
...- Bab 10 TCSM -...
Dua jam kemudian.
“ANDARA!"
Suara teriakan Sahid langsung menggema di kamar pria itu sampai ke seluruh ruangan rumah terdengar saat ia berteriak memanggil nama Andara.
Bibi Mina menuju ke kamar Andara dan berkali-kali memanggil gadis itu dengan panik. Gadis itu tengah tertidur terlelap tak berdaya.
"Andara, buka pintunya! Ini gawat, Nak! Ini gawat!" seru Bibi Mina.
“Gila! Wah, cepet banget racun itu bereaksi, aku harus segera melihatnya,” cicitnya saat mendengar panggilan dari Bi Mina seraya mengetuk pintu.
Andara akhirnya terjaga, menguap sejenak seraya meregangkan tangan ke atas. Gadis itu lalu membuka pintu kamar dan menyapa Bibi Mina. Terdengar suara Sahid yang berteriak-teriak memanggilnya.
"Ada apa sih, Bi?" tanya Andara yang tak mengerti.
“Andara, itu Tuan Sahid panggil kamu,” seru Bibi Mina yang sudah berdiri di depan pintu gadis itu.
“Apa?! Tuan Sahid panggil aku?” tanya Andara.
“Iya, buruan sana!”
"Bentar, Bi, cuci muka dulu biar muka aku dilihatnya tak kusut," sahut Andara.
“Kelamaan! Ayo, buruan!” Bibi Mina menarik tangan gadis itu menuju ke lantai dua kamar Tuan Sahid.
“Duh, ada apa sih sebenernya? Kenapa Bibi panik sekali," batin Andara.
Sandara sudah sampai di kamar Sahid. Dua bahkan tak menyangka kenapa pria itu masih hidup. Apalagi Sahid malah berteriak-teriak dan tampak baik-baik saja.
"Hah, si Bubu mati? Kok bisa?” gumam Sandara. Hantu perempuan itu tampak mondar-mandir seraya berkacak pinggang.
Sesampainya Andara dan Bibi Mina di kamar Tuan Sahid, Bibi Mina menarik tangan Andara dengan paksa karena gadis itu menahan kakinya karena tak mau masuk. Sahid terdengar memaki dan terdengar marah. Pria itu lalu melangkah menuju gadis yang tengah ketakutan, lalu menariknya masuk.
"Sini kamu!" pekik Sahid.
"Tuan, tolong maafkan kesalahan keponakan saya. Dia kan masih baru di sini, jadi tolong–"
"Bibi pergi saja, urusan saya sama dia!" seru Sahid memotong ucapan Bibi Mina.
__ADS_1
Bi Mina belum menurut, ia masih menoleh ke arah gadis itu. Dirinya bertahan untuk menolong Andara.
"Saya bilang Bibi pergi dari sini!" bentak Sahid.
"Ta-tapi, Tuan...."
Sahid lantas menarik tangan gadis itu sampai jatuh terjerembab ke lantai dan menatap sosok kucing hitam yang sudah tak bernyawa di lantai marmer tersebut.
“Tinggalkan kami, Bi! Lalu, segera siapkan lahan di kebun belakang untuk mengubur kucing ini!” titah Sahid.
Bibi Mina yang melihat tatapan tajam sang majikan langsung ciut. Akhirnya ia mengangguk dan segera melaksanakan perintah majikannya itu.
"Kenapa Bubu bisa mati?" tanya Andara tak mengerti.
“Kau masih tanya kenapa? Ini gara-gara bubur buatanmu tau! Kau memasak seperti biasa, kan?” tanya pria itu.
“Hah? Aku memasak bubur? Hari ini aku tidak memasaknya," sahut Andara.
“Kau gila, ya? Jelas-jelas kau yang bawa bubur ini ke hadapanku. Kau ingin mencelakai aku, kan?" Sahid bertolak pinggang seraya menatap Andara dengan kesal.
"Hah? A-aku, aku benar-benar tidak mengerti, Tuan."
"Lalu, kenapa Bubu bisa mati?” Sahid menarik rambut hitam Andara yang dikuncir satu.
Sandara ingin meraih tangan Sahid tetapi tidak bisa.
“Bubu memakan bubur buatanmu dan setelah itu dia mati. Lihat itu!” tunjuk pria itu pada mangkuk bekas bubur yang masih tersisa setengah porsi.
“Tapi, tapi sungguh aku tak melakukan apapun,” ucap Andara mencoba untuk membela diri dengan terisak.
“Sekarang, kau cicipi bubur buatanmu!”
“Apa? Tidak, itu kan bekas Bubu! Kalau Bubu mati pasti ada racunnya!” sahut Andara.
Pria itu lalu mengeluarkan senjata api revolver dari laci lemari kabinet dan mengarahkannya ke hadapan wajah Andara.
“A-apa, apa yang hendak Tuan lakukan? Jangan bunuh saya!" pekik Andara.
Peluh bercucuran dari dahi gadis itu bercampur dengan air mata yang tak bisa terbendung lagi.
“Cepat kau makan!” bentak Sahid seraya mengancam dengan senjata api di tangannya ke arah Andara.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar gadis itu meraih sendok di samping mangkuk dan bersiap untuk menyendok bubur tersebut. Cairan saliva di dalam mulutnya terasa berat ia telan. Gadis itu menarik napas dalam.
Sandara berusaha mengumpulkan kekuatan untuk dapat menyentuh sendok di tangan Andara. Dia merasa bersalah karena telah membahayakan nyawa Andara. Gadis polos itu hanya menatap bubur dan sendok dengan wajah tertunduk dan kedua mata terpejam.
Mulut Andara akhirnya mulai terbuka lebar dan bersiap memasukkan suapan bubur itu ke dalamnya dengan tangan gemetar.
“Stop! Letakkan sendok itu!” seru Sahid.
Sahid meraih mangkuk bubur dan membuangnya ke dalam tempat sampah di sudut kamarnya.
“Keluar dari kamarku! Dan mulai sekarang setiap makanan yang akan aku santap, kau harus mencicipinya terlebih dahulu!” perintah Sahid.
"Tapi, sungguh aku tidak akan pernah berani melukai, Tuan," ucap Andara seraya terisak.
Sahid melihat ketulusan di wajah gadis itu. Dia percaya dengan apa yang dikatakan Andara. Hanya saja cctv di kamarnya menangkap jelas kedatangan gadis itu yang memberikan bubur ke padanya. Lalu, kenapa Andara bisa lupa?
“Cepat keluar!” titah Sahid seraya menunjuk pintu keluar.
Andara langsung melangkahkan kakinya ke luar dari kamar Tuan Sahid. Tubuhnya masih terasa gemetar dan ketakutan saat melangkah ke kamarnya. Sementara itu, Sandara masih mengamati Sahid dengan tatapan tak mengerti.
Sahid menghubungi penjaga rumahnya agar tak membiarkan Andara pergi ke manapun. Ia ingin mencari tahu tujuan gadis itu memberi racun pada bubur tadi. Oleh karena itu, ia membiarkan Andara hidup dan mencari tahu kebenarannya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, kenapa kau mencoba membunuhku?" gumam pria itu.
"Hahaha, jadi itu rencanamu. Dasar bodoh! Kali ini kau bisa lolos, tapi nanti aku pastikan akan menghabisimu," ucap Sandara seraya meninju telapak tangannya sendiri.
Sahid berdiri tepat di hadapan Sandara. Dia merasa ada seseorang yang sedang berada di hadapannya. Namun, dia tak dapat melihatnya. Sahid lantas menjulurkan tangannya untuk mengibas berkali-kali. Akan tetapi, dia tetap tidak bisa menyentuh Sandara. Hanya saja, pria itu tetap yakin kalau ada sesuatu di sana yang sedang memerhatikannya.
...***...
Malam itu, terdengar derap langkah seseorang masuk ke dalam kamar Andara. Gadis yang sedang berbaring menghadap dinding itu terbangun. Ia segera bersiap meninju seseorang yang masuk ke kamarnya tersebut.
Namun, sebelum dia bangkit, si misterius itu sudah membekap mulut Andara. Kedua mata mereka beradu pandang. Sosok itu ternyata seorang pria. Betapa gadis itu sangat terperanjat kala ia mengenal kedua bola mata pria itu. Sinar bulan menerpa wajah keduanya saat tirai jendela tersibak.
"Halo, Andara!"
Gadis itu ingin berteriak dan berusaha mendorong tubuh pria tadi tetapi ia tak bisa. Pria itu ternyata Sahid, si Tuan Muda ketua gangster yang menjadi musuhnya.
"Kau ingin membunuhku, kan?" tanya Sahid dengan senyum menyeringai.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...