
•Buona Lettura•
Romeo dan Michael sedang berbincang-bincang tentang perihal hal yang baru saja terjadi. Raut wajah mereka berdua tampak sangat serius. Michael bernafas lega saat melihat calon istrinya selamat. Michael benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Ini semua akibat keegoisannya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang yang terdekatnya. Michael turut berduka cita atas pengorbanan bibi May.
"Kau harus menjaganya Michael, bagaimanapun dia adalah calon istrimu, jangan mementingkan dirimu sendiri tanpa memikirkan orang terdekatmu, dan sekarang, kau telah menjatuhkan nyawa orang yang tak berdosa menjadi korban" ucap Romeo yang menasihati temannya.
Michael hanya diam tanpa menanggapi ucapan Romeo. Perasaan menyesal telah melingkupi hatinya. Sudah cukup ia menjadi manusia yang berlumuran dosa. Ucapan Romeo memang ada benarnya.
"Dan jangan ulangi perbuatan itu, sepertinya aku pergi dulu, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, jangan bertindak di luar nalar lagi, kau mengerti" Romeo menekan kata-kata terakhir.
Michael mendongak, dimana Romeo menatap matanya tajam, dengan santainya Michael membalas tatapan itu. "Aku mengerti, terimakasih kawan" Michael sedikit menjauhkan tubuhnya dengan memberi jarak.
"Baiklah, sampai jumpa" pamit Romeo melangkah maju lurus tanpa sedikitpun bersalaman. Michael hanya bergidik bahunya, masa bodoh dengan pria dingin itu.
Michael menepiskan pikirannya yang mulai berpikiran negatif. Sepertinya akan ada bau-bau peperangan saudara antar mafia Italia. Tapi Michael berusaha berpikir positif, maka dari itu ia mengabaikan pemikiran konyolnya. Bila hal itu terjadi, maka ia harus terjun ke medan perang.
Michael berjalan masuk kedalam mansion. Matanya tetap waspada mengawasi pergerakan yang mencurigakan. Tapi saat ia tiba di ambang pintu, lagi-lagi ia dikejutkan oleh semua tumpukan benda yang berserakan dimana-mana. Belum lagi hal yang mengerikan tergeletak begitu saja di lantai tanpa ada yang mau mengeksekusinya.
"Michael!, menurut laporan, mereka berasal dari Italia" Bean baru saja tiba di belakang tubuh Michael lansung melaporkan kejadian yang menyangkut hal ini.
Michael sedikit terkejut dengan kehadiran Bean, lansung ia bersikap semungkin normal. "Terus awasi pergerakan para mafia. Kerahkan pasukan rahasia ke berbagai daerah" Michael mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang untuk dihubungi.
Bean mengangguk mengerti. Segera Bean melaksanakan tugas Michael. Sedangkan mafioso tengah sibuk membersihkan kekacauan ini.
"Baiklah aku tunggu" Michael mematikan sambungannya dengan mafia Rusia.
Michael pergi keluar mansion untuk menenangkan pikiran dan isi hatinya. Gadisnya kini sedang di bawa kerumah sakit. Menurut laporan dari pihak rumah sakit, Cilla mengalami trauma kembali. Michael seakan kalut dengan situasi ini. Ia memilih untuk pergi kerumah sakit untuk menengok calon istrinya.
"Signore, anda mau kemana?" tanya salah satu mafioso melihat Michael pergi berjalan keluar tanpa pengawalan.
Michael menoleh. "Bukan urusanmu!" ucapnya sengit, lalu meninggalkan mafioso itu yang terkejut mendengar ucapan signore nya barusan.
Michael menaiki kendaraan sportnya menuju rumah sakit Polandia yang terdekat. Baru saja ia menyalakan mesin, tiba-tiba suara dering telepon menggangunya. Terpaksa Michael menghentikan kehendakkannya barusan yang ingin melaju.
Tangannya merogoh saku celana mencari benda yang mengganggunya barusan. Saat menekan tombol on, matanya menyipit melihat nama yang sedang terpampang. Setelah memastikannya, Michael mengangkatnya.
"Ciao" sapa Michael.
"Michael!" ucap Romeo lansung menyebutkan nama yang sedang ia telepon.
"Ada apa Romeo?" tanya Michael, sepertinya akan ada musibah lagi. Dari nada bicara Romeo seperti ada ketegangan.
"Cepat pergi kerumah sakit!, sekelompok mafia datang berusaha menerobos kamar calon istrimu" Romeo lansung mengatakan apa yang ia harus katakan.
Mendengar calon istrinya dalam bahaya lagi. Michael lansung mematikan ponselnya dan meletakkan di samping kursi. Michael menyalakan mobilnya. Tanpa aba-aba, Michael menancap gas menuju rumah sakit. Keringatnya mulai bercucuran. Perasaan khawatir menambah hatinya menjadi tak karuan.
Sedangkan di lain tempat, Romeo terus berupaya semaksimal mungkin mengerahkan pasukan Cosa Nostra menghadang musuh-musuh yang tidak dikenal sama sekali.
"Tingkatkan keamanan kamar target, usahakan tetap bertahan!" teriak Romeo di balik telepon. Saat ini situasi di rumah sakit Polandia sangat mengecam.
Bahkan para polisi turut menyerang Romeo yang tidak tau penyebabnys. Romeo sendiri dibuat bingung. Jumlah musuh terus bertingkat bukannya berkurang. Ditambah persediaan amunisi semakin menipis. Romeo terus berpikir keras untuk menghadapi semuanya.
__ADS_1
DOR...DOR...
DUAR...
Tak tanggung-tanggung para musuh meledakkan rumah sakit dengan bazoka. Romeo terus menembak musuh meski sisa-sisa pelurunya hampir habis. Yang terpenting ia menunggu bala bantuan.
DOR...DOR...DOR...DOR...
Romeo melirik sedikit untuk melihat situasi dibalik tembok sebagai pelindung dirinya. Matanya terbelalak melihat beberapa kendaraan tempur maju. Romeo tidak habis pikir, ini seperti perang saja.
Suara helikopter mulai terdengar mendekat gedung rumah sakit. Ratusan peluru menghujani mafioso Cosa Nostra diatas atap rumah sakit. Romeo merasakan suara tembakan yang bergerilya diatas sana.
"Tuan signora Cilla tidak ada diruangan, dia sudah diculik oleh sekelompok anggota polisi" lapor Max yang berada di kamar target.
Romeo terkejut mendengarnya. Jadi selama ini mereka di bodohi oleh sekelompok orang-orang untuk mengalih perhatian mereka semua. Romeo mengumpat kasar.
DUAR...
Tubuh Romeo terpental secara tiba-tiba. Cukup jauh hingga menerobos kaca kamar pasien rumah sakit oleh pantulan ledakan bazoka.
PYARRR...
Tubuhnya menabrak dinding cukup keras. Romeo berusaha untuk bangkit namun tak bisa. Romeo benar-benar payah dalam keadaan hal genting ini.
Penglihatannya sedikit samar-samar. Pandangan Romeo mulai mengabur bersama sekujur tubuhnya kesakitan. Romeo mengeluarkan foto istrinya bernama Sella Christin kini menjadi marga Kingston. Romeo mengeluarkan air matanya, mungkin ia akan berpisah selamanya bersama istri tercintanya.
Maafkan aku istriku dan anakku. Aku mencintaimu selamanya, I love you Sella.
Romeo lansung tak sadarkan diri. Romeo harap istrinya bahagia di dunia ini meski tanpa dirinya.
Michael tiba dirumah sakit. Matanya menatap aneh melihat segerombolan polisi beserta ambulan tampak berjajar. Karena penasaran, Michael melaju sedikit mobilnya.
Matanya melotot seakan tidak percaya. Kekacauan apa lagi sekarang. Michael lansung turun dari mobil dan berlari kencang kearah rumah sakit. Namun naas sudah, garis polisi berhasil melarangnya untuk masuk. Tapi Michael keras kepala, dengan beraninya ia menerobos garis itu dari bawah. Para polisi lansung menghadang Michael yang menerobos garis tanpa persetujuan dari pihak polisi.
"Maaf tuan silahkan mundur" ucap polisi itu menghadang tubuh Michael yang berjinjit seraya celingak-celinguk.
"Minggir bodoh! Istriku sedang ada disana! Jangan menghalangi jalanku bedebah" amuk Michael, tangannya mengambil pistol di balik jasnya dan membunuh para polisi-polisi. Kali ini Michael menang dan berhasil menumbangkan semua polisi dengan pistolnya. Michael berlari ke dalam rumah sakit.
Yang ia lihat pertama kali saat masuk adalah mayat-mayat berserakan dimana-mana, darah, cairan obat-obatan, amunisi, senjata api, selongsong peluru, dan benda-benda lainnya. Michael merasa masa bodoh dengan semua itu. Yang ia tuju adalah kamar Cilla.
"Signore Michael..." Max berteriak keras memanggil orang yang tengah berlari tanpa arah. Mendengar namanya di panggil Michael berhenti berlari dan menoleh kearah sumber suara. Matanya menatap orang yang berlari menghampirinya dengan penampilan acak-acakan.
"Signore...hah...hah..." napas Max tersengal-sengal. Tubuhnya merunduk beserta kedua tangannya menumpu kedua lutut.
Michael sedikit waspada, siapa tau orang ini berbuat jahat padanya. Michael mulai mengeluarkan pistolnya dan menodong kepala Max.
Max terkejut menerima sebuah todongan senjata tepat di kepalanya. Perlahan tubuhnya mulai naik bersama tangannya terangkat.
"Angkat tanganmu, jika membantah, saya tidak segan-segan menarik pelatuk" ancam Michael penuh peringatan. Jarinya sudah siap menarik pelatuk.
"Ba-baik" sahut Max gelagapan. Tubuhnya bergemataran, akan tetapi sebaik mungkin Max menyembunyikan rasa gemetar itu digantikan oleh rasa tenang meski tidak terlalu tenang.
__ADS_1
"Ikut aku!" titah Michael penuh penekanan. Max hanya menurut saja. Ia berjalan di depan dengan kedua tangan terangkat keatas. Michael mulai berjalan perlahan-lahan dibelakang tawanannya.
"Dimana letak kamar calon istriku?" tanya Michael.
Max menggeleng tidak tau, mana tau dia istri orang ini.
"Jangan bohong! Atau kau mati" ancam Michael.
Max kembali di landa ketakutan. "Ba-ba-iklah" ucanya terbata.
"Jadi, apakah kau tahu?" tanya Michael.
"Saya tidak tau tuan, tapi apakah saya boleh bertanya" Max menghentikan langkahnya tetapi kedua tangannya masih diatas. Michael memasang siaga penuh.
"Silahkan jangan lama" ucapnya mempersilahkan orang itu di beri kesempatan berbicara, siapa tau ada petunjuk.
"Siapa nama istri anda? Maaf jika saya lancang" tembak Max lansung.
"Cilla, apa kau mengenalnya?"
Max tersenyum mendengarnya, tapi ia juga harus memberitahu kabar menyedihkan. Perlu perlahan membicarakannya.
"Saya mengenalnya signore" jawab Max.
Michael tersenyum sinis. "Baiklah, tunjukkan kamarnya dimana."
"Okey tak masalah, ikuti langkah saya!" Max berjalan sesuai arah. Michael yang sudah tak sabaran terus menyuruh orang ini disuruh cepat berjalan. Sampai mereka berdua tiba di kamar.
"Cilla! Cilla! Cilla!" panggil Michael, namun tak ada orang yang menyahutinya. Michael mulai menaruh firasat buruk. Max hanya diam saja di ambang pintu.
"Cilla! Cilla! Cilla!" Michael mengobrak-abrik isi kamar. Tapi tidak ada yang ditemukannya sama sekali. Ia mulai frustasi. Michael menatap kearah Max yang sedang berdiam di sana. Michael menghampirinya dan menarik kerah Max.
"Dimana dia huh? DIMANA DIA!" teriak Michael. Max terdiam tidak mengucapkan satu kata pun.Yang mana Michael merasa diacuhkan.
"Dimana calon istriku huh! Dimana dia! Dimana dia! JAWAB!" amarah mulai menguasai tubuhnya. Michael meremas pundak Max.
"Di-"
"Dia diculik" jawab Max lansung. Michael terdiam seketika. Tangannya mulai melonggar melepaskan pundak Max. Kakinya bergetar belum siap menerima kenyataan. Apalagi kenyataan ini menyangkut paut dengan gadisnya. Dunia Michael seakan runtuh. Kepalanya menggeleng-geleng, beberapa kali Michael memukul wajahnya berharap ini mimpi.
BUGH...BUGH...BUGH...BUGH...BUGH...
Max yang tidak tega segera melerainya. "Signore, signore, berhentilah" Max memegang tangan Michael. Air mata Michael mulai meluruh.
"Argh, f**k," Michael tersungkur diatas lantai sembari mengumpat. Kini gadisnya tidak ada lagi. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya.
"Signore, signore, signore, kumohon sadarlah, jangan lemah seperti ini" Max berusaha membangunkan Michael yang kondisinya teramat terpuruk.
Michael menepis tangan Max kasar. Kali ini ia tidak mau diganggu. Hidupnya sudah tidak ada lagi cahaya penerang. Letak cahaya penerangnya terletak di hati gadisnya. Michael terisak di sana. Kini tak ada harapan lagi yang ia bisa lakukan, kecuali mencarinya. Tapi jika mencarinya, butuh memakan waktu yang lama untuk menemukannya. Michael tersungkur dengan keadaan sangatlah kacau.
•Tamat•
__ADS_1
Yuk jika ingin informasi selengkapnya tentang cerita novel Love Of A Mafia Italia, silahkan masuk ke GC author. Bagaimana perasaan kalian setelah membaca cerita ini? Komen yaaa....
Akhirnya tamat juga. Jika ingin info selengkapnya tentang novel ini, silahkan bergabung ke GC author.