
•Buona Lettura•
"Apa yang akan kita lakukan Michael?" tanya Bean, saat ini mereka sedang berada di atas gedung New York. Bean membidik para mafioso Amerika menggunakan scope.
"Terus pantau, jangan sampai lengah!" sahut Michael yang fokus pada drone yang ia kendalikan melalui layar monitor.
Michael dan Bean melakukan misi berdua, sedangkan para mafioso, mereka menyamar menjadi petugas pembersih hotel sembari melaporkan keadaan sekitar. Michael terus sibuk menjawab satu per satu laporan dari mafioso.
"Michael berikan aku koordinat" pinta Bean.
"Arah pukul 12 tepat sasaran 1A" Michael memberi titik koordinat tertentu.
"Baiklah" Bean mengarahkan scope nya tepat di kepala para mafia Amerika yang sedang berbincang, mereka berbincang-bincang sembari melakukan transaksi obat-obatan.
Jari Michael sibuk mengetik sesuatu. Inilah pekerjaan seorang mafia meski nyawa harus dikorbankan demi kepentingan kelompok atau organisasi agar menjadi berkembang pesat dan disegani di seluruh dunia. Michael mengirim dua helikopter untuk menutup semua jalur keluar hotel itu.
"Kau menemukan seorang pemimpin?" tanya Michael dengan pandangan fokus kearah layar.
"Sepertinya tidak, mungkin dia sedang menonton film the blue" jawab Bean disertai kekehannya.
"Astaga, hahaha" Michael tertawa hambar mendengar jawaban temannya.
Michael kembali fokus. Drone yang sedang ia kendalikan memutar gedung hotel. Banyak para jal*ng murahan mengekspos tubuh indah mereka. Michael sudah lama tidak mencicipi lubang longgar, sekarang ia mencicipi lubang sempit. Michael terus menjalankan dronenya dengan sedikit mendekat area musuh. Para musuh sibuk meminum alkohol sambil berjoget kesana-kemari di bawah kesadaran.
Michael menggunjingkan senyumnya. Kesempatan ini perlu di gunakan sebaik mungkin agar tetap berjalan sesuai rencana. Drone Michael kendarai masuk kedalam hotel dan menempel di lift yang ia sengaja sebagai tempat pusat perhatian. Dimana bom itu akan meledak jika Michael menekan tombol merah.
"Sialan, kau meletakkannya di salah sasaran Michael, itu berdampak sangat bahaya" Bean melihat drone itu menempel tepat di atas lift melalui scopenya.
"Bukankah itu berdampak baik bagi mereka, ayolah tanpa kekerasan misi tidak akan berjalan sesuai ekspetasi" ucap Michael yang saat ini sedang memainkan tombol merah.
"Ck, kau selalu membunuh korban" ucap Bean sedikit mencibir.
"Berhentilah berbicara, bidik musuh sebelum mereka masuk ke dalam liang longgar!" sinis Michael lalu kembali fokus. Sedangkan Bean terkekeh mendengarnya, mana ada mereka bisa masuk ke dalam liang perempuan yang sedang berjemur bersama teriknya matahari. Bahkan tanpa rasa malu mereka melakukan se*s dengan satu wanita dan lima pria. Sungguh negara ini sangat kacau dibandingkan dengan negara lain yang memiliki rasa malu bila melakukan berhubungan intim di tempat umum.
Michael mendapatkan laporan tentang keberadaan pemimpin mafia Amerika yang sedang berjalan masuk ke dalam hotel. Saatnya menjalankan aksi. Michael sengaja mengalihkan perhatian para FBI agar tidak mengacau pusat tempurnya nanti.
"Saatnya kita bertempur Bean" Michael mengeluarkan senapan laras panjang miliknya yang berasal dari Jerman yang terkenal dengan satu peluru tembus lima nyawa dalam satu detik.
"Kematian akan menyertaimu" ucap Michael dalam hati. Ia ingin masalah ini cepat selesai tanpa ada lagi dendam atau musuh yang mengusik kebahagiaannya bersama istrinya dan anak-anaknya nanti.
"Signore! signore! Musuh menembaki helikopter" lapor salah satu mafioso.
Spontan Michael mencari-cari musuh itu. Matanya terus melirik setiap sudut. Dan tak sengaja ia melihat seorang penembak jitu yang menembak dari atas gedung. Jarak Michael dengan penembak itu berjarak 800 meter. Michael membidik kepala penembak itu.
DORRR...
Satu peluru berhasil menumbangkan satu nyawa, penembak itu mati di tempat, untung saja Michael menggunakan peredam suara sehingga suara tembak tidak terdengar sama sekali. Radius yang dapat Michael jangkau dengan kemampuan kecepatan angin yang mengatur kecepatan peluru hingga tepat sasaran.
"Apa yang kau tembak bedebah? Burung atau nyamuk?" tanya Bean, scopenya mengalihkan sasaran yang menjadi pusat perhatian.
"Tidak ada, jangan mengubah bidikan, tembak yang ada di hadapanmu, aku pergi dulu, kawal aku dengan senjataku" pamit Michael pergi meninggalkan Bean seorang diatas gedung.
__ADS_1
"Aku akan melindungimu Michael" ucap Bean dalam hati dan penuh keyakinan.
_________________________
Michael berjalan sedikit cepat. Michael menarik topi jaketnya tak lupa dengan masker sebagai penyamaran. Michael mencari sasaran yang ia cari-cari. Kakinya melangkah mendekat menuju meja resepsionis.
"Permisi, apa kau mengenal orang ini" ucap Michael menunjukkan sebuah foto yang bergambar wajahnya sendiri.
Resepsionis itu menoleh, berjalan mendekat seorang pria yang sedang menunjukkan sebuah foto. "Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan mata yang berusaha melihat jelas wajah di dalam foto itu.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Michael kembali.
Mata resepsionis itu menatap tidak percaya, Ia mengenali pria berwajah Italia tersebut. "Tidak, tapi jika ingin menanyai orang ini, tuan bisa menanyakannya kepada penjaga yang sedang berdiri sebelah sana" resepsionis itu menunjukkan seorang penjaga, tapi Michael mengetahuinya, itu bukan seorang penjaga melainkan seorang mafioso bertugas menjaga sekitar. Nama penjaga tersebut hanyalah nama embel-embel sebagai pengecoh.
"Baiklah terimakasih" ujar Michael, kemudian berjalan mendekat kearah orang itu.
Tangannya di masukkan kedalam saku guna mencari tombol peledak. Jarinya tak sengaja menyenggol sebuah benda kecil dengan penasaran ia menggenggamnya sembari melangkah. Dan ia berhasil mendapatkan sebuah remot kecil dengan tombol merah di tengah-tengah. Michael menekan tombol itu.
DUAR...
TET...TET...TET...TET...TET...
Alarm siaga berbunyi nyaring. Para penjaga berlari-lari mengecek keadaan sekitar. Michael tersenyum melihat penjaga itu lansung berlari ke tempat terjadinya ledakan. Lagi-lagi kesempatan berhasil Michael raih dengan mudah.
"Ledakkan jalur A dan B, lenyapkan semua mafioso bagian jalur A dan B!" titah Michael melalui sebuah alat semacam telepon.
Michael berjalan menuju lift yang isinya lumayan penuh.
Lift tertutup sempurna, saatnya naik menuju lantai sesuai kehendak orang-orang. Michael sengaja berdiri paling belakang dari seluruh barisan. Keberuntungan berada di pihaknya. Saat ini Michael menyandar dekat dengan dinding lift ditambah orang-orang yang saling merapat sehingga kamera CCTV tidak bisa melihat hal yang mencurigakan.
Michael menempatkan empat jalur lift yaitu A, B, C, dan D. Sisanya tangga darurat ia gunakan sebagai pancingan.
Tangannya mengeluarkan sebuah alat peledak dan menempelkannya di tempat yang seharusnya meledak. Michael tersenyum dibalik masker ia kenakan. Saatnya ia keluar dari zona terlarang.
Lift berhenti di lantai dua. Hanya Michael dan dua mafioso yang keluar. Dua mafioso itu berjalan ke kanan sedangkan Michael ke kiri.
Saat lift tertutup dan keadaan sekitar sedang sepi. Michael membalikkan tubuhnya dan menembak dua mafioso itu.
DOR...DOR...DOR...DOR...
Empat peluru berhasil membuat mafioso itu terkapar di lantai dengan bersimbah darah.
"Maaf aku tak sengaja."
Michael berlari meninggalkan lokasi penembakan menuju kamar mandi.
"Michael, bagaimana keadaan sekitar?" tanya Bean yang sedari tadi mencari Michael namun tak menemukannya.
"Aman, kau cari penembak yang menghadang jalur B! Karena liftnya sudah kurusak bersama jalur A" jawab Michael sembari memberikan perintah.
CEKLEK...
__ADS_1
Michael membuka pintu kamar mandi wanita. Ia sengaja untuk di gunakan sebagai tempat persembunyian.
"Baiklah Michael" ucap Bean kemudian membidik sekitar jalur B.
Michael menelpon satu mafioso.
"Ciao, ledakkan jalur A dan B, kirim para mafioso yang saat ini mengenakan penyamaran ke jalur C dan sebagiannya ke jalur D. Sterilkan jalur C terlebih dahulu, dan runtuhkan jalur A dan B!" perintah Michael lalu mematikan sambungan.
DODODODORRRRRRRR........
Bunyi senapan serbu menyerbu tempat persembunyian Michael. Michael memasukkan kembali ponselnya dan menyiapkan senjata.
"Mari kita lakukan tarian koboi Meksiko kalian bedebah."
Michael melemparkan granat kearah mereka.
DUG...
DUAR...
AAAA...
TAP...TAP...TAP...TAP...
Michael berlari saat granat yang ia lempar berhasil meledak dan meninggalkan tempat tadi ia bersembunyi.
DUAR...DUAR...DUAR...
Untungnya Michael berhasil berlari menuju jalur D. Jalur A dan B berhasil dilenyapkan dalam waktu sekejap.
BUGH...
Satu pukulan mengenai wajah Michael. Tubuhnya terjungkal ke samping. Michael mendesis marah. Matanya menatap ke samping. Ia melihat seorang mafioso yang memukulnya tadi.
"Dasar bedebah, akan kubuat kau menjadi tepung terigu" geram Michael. Ia berusaha berdiri untuk membalas pukulan mentah itu.
BUGH...TAP...BUGH...
Michael meninju seraya menendang lutut kaki mafioso itu. Yang ia lawan kini adalah seorang bodyguard.
Dalam posisi siap Michael bersiaga penuh dengan kuda-kuda. Sepertinya ini menyenangkan sekaligus menantang.
BUGH...BUGH...BUGH...
Tiga pukulan berhasil mengenai wajah bodyguard itu. Michael mendekat dan menendang kuat tepat di dada bodyguard tersebut. Bodyguard itu terjatuh ke belakang.
Michael mengeluarkan pistolnya dan menembaknya.
"Hari yang sialan untukmu bodyguard bodoh.".
•Continua•
__ADS_1
Bagaimana setelah membaca capitolo ini? Jangan lupa komen yaa...