
•Buona Lettura•
"Kau yakin kita bisa menghancurkan tempat itu" Bean dibuat menganga tak percaya melihat istana megah yang akan menjadi sasaran mereka.
"Yakin, memangnya kenapa?" tanya Michael dengan kening mengerut.
"Tidak" buru-buru Bean menjawabnya. Sebenarnya ia cemas, takut rencana ini kembali gagal dan membawa pulang kekalahan.
"Jangan takut Bean, kita bisa melewati ini semua" ucap Michael meyakinkan Bean. Matanya sibuk mencari tempat pendaratan yang cocok. Saat ini helikopter Michael mengudara tinggi diatas langit malam hari, tidak mungkin jika Michael mengudara rendah. Yang ada musuh mengetahuinya.
Untung saja warna helikopter Michael senada dengan warna gelap malam hari, sehingga helikopternya bisa berkamuflase sempurna. Michael juga sudah menempatkan beberapa pasukan di beberapa titik yang tak bisa terdektesi musuh.
"Bean laporkan pasukan! Lempar bom asap ke radar musuh!"
"Siap" Bean melaporkan kepada yang lainnya. Akhirnya Bean mendapatkan jawaban dari para pasukan. Segera Bean memberitahu Michael. Bahwa semua pasukan sudah siap.
"Michael, kita bisa turun di titik itu!" Bean menunjukkan kearah luar jendela. Mata Michael fokus pada satu objek. Seakan mengerti, Michael mencoba untuk mengudara rendah.
Misi penyelamatan kali ini berhasil walau masih tahap awal, meskipun belum seberapa. Tapi Michael terus semangat dan berjuang gigih untuk membawa pulang gadisnya. Cinta mengalahkan semua lelah dan kata menyerah. Michael berjanji, mulai hari ini ia akan menjaga gadisnya sepenuh hatinya dan mempertaruhkan nyawa untuk orang yang ia cintai. Meski resiko yang ia tanggung sangat berat, tapi itu adalah janjinya.
Helikopter Michael berhasil mendarat sempurna di atap istana, tanpa di ketahui oleh musuh. Hati Michael bersorak girang. Saatnya ke inti misi.
"Bean, laporkan dimana posisi pesawat sekarang?" tanya Michael tak sabaran. Michael mengeluarkan alat pembobol dinding.
Bean mengecek ponselnya. Letak pesawat dari posisi mereka saat ini tidak begitu jauh.
"Jarak 2 km dari sini" lapor Bean. Michael mengangguk.
"Baiklah saatnya masuk" Michael masuk kedalam istana melalui atap. Bean pun turut ikut masuk.
TAP...
BUGH...
"Aw, bisakah kau mendarat dengan benar, kau mau pinggangku patah huh?" gerutu Michael. Bean hanya terkekeh. Ia tak sengaja tersenggol oleh benda Michael tadi kenakan.
"Maaf" Bean beranjak dari pinggang Michael. Michael lansung bangkit berdiri, tak lupa membersihkan pakaiannya yang kotor akibat terkena lantai kotor.
"Sekarang apa yang kita lakukan?" tanya Bean. Matanya menari kesana-kemari melihat keadaan sekitar yang begitu sepi dan gelap.
__ADS_1
PAK...PAK...PAK...
"Sial" Michael menepuk nyamuk-nyamuk yang berisik mendekatnya.
"Apa yang kau lakukan huh?" protes Bean melihat temannya sedang bertepuk tangan.
"Diamlah bedebah, aku sedang melakukan sirkus menangkap bokong nyamuk" sahut Michael. Saat nyamuk itu mendarat di hidung Bean. Michael menampar kencang. Dengan menggosok kedua tangan dan.
PLAKKK......
Tubuh Bean terjungkal kebelakang menerima tamparan kencang dari temannya. Hingga menimbulkan bunyi suara tamparan yang begitu nyaring.
"Dasar, aku ini bukan nyamuk bodoh" protesnya tak terima. Bean mengusap hidung mancungnya.
"Berhenti merengek, sekarang fokus ke target, aku tak akan membiarkan mereka kembali lolos. Bean lapor tim yang lain, apakah sudah mendapatkan tanda-tanda!"
Dengan setengah kesal, Bean kembali mengecek ponselnya. Jarinya sibuk mengetik yang disuruh Michael. Lalu menekan pesawat kertas.
Michael yang mengintip di balik celah. Sangat tidak mungkin untuk menerobos mereka. Jika menerobos, maka akan mengundang semua orang. Mata Michael menyipit, kepalanya bergeser sedikit saat musuh datang kearahnya. Kedua tangan Michael menarik Bean.
"Uhm..." Bean terkejut, tangannya ingin menghempaskan tangan Michael.
Bean mengangguk. Michael melepaskannya. Tangannya mengambil pistol di balik celana. Tak lupa memasang peredam suara. Sedikit bantuan peredam, maka pembunuhan lancar-lancar saja.
CIT...
Pintu terbuka pelan. Bayangan orang itu tengah di depan ambang pintu. Michael menunggu waktu yang tepat. Lama bayangan itu terdiam, nampak bayangan itu bergerak mendekat.
Keringat Bean mulai mengucur, ketegangan akan terjadi. Michael menaruh jarinya di pelatuk. Siap tidak siap, Michael akan melakukannya demi misi ini berjalan lancar. Napasnya kian menderu.
TAP...TAP...TAP...CEKLEK...
Saat ini pintu tertutup. Kesempatan ini Michael gunakan.
Mati kau
DOR...
BRUK...
__ADS_1
Kepala serasa diputar. Tubuhnya terhuyung-huyung ke depan. Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar karna gelap gulita. Hingga kepalanya menabrak dinding. Dan terkapar.
"Michael" bisik Bean menepuk pelan bahu Michael. Ada hal yang ingin diberitahu perihal menyangkut misi ini.
"Hm" dehem Michael. Kepalanya menoleh. Ia tidak terlalu jelas melihat wajah Bean. Namun samar-samar raut wajah Bean sedikit terlihat.
"Cilla tidak ada disini" ucap Bean lansung. Michael terdiam mendengarnya. Ia seolah tak percaya. Michael merampas ponsel Bean. Matanya begitu serius menatap pesan yang dikirim oleh para mafioso. Michael menggertakkan giginya.
"Hanguskan tempat ini, jangan sampai ada yang tersisa" Michael menyerahkan ponsel Bean kembali. Bean terburu ikut Michael.
"Naiklah!" Michael berjongkok.
"Maksudmu?" tanya Bean heran. Apa maksudnya.
"Cepat! jangan banyak mengoceh" sedikit menaikkan beberapa oktaf suara.
Bean menurut. Kakinya mendekat dan mulai menaiki pundak Michael. Michael berdiri bangkit.
"Cepat keatas!" Bean berusaha menggapainya dengan susah payah. Michael yang merasa kesal. Tangannya lansung melempar kaki Bean.
"S**t" Bean mencium atap istana.
Sekarang giliran Michael. Tangannya ia rentangkan ke atas. Dengan posisi siap, sedikit menurunkan lututnya. Tangannya yang gatal ingin memegang
HAP...
Michael berhasil keluar. Dan diwaktu yang tepat pesawat tempur yang siap menghancurkan istana ini.
Helikopter sudah menunggunya di depan. Michael masih yakin keberadaan gadisnya masih di sekitar negara ini. Apapun itu ia akan tetap mencarinya sampai ketemu, hingga lubang semut pun ia cari.
Dengan langkah yakin Michael maju masuk ke dalam helikopter. Disusul pula oleh Bean. Helikopter lepas landas dari atap istana. Sekarang giliran pesawat itu yang akan menghanguskannya.
DUAR...DUAR...DUAR...DUAR...DUAR...DUAR...
•Continua•
Bagaimana setelah membaca capitolo ini? Jangan lupa komen...
Ayo dukung author dalam perlombaan novel yang judulnya Love In London. Jangan lupa pada mampir yaa..
__ADS_1