Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 38. Sebut Namaku


__ADS_3

Bab 38 TCSM


Setelah mengunjungi makam keluarganya, Andara bersama Sahid mengendarai mobil BMW Z4 berwarna hitam menuju ke suatu tempat yang dirahasiakan pria itu.


"Lho, bukankah kita sekarang mau menuju kantor untuk melihat persiapan pesta anniversary kantor Anda? Lha, ini kenapa kita menuju penangkaran hiu, Tuan Muda?" tanya Andara tak mengerti.


"Jangan panggil aku Tuan Muda lagi! Aku sudah bilang untuk panggil namaku Sahid!"


"Tapi … entah kenapa aku merasa ada yang aneh jika hanya panggil nama Sahid saja, hehehe."


"Tak ada kata tapi! Mulai sekarang panggil namaku Sahid!" sentaknya seraya fokus menyetir.


"Baiklah, Sahid." Andara mengucap dengan tinggi nada sangat pelan.


"Ucapkan lagi namaku!" pinta pria itu.


"Kenapa, sih?" Andara mulai menatap kesal.


"Ucapkan lagi namaku!" titah Sahid.


"Sahid, sahid, sahid, sahiiiiiiid!" Andara akhirnya memekik.


"Bagus, anak pintar." Sahid tersenyum puas.


Pria itu lantas mengusap kepala Andara dengan lembut. Gadis yang mulai bosan itu mulai menyalakan layar lcd kecil berukuran tujuh inch di dalam mobil Sahid. Dia lalu fokus pada salah satu chanel tv yang baru saja dia temukan.


Andara melihat siaran berita terkini yang tertera di layar berukuran tujuh inch tersebut. Terdengar suara reporter wanita tengah membacakan tajuk berita terkini hari itu.

__ADS_1


"Seorang wanita bernama Malika Mahardika ditemukan tewas di rumahnya. Dari rekaman cctv yang ditemukan, wanita tersebut dibunuh oleh suaminya sendiri. Kini, pria berinisial AM itu sedang dalam pengejaran pihak berwajib. Jika ada yang melihat pria tersebut, silakan hubungi nomor yang tertera di layar kaca Anda."


Di layar tv tersebut tertera foto seorang pria yang Andara kenal pastinya.


"Paman Andre? Bukankah itu Paman Andre? Astaga, aku tak menyangka kalau dia tega membunuh Tante Malika? Dasar pria sampah! Bajingan tengik!" seru Andara memaki dengan geram sambil meninju telapak tangannya sendiri untuk meluapkan emosinya.


Sahid sempat tersperanjat kala sosok Andara bisa melontarkan kata-kata makian seperti tadi.


"Bagaimana ya keadaan Ari? Aku harap dia baik-baik saja," ucap Andara.


"Nanti aku akan meminta Jhony mencari tahu tentang Ari. Nah, apa sekarang kau sudah bisa membedakan mana orang yang jahat dan baik?" tanya Sahid.


"Entahlah, tapi aku ingin orang jahat mendapat hukuman setimpal." Andara masih terlihat geram.


"Itu pasti, Sayang. Kita akan segera menghukumnya," kata Sahid.


"Apa sih maksud perkataanmu itu? Ayo, katakan padaku!" rengek Andara.


Sahid lagi-lagi tak menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Dia hanya tersenyum seraya memarkirkan mobilnya di area parkir penangkaran hiu tersebut.


"Ayo, ikut aku! I have a surprise for you," tutur sang pria.


Andara meraih uluran tangan pria itu dan menggenggamnya sambil melangkah masuk ke dalam area penangkaran hiu.


"Sandara! Dara gadis cantikku, tolong lepaskan Paman, Nak!"


Seorang pria berada dalam kurungan besi yang tergantung itu berteriak ketika ia melihat Andara masuk. Tubuhnya penuh dengan siraman darah kambing segar. Di bawahnya terdapat para hiu berukuran dua sampai tiga meter berenang berputar-putar.

__ADS_1


"Paman Andre?" Andara menatap tak percaya.


"Kejutaaaaaan! Bagaimana menurutmu, Sayang? Dia layak ada di sana, kan?" tanya Sahid seraya berkacak pinggang.


Andara tak menjawab, ia melangkah lebih dekat ke tiang-tiang pembatas kolam penangkaran hiu tersebut.


"Sandara, tolong Paman, Sayang…." Andre memelas.


"Aku bukan Sandara, Paman. Aku Andara, tetapi kabar baiknya aku memang anak Sandi Mahardika, kembarannya Sandara," ucap Andara.


"Ah, syukurlah kalau begitu. Kita masih ada hubungan kerabat, bukan? Nah, tolong Paman ya, Nak?" pinta Andre.


"Kau membunuh ayahku, ibuku, adikku, dan saudara kembarku. Serta kau juga menghabisi Tante Malika Istrimu sendiri. Lalu kenapa aku harus melepaskanmu, Paman Andre?" Andara melayangkan senyum smirk.


Sifatnya mulai mirip dengan sosok Sandara. Sahid masih mengamati gadis itu


"Dara, ayolah maafkan Pamanmu ini. Asal kau tahu, Dara, Pamanmu ini khilaf dan Paman berjanji akan mematuhi semua perintahmu," ucap pria itu berusaha meminta pertolongan Andara.


Tangannya berusaha menggapai sampai keluar dari kerangkeng besi tersebut.


"Aku tak butuh permohonan maafmu, Paman," sahut Andara.


"Dara, Dara, Dara, tolong dengarkan Paman!" serunya.


"Aku tak mau lagi mendengarkanmu!" Andara balik berseru seraya menutup kedua telinganya dengan tangannya.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


__ADS_2