memukul para guru secara brutal."
Cilla bergidik ngeri mendengar hal itu. Membayangkan masa lalu pria tercintanya begitu berat, pantas saja ia tak mau bercerita jika bersangkutan dengan orang tuanya.
"Dan sampai saat ini signore menjadi seorang mafia" tamat bibi May bercerita.
"Mafia" Apa itu?" tanya Cilla bingung, baru pertama kali ia mendengar nama itu.
Bibi May berkata. "Seorang penjahat dimana ia memimpin satu organisasi yang ia pegang dan melakukan aksi yang mereka mau jika pemimpin memerintah kepada para anggota disebut mafioso. Signore Michael merupakan seorang penguasa di negara Italia yang sangat ditakuti."
Cilla terkejut mendengar hal itu. Dirinya tak menyangka bahwa pria yang ia cintai merupakan seorang penjahat. Tapi cintanya tak akan mengurang meskipun Michael seorang penjahat.
"Hanya itu yang bibi tau tentang signore Michael" bibi May meregangkan tubuhnya yang pegal.
Cilla hanya mengangguk, ia tak menyangka masa lalu pria yang ia cintai begitu kelam.
"Kalau begitu bibi permisi signora, maaf mengganggu signora, jika signora butuh bantuan tekan tombol itu nanti bibi keatas" ucap bibi May seraya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat pada majikannya. Lalu bergegas keluar dari kamar Cilla membawa dua mangkuk dan satu gelas air putih selalu tersedia di dalam kamar.
Cilla pergi ke tempat meja Michael biasa suka mengerjakan sesuatu. Cilla melihat berbagai kertas yang hancur di tempat sampah.
Tingkat penasaran Cilla sangat tinggi, dengan beraninya tangannya membuka sebuah laci. Saat laci itu terbuka, matanya terbelalak. Ia melihat satu pistol berwarna emas dengan peluru yang membanjiri pistol itu. Cilla kembali menutup laci itu dengan sedikit keras. Dan dirinya membenamkan wajahnya di balik bantal yang tercium bau parfum Michael yang sangat memabukkan. Setidaknya bau harum itu dapat mengobati rasa rindunya.
________________________
Indonesia
__ADS_1
Peperangan antar mafia. Dimana para mafia Italia dan mafia China bertempur dan mengorbankan nyawa demi kelompoknya agar menang.
Michael menembak para mafia itu dengan senapannya itupun tak kalah dengan Bean memegang senapan. Pakaian mereka layaknya koboi versi jas. Michael dengan gagahnya menembak dan membantai para anggota Triad yang nampak kewalahan menghadapinya. Bean terus menembak dengan membidik sasaran tepat di perut mereka.
"Hahaha, kalian semua sampah, Bean ayo kota masuk" semangat Michael berlari dengan senjatanya dan mendobrak pintu utama markas Triad.
BRAK...
Michael melempar alat peledak kedalam disusul oleh para mafioso sedangkan Bean ia berlari keatas menuju tempat para sandera.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Adu tembak antara kedua kelompok mafia. Michael terus menyudutkan para musuh yang nampak kewalahan menerima senapannya begitu cepat dan mengeluarkan isi peluru yang banyak.
"Sial, kalian basmi mereka!" titah Michael merunduk di balik meja untuk mengisi peluru.
"Saatnya membunuh" Michael menarik kunci senapan itu. Ia berdiri dan menembak mereka satu per satu.
"Michael...Michael..." panggil Bean melalui suara semacam telepon.
"Ya Bean ada apa?" tanya Michael yang sibuk menembak para musuh.
"Aku melihat bos Triad, dia kabur bersama para mafioso" ucap Bean yang tak kalah sibuk memegang pistol, menarik pelatuk, dan mengarahkannya ke musuh.
"Dimana ia kabur?" Michael kembali merunduk untuk mengisi amunisi.
"Dia kabur melalui jalur anggota D saat ini sedang kewalahan menangani para musuh Triad" ucap Bean.
"Perintah para helikopter dan sebagian penembak jarak jauh ke jalur D! Perkuat jalur sana, blokir jalur itu bila perlu. Aku akan mengosongkan tempat jalur F lalu kesana, kita akan bertemu nanti" ucap Michael secara jelas.
"Hahaha, siap mafia Italia" Bean menembak semua mafia Triad.
"Rasakan itu bodoh" umpat Bean lalu berlari dengan sebagian mafioso ke jalur D sesuai perintah Michael.
"Sebagian ikut ke jalur D, sisanya kosongkan jalur ini bila perlu blokir semua jalur!" perintah Bean dibalas dengan anggukan para Mafioso.
"Kalian ledakkan jalur F dan bakar habis jalur ini sampai menjadi abu! Sisanya ikut aku ke jalur D" Michael berlari bersama mafiosonya.
"Bean laporkan jalur mana saja sudah mulai aman, kirim sebagian pasukan ke jalur D!" titah Michael sembari berlari.
"Siap tunggu aku" Bean segera melaporkan tiap jalur yang mulai mereda. Lalu melaporkan kembali pada Michael.
"Jalur F, A, G, B, C, E, hanya jalur D saja yang bermasalah" lapor Bean.
"Kirim helikopter dan para montir, dan cari orang-orang yang masih hidup, beri mereka morfin sebagai pereda nyeri!."
"Baiklah, ayo kita selesaikam dendam ini" ujar Bean semangat, ia sudah tak sabar menghajar dan menyiksa si brengs*k itu.
Michael hanya tersenyum dan terus berlari. Tak lupa dirinya dikawal oleh mobil berlapis baja sebagai pelindung dari tembakan-tembakan yang biasa salah sasaran.
"Aku akan membunuhmu Xander Xiao, sebentar lagi nyawamu terbang dan akan kubawa kau ke neraka. Maafkan aku baby girl, aku terpaksa melakukan ini demi kita berdua agar tak ada yang mengganggu masa depan kita, tunggu aku baby girl" batin Michael, dirinya begitu merindukan gadis itu.
__ADS_1
•Continua•
Bagaiamana setelah membaca capitolo ini? jangan lupa komen yaa