Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 37. Bucin!


__ADS_3

Bab 37 TCSM


"Aww! Hentikan! Kau bilang tadi cuma lima menit makanya aku masih di sini menunggumu," jawab Sahid.


"Tapi jangan tunggu di kamar seperti ini? Kan kau bisa tunggu aku di luar!" pekik Andara.


"Aku mana tau kalau kau akan selama ini," sahut Sahid masih mencoba menahan serangan guling Andara.


"Kalian sedang apa? Astaga, Ya Tuhaaaaan! Sahid, Andara! Apa yang kalian lakukan di sini?! Haish, tidak bisakah kalian menunggu sampai menikah?!" seru Nyonya Anjani.


Nyonya Anjani yang tengah melintas langsung masuk ke kamar Andara karena mendengar keributan dari dalam kamar tersebut. Wanita paruh baya itu salah paham. Dia tak menyangka akan melihat Andara yang hanya mengenakan handuk dan Sahid yang berbaring di atas ranjang seperti itu.


"Hah? Tidak, tidak, ini tidak seperti yang Nyonya pikirkan! Dia ini cucu Anda yang mesum karena menunggu seorang gadis yang sedang mandi." Gadis itu menunjuk Sahid.


"Heh, sembarangan! Siapa yang mesum?! Tadi 'kan kau yang bilang kalau aku harus menunggu selama lima menit. Asal kau tau ya, ini bahkan sudah dua puluh menit aku menunggu," sahut Sahid membela diri.


"Sudah, sudah, sudah! Ayo kita ke luar dulu! Sahid, biarkan gadis ini berpakaian dulu!" ajak Nenek Anjani menarik tangan Sahid.


Setibanya di teras rumah, Sahid menanyakan sesuatu pada neneknya tersebut.


"Nek, bisakah aku menikahi gadis itu secepatnya?" pinta Sahid.


"Hahaha ... kau baru kali pertama ya melihat seorang gadis hanya mengenakan handuk lalu langsung ingin menikah? Dan sekarang kau langsung tak tahan ingin mencicipinya, iya kan?" Nyonya Anjani menggoda Sahid.

__ADS_1


"Nenek! Aku serius! Sangat serius ingin menikahi Andara!" Sahid tiba-tiba merengek.


Sungguh tingkah kekanak-kanakan yang tak pernah pria dewasa ini lakukan sebelumnya. Nyonya Anjani sampai tertawa melihat tingkah cucu tersayang dan satu-satunya itu.


"Aku tak menyangka kalau gadis itu benar-benar mengubah tingkahmu. Apa kata anak muda zaman sekarang, ya? Duh, Nenek itu ingat istilah anak muda zaman sekarang itu. Umm ... oh iya namanya bucin. Kau itu sedang bucin," ucap Nyonya Anjani lalu tertawa.


"Apa Nenek bilang? Bucin?" Sahid mengernyit.


Iya, bucin itu kata gaul, kepanjangan dari budak cinta, hahaha," ucap Nyonya Anjani terkekeh lalu berkata lagi, "kau sangat tergila-gila pada Andara soalnya, makanya kau itu bucin dia, bucin akut!"


"Memangnya sangat terlihat, ya?" Sahid sampai menutupi wajah meronanya menahan malu.


"Iya, Sayang, sangat terlihat di wajahmu yang merah merona penuh cinta itu," tunjuknya.


"Ah, Nenek sudah hentikan! Jangan sampai Andara tahu," bisik Sahid.


"Hari ini aku akan melamarnya. Kalau dia mau ya lebih baik besok saja aku menikah dengannya," ucap Sahid penuh keyakinan.


"Astaga, Ya Tuhan! Kau ini benar-benar tak sabar, ya! Kau pikir merencanakan pernikahan itu bagai menjentikkan jari apa?" Nyonya Anjani memukul bahu Sahid dengan gemas.


Andara yang keluar dari kamar dan sudah berpakaian rapi itu lalu bertanya pada Nyonya Anjani dan Sahid.


"Kalian membicarakan apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Kami membicarakanmu," ucap Sahid terkekeh.


"Nyonya, kalian bicara apa, sih? Jangan buat aku penasaran," rengek Andara.


"Tanyalah pada Sahid, Nak! Oh iya, jangan panggil aku Nyonya, ya. Panggil Nenek, sama seperti Sahid memanggilku," ucap Nyonya Anjani.


Andara mengangguk setuju lalu


"Nyonya, eh Nenek, ku pamit dulu, ya," ucap Andara seraya meraih tangan wanita paruh baya itu untuk mencium punggung tangannya.


"Hati-hati ya, Nak. Bawa bunga mawar yang sudah Nenek siapkan. Taburi juga tangkai-tangkai mawar itu di sana. Nenek turut berduka atas apa yang menimpa keluargamu," ucap Nyonya Anjani seraya mengusap kepala Sandara.


"Terima kasih, Nyonya – eh Nenek."


"Andara, harusnya aku yang berterima kasih." Nyonya Anjani lalu memeluk Andara dengan erat secara tiba-tiba.


"Te-terima kasih untuk apa?" tanya Andara tak mengerti.


"Terima kasih telah membuat cucu tercintaku ini sangat bahagia. Terima kasih telah mengubahnya kembali pada kodratnya menyukai perempuan. Apalagi perempuan itu secantik dirimu," ucap Nyonya Anjani.


"Nenek! Apa maksudmu itu?! Aku dari dulu pria normal!" protes Sahid yang mencoba memisahkan pelukan antara Andara dan Nenek Anjani.


Kedua wanita yang ada di antara Sahid itu saling bertatapan dan malah terkekeh bersama melihat tingkah ketua gangster yang mendadak menggemaskan itu.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2