
•Buona Lettura•
"Hiks...hiks...hiks...jangan..." Cilla menangis saat rambutnya ditarik paksa. Mereka membawa Cilla ke ruang tamu dengan menghempaskan tubuhnya secara kasar. Cilla meringkuk dibawah sana. Pria-pria itu mulai mengeluarkan senjata mereka di balik celana.
Cilla mual melihat pemandangan yang sangat menjijikkan. Ukuran senjata mereka tidak ada yang menarik kecuali senjata Michael.
"Kemari!" bentak salah satu pria itu menarik kasar lengan Cilla.
"Puaskan kami dan layani kami, kau tembak wanita brengsek itu!"
DOR...
Bibi May lansung mati ditempat saat peluru tersebut menembus kepalanya. Harrison terkejut menatap pembunuhan secara brutal. Mafioso Harrison dijebak habis-habisan dan dibantai tak tersisa. Kini yang tersisa hanya Cilla dan Harrison. Harrison mencoba melepaskan ikatan tali yang melilitnya untuk membantu signora Cilla. Namun upaya itu selalu dibatalkan oleh para penjahat yang mengetahuinya.
"Hiks...hiks...aku...tidak...hiks...mau..." Cilla memberontak saat pria bertubuh gemuk hendak melecehkannya.
PLAK...
"Jaga mulutmu ******, perkenalkan namaku Blood, mafia berasal dari Italia" ucap pria itu bernama Blood.
"Aku tidak sudi mengingat namamu, pria jelek" Cilla mengeluarkan sumpah serapah nya. Dengan cekatan Cilla menendang keras senjata kecil milik pria tersebut.
BUGH...
"AAA..." Blood terjungkal kebelakang akibat tendangan keras itu.
"Diam kau" lengan Cilla di cekal kuat. Para anggota Blood mengikat tangan Cilla dengan rantai besi.
"Lepaskan aku, kyaa" tubuhnya dibawa melayang selanjutnya di lempar begitu saja.
SREKKK...
Mata buas mereka menyalang. Tubuh mulus, putih, dan berisi itu berhasil menghipnotis mata mereka. Cilla memberontak, namun sayangnya mulutnya di tutup oleh tangan mereka.
"Umh...Umh...Umh..."
"Kita masuki saja ramai-ramai, bagaimana" usul salah satu dari mereka. Mereka mengangguk sepakat atas usulan itu. Sedangkan pemimpin mereka dibiarkan saja berteriak kesakitan.
Cilla berhasil ditemukan saat para anggota Blood mengobrak-abrik isi mansion menjadi kapal pecah. Yang pertama ditemukan adalah bibi May yang mencoba melawan mereka dengan kayu. Namun naas, bibi May dipukul kemudian diperkosa ramai-ramai disana. Cilla berteriak histeris menatap bibi May yang menyuruhnya untuk pergi. Cilla enggan pergi dari tempat ini. Tapi Cilla dibawa paksa ke ruang keluarga.
"Ahh...aku sudah tidak sabar memasukinya" pria itu berucap. Setelah berucap pria itu mengarahkan senjatanya kedalam milik Cilla. Cilla terus memberikan perlawanan sekuat tenaga. Karena pria itu kesal. Pria itu menahan kaki Cilla dan menguncinya dengan tali.
"Aku memasuki lewat anusnya" Cilla dibuat menungging hingga harus berhadapan dibawah pria menjijikkan itu.
"Siap, kita lansung hentakkan saja" serunya.
Harrison terus berdoa di dalam hati berharap ada keajaiban yang datang dan menyelamatkan mereka.
Saat hendak masuk tepat di pinggir bibir vagi** dan anus Cilla. Sebuah keributan yang berasal dari luar dengan suara senjata-senjata nampak ribut.
"Sial ada penyu-"
BRAK...
DOR...DOR...DOR...DODORR...DUAR...BUGH...
"Serang!"
Semua pasukan Blood ditumbangkan secara tiba-tiba yang tidak tau datangnya darimana. orang yang berteriak itu adalah Romeo Kingston sang pemimpin mafia Cosa Notra dari Italia dan Polandia.
"Sikat semuanya" Romeo memberondong mereka dengan peluru-peluru AK-47.
__ADS_1
Saat tubuh pria gempal itu tak bernyawa. Cilla mengambil selimut yang tergeletak di sofa. Ia meringkuk dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuh polosnya.
"Dasar kau" tunjuknya tak terima. Mendengar umpatan itu Romeo menoleh dan menghantam pria gemuk itu ke lantai.
"Diam brengs*k," maki Romeo, muka bengis nya siap menyiksa pria dibawahnya saat ini. Romeo berambisi akan menghabisi orang tidak tau untung ini.
"Akan kubawa kau ke markas hiu ku" ancam Romeo.
"Tuan mereka semua sudah kami hajar" lapor salah satu mafioso.
Romeo menoleh, "Good, kau bawa pria hina ini ke markas Cosa Notra, aku akan memutilasi tubuhnya dan memberikannya ke para manusia kanibal."
"Baik tuan" tuturnya menurut. Segera menyeret pria itu.
"Blood, apa kabarmu?" tanya Romeo basa-basi.
Blood meringis ngilu merasakan sakit di bawah. Blood ingin berkata, namun suaranya tercekat oleh ringisan. Blood hanya bisa diam saja.
"Dasar bodoh, kau penghianat anggota mafia Cosa Notra dan Morrone" ucap Romeo menyerang Blood dengan ucapan.
"Dan" Romeo berjongkok. "Aku akan mengirim kau ke kandang hiu ku bersama si hina itu" tunjuk Romeo. Blood terkejut melihat anggotanya tengah dihajar habis-habisan oleh sekelompok Cosa Notra.
"Dan kau harus menembus dosa-dosamu, apa kau masih ingat tidak, waktu itu kau mencelakai Sellaku yang sedang mengandung anakku dengan menyuruh anak buahmu menabraknya, alhasil Sellaku selamat"
"Aku tidak akan mengampunimu Blood, siksaan harus dibalas kembali siksaan. Aku harap kau menyukainya, Max bawa si bangka ini ke markas!" teriak Romeo yang baru saja beranjak berdiri dari jongkoknya.
"Siap tuan" patuh Max membopong tubuh gemuk Blood.
Romeo menatap sekelilingnya, bila diceritakan mengenai keadaan sekarang sangatlah mengerikan. Kaca pecah, darah bersimbah dimana-mana, bekas peluru dan amunisi berceceran, mayat-mayat berhamburan dimana-mana, dan lebih sadisnya seorang wanita yang keadaannya sangat mengenaskan. Romeo hanya menunduk sembari menghela nafas.
Romeo mendapatkan ponselnya bergetar. Tangannya merogoh meraih ponsel didalam sakunya. Saat menghidupkan layar nama Michael terpampang.
"Romeo, tolong cari gadisku."
"Tenang saja signore Michael, aku akan mencarinya."
"Baiklah aku tunggu kabarnya."
Pandangan Romeo melihat ke segala arah untuk menemukan sebuah objek yang tengah ia cari. Mata tajamnya terus fokus melihat suatu objek yang dapat dijadikan sebagai peta. Saat pandangannya beralih ke ruang tamu.
Sebuah selimut yang nampak membungkus tubuh seseorang. Romeo bisa melihat jelas. Kakinya melangkah menghampiri objek yang memancingnya untuk menjenguk. Perlahan Romeo memegangnya.
"Kyaa..." teriak Cilla memberontak disana tanpa menujukkan wajahnya.
Romeo terkejut, lalu membuka selimut itu paksa.
SREK...
"What?" mulutnya ternganga, kali ini matanya ternodai oleh seorang gadis yang sangat mirip dengan Sella istrinya. Hanya saja dari bentuk wajahnya dia seperti orang Asia.
"Dasar cabul..." Cilla beringsut mundur memegang selimut sebagai pelindung tubuhnya dari mata pria jelatan.
"Hey, hey, aku tidak cabul" ucap Romeo tak terima disebut cabul.
Cilla mendengus sebal. "Lalu apa bedanya?" tantang Cilla.
Romeo begitu kesal, seorang mafia kejam ditantang gadis ingusan sangatlah lucu. Romeo memilih bermain bersama gadis ini. Bahkan ia saja lupa perintah dari raja mafia Italia.
"Aku ini mafia kau tahu."
"Siapa?"
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Romeo bingung.
"Yang nanya, wlee" Cilla menjulur lidahnya.
"Ka-"
KRINGGG...KRINGGG...KRINGGG...
Romeo mengambil ponselnya. Tanpa membaca nama siapa yang menelponnya Romeo mengangkat tombol hijau.
"Ciao bastardo" sapa Romeo menggunakan umpatan kasar Italia.
"Hey bedebah sialan, kau tidak ada sopan santunnya signore Cosa Notra."
"Michael" mendengar nama prianya Cilla hanya diam dan sembari mendengar percakapan telepon antara dua pria.
"Bene, bagaimana? Kau sudah menyelamatkan gadisku?" tanya Michael tak sabaran.
"Gadis, aku hanya menemukan satu gadis menyebalkan" ucap Romeo asal.
Michael melotot mendengar sebutan gadis menyebalkan.
"Hey bodoh, apa kau diajari tentang tata krama, kau mengejekku gadisku, beri ponselmu padanya saat ini!" titah Michael.
"Hey"
"Jangan membantah, atau aku akan melaporkan keburukannmu kepada istrimu" ancam Michael.
Terpaksa Romeo mengalah, ia menyodorkan ponselnya ke gadis itu.
"Ini, dia mencarimu."
"Kau pikir aku bisa memegangnya jika tanganku seperti ini" Cilla menujukkan kedua tangannya yang terikat.
Romeo mendengus sebal. "Baiklah" Romeo membuka tali rantai yang terbuat dari besi.
"Selesai" Romeo menaruh rantai itu disampingnya, tapi dia akan membawa rantai ini untuk mengikat istrinya nanti di atas ranjang, agar lebih menantang seperti di film fifty shades.
Cilla merampas ponsel Romeo. Ia letakkan di telinganya.
"Halo" ucapnya lembut.
"Cilla! Syukurlah kau selamat, tunggu aku baby girl, aku akan menjemputmu dan membawamu ke tempat aman, bertahanlah disana, tunggu aku sayangku." baru saja Cilla menyapa, suara khawatir dan cemas itu.
"Aku tak apa Miki, jangan khawatirkan aku," Cilla tidak mau memberitahu keadaan saat ini. Ia takut Mikinya tidak fokus olehnya. Maka dari itu ia menyembunyikan hal ini dulu. Jika sudah pulang baru menceritakan semuanya.
"Bagaimana aku tidak khawatir, aku menyesal meninggalkanmu disana, maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendirian, aku sedih melihatmu dalam bahaya, seharusnya aku membuatmu selalu tersenyum setiap hari."
"Tunggu aku, setelah ini aku akan membawamu ke lautan Karibia."
"Iya Miki, sudah jangan terlalu khawatir seperti itu, aku sudah aman oleh pria baik ini, saat ini aku bersamanya."
"Ohh itu, dia Romeo, aku menyuruhnya membantumi tadi."
"Benarkah? Terimakasih Miki" Cilla bernafas lega, ternyata Michael masih peduli padanya.
"Tentu, tunggu aku, jangan kemana-mana."
•Continua•
Ada yang masih ingat dengan tokoh barusan? Sengaja author dimunculkan tiba-tiba. Dan jangan lupa yang belum mampir ke cerita Author yang baru berjudul Love In London. Disini menceritakan seorang pembalap liat London hidup sederhana bertemu dengan gadis asia bernama Noora Biel di kampus. Jika penasaran sama ceritanya silahkan mampir, yuk bantuu vote dan share agar author bertambah semangat update.
__ADS_1
ini cover ceritanya, jangan lupa pada mampir, salam hangat dari romanziere Italia 🇮🇹