Tamat

Tamat
Capitolo 34: Strage Di Membri 2


__ADS_3

•Buona Lettura•


DOR...DOR...DOR...


"Bean, kau masuk lewat jalur C, panggil sniper jarak jauh menggantikan posisimu sekarang!" titah Michael lalu kembali menembak semua musuh.


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


Michael terus menembak musuh-musuh yang saling berdatangan, lantaran ia sendiri yang menghadapinya. Para mafioso lainnya berusaha menyerang jalur D sebagian itupun baru sebagian belum lagi kesananya.


DOR...DOR...DOR...DOR...


Michael maju berlari sembari memegang senapan.


DOR...DOR...DOR...


"Makan ini bedebah sialan!" sinis Michael melempar sebuah bom granat ke arah musuh yang berhamburan berdatangan.


DUAR...


"AAA...AAA...AAA...AAA...AAA..." teriak nyawa orang-orang itu yang menjadi sasaran keganasan ledakan bom granat.


"Saatnya beraksi" Michael kembali berlari membunuh semua musuh. Ia bersembunyi di balik tembok.


DOR...

__ADS_1


"****" pekik Michael kesakitan saat peluru berhasil menyeret sedikit pundaknya, meskipun efeknya tidak berdampak buruk, namun rasa panaslah yang menggantikan rasa sakitnya.


Michael melempar bom asap kearah musuh. Sangat tidak mungkin jika Michael melawan semuanya, ditambah amunisi semakin menipis akibat digunakan. Sehingga Michael harus memikirkan berbagai cara untuk lolos dari jalur C dan berlari ke jalur D.


Bom asap mulai menutupi semua penglihatan para musuh. Michael melihat sedikit di balik celah tembok. Jiwanya mulai yakin bahwa dirinya bisa lolos, saatnya menggunakan kesempatan ini.


"Robohkan jalur C, panggil para mafioso lainnya!" perintah Michael menyuruh helikopter merobohkan jalur C dan membawa mafioso lainnya kemari.


TAP...TAP...TAP...TAP...TAP...


Bunyi sepatu menghentakkan lantai-lantai yang mulai terhias oleh darah musuh. Michael terus berupaya untuk menahan rasa panas yang kian bertambah dibagian pundaknya. Tak sengaja ia menemukan sebuah tangga yang sepertinya cocok untuk bersembunyi.


"Aw" Michael bersembunyi di balik tangga untuk meredakan rasa panas dengan morfin pendingin sekaligus beristirahat sejenak.


"Michael, Michael, aku sudah datang ke jalur C, kau dimana?" tanya Bean di seberang.


Michael menjawabnya sembari meringis. "A-aku di ja-jalur D, Bean" ucap Michael.


Bean merasa aneh dengan suara Michael yang seperti tercekat atau meringis, pikirannya mulai negatif. Kepalanya menggeleng mengusir semua pikiran negatifnya. Ia harus yakin bahwa Michael nya sehat dan kuat.


"Baiklah aku akan segera kesana" ucap Bean untuk memastikan keadaan temannya, kemudian berlari menuju tempat Michael tunjuk barusan.


DOR...DOR...DOR...


"Hey you!" teriak musuh-musuh melihat Bean yang sibuk menembak para musuh. Mereka mengejar sasaran yang jelas untuk di bunuh.

__ADS_1


Bean menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat musuh-musuh yang berdatangan memegang kayu bisbol.


"Makan ini brengs*k."


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


Bean berlari ke arah dinding sebagai pelindung. Serangan terus bertubi-tubi kearahnya. Membuat Bean kewalahan menerima setiap serangan. Namun apa dayanya saat ini, ia hanya menggunakan senapan saja, sedangkan para musuh menggunakan senapan serbu.


DOR...DOR...DOR...DOR...


Menembak terus menembak itu yang Bean bisa lakukan sekarang demi menghampiri temannya. Bean terus berusaha menumbangkan para musuh yang terus berdatangan. Bahkan itupun bertambah banyak. Bean di landa kebingungan untuk menghadapi mereka. Mereka silih berdatangan dan menembaki Bean.


Nyawa Bean mulai di ambang kematian, ia pasrah dengan semua ini, Bean berjongkok dan membiarkan peluru menghancurkan dinding sebagai tempat berlindungnya. Ia lempar senapan yang tadi ia genggam ke sembarang arah, kini digantikan dengan sebuah pistol yang di letakkan di bagian keningnya. Ia tidak mau peluru itu menembus tubuhnya, biarkan peluru milik pemimpin mafia Italia yang menembusnya.


Perlahan-lahan dengan tangan bergemataran, ia letakkan moncong pistol tersebut tepat di keningnya sembari mengingat semua memori yang ia lalui bersama Michael dan Mario. Matanya mulai memanas siap mengeluarkan air mata, kini ia siap menyusul kedua orang tuanya disana meski dengan cara menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi? Ini mungkin sudah takdir untuk dirinya. Biarkan peluru Italia menembus jantungnya sembari mengucapkan nama-nama temannya.


"Michael selamat tinggal, terimakasih atas pertemanan kita selama ini, aku menyayangimu sebagai teman bahkan sebagai keluarga, semoga kau bahagia bersama gadis pilihanmu" Bean mulai memenjamkan mata dengan keringat mulai mengalir di sekitar keningnya.


"Mario aku menyusulmu, tunggu aku" Bean mulai menarik pelatuknya dan


DOR...


•Continua•


Bean jangan mati...

__ADS_1


__ADS_2