
Bab 21 TCSM
Pada hari minggu itu, Sahid membawa Andara untuk ikut berlibur bersama sang Nenek dan juga Jhony. Empat orang pengawal bersembunyi dari kejauhan untuk menjaganya.
Pasca serangan tempo hari, Jhony meminta Sahid agar waspada dan selalu dalam pengawalan ketat. Namun, karena Sahid tak ingin sang nenek tahu tentang ganster The Black Cat milik kakeknya, dia meminta para pengawal untuk menjaga jarak.
Setibanya di sana, Sandara yang ikut serta langsung berteriak dengan kerasnya. Dia tak bisa menahan sesak di dada yang sedari tadi ingin ia hempaskan dengan berteriak. Andara sampai menghampirinya.
"Kau kenapa, sih?" bisik Andara yang berpura-pura bermain air di tepi pantai.
"Ini tempat terakhir aku dan keluargaku berlibur sebelum kami kecelakaan dan menewaskanku," sahut Sandara.
Andara jadi iba. Dia tak jadi mengomel pada Andara.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk membangkitkan kenangan sedihmu itu," lirih Andara.
Sandara tak kuasa menahan bulir bening dari matanya jatuh menetes karena pantai itu mengingatkannya pada kebersamaan dengan keluarganya untuk terakhir kali. Andara menepuk punggung Sandara pelan.
“Andara, apa kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Anjani yang melihat sikap aneh gadis tersebut.
“Eh, ada Nyonya Besar. Ummm, aku baik-baik saja, Nyonya. Apa Nyonya mau berenang?” tanya Andara seraya menyiapkan ban dan pelampung untuk Nyonya Anjani berenang.
“Tidak usah, kau saja. Aku mau berjemur di sana," tunjuk wanita paruh baya itu ke kursi pantai yang sudah disiapkan Jhony untuknya.
"Oh, okay. Baiklah kalau begitu. Aku saja yang pakai ini," tukas Andara.
Gadis itu tersenyum seraya memakai jaket pelampung dan membawa ban renang saat menceburkan diri ke air laut yang terasa dingin itu. Andara sangat menikmati liburannya kala itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Sandara. Setiap ia melihat senyum Sahid yang sedang menatap ke arah Andara, mendadaj rasa amarah itu tak tertahan. Emosi dalam dada gadis itu malah memuncak karena mengingat kematian keluarganya.
Tak jauh dari tempat Andara berenang, Sandara lantas melihat migrasi ubur-ubur yang terlihat di air laut dekat pantai. Bahkan ia berencena akan menenggelamkan Sahid agar terbawa arus ombak menuju ke tengah laut lalu dimakan ikan hiu.
Timbul keinginan Sandara untuk menghabisi nyawa Sahid saat itu juga. Ia lantas memasuki tubuh Sandara tanpa permisi. Gadis itu lalu mendekati Sahid.
"Kenapa kau hanya diam di situ, Tuan Muda? Ayo, kita berenang ke sana!" ajak Sandara, dia berusaha menjebak ketua gangster tersebut.
"Tidak usah, aku malas!" ketus Sahid.
"Ayolah, kita bersenang-senang!" Sandara dengan sengaja dan tiba-tiba menarik lengan pria itu.
"Dara, apa yang kau–"
“Ayo, ikut saja jangan malu-malu!” ajak Sandara.
“Aku mau mengajak Tuan Muda untuk lomba renang, yuk!” seru Sandara.
Tanpa curiga sedikitpun, Sahid menuruti tarikan tangan Sandara. Gadis itu membawa pria yang hanya mengenakan celana boxer sepaha itu menuju kawanan ubur-ubur. Ia berharap agar pria terebut tersengat ubur-ubur lalu mati tenggelam, dan terbawa arus ombak ke tengah lautan. Sayangnya, lagi-lagi dia gagal. Ibarat senjata makan tuan, justru Sandara lah yang terkena sengatan ubur-ubur kala itu.
"Ah, sial!" pekik Sandara saat keluar dari tubuh Andara.
“Dara, sadarlah!” suara Sahid terngiang-ngiang di telinga gadis itu sebelum ia tak sadarkan diri.
Kepanikan melanda Nyonya Anjani dan Bibi Mina kala melihat gadis itu tak sadarkan diri.
“Jhony, lekas panggil ambulans!” teriak Sahid.
__ADS_1
Setelah mobil ambulans datang, gadis itu lalu dilarikan ke rumah sakit. Untungnya dengan penanganan yang cepat dan tepat, Andara berhasil diselamatkan dan harus tinggal sementara di rumah sakit sampai diperbolehkan pulang.
Sahid memandang paras ayu Andara seraya menyentuh pipi gadis itu dengan ujung jari telunjuknya.
“Dasar gadis bodoh, bisa-bisanya dia berniat mengerjaiku dengan ubur-ubur itu, tapi malah dia sendiri yang terkena sial,” gumam Sahid seraya membetulkan posisi bantal gadis itu dan menyelimutinya dengan benar. Dia rupanya tahu akal bulus Sandara.
"Hah, jadi dia tahu kalau aku mau membuatnya tersengat ubur-ubur?" pekik Sandara di samping ranjang Andara. Doa berkacak pinggang.
Andara perlahan siuman dan bergumam, “haus.”
Sahid segera menyerahkan sebotol air mineral dengan sedotan dan mengarahkannya pada bibir tipis gadis itu untuk minum.
“Terima kasih, Tuan Muda,” lirih Andara.
Sahid yang tersadar dengan perlakuan manisnya itu langsung meletakkan botol tersebut kembali ke atas meja padahal gadis itu masih belum selesai minum. Pria itu langsung mendaratkan bokongnya ke sofa.
“Tunggu … aku kan belum selesai minum,” keluh Andara sembari mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
“Ambil saja sendiri!” ketus Sahid.
Pria tersebut langsung berpura-pura sibuk dengan layar ponselnya. Melihat hal tersebut Sandara justru kesal. Ia melemparkan botol air mineral pada Sahid.
"Dara, apa kau melempar aku barusan?" tanya Sahid dengan tatapan tajam.
Andara lantas menoleh pada Sandara yang sudah tertawa terbahak-bahak.
...*****...
__ADS_1
...To be continued. ...