Tamat

Tamat
Capitolo 37: Atak Niespodziewany


__ADS_3

•Buona Lettura•


"Esspreso tidak ada lawan" Michael menyeruput kopinya. Sejenak ia menikmatinya kemudian kembali meminum.


"Ya, kau benar" Bean meletakkan kembali cangkirnya. Matanya menatap sekeliling memandang orang-orang tengah berjalan di bawah terik matahari, cuaca Italia hari ini panas.


"Apa yang kau lihat?" tanya William, matanya pun turut melihat sebuah objek yang tengah Bean lihat.


"Tidak ada" balasnya kembali menyeruput esspreso.


"Astaga kukira apa" Michael menoleh kembali. Ia mengeluarkan ponselnya dibalik saku. Saat menghidupkan layar, ia dikejutkan oleh pesan dari bibi May.


Signore, hari ini signora Cilla menyiram tanaman tadi pagi, isi pesan itu.


Michael mengangguk ia membalas.


Baiklah terus pantau apa saja yang dia lakukan, balas Michael.


Bean melihat raut wajah temannya serius, dengan rasa penasaran ia bertanya. "Siapa yang kau chatting?" tanya Bean kembali menyeruput esspreso.


"Tidak ada" tanpa menatap Bean, mata Michael terpaku pada ponselnya dengan jari-jari lincah mengetik sesuatu.


"Apa j*langmu?" tanya Bean sembari menebak.


"Bukan" jawabnya singkat terkesan cuek.


"Baiklah" Bean pun turut mengeluarkan ponselnya juga, malam ini ia ingin menginginkan seorang wanita untuk diajak ke ranjang, tapi entah kenapa dia merasa bosan, justru ia mulai kena penyakit Michael yang menginginkan seorang gadis polos. Bean merasa jenuh lama-kelamaan. Ia ingin menanyai perihal tentang seorang gadis, namun sangat malu jika menanyakannya pada Michael. Karena dia selalu mengejek gadis temannya. Akhirnya Bean memilih berjelajah saja di google.


Keheningan yang melanda di antara mereka berdua yang tengah sibuk berselancar dengan dunia ponsel. Michael terus mengetik pesan kepada bibi Zia dan Harrison si kepala pelayan di Polandia. Ia akan kembali ke Polandia sekarang. Sebelum kembali ke Polandia, Michael akan meminta salah satu arsitek terbaik di negara Italia untuk membangun rumah mewahnya nanti di Indonesia. Setelah menikah dengan Cilla, ia akan tinggal di Indonesia selamanya bersama istrinya.


"Bean kita kembali" Michael menaruh uang diatas meja. Dan mengajak Bean kembali, namun Bean masih diam dengan raut wajah serius. Karena Michael penasaran apa yang dilihat temannya, ia pun ikut memilih membaca.


"Hahaha, astaga, kau ini" Michael tertawa melihat apa yang di depan matanya. Bean terkejut mendengar tawa Michael. Segera ia mematikan ponselnya dan menatap tajam Michael.


"Dasar."


"Tak kusangka kau juga ternyata menyukai seorang gadis polos, baiklah aku akan mencarinya untukmu" Michael menunjukkan senyumnya.


"Tidak perlu" ucap Bean menahan kesal dan pergi dari meja cafe tanpa mengajak Michael.


"Hahaha, aku akan membayar untukmu" menaruh dua lembar uang kemudian menyusul Bean.


________________________


Cilla merasa bingung antara memakainya atau tidak. Dua pilihan itu sangat menyulitkan dirinya. Bahkan sabun miliknya saja tidak tau kemana. Yang ada hanya sabun pengencang di kamar mandi ini dan sisanya sabun milik Michael. Cilla merasa aneh mendengarnya, sebenarnya ia tidak terlalu mengerti, tapi semenjak membaca tulisan vulgar itu Cilla enggan memakainya.


Karena di landa perasaan bingung. Akhirnya Cilla memilih memakainya saja. Tidak lupa membaca cara pemakaiannya. Setelah membacanya, pipinya memerah.


"Ahh pakai saja" Cilla mengambil sabun pengencang tersebut dan menuangkannya di telapak tangannya. Tangannya mengusap lansung kearea seluruh tubuhnya, tidak lupa bagian sensitifnya pun turut dibaluri sabun itu. Sedikit memijat membuat Cilla teransang dan mengingat sentuhan Michael yang begitu lihai. Entah kenapa dirinya sangat merindukan Michael menyatu bersama dirinya.


Cilla mengusap lembut bagian sensitifnya, dan tidak sengaja satu jari mulai masuk kedalam liangnya. Gerakannya hanya mendorong lalu keluar lagi.

__ADS_1


"Uhh...Miki...uhh...lebih...uhh...dalam...lagi..." racau Cilla membayangkan imajinasi Michael sedang bersamanya.


Tangannya terus mengocok dan Cilla mulai mendekati *******, rasanya sangat tertahan ingin dikeluarkan, namun karena sudah tidak tahan lagi, Cilla mempercepat gerakan jarinya.


"Ahh...ahh...Miki...ahh...ahh...ahh" ia menjerit saat cairan orgasmenya menyembur deras. Cilla merasa lemas setelah melakukan itu, tapi rasanya sangat nikmat dan menginginkan kenikmatan itu kembali. Kesadarannya berhasil dikuasai oleh gairah.


DUK...


"Aw" Cilla mengaduh sakit, kepalanya terpentuk oleh dinding kamar mandi. Inilah akibat terlalu memikirkan hal yang menjerumus ke aneh-aneh.


Karna tidak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, secepatnya Cilla membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat.


_________________________


"Bibi" sapa Cilla yang baru saja mandi.


Bibi May menoleh ke sumber suara, terlihat seorang gadis mungil turun dari tangga yang memakai pakaian tidurnya yang bergambar kucing lucu.


"Signora, apa anda mau makan?" tawar bibi May menyiapkan dua mangkuk sup di meja makan.


Cilla mengangguk mau. "Bibi sudah makan?" tanya Cilla yang dalam artian menawarkan.


"Sudah" jawab bibi May seraya tersenyum.


"Baiklah, Cilla makan dulu, selamat makan" Cilla menghampiri meja makan. Satu mangkok sup hangat mengepul bersama asap-asap.


DOR...DOR...DUAR...


NIT...NIT...NIT...NIT...NIT...


DOR...DOR...DOR...


Cilla segera beranjak dari meja makan.Suara tembakan begitu keras mengejutkan seseorang di dalam mansion yang arahnya berasal dari luar. Cilla memilih berlindung di dapur bersama bibi May.


"Cilla, Cilla, kemari, ikut bibi melewati terowongan ini" bibi May membuka sebuah pintu rahasia yang selalu digunakan ketika ada orang yang menyerang.


Cilla mengangguk, dia sangat ketakutan mendengarnya, ia menuruti perintah bibi May masuk kedalam sana. Setelah dirinya masuk barulah bibi May masuk dan menutup kembali pintu tersebut.


Sedangkan diluar sana Harrison terus berupaya menjaga bersama para mafioso menahan serangan musuh yang tidak dikenal sama sekali.


DOR...DOR...DOR...DOR...


Harrison mengalihkan perhatian musuh sembari memancing tembakan kearah mereka, dengan begitu perhatian mereka menuju pada Harrison seorang. Dan mafioso menyerang mereka dari arah belakang.


Namun cara itu tidak berhasil. Mereka memutar arah sehingga pintu belakang di bobol habis. Harrison mengisyaratkan sebagian diluar sebagian ikut kedalam bersamanya. Mereka mengangguk dan masuk ke dalam sana. Sedangkan yang diluar melaporkan kejadian saat ini.


DOR...DOR...DOR...


"Kalian masuk dan bom jalur belakang, lindungi signora Cilla dan bibi May!" titah Harrison mengambil langkah tindakan tegas. Mereka semua mengangguk paham. Harrison bergerak menuju ruang keluarga.


"Sial mereka sudah tiba."

__ADS_1


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


"Granat!" teriak Harrison.


"Rasakan ini bodoh" ucap salah satu mafioso melempar granat kearah musuh.


DUAR...


"Maj- ****" Harrison kembali bersembunyi mendapatkan sebuah tembakan dari musuh.


"Harris apa yang kita lakukan sekarang?" tanya salah mafioso yang tengah merunduk melindungi diri dari lontaran peluru melayang.


Harrison nampak berpikir, jika dia menyuruh mafioso maju itu hal yang sangat tidak mungkin, namun jika dia memutar balik serangan ke pintu belakang, mungkin itu berhasil.


"Kirim beberapa orang ke jalur pintu belakang, kau dan aku ikut menyelamatkan signora Cilla dan bibi May, cepat laporkan!"


Mafioso itu mengangguk. Ia menghubungi mafioso lainnya yang sedang berjaga diluar.


"Ciao, kirim sebagian pasukan ke jalur pintu belakang!"


DUAR...


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


DOR...


"Argh!" pekik Harrison kesakitan, satu peluru berhasil menembak lengannya.


"Harris!"


_________________________


"Fu*k" umpat Michael setelah mendapat laporan dari Polandia. Mansionnya diserang oleh sejumlah mafioso yang tak dikenal.


"Kau kenapa?" tanya Bean. Saat ini mereka sedang dalam menuju perjalanan ke Polandia, tadi Michael memesan salah satu arsitek terbaik di Italia dan mengirimkan beberapa mafioso untuk mengawasi perkembangan mansion impiannya di Indonesia.


"Kita diserang...argh" ucap Michael frustasi, tangannya mengepal kuat menahan emosi. Michael tidak habis pikir. Sejenak ia menghirup nafas, jika dia emosi maka semua masalah tidak dapat diselesaikan dengan secara mudah.


"Tenang Michael, kita bisa melakukannya" ujar Bean menenangkan temannya.


Michael menoleh. "Bagaimana bisa aku tenang, sedangkan di sana calon istriku sedang dalam keadaan bahaya."


Bean tahu apa yang dialami temannya saat ini. Bean mengusap pundak temannya agar rasa panik itu sedikit tenang. Michael hanya diam, pikirannya mulai kemana-mana. Tapi ada satu cara untuk menghancurkan mereka. Yaitu meminta bantuan mafia Polandia.


Michael sepakat atas pikirannya yang cemerlang. Michael menghubungi anggota mafia Polandia untuk meminta bantuan dan ia akan memberi sebuah imbalan besar.


"Bean hubungi anggota mafia Polandia" Michael menyodorkan ponselnya pada Bean


Bean lansung menerima, dia menekan nomor yang akan ia hubungi.


Bertahanlah Cilla, aku akan segera datang.

__ADS_1


•Continua•


Bagaimana setelah membaca capitolo ini? Jangan lupa komen yaaa...


__ADS_2