Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 14. Serasa Kencan Mendadak


__ADS_3

Bab 14 TCSM


"Kalau kau mau selamat, sebaiknya ikuti jalan ceritaku," bisik Sahid.


Jalan ceritamu? Cih, apa-apaan itu pakai mengancam keselamatan nyawaku, rasanya ingin segera aku menarik pelatuk revolver di dari kamarnya lalu ku arahkan ke kepalamu.


Sandara memandang Sahid sampai memicingkan mata lentiknya.


"Siapa namamu tadi?" tanya Samantha pada Sandara lagi.


"Na-namaku, namaku Sandara," jawabnya.


Sahid menoleh seraya mengernyit padanya, "Sandara?"


"Eh, namaku Andara," sahutnya langsung mengoreksi.


"Oh, aku akan panggil kau Dara. Mau ikut denganku untuk minum teh?"


Tanpa mendengar jawaban Sandara, Samantha langsung meraih tangan gadis itu dan mengajaknya ke sebuah ruangan. Dia sengaja meninggalkan Sahid yang tampak kikuk bersama Brian.


"Ternyata kau lebih cantik jika dilihat langsung daripada foto banner yang ada di depan galeri tadi. Apa aku pernah melihatmu di sebuah majalah, ya?" tanya Sandara seraya mencoba mengingat.


"Terima kasih pujiannya. Kau juga sangat cantik, pantas saja Sahid memilihmu untuk menjadi kekasihnya. Hayo, kira-kira di majalah apa kau pernah melihatku?" tanya Samantha dengan tatapan menggoda.


"Hehehe, majalah apa ya? Ummm ... pokoknya pernah lihat deh," ucap Sandara tersenyum manis.


Samantha lalu menawarkan secangkir teh hijau pada Sandara. Dia membicarakan tentang sosok hangat Sahid di masa lalu. Benar-benar gambaran yang berbeda dengan Sahid yang sekarang. Apa karena gelar ketua gangster itu mengubah sosok Sahid menjadi dingin, angkuh, dan juga kejam? Begitu batin Sandara yang terus berkecamuk.


"Sudah pembicaraan antara kalian berdua?" tanya Sahid sambil membuka daun pintu ruangan Samantha.


"Hai! Tampan!" sapa Samantha kala Sahid memasuki ruangan tersebut.


Entah kenapa wajah pria itu langsung memancarkan aura yang glowing bersinar seperti matahari pagi di hadapan Sandara. Gadis yang sedang memperhatikan Sahid kala itu malah membuat pria itu tampak kikuk. Keduanya saling bertatapan cukup lama tanpa sadar.


"Ada apa dengan kalian, sepertinya kalian makin tampak mesra saling bertatapan seperti itu?" tanya Samantha menggoda keduanya yang langsung salah tingkah.


"Kau, pilihkan yang mana lukisan yang kira - kira akan nenek sukai!" titah pria itu pada Sandara buru-buru mengalihkan perhatian Samantha tentang mereka.

__ADS_1


"Jadi, kau membawaku ke sini hanya karena kau mau membeli lukisan untuk Nyonya Anjani? Jujur ya, Tuan Muda yang terhormat, mana aku tau yang mana lukisan yang akan Nyonya Besar sukai," jawab Sandara.


"Dara, kau mau membantah ak—"


"Tidak, tidak! Jangan kau teruskan lagi, aku sudah paham," potong Sandara.


Gadis itu langsung bersungut - sungut seraya membuka pintu ruangan milik Samantha itu. Gadis itu sampai tersandung karena masih menggunakan sepatu hak tinggi. Brian yang melihatnya sampai tertawa karena kelakuan Sandara sangat menggemaskan.


"Sahid! Kau masih saja keterlaluan seperti itu dengan perempuan. Tapi dia kan kekasihmu, sebaiknya jangan begitu atau kau akan ditinggalkan sama seperti dulu," ujar Samantha.


"Sama seperti kau meninggalkanku, kan?" Sahid lalu keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Samantha yang masih berdiri di tempatnya. Ada rasa sesak di dada Samantha kala mendengar penuturan dari Sahid barusan.


Setengah jam setelah Sandara berkeliling galeri dengan Sahid, gadis itu akhirnya memilih salah satu lukisan menarik untuk Nyonya Anjani.


"Apa dia tau soal seni?" tanya Samantha yang kembali mendekat ke arah Sahid.


"Entahlah, setahu ku dia hanya gadis desa paling bodoh yang pernah aku temui. Hmmm, paling dia hanya asal pilih," jawab Sahid.


Sandara yang mendengar itu langsung melirik tajam. Dia menantang Sahid.


"Menurut aku ya, seni itu bukan hanya tau tentang makna, tapi juga soal keindahan. Bagi aku ketika kita menyukai suatu keindahan dari gambarnya, kita pasti sedikit demi sedikit akan mengerti ke mana arah makna lukisan itu. Lagipula, seni diciptakan tidak selalu untuk dicari maknanya, namun cukup untuk dinikmati. Dan menikmati lukisan adalah cara mudah untuk menghargai sebuah karya."


"Wow, dia gadis yang pintar, Sahid!" puji Samantha.


"Lalu, lukisan mana yang kira-kira akan nenek sukai?" tanya Sahid.


"Yang ini," ucap Sandara seraya menunjuk salah satu lukisan penari.


"Hmmm, penari ya? Sam, berapa harga lukisan itu?" Sahid menoleh pada Samantha.


"Aku akan berikan harga pertemanan. Harganya sepuluh ribu," jawab Samantha.


"Wow, benar-benar teman yang baik. Itu mah sama saja Anda berikan gratis karena hanya bayar sepuluh ribu," celetuk Sandara.


"USD, Dara."


"Hah, sepuluh ribu dolar usd?! Gila banget! Hanya gambar seperti ini harganya mahal banget!" seru Sandara.

__ADS_1


"Itu murah, Dara. Biasanya aku jual di atas dua puluh ribu," aku Samantha.


Sandara hanya bisa berdecak kagum tak menyangka.


"Aku akan segera meminta Jhony mengurus pembayarannya," ucap Sahid ke arah Samantha tanpa peduli mendengarkan suara Sandara barusan.


Tiba-tiba, seorang pria gemulai yang menggunakan dress hitam, mahal, dan elegan dengan tinggi semampai bak model datang menghampiri Sahid. Meskipun tampilan tubuhnya sudah seperti perempuan, tetapi garis wajah pria itu masih sangat terlihat.


"Sahid! Aku tuh kangen banget sama kamu," ucap pria tampan yang langsung hadir sambil memeluk Sahid.


Sandara sampai mundur perlahan membiarkan mereka yang tampak serasi itu berpelukan. Nyali gadis itu tampak ciut seketika kala melihat sosok pria yang sangat cantik itu memeluk Sahid tersebut.


'Gila cantik banget! Aku yang perempuan asli saja tak secantik ini!' Batin Sandara.


Dia sampai menelisik sosok kedua orang pria yang berpelukan di hadapannya.


"Lepaskan aku Romi! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Sahid pada pria cantik itu.


"Kau ini ya, memangnya kau tak rindu ke padaku? Samantha yang mengundang aku tau. Kita kan sahabat dari zaman kuliah dulu," ucap pria bernama Romi yang mengenakan kaca mata hitam dengan merek mahal itu.


Romi lantas membuka kaca mata itu dan menyimpan benda itu ke dalam tas kecilnya yang juga bermerek dan mahal.


"Bagaimana aku bisa merindukanmu? Kau itu ya menggelikan!" tutur Sahid dengan nada sinis.


"Sahid, my baby huey ku, aku tak suka mendengar ucapan sinismu itu," tukas Romi.


"Hahaha, kalian ini suka sekali bertengkar," ucap Samantha.


Sandara sampai menahan tawanya kala mendengar panggilan sayang pria itu barusan.


Mungkinkah Sahid benar-benar penyuka sesama jenis karena pria ini?


Tatapan tajam mata Sahid yang tertangkap kedua mata lentik Sandara langsung terasa menusuk bak pisau tajam yang baru diasah dan sukses membuat gadis itu tertunduk.


"Wah, ciut juga nyaliku." Sandara menatap wajah Andara di cermin.


Hari ini waktu bersemayam di tubuh Andara cukup lama. Kadang ia rindu menjadi manusia kembali. Dia ingin hidup lebih lama karena banyak hal yang dia ingin lakukan. Namun, Sandara tersadar dengan tujuannya kini, yaitu menghabisi Sahid. Sandara lantas menghubungi Ari agar menanyakan pada Paman Andre untuk meminta rencana baru selanjutnya tanpa Sahid ketahui.

__ADS_1


...*****...


...To be continued. ...


__ADS_2