Tamat

Tamat
Capitolo 35: Strage Di Membri 3


__ADS_3

•Buona Lettura•


DOR...DOR... DOR...DOR... DOR...DOR...


"Jangan bertindak bodoh" Michael menembak semua musuh disana dengan brutal. Setelah menembak semuanya, Michael memegang lengan Bean sebelum bertindak ceroboh.


Bean yang hendak menarik pelatuk, tiba-tiba sebuah telapak tangan nampak asing memegang tangannya. Ia sangat mengenali tangan ini, dimana tangan ini selalu menggenggamnya ketika bersama Mario dan Michael. Apa dia sudah di surga bersama orang tuanya dan Mario? Bean terus memenjamkan mata, kini pistol yang ia genggam terlepas begitu saja di atas lantai.


"Hey buka matamu bodoh, jangan menjadi pecundang" ejek Michael sembari menepuk keras pundak Bean, yang mana Bean lansung membuka matanya. Ia memandang sekeliling, tak sengaja ia menemukan mayat-mayat yang bersimbah darah dan Michael tepat berdiri di sampingnya yang terus mengoceh kearahnya.


Pikiran Bean terus berputar mana yang nyata mana yang tidak. Ia menganggap ini tidak nyata, bahkan ia ketawa kencang seolah-olah ini mimpi buruk, yang mana membuat Michael heran dengan temannya. Segera Michael meninju rahang Bean, dengan cara ini Bean pasti kembali sadar.


BUGH...


"****" pekik Bean mendapatkan sebuah pukulan mentah. Ia menoleh ke samping. Dimana seorang pria tinggi menjulang sedang mengoceh tak jelas padanya. Mata Bean menyipit guna memperjelas bentuk wajah itu. Matanya terbelalak melihat Michael berdiri di depannya mengoceh tidak jelas.


"Hey bedebah, kau membuatku menunggu lama! Dan kau malah menyantai tidak jelas seperti ini! Kau ingin mati huh! Jika aku tak disini" Michael berhenti sebelum mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, ia sadar bahwa dia hampir saja memaki temannya. Seharusnya ia bersabar. Sejenak ia menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Emosi dapat membuatnya terbawa arus yang berpusar pada egonya yang menguasai seluruh tubuhnya untuk melakukan hal menyakitkan.


Michael lansung memeluk tubuh Bean, bukan homo tapi sebagai pelukan seorang teman. Bean yang terkejut mulai berdiri, namun Michael masih diam dalam posisinya. Bean turut membalasnya. Mereka saling berpelukan mencurahkan semua rasa pertemanan sejati ini.


"Bean jangan tinggalkan aku, cukup Mario yang pergi, siapa yang akan mau berteman denganku?" Michael melepaskan pelukannya, menjauhkan sedikit tubuh Bean dan memegang kedua pundak Bean dengan erat. Air mata Michael mulai terpancar bersama bulir-bulir keringat.


Bean bersyukur, Michael menyelamatkannya, harusnya tadi ia tidak melakukan hal bodoh itu. Ingin sekali dirinya di tampar keras. Betapa bodohnya manusia membunuh nyawanya sendiri tanpa alasan yang kuat dan sebab yang kuat.


Bean merasa menyesal. Hampir saja ia lupa temannya berteriak kesakitan disana membutuhkan pertolongannya. Sedangkan dirinya, dengan bodohnya melakukan hal yang terlarang.


"Bean, kenapa kau melamun, kau tak apa?" tanya Michael seraya menepuk pelan rahang tegas itu.


Bean tersadar dari lamunannya, Bean menatap iris coklat itu yang dimana memancar indah seperti matahari yang hendak tenggelam bersama lautan indah.


"Terimakasih Michael, kau adalah teman sejatiku, maafkan aku" ucap Bean menyesal sedikit terisak.


"Tidak perlu meminta maaf, kau tak melakukan kesalahan sedikitpun, dan aku mohon jangan melakukan hal bodoh itu kembali, hanya Tuhan yang bisa mencabut nyawa kita" Michael menasihati temannya dengan baik-baik. Bean menerima nasihat temannya dengan lapang dada. Mereka saling melemparkan senyum.


"Hey you!" teriak salah satu musuh mulai menemukan sebuah mangsa. Mereka hanya bersenjata kayu bisbol saja. Sangat mudah untuk dikalahkan oleh Michael dan Bean, bagi mereka hanya seonggokkan tikus berlari.

__ADS_1


Michael dan Bean menoleh. "Mari kita habisi mereka dan menuju kedamaian." Michael dan Bean mulai beraksi.


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


"Rasakan itu bedebah sialan" ejek Michael terus menembak mereka. Bean pun tak mau kalah, ia pun turut ikut dalam ajang menembak bedebah sialan. Ia mengambil senapannya.


Para musuh terkejut melihat mereka membawa senjata pistol. Mereka mulai mundur. Namun naas nyawa mereka menjadi sasaran senapan Italia.


"Hey, hey, hey, jangan kabur, aku belum menembak bokong kalian" Bean mengejar mereka.


DOR...


Satu peluru berhasil menjadi sasaran pembakaran bokong, yang mana membuat bokong musuh menjadi gosong seperti rendang gosong.


"Hahaha, bokongmu seperti kecoa terbakar, rasakan itu, hahaha!" Bean tertawa keras melihat bokong bekas ia tembak gosong dan berasap.


Suara helikopter mulai berdatangan menuju jalur C. Michael dan Bean siap menuju tempat pemimpin mafia 18 th street di jalur C.


"Ayo kita selesaikan" ucap mereka berdua dengan semangat.


_________________________


Cilla menuangkan semua pikirannya kedalam. tulisan. Tangan mungilnya bergerak lincah. Setelah menulis, Cilla kembali melihat sambil membaca semua tulisannya yang rapih.


Setelah menulis cukup lama, Cilla beranjak dari kursi meja milik Michael dan berbaring di atas ranjang yang empuk dengan harum parfum pria yang menyeruak hidungnya. Cilla menenggelamkan wajahnya dan menghirup semua parfum itu. Cilla mengambil guling yang berukuran besar dan panjang.


"Aku merindukanmu Miki" Cilla memeluk sebuah guling dan membayangkan Michaelnya sedang berbaring bersamanya.


Jika mengingat adegan yang mereka lakukan, sungguh membuat Cilla malu sekaligus takut. Matanya sendiri sudah melihat milik pria yang ukurannya tidak perlu di jelaskan, karna tidak akan habis-habisnya jika di jelaskan, sangat malu jika perempuan yang menjelaskannya. Sedangkan Cilla takuti adalah ketika Michael memacu cepat dan Cilla bisa merasakan kejantanan Michael terus menusuk liangnya.


Cilla menepiskan semua pikiran kotor yang terus berputar. Sejenak ia berguling-guling di atas ranjang yang luas untuk membuang semua pikiran kotornya, padahal waktu di desa ia tidak sekotor ini. Cilla berhenti berguling-guling dan menatap ke atas langit-langit kamar.


Cilla mulai mengingat desa lamanya yang sudah ia kunjungi. Ia begitu rindu dengan keindahan desa hijau yang asri. Siapa saja pasti akan terhipnotis dengan pemandangan indah membentang luas. Dimana ia mengingat semua masa lalunya yang kelam, kini digantikan dengan masa depan yang mungkin indah atau kelam seperti dulu.


Cilla tidak menyangka hidup mewah seperti ini, yang tentunya hidup bersama mafia tampan. Ia seakan mimpi dimana ia dibawa ke dalam pusat cinta dan gairah membara. Ini semua gara-gara pria itu yang awalnya Cilla sangat membenci pria itu, namun hatinya berkata. "Jangan membenci pria itu, pria itu adalah tempat cintamu berlabuh." Itulah isi hati Cilla.

__ADS_1


Tapi sekarang beda lagi, semenjak ia diselamatkan oleh pria itu, yang mana membuat benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Lambat laun ia menyukai pria itu, bahkan rasa benci itu hilang begitu saja tanpa ia ketahui.


Itulah kilasan memori Cilla. Tapi kesedihan yang tidak mampu ia obati adalah orang tuanya meninggal karena sakit. Yang mana dulu ayah Cilla bekerja sebagai kepala hansip, sedangkan ibu Cilla bekerja sebagai penjual tomat yang terkenal di desa Cilla. Konon tomat ibunya sangatlah manis dan cantik seperti ibunya cantik dan manis berbeda dengan yang lain.


Cilla selalu diejek oleh teman-temannya disebut anak haram, hina, dan penjual diri. Karena Cilla sangat terkenal cantik di desanya. Yang berhasil membuat mata laki-laki melongo dan meneteskan air liur. Bahkan tidak tanggung-tanggung Cilla di tembak oleh seorang pria tampan dan kaya di desanya, namun Cilla memilih menolaknya. Baginya sangatlah tidak penting. Maka dari itu Cilla tidak pernah mendapatkan seorang sahabat dan pacar di masa sekolahnya.


Tapi untung saja Cilla pintar dalam pelajaran. Sehingga dirinya dapat menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dan kekurangannya terletak pada pikirannya yang polos. Dulu dia tidak sepolos itu sekarang entah kenapa dengan Michael ia bisa takluk dan berlagak polos. Padahal dia sangat berani, bahkan preman saja ia pukul. Apa mungkin efek cinta? Atau pria itu memiliki sejuta pesona sehingga dia tidak berkutik?


_________________________


BUGH...BUGH...BUGH...BUGH...


"Rasakan ini bodoh, kau mengkhianati kami dengan memerangkap kami dengan polisi huh!" Michael terus memukul perut pemimpin mafia Amerika.


"Ampun...hoek...ampun...uhuk..." pria itu memuntahkan darahnya akibat pukulan keras Michael berhasil menumbangkannya.


Bean terus memperhatikan temannya menyiksa orang tanpa manusiawi. Bean bergidik ngeri saat Michael terus memukul orang itu hingga berteriak ampun. Bean merasa iba dengan orang itu, namun apa boleh dia buat, dia hanya tangan kanan Michael.


BUGH...BUGH...


"Dengar bedebah, aku tidak akan membunuhmu, tapi aku akan menyiksamu di neraka" Michael mencengkram leher pemimpin itu dengan cukup kuat, pria itu memukul lengan Michael karena sulit bernapas. Michael melepaskannya dengan kasar dan menampar kuat di wajah yang sudah hancur babak belur.


"Bean! Kita bawa sampah ini ke markas besar. Sekalian kita ke Italia, persiapkan pesawat menuju Italia sekarang!" titah Michael kemudian kembali meninju pundak pria itu.


"Baiklah" sahut Bean.


AAAAAAAAAAAAAA..................


Teriakan kesakitan melantun indah di kandang sendiri.


•Continua•


Bagaimana dengan Visualnya? komen yaaa...


Soalnya author tadi di terima kontrak dan saya sangat berterimakasih kepada kalian semua...jadi author kasih bonus visual, jangan lupa komen visualnya yaa...

__ADS_1



__ADS_2